Kisah Asmara Bryan

Kisah Asmara Bryan
Menjadi tetangga


__ADS_3

Di hotel.



Sella Ji seorang diri di kamarnya, menatap ke arah langit luas di luar, tak jauh dari sana, tampak gedung Gong’s Corp diselimuti kabut tipis, membuatnya tampak misterius.



Kemudian Sella Ji menatap kantor pusat Ji’s Corp yang berada di seberang gedung Gong’s Corp, mereka saling berhadap-hadapan.



Selama beberapa hari, Sella Ji dan Jayce Ji pergi ke beberapa lokasi untuk memilih mansion yang mereka suka. Saat sales dari perusahaan real estate itu menelepon, ia mengatakan ada sebuah mansion di sebuah komplek perumahan yang sedang dijual. Lokasinya sangat strategis, dekat dengan pusat kota, dan lingkungannya juga cukup bagus.



Sella Ji baru saja datang bulan, maka pagi itu ia merasa tidak enak badan dan perutnya sakit, maka Jayce Ji yang menerima teleponnya dan pergi untuk melihat-lihat.



Setelah melihat-lihat, ia mengambil beberapa foto untuk ditunjukkannya pada Sella Ji, melihat mansion itu sangat bagus, di telepon, Sella Ji segera menyetujui untuk membelinya. Jayce Ji juga merasa sangat puas, ia segera membayar penuh untuk membeli mansion itu.



Ia tak ingin terus-menerus tinggal di hotel, ia ingin tinggal di rumah yang nyaman dengan Sella Ji, Sella Ji juga sama sekali tak menanyakan lokasinya, dan Jayce Ji bilang mansion itu sedang direnovasi.



Setelah selesai renovasi, baru ia akan ke sana untuk melihatnya.



Seminggu kemudian, sebuah pesawat pribadi yang lain mendarat di bandara. Pria yang turun dari pesawat itu mengenakan jas hitam, ia tampak sangat berwibawa dan berkharisma.



“Tuan Gong, iring-iringan mobil anda telah menunggu di luar bandara.”



“Baik.” Jawab Bryan Gong. Lalu ia meraih ponselnya dan menelepon Beatrix Gong.



Dari ujung telepon terdengar suara baru bangun, “Halo...”



“Aku sudah tiba, kau baik-baiklah di sana. Setelah urusanmu selesai, kembalilah ke sini bertemu ayah dan ibu.”



“Aku tahu, kalau begitu, mansionmu sekarang menjadi milikku, aku bisa menikmatinya sendiri!” kata Beatrix Gong sambil tersenyum lebar.



“Jangan sering begadang, perhatikan kesehatan, jangan membaca novel, perbanyak membaca buku pengetahuan, dan jangan lupa belajar.”


__ADS_1


“Baiklah! Kenapa kau lebih cerewet dari ayah dan ibu! Pulang dan istirahatlah dulu. Aku masih ingin tidur.” Setelahnya, ia menutup telepon.



Bryan Gong menggeleng-gelengkan kepala seperti orang tua yang merasa jengkel, dan ia berjalan keluar dari bandara dengan dikelilingi oleh para bodyguard.



Sementara segerombolan penggemar sedang menunggu kedatangan seorang artis di bandara, saat melihat seorang pria tampan berjalan ke arah mereka, mereka semua terkagum, tuan muda keluarga manakah pria ini! Sangat tampan, sangat berwibawa, beberapa orang segera meraih ponselnya dan diam-diam memotretnya.



Bryan Gong mengenakan kacamata hitam, membuatnya tampak misterius, dan saat ia melihat seseorang diam-diam memotretnya, ia menatapnya dengan tajam, membuat orang yang memotret diam-diam itu sangat ketakutan hingga tangannya gemetaran.



Bryan Gong duduk di jok belakang mobil, ia melepaskan kacamata hitamnya, mengusap-usap keningnya, dan menatap jalanan di luar jendela.



Di pesawat tadi, ia tak punya banyak waktu untuk tidur, tapi saat ini, meskipun ia agak mengantuk, entah kenapa ia sama sekali tak terpikirkan untuk tidur.



Kota ini sangat berkesan baginya. Ini adalah kampung halamannya, dan juga tempat ia pertama kalinya jatuh cinta. Meskipun ia tak ingin lagi memikirkan tentang perasaan itu, tapi perasaan yang dulunya terpatri di hatinya itu masih terus muncul menghantuinya.



