
Sella Ji masih sangat terkejut, sementara Hero segera merangsek ke pelukannya, mulutnya yang besar menjilat-jilat tangannya. Sella Ji segera menunduk, dengan mata memerah ia berkata lirih, “Hero, rupanya kau yang dari tadi memanggil-manggilku.”
Dan Bryan Gong juga tak kalah terkejutnya dengan Sella Ji, ia tak menyangka, yang membuat Hero begitu bersikeras untuk menemuinya rupanya bukanlah seekor anjing betina, melainkan wanita ini.
Perasaan Bryan Gong campur aduk, rupanya ia tinggal tak jauh dari rumahnya, apa maksudnya?
Bryan Gong menatap wanita dan anjing yang saling mengobrol sambil berpelukan itu. Dalam hati ia merasa sangat jengkel, sebenarnya, ia sangat cemburu pada Hero, tanpa perlu melakukan apapun, ia bisa membuat seorang wanita menyukainya.
Dan dulu ia telah berkorban begitu banyak, tapi ia tetap mencampakkannya tanpa belas kasihan? Apakah ia tidak sebaik Hero yang hanya seekor anjing?
Sella Ji berjongkok, sama seperti dulu, ia memperlakukan Hero dengan sikap lembut dan penuh kasih, mengelus lehernya yang panjang, mengelus kepalanya yang besar, sangat menghargai pertemuan ini setelah begitu lama terpisah.
“Auuu... auuu...” Hero merasa sedih, karena ia telah memanggil-manggilnya begitu lama, tapi ia tak mempedulikannya. Ia pun menangis seperti anak kecil yang ditelantarkan.
Mendengarnya, Sella Ji menghiburnya dan meminta maaf, “Maaf, Hero, aku tidak tahu rupanya kaulah yang di luar... maaf.”
Mendengarnya, dengan gembira Hero kembali menjilat-jilat tangannya, menghujaninya dengan ciuman.
Sementara pria berwajah muram itu menundukkan kepala, dan dengan ekspresi dingin menghampiri dan berkata pada anjing besar yang patuh itu, “Hero, ikut aku pulang.”
Hero dengan terkejut menatap Bryan Gong, lalu menatap Sella Ji, ia tak mengerti kenapa kedua pemiliknya ini bersikap sangat dingin satu sama lain dan tidak bersama-sama bermain dengannya?
“Hero, pulanglah.” Sella Ji juga bisa merasakan sikap dingin Bryan Gong terhadapnya, dan ia juga tak ingin mempedulikannya.
Hero sepertinya mengerti, dengan patuh ia berbalik dan duduk di sisi Bryan Gong, lalu memiringkan kepala menatap Sella Ji, seolah sedang menunggunya untuk kemudian pergi bersama-sama.
Bryan Gong menatap Hero yang duduk di sampingnya, lalu menatap Sella Ji yang berdiri di depan pagar dan mendengus, “Kenapa kau tinggal disini?”
__ADS_1
Sella Ji tak bisa menjelaskan hal ini, karena kakaknya lah yang membeli mansion ini, dan setelah selesai direnovasi, ia baru mengetahui rupanya lokasinya disini.
“Karena mansion ini sedang dijual, maka aku membelinya. Tenang saja, aku tak akan mengganggu kehidupan kalian.” Yang Sella Ji sebut sebagai kalian, tentu saja adalah Bryan Gong dan kekasihnya yang dilihatnya di restoran itu.
Mendengarnya, Bryan Gong membalas, “Sebaiknya begitu.”
Setelah itu, ia berkata pada Hero, “Ayo pulang.” Dengan nada mendesak.
Lalu ia menambahkan, “Ke depannya, kau tak boleh bertemu dengannya.”
Ia sengaja mengatakan ini agar Sella Ji mendengarnya, ia ingin memberitahunya, ia takkan berbagi apapun lagi dengannya, termasuk anjingnya.
Mendengarnya, hati Sella Ji terasa sangat pedih, ia menatap kepergian Bryan Gong sejenak, baru kemudian masuk dan menutup pagar.
