Kisah Asmara Bryan

Kisah Asmara Bryan
Bau yang familiar


__ADS_3

3 hari kemudian, Sella Ji dan Jayce Ji mulai tinggal di mansion itu, mansion itu sangat besar, kamar Jayce Ji dan Sella Ji berbeda lantai, kamar dan ruang baca Jayce Ji berada di lantai 2, sedangkan Sella Ji di lantai 3, Jayce Ji juga tak ingin mengganggu privasi Sella Ji.



Ia tahu, sebelum Sella Ji bisa sepenuhnya melupakan Bryan Gong, ungkapan perasaannya akan membuat Sella Ji merasa tertekan, maka ia berusaha menyembunyikan perasaannya.



Ia bahkan tak memberitahunya bahwa sebelum Tuan Ji meninggal, ia berpesan padanya untuk menjaga Sella Ji.



Bagi Sella Ji, Jayce Ji adalah kakaknya, meskipun mereka tak memiliki hubungan darah, tapi ia telah menganggapnya kakak.



Memindahkan kantor pusat adalah hal yang sangat merepotkan, maka hampir setiap saat Jayce Ji berada di kantor untuk mengurus berbagai hal. Karena kondisi belum stabil, saat ini Jayce Ji meliburkan Sella Ji untuk beberapa hari, setelah ia membereskannya, barulah ia akan membawanya ke Ji’s Corp untuk mempelajari urusan di sini.



Pagi-pagi, saat terbangun, Sella Ji mendengar suara pelayannya sedang membuat sarapan di bawah, ia meregangkan tangannya sejenak, lalu berjalan ke balkon, gordennya terbuka secara otomatis. Balkon Sella Ji menghadap ke arah mansion Bryan Gong. Ia menatap ke arah mansion itu, dalam hati ia selalu merasa tertekan.



Meskipun ia tahu Bryan Gong masih di luar negeri, tapi setiap kali melihat mansion itu, ia selalu teringat akan masa lalunya dengannya, ingatan itu sangat jelas, seolah baru terjadi kemarin, dan selalu menghantui pikirannya.



Sella Ji menopang dagunya, menatap ke arah mansion Bryan Gong, lalu akhirnya turun untuk sarapan.



Tapi ia tak tahu, di depan sebuah jendela besar di kamar utama di mansion Bryan Gong, sesosok pria jangkung sedang berdiri di depan jendela, menatap pemandangan di kejauhan, Bryan Gong tak menyangka bahwa Jayce Ji akan memindahkan kantor pusatnya ke sini. Hal ini berarti ia dan Sella Ji akan tinggal di sini untuk waktu yang lama.



Bryan Gong memicingkan matanya, sebuah ekspresi muram terlintas di matanya, menunjukkan sekelebat emosi yang tak bisa ditebak oleh orang lain.



“Guk...” terdengar suara jenggongan anjing dari bawah. Ia segera menatap ke arah halaman, dan melihat sosok Hero berlari masuk dari pagar.



Dalam hati Bryan Gong agak merasa bersalah, karena urusan perusahaan di luar negeri sangat sibuk, ia sudah cukup lama tidak bertemu dengannya, ia merasa agak bersalah pada anjing ini.



Baru saja Bryan Gong berjalan ke arah pintu kamarnya, Hero telah berlari ke arahnya, memanjat-manjat tubuhnya dan menjilat punggung tangannya dengan penuh semangat, Bryan Gong mengelus kepalanya, “Aku juga sangat merindukanmu.”


__ADS_1


“Auuu...” Hero sedang memarahinya karena ia telah meninggalkan dan tak mempedulikannya.



Bryan Gong segera tersenyum dan menghiburnya, “Aku bukannya tak mempedulikanmu, hanya saja aku sangat sibuk, mulai saat ini, kau akan terus berada di sisiku.”



Hero merasa sangat gembira, ia menggoyang-goyangkan ekornya, maju, dan mengendus-endusnya, seperti seorang teman yang lama tak berjumpa.



Bryan Gong berkata padanya, “Ayo turun untuk sarapan!”



Rico He juga datang, sejak saat ini, lagi-lagi ialah yang akan mengurus hidup Bryan Gong.



“Tuan, apakah hari ini anda pergi ke kantor?” tanya Rico He.