Tanpa sengaja, mobil itu melewati sebuah hotel bintang 5, Bryan Gong memicingkan matanya, di pintu hotel inilah ia pertama kalinya bertemu dengan Sella Ji.




Saat itu, ia adalah dunianya. Tapi tak disangka, rupanya ini hanyalah angan-angannya, sementara Sella Ji hanya mempermainkan perasaannya.



Saat cinta pertamanya kembali, ia segera mencampakkannya, ini adalah hal yang paling mengecewakan bagi Bryan Gong. Ia juga merasa sangat terhina, perasaannya yang tulus hanya dianggapnya sebagai suatu candaan.



Bryan Gong kembali ke mansionnya. Ia telah mengenyahkan sosok Sella Ji dari sini, saat ia pulang saat itu, ia segera menyuruh Rico He membuang seluruh barang yang pernah digunakan Sella Ji.



Kini karena ia telah kembali ke China lagi, Rico He dan para pelayan juga bergegas menuju ke mansionnya, dan anjingnya, Hero, juga akan diantarkan ke sana.



Bryan Gong tahu, Sella Ji juga berada di sini.



Sangat lucu, semuanya kembali ke titik semula.



Setelah pulang, Bryan Gong segera mandi lalu beristirahat di kamarnya.

__ADS_1



Sella Ji menerima telepon dari kakaknya, bahwa mansion itu telah dirapikan dan beberapa furniturnya telah diganti, dan sudah bisa ditinggali. Hari ini ia akan membawanya kesana untuk melihat apakah masih ada yang perlu diubah.



Sella Ji masih belum mengetahui di mana letak mansion yang dibelinya ini, maka hari ini ia pergi bersama Jayce Ji untuk melihat-lihat mansion itu.



Tapi saat Jayce Ji membelokkan mobilnya ke sebuah perempatan, ia tiba-tiba mempunyai firasat buruk, apakah kakak membeli mansion di distrik yang sama dengan mansion Bryan Gong?



Dan semakin Jayce Ji melaju ke arah itu, dalam hati Sella Ji menjadi semakin panik. Ia ingat mansion Bryan Gong letaknya menyendiri, tapi di sekitarnya banyak kompleks mansion-mansion, mungkinkah mansion kakaknya juga berada di distrik ini?



Sebenarnya apa yang kau takutkan.



Jayce Ji memarkirkan mobilnya di depan sebuah mansion, dan Sella Ji mengingat, sepertinya mansion Bryan Gong jaraknya tidak lebih dari 1 km dari tempat ini.



Jika ia berdiri di balkon, ia bisa melihat mansion Bryan Gong yang berada di kaki gunung, tapi Sella Ji tak memberitahu Jayce Ji tentang hal ini.



Kakaknya telah mencurahkan banyak usaha untuk merenovasi mansion ini, dan ia juga sudah membayarnya penuh, tentu saja mansion ini takkan bisa dikembalikan.



Sella Ji tersenyum pahit, ia tak menyangka ia akan menjadi tetangga Bryan Gong, ia berharap semoga ke depannya ia tak pernah bertemu dengannya.



“Kau suka? Apakah ada yang harus diubah? Segera beritahu aku.” Tanya Jayce Ji.



Sella Ji menatap ke sekelilingnya dan menggeleng, “Tak perlu diubah lagi, sudah sangat bagus, aku sangat menyukai interior bergaya Eropa seperti ini.”



“Baguslah jika kau menyukainya, kalau begitu kita pilih hari baik untuk pindah ke sini.” Kata Jayce Ji.



Sella Ji mengangguk, “Baiklah, kakak pilih saja harinya.”



“Apakah sebelumnya kau sudah pernah datang ke sini? Apakah area ini tidak asing bagimu?” tanya Jayce Ji dengan penasaran.



Sella Ji segera menggeleng dan dengan panik berkata, “Tidak, belum pernah.” Jayce Ji juga tahu bahwa hidupnya dulu sangat sederhana, sedangkan distrik ini adalah pemukiman orang kaya, maka sangat wajar jika ia belum pernah ke sini, maka ia tak bertanya lebih lanjut.

__ADS_1


__ADS_2