
“Hobi macam apa ini?” Bryan Gong ingin memberinya pelajaran.
Beatrix Gong berkedip dan menatap dua orang pria yang sedang lewat di luar jendela, matanya berbinar, dan ia menatap mereka dengan penuh ketertarikan. Bryan Gong juga menoleh menatap ke luar jendela, dan saat melihat adiknya menatap mereka dengan berbinar-binar, ia segera berdiri dan menjulurkan tangannya untuk menghalangi pandangannya.
“Hei, jangan menghalangiku! Biarkan aku melihatnya.” Beatrix Gong menyingkirkan tangannya dan kembali menatap sosok itu, Bryan Gong pun mencubit pipinya lagi.
Kali ini Beatrix Gong merasa kesakitan, ia mengaduh, “Sakit!”
Setelah memberinya pelajaran, Bryan Gong kembali duduk di kursinya, ia diam-diam tersenyum, ia merasakan seseorang menatapnya dari seberang, ia tahu Sella Ji sedang menatap ke arahnya. Ia tersenyum sambil berusaha menenangkan diri setelah berdebat dengan adiknya.
Lalu dengan tenang ia mengarahkan pandangannya ke arah Sella Ji, Sella Ji menundukkan kepala, entah sedang memikirkan apa.
Sella Ji duduk di seberang diagonalnya, maka ia tentu bisa melihat interaksinya dengan gadis itu, dan baru saja, ia melihat mereka tampak semakin mesra dibandingkan sebelumnya.
Dan saat gadis itu menoleh ke arahnya tadi, senyumnya sangat indah, sangat cantik, membuatnya terpesona.
Baguslah, kekasihnya sangat cantik dan menggemaskan, bukankah seharusnya ia ikut merasa gembira untuknya? Setidaknya kekasihnya tidak seperti Christy Lan.
Jayce Ji tidak menoleh ke belakang ke arah Bryan Gong, tapi ia bisa melihat seluruh ekspresi Sella Ji. Ia merasa sangat pedih, tapi ia tak tahu bagaimana cara membantunya.
Beatrix Gong sama sekali tak menyadari apa yang sedang terjadi, ia juga tak tahu bahwa mantan kekasih kakaknya sedang duduk di seberang diagonal mereka, setelah dicubit kakaknya, ia tak berani lagi menguji kesabaran kakaknya, dan begitu es krim pesanannya tiba, dengan mata berbinar ia segera meraih sendok dan memakannya.
“Cobalah.” Beatrix Gong menyendok es krimnya dan menyuapkannya pada Bryan Gong, Bryan Gong menatapnya dan menggeleng.
“Makanlah! Ini suapan yang pertama, tenang saja, aku belum memakannya.” Bujuk Beatrix Gong lagi, sebenarnya hal ini juga tidak masalah di antara saudara.
Bryan Gong bisa merasakan mata Sella Ji menatapnya, ia tahu Sella Ji pasti salah paham, mengira adiknya yang duduk di hadapannya ini adalah kekasihnya yang sekarang, ia mendengus, biarkan saja ia salah paham, biarkan ia menyadari bahwa tanpa dirinya pun, di sisinya masih ada wanita lain yang lebih baik.
Dan adiknya memang termasuk wanita yang cantik, ia segera membuka mulutnya, melahap sesendok es krim yang disuapkan adiknya.
Beatrix Gong menarik kembali sendoknya sambil tersenyum, kemudian membilasnya di dalam segelas air di sebelahnya, lalu tanpa menawarinya lagi, ia memakannya sampai habis sambil terus memuji, “Enak sekali! Apakah sebaiknya aku pesan lagi?”
“Jangan terlalu banyak makan makanan manis, apa kau mau menjadi gendut?”
“Tidak akan, aku adalah tipe yang tidak bisa gendut walaupun banyak makan.”
Sella Ji di seberangnya mengalihkan pandangannya, ia tak bisa menyembunyikan rasa iri dan cemburunya.
Ia seolah mendengar suara hatinya hancur, Bryan Gong selalu menguasai lubuk hatinya yang terdalam. Selama 3 tahun ini, ia telah bertemu begitu banyak orang, dan tak sedikit pria yang menyatakan cinta padanya, tapi ia tak pernah membiarkan mereka menggantikan posisi Bryan Gong.
__ADS_1
Ia tak bisa berhenti mencintainya, ia hanya bisa berusaha melupakannya.
Kini, saat bertemu lagi dengannya, ia menyadari, ia telah kehilangannya.
Beatrix Gong memakan es krimnya dengan belepotan seperti anak kecil, Bryan Gong awalnya ingin memberitahunya, tapi akhirnya ia meraih selembar tissue dan menjulurkan tangannya untuk mengusap mulut Beatrix Gong.
Beatrix Gong tersenyum, “Kalau begini kau sudah seperti kekasihku.”
Bryan Gong terdiam tak mengatakan apapun, lalu mengalihkan pandangannya menatap ke arah Sella Ji, Sella Ji dengan panik berusaha menghindar, tapi akhirnya ia memaksakan diri untuk menatapnya dan tersenyum.
Wajah tampan Bryan Gong termenung, apa maksud senyumannya ini?
Apakah semua yang sengaja dilakukannya ini, sama sekali tak mempengaruhinya? Apakah perasaannya 3 tahun lalu telah sirna dari hatinya? Ia tiba-tiba merasa jengkel, ia mengira interaksinya dengan adiknya akan membuatnya sedih, cemburu, dan menyesal telah meninggalkannya.