“Hari ini tidak, aku akan menemani Hero dulu.” Jawab Bryan Gong sambil menatap Hero, ia tiba-tiba teringat akan Sella Ji lagi, saat ia dan Hero berada di sini, rasanya seperti di rumah.



Saat ini bulan Juni, dan cuaca yang awalnya gerimis kini telah menjadi cerah, matahari bersinar cerah, dan udara terasa sangat bersih.




“Ayo, Hero!” seru Bryan Gong pada Hero sambil membawa tali anjing di tangannya.



Saat ia memanggilnya, Hero yang sedang menggali lubang di halaman segera berlari ke arahnya, saat tahu ia akan dibawa jalan-jalan, ia menggonggong dengan penuh semangat.



“Kau harus patuh, jangan berlari jauh-jauh.” Perintah Bryan Gong, lalu ia mulai melangkah tanpa arah.



Hero adalah seekor anjing yang sangat bersemangat, ia suka mengendus dan kencing dimana-mana, untuk meninggalkan jejaknya untuk berjaga-jaga jika ia tersesat.



Ia menatapnya bagaikan menatap anaknya sendiri, penuh cinta dan kasih sayang, saat ia berpapasan dengan orang lain, Bryan Gong selalu memegangi Hero, meskipun ia tak akan menggigit, tapi ia takut Hero membuat orang lain merasa takut.

__ADS_1



Saat tak ada orang di sekitarnya, barulah ia membebaskan Hero untuk berjalan-jalan sesuka hatinya, di komplek perumahan ini terdapat banyak pohon rimbun dan taman-taman, tapi jarang tampak warga perumahan ini keluar untuk berjalan-jalan.



Bryan Gong tak menyadari bahwa arah yang dipilihnya menuju ke halaman samping mansion Sella Ji, di tengah halaman itu terdapat sebuah air mancur yang dikelilingi bebungaan, dan rumputnya telah dipotong dengan rapi, tapi tetap terlihat alami.



Saat ini, Sella Ji sedang duduk di taman itu, membaca sebuah buku di teras yang teduh sambil menikmati secangkir teh. Saat jaraknya hanya kurang dari 5 km dari Hero, hidung Hero yang sangat sensitif segera mencium baunya. Hero yang awalnya sedang bermain-main tiba-tiba menegakkan kepalanya, dan matanya menatap tajam ke satu arah, sepasang telinganya berdiri tegak, seolah sedang menangkap suara yang familiar.



Bryan Gong yang sedang menungguinya di sebelahnya sambil dengan santai memasukkan tangannya di saku, menatap ekspresi Hero dengan terkejut.



Biasanya jika telinga Hero terangkat, pasti ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Apakah ada seekor anjing betina dekat-dekat sini?



Hero juga telah dikawinkan beberapa kali, dan jika dihitung-hitung, sekarang memang sudah siklusnya.



Bryan Gong merasa agak khawatir, ia tak ingin Hero melakukan itu dengan anjing lain di jalanan seperti ini, hal ini akan membuatnya sangat malu sebagai pemiliknya.



Saat ia sedang memikirkannya, ia melihat Hero telah menentukan arah yang ingin ditujunya, dan terus berjalan sambil mengendus-endus.



“Hero, mau kemana kau? Jangan pergi sembarangan, kembali ke sini.” Bryan Gong mengira ia pergi untuk mencari seekor anjing betina, maka ia tidak mengikutinya dan memanggilnya untuk kembali.



“Hero!” kata Bryan Gong dengan tegas.



Tapi Hero tak mempedulikannya, ia terus mengendus sambil perlahan berjalan maju, berusaha menemukan arah.



Bryan Gong merasa jengkel, dengan langkah lebar ia mengikutinya, hendak menghentikannya, “Hero, ayo pulang. Jangan maju lagi.”



“Hero, aku akan marah.” Bryan Gong berusaha mengancamnya.

__ADS_1



Tapi Hero tak merasa takut, malahan terus berjalan maju, karena semakin dekat, ia semakin mencium bau yang familiar itu, ia menjenggong dengan penuh semangat. Di belakangnya, wajah Bryan Gong tampak agak khawatir, ia tak ingin Hero mengawini anjing lain.


__ADS_2