
“Tetapi, kalau ingin dikatakan, putri Dolores itu memang sangat cantik, akan sangat disayangkan kalau seandainya dia tidak menikah dengan pria yang kaya untuk menghidupinya nanti.”
Dolores langsung tersenyum dengan bangga, “Tentu saja! Aku sekarang bermain mahyong juga hanya untuk bersenang-senang, nanti, di masa depan, aku hanya perlu mempercayakan semuanya kepada menantuku itu.”
Pepatah mengatakan bahwa kekayaan tidaklah untuk diumbar, dan kesombongan juga memerlukan harga yang perlu dibayar. Ketika Dolores sedang berbicara dengan girangnya, tiga orang pria yang sedang bermain kartu di sebuah meja dekat mereka langsung bertukar pandang satu sama lain, mereka adalah orang yang sering menipu di tempat bermain mahyong, disaat yang bersamaan, mereka memiliki rencana yang lebih besar lagi di belakang mereka, yaitu untuk menarik orang-orang besar dan kaya untuk pergi ke tempat judi dan memainkan judi yang besar, dan disaat itu, ucapan Dolores itu langsung membuat mereka menjadikan wanita itu sebagai target mereka.
Di dalam vila Bryan , Sella kembali lagi kesana, dan sekarang dia sedang menemani Hero bermain piringan terbang di halaman, sedangkan Bryan sedang duduk diatas sofa di bawah sebuah payung teduh yang besar disebelahnya dengan sebuah laptop terletak di atas meja di depannya, bekerja.
Bryan terus memandangi gadis dan peliharaannya itu sambil menulis sebuah e-mail, melihat sosok mereka yang bermain dengan gembira di dekatnya itu, membuat pekerjaannya seolah-olah berubah menjadi semacam hal yang menyenangkan.
Dan benar saja, rumahnya itu menjadi lebih hidup dan ceria ketika ditambah dengan kehadiran seorang gadis.
Suara jernih dan nyaring milik Sella yang terdengar dari waktu ke waktu, ditemani dengan suara gonggongan Hero yang penuh semangat itu, bisa dikatakan sebuah pemandangan di halaman rumput sore itu.
Pukul enam sore tepat, koki Bryan Gong datang untuk menyiapkan makan malam untuk mereka, Bryan Gong lalu berhenti bekerja dan berjalan ke tengah halaman itu hanya untuk melihat Sella dan Hero yang sedang duduk bersama sambil termenung memandangi pemandangan matahari terbenam yang jauh setelah lelah bermain.
Sebuah karpet yang lembut terbentang di atas tanah itu, Sella yang tidak menyadari kedatangan Bryan itu mencabut sekuntum bunga liar kecil di sampingnya dan menyelipkannya di atas telinga Hero, dirinya mulai membayangkan betapa lucunya Hero kalau dia adalah seorang gadis kecil.
Setelah menaruh bunga itu, Sella mendengar suara langkah kaki dan langsung melihat Bryan datang ketika menaikkan kepalanya, setelah panik untuk beberapa saat, dirinya langsung mengambil dan membuang bunga di atas telinga Hero itu.
Melihat hal itu, alih-alih mengatakan sesuatu, Bryan langsung duduk di karpet itu dan berbaring dengan menyilangkan kedua tangannya dibelakang kepalanya, berbaring sambil melihat langit biru yang cerah itu juga merupakan sebuah kenikmatan.
Karpet itu juga cukup besar, Hero berada di tengah, ketika mengangkat kepalanya dan melihat langit biru yang masih bersih berwarna biru tua dengan awan putih melayang di antaranya itu, Sella juga ikut berbaring, melihat pemandangan langit yang luas itu membuat hatinya seperti ikut menjadi tenang.
Sella juga menghitung awan di atas langit itu sambil termenung, memikirkan seperti apa bentuk awan-awan itu, juga mengamati kecepatan awan-awan itu melayang.
Hero membatasi mereka dengan berada di tengah-tengah mereka, tetapi sekarang, ada sesuatu yang menarik perhatiannya dan membuatnya berdiri, dan sekali Hero berlari, tidak ada apa-apa lagi yang membatasi mereka, Sella refleks menoleh dan begitu pula pria disebelahnya itu.
__ADS_1
Dan seperti itu lah, sambil berbaring, dengan jarak sekitar setengah lengan diantara mereka, dua pasang mata itu bertemu, mata yang jernih dan bersih itu memantulkan wajah mereka satu sama lain, waktu diantara mereka langsung seperti terhenti untuk beberapa detik.
Sella lalu mengedipkan matanya, setelah merasakan wajahnya memerah, dirinya langsung membuang wajahnya dan bangun untuk duduk, dan disaat itulah Hero tiba-tiba meloncat ke arahnya dengan penuh semangat, Sella tentu saja akan terjatuh ke belakang ketika diterpa oleh anjing sebesar itu.
Dirinya langsung berubah kaku ketika kepalanya bersandar di atas dada kekar pria itu, astaga! Dia tiba-tiba jatuh kedalam pelukkan Bryan Gong.
Dan disaat itu, Hero terus menimpa Sella dengan kepalanya, seolah-olah dirinya sengaja ingin membuat gadis itu jatuh dalam pelukkan majikannya itu.
Bryan terkejut dan langsung menjulurkan tangannya untuk menahan pundak Sella , lalu melihat ke arah Hero dan berkata, “Hero, hentikan.”