Rupanya perasaannya sejak dulu telah memudar, Bryan Gong menjadi jengkel, entah jengkel pada siapa, tapi suasana hatinya menjadi buruk.
Tiba-tiba, ia melihat Sella Ji bangkit berdiri, dan sepertinya menanyakan arah ke kamar mandi pada pelayan, lalu kemudian sosoknya berjalan menyusuri koridor.
Bryan Gong segera berkata pada Beatrix Gong bahwa ia hendak ke toilet, dan bangkit berdiri.
Di kamar mandi, Sella Ji sedang berdiri bertumpu pada wastafel dengan ekspresi sedih, air matanya mengalir, ia merasa sangat sakit hati.
Tapi tak ada cara baginya untuk mengenyahkan luka ini. Ia merasa ditusuk-tusuk, luka lamanya belum juga pulih, luka baru sudah tertoreh.
Sella Ji mendongak dan berusaha menahan air matanya, melihat penampilannya yang tampak lebih kusam, ia menjadi semakin sedih, kemudian ia berusaha menguatkan diri.
Seorang gadis masuk dan berjalan ke sebelahnya, ia segera mencuci tangannya lalu pergi.
Sella Ji membuka pintu, dan ia sangat terkejut saat melihat sesosok pria tinggi bersandar di dinding koridor.
Bryan Gong.
Sepertinya ia sedang menunggu seseorang, ia memasukkan tangannya ke saku dan setengah memejamkan matanya, sangat diam bagaikan sebuah lukisan.
Hati Sella Ji berdegup kencang, ada semacam pria yang bagaikan candu, semakin melihatnya, semakin ia menginginkannya.
Dan Bryan Gong adalah pria semacam itu.
__ADS_1
“Tuan Gong, sungguh kebetulan, kau juga makan di sini.” Sella Ji berjalan berpapasan dengannya dan menyapanya.
Bryan Gong mendongak dan menatap matanya, “Sepertinya hubunganmu dengan kakakmu bukanlah hubungan biasa, bagaimana bisa? Kau mulai menyukai saudaramu sendiri? Begitu mudahnya kau melupakan cinta pertamamu?”
Wajah Sella Ji memerah, kalimat ini sungguh tajam dan menyakitkan, seolah ia adalah seorang wanita gampangan, yang akan langsung mencintai siapapun yang ditemuinya.
Dan hubungannya dengan Jayce Ji hanyalah hubungan saudara biasa, tapi Bryan Gong salah paham dan mengartikannya seperti itu.
“3 tahun telah berlalu, aku sudah berubah, bukankah kau juga sudah berubah? Gadis itu sangat cantik, sangat serasi denganmu, kuharap kalian langgeng.” Sella Ji berusaha menahan emosinya dan mengatakan kalimat itu sambil tersenyum, lalu berjalan pergi.
Karena ia tak ingin lagi mendengar perkataan yang menyakitkan dari mulut pria itu, satu kalimat darinya sudah cukup membuatnya merasa tercabik-cabik.
Bryan Gong ingin menjelaskan hubungannya dengan Beatrix Gong padanya, tapi saat ia akan mengatakannya, ia tiba-tiba berhenti, dan tersenyum mencemooh.
Untuk apa ia menjelaskannya? Biarkan saja ia salah paham, jika ia tahu bahwa selama 3 tahun ini ia tak memiliki kekasih, bukankah ia tampak sangat tidak kompeten?
Sebaliknya, ia bisa mencampakkannya, dan berpaling pada orang lain, dan kini ada seorang pria di sisinya.
Bryan Gong kembali ke tempat duduknya, dan melihat Sella Ji dan Jayce Ji sedang makan, Beatrix Gong juga sedang makan, ia menyambutnya, “Cepat makanlah, enak sekali.”
Tapi Bryan Gong sama sekali tak berselera makan, ia meraih pisau dan garpunya dan mulai memotong steaknya.
Tiba-tiba, dua orang pelayan muncul sambil membawa baki, di atasnya terdapat mawar kristal yang sangat indah, ini adalah hadiah bagi para pasangan yang datang, mereka akan mendapatkannya jika mereka adalah sepasang kekasih.
Mereka tadi telah melewati jendela, maka Beatrix Gong telah melihatnya sejak tadi, dan ia sangat menginginkannya. Maka saat pelayan itu menghampirinya dan menanyakan hubungannya dengan Bryan Gong, ia segera menjawab, “Ya, dia adalah kekasihku.”
Bryan Gong juga tidak membantahnya.
“Nona, kekasih anda sangat tampan.” Puji pelayan itu sambil menyerahkan setangkai mawar kristal, Beatrix Gong sangat gembira mendapatkan hadiah itu.
Tak jauh dari sana, Sella Ji menatap kejadian ini, wajahnya tampak sedih.
Saat pelayan menghampiri mereka dan menanyakan apakah mereka adalah sepasang kekasih, Jayce Ji segera mengulurkan tangan untuk menerima mawar itu. Saat pelayan itu bergeser ke meja sebelahnya, Jayce Ji menyerahkan mawar kristal itu pada Sella Ji, “Untukmu, jangan bersedih.”
Sella Ji meraihnya dan mengaguminya.
Tanpa menyadari bahwa di meja di dekat jendela, seorang pria menatapnya dengan ekspresi jengkel, rupanya tebakannya benar.
__ADS_1
Mereka adalah sepasang kekasih, jika tidak, mana mungkin mereka mendapatkan mawar itu? Bryan Gong merasa sangat jengkel.