Bryan Gong juga menoleh, melihat pagar itu telah tertutup rapat, ekspresi dingin di wajahnya perlahan memudar, ia menunduk menatap Hero dan tidak lagi marah.
“Ayo pulang, ia juga tak ingin bertemu denganmu.”
Ia mengatakan hal ini pada Hero, tapi sebenarnya ia mengatakan hal ini pada dirinya sendiri.
Sella Ji kembali ke halaman, ia merasa sangat heran, Bryan Gong telah kembali ke China, kapan ia kembali?
Selama 3 tahun ini, Sella Ji tak tahu di mana ia tinggal, ia mengira ia masih di luar negeri, tapi kini ia telah kembali, berarti ia dan kekasihnya sekarang sedang tinggal di mansion itu.
Sella Ji merasa tercekat dan dadanya sesak, kenapa bisa begini?
__ADS_1
Jika ia tahu kakaknya membeli mansion ini, ia pasti akan menolaknya sejak awal, ia telah memutuskan untuk melupakannya dan move on, tapi rupanya ia malah tinggal di dekat mansionnya.
Mata Sella Ji memerah, pikirannya kacau.
Sepanjang perjalanan pulang, Bryan Gong sama sekali tak menghiraukan Hero, Hero juga berjalan di sampingnya dengan lesu, sama sekali tak bersemangat.
Setibanya di mansion, Hero segera minum dari tempat minumnya, sementara Bryan Gong memasuki ruang tamu, lalu melangkah ke kamarnya di lantai 3, ia memeluk lengannya dan menatap mansion itu, raut wajahnya sama sekali tak tampak marah atau benci, hanya diam, dan merasa agak muram.
Wanita yang dulu dicintainya, kini tinggal di dekatnya bersama dengan pria lain, ini tentu membuatnya tidak senang.
Meskipun saat ini ia telah lebih tenang, rasional, dan bisa mengendalikan diri, tapi ada beberapa hal yang tak bisa dilupakannya. Tapi ia juga tak ingin memikirkannya.
Malam itu, Sella Ji tak menceritakan pada kakaknya tentang kepulangan Bryan Gong, tapi malamnya, setelah mematikan lampu di kamarnya, ia duduk di depan jendela besar, menatap ke arah mansion Bryan Gong, mansionnya ada di kaki gunung, lampunya menyala terang, dan ia tahu, kamar utamanya berada di lantai 3 dan menghadap ke arahnya.
Semalaman ia diam-diam menangis.
Paginya, saat Sella Ji terbangun, Jayce Ji telah pergi ke kantor, kemarin malam Sella Ji telah memberitahu para pelayan untuk tidak perlu datang, karena ia akan membeli sarapan di luar, sekaligus membeli beberapa barang dekorasi rumah.
Sella Ji menyetir perlahan, mengitari kota yang telah ditinggalinya selama 20 tahun, ia juga pergi ke rumah lama ibunya, ia duduk di mobil dan menatap wajah-wajah familiar para tetangganya, tapi ia tidak turun dari mobil untuk menyapa mereka, ia tahu, akan sangat aneh jika ia turun dari mobil untuk menyapa mereka.
Ia teringat ponselnya yang hilang saat itu. Ia menelepon polisi karena tak bisa menemukannya, dan dulu ia sangat berharap polisi akan bisa menemukannya, karena di dalam ponsel itu ada banyak fotonya dengan Bryan Gong, tapi kini, ia merasa adalah hal bagus ia tak menemukan ponsel itu.
Jika ia melihat foto-foto itu, ia akan semakin sedih.
Sella Ji juga menyusuri jalanan sekolahnya, 3 tahun telah berlalu, ia juga sudah tak pernah berkontak dengan teman sekamarnya, saat ini mereka berdua sedang berusaha mengejar mimpinya masing-masing.
__ADS_1
Siangnya, Sella Ji makan sendirian. Sorenya, ia pergi ke sebuah mall dekat rumah untuk berbelanja. Setelah ia memarkirkan mobilnya, menguncinya, lalu berjalan keluar, ia melihat sebuah mobil hitam yang familiar juga terparkir di tempat parkir itu. Ia dalam hati gemetaran, apakah Bryan Gong juga sedang berada di mall ini?