Hero lalu langsung duduk di samping mereka dengan polos, Sella Xingin bangun, tetapi karena setengah berbaring di atas dada Bryan , dirinya justru tidak bisa langsung bangun, disaat itu, sebuah lengan yang kekar mendorongnya dan disaat itulah dirinya baru bisa bangun untuk duduk, Sella kemudian langsung bergeser kesamping.
Bryan menjulurkan tangannya dan mengelus-elus kepala Hero, lalu, alih-alih memarahi peliharaannya itu, dirinya justru merasa lucu, apa jangan-jangan Hero sengaja mendorong gadis itu jatuh ke dalam pelukkannya?
Rambut panjang Sella itu barusan menyapu daerah diluar karpet itu, dan sekarang ada beberapa helai rumput tersangkut di ujung rambutnya, tetapi dirinya tidak menyadari hal itu, Bryan yang melihatnya tentu saja menjulurkan tangannya, lalu ketika wanita itu duduk membelakangi dirinya,
Makan malam mereka sangat bervariasi seperti biasanya, setiap hidangan ditata dengan rapi dan masih disajikan satu-persatu ke atas meja, semuanya dikerjakan dengan penuh perhatian.
Setelah makan malam, koki-koki itu membereskan semuanya dan pergi, satu bangunan vila itu juga berubah menjadi tenang, Sella lalu pergi mencari buku ke dalam ruang baca Bryan untuk menghabiskan waktunya, dia tidak memiliki hobi lain sekarang selain membaca buku.
Malamnya, Sella juga mencuci rambutnya sewaktu mandi, setelah mengeringkan rambutnya sampai setengah kering dengan pengering rambut, dia mengerai rambutnya begitu saja untuk membiarkannya kering sepenuhnya dengan alami, Sella kemudian duduk di balkon untuk menikmati angin malam, tetapi dirinya tidak tahu bahwa balkon kamarnya dan balkon kamar Bryan itu ternyata terhubung.
Jadi, dirinya bisa melihat balkon kamar pria itu.
Tidak tahu mengapa, Sella menjadi penasaran tentang apa yang sedang di lakukan pria itu ketika melihat lampu kamarnya masih menyala.
Dan ketika dirinya sedang memikirkan hal itulah sebuah sosok yang tinggi dan langsing itu berjalan keluar ke balkon, dia lalu melihat Bryan keluar hanya dengan berbalut sehelai handuk putih di pinggangnya, dibawah cahaya lampu kuning itu, tangannya sedang memegang segelas anggur merah, pria itu sedang menikmati rasa anggur itu sambil memandang kejauhan.
__ADS_1
Karena Sella keluar lebih dulu, dan lampu dibalkonnya itu belum dinyalakan, Bryan menjadi sama sekali tidak tahu bahwa gadis itu juga berada di balkon.
Mata Sella langsung membesar, tertegun melihat pria bertelanjang dada yang hanya dibungkus dengan sehelai handuk di balkon sebelahnya itu, tidak lama wajah cantiknya langsung memerah sampai ketelinganya.
Dia kemudian langsung menutup mulutnya dengan tangannya agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun, dan dalam kondisi panik itu dirinya berpikir untuk kembali ke kamarnya.
Tetapi dia tidak pernah berpikir bahwa akan ada sebuah meja kaca di balkon itu, dan disaat dia memutar tubuhnya dengan terburu-buru itulah lututnya langsung menabrak sudut meja itu, mengeluarkan suara yang sangat besar, memberikan kesan seolah-olah meja kaca itu sudah akan terbalik.
Tetapi Sella Xia tidak mempunyai waktu untuk memikirkan rasa sakit itu lagi, dirinya langsung masuk bersembunyi ke dalam kamar karena malu.
Ketika mendengar suara dari sebelah itulah Bryan baru sadar bahwa Sella Xia tadi juga berada di balkon, dan sewaktu dia menunduk untuk melihat pinggangnya yang hanya dibalut oleh sehelai handuk itulah dirinya berpikir, suara tadi pasti karena gadis itu menabrak sesuatu karena panik.
Bryan Gong lalu menyipitkan matanya dan berjalan kembali ke kamarnya.
Sella Xia duduk disisi tempat tidurnya, dibawah lampu itu dia bisa melihat dengan jelas tempat dimana dirinya menabrak meja itu, tidak hanya lebam dan memar, masih ada beberapa bekas luka yang mengeluarkan darah.
Lukanya itu sangat sakit sampai-sampai dirinya langsung memukul-mukul udara kosong didepannya, astaga! Ternyata memang ada harga yang harus dibayar kalau terlalu tergesa-gesa.
Sakit sekali!
Sella Xia hanya bisa menahannya, dia juga tidak bisa mengganggu Bryan Gong sekarang, dan lagi, dirinya bukanlah seorang yang manja, dia sudah sering sekali mendapatkan luka seperti itu.
Jadi, meskipun samar, orang-orang masih bisa melihat dengan samar bekas luka yang pernah dialaminya dulu di kakinya.
Sella duduk di atas tempat tidur itu sambil menahan sakit dan berencana untuk tidur sambil menahan sakitnya seperti itu saja.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk, membuat dirinya seketika langsung terkejut, dia tidak mempunyai pilihan lain selain berjalan tergopoh-gopoh untuk membuka pintu itu. Ketika membuka pintu itu, Bryan Gong berdiri disana sambil membawa kotak P3K ditangannya.
__ADS_1