Kisah Asmara Bryan

Kisah Asmara Bryan
Penyakit Tuan Besar Ji Kambuh


__ADS_3

Sekarang semua bisnis Keluarga Ji, ditangani oleh Jayce, jadi dia sangat sibuk, setiap minggu sibuk dengan bisnis Keluarga Ji, waktu yang lain Sella menemani kakeknya, sekejap Sella sudah tinggal disini selama satu setengah tahun, sekarang dia mengenakan pakaian, sikapnya, sudah seperti anak orang kaya, tidak seperti dulu yang kekanak-kanakan, hanya terkadang aku menunjukkan didepan kakeknya, biasanya dia keluar juga menunjukkan sikap yang tenang.



Sella tinggal disini, sebenarnya dalam hati sangat banyak pertanyaan, terhadap ayahnya, dia mengira kakek akan mengatakan, tapi dia sudah menunggu satu setengah tahun, kakek juga tidak pernah mengatakan hal ayah padanya.



Kakek tidak katakan, Sella juga tidak berani tanya, takut membuat kakek sedih karena masalah lalu, dia terpikir, apakah ibu meninggalkan dia didunia, tapi dia sendiri malah meninggalkan dunia ini, apakah dulunya terjadi sesuatu?



Apakah ayahnya menjadi pantangan? Juga seseorang yang tidak ingin di katakan kakek lagi?



Sella hanya bisa terus menahan tidak tanya, Jayce juga tidak pernah katakan padanya, tapi status ayah ini, dalam hati Sella berharap suatu hari bisa tahu orang yang dengan ibunya membawa dia datang ke dunia ini dan tampaknya seperti apa.



Tuan Besar Ji terus menyembunyikan penyakitnya, meskipun Sella sudah kembali, membuat dia dalam keadaan senang, tapi terhadap kepergian putrinya, membuat dia sangat terpukul dan terpengaruhi.



Penyakit datang bagai gungung jatuh, disaat penyakit muncul, banyak gejala penyakit juga akan muncul.



Pelajaran musim semi Sella sudah mau berakhir, liburan sudah datang, pagi dia akan diruang piano latihan, sore dia akan ke peternakan kuda untuk menunggang kuda, menembak dan golf yang gaya elegan.



Dia sangat pintar, juga suka belajar, baru belajar satu tahun dia sudah bisa.



Tuan Besar Ji pertama kali batuk darah ditiga hari lalu, waktu itu yang menemani dia hanya Louis, dia menyuruh Louis jangan memberitahukan hal ini, tapi Louis diam-diam menelepon Jayce, agar dia bisa meluangkan waktu untuk pulang membesuknya.



Batuk darah kedua kali, disaat Sella keluar belajar menunggang kuda, dan saar ini Jayce dari bandara bergegas pulang kesini, saat dia pulang, Louis sudah memanggil dokter datang dan sedang memeriksa Tuan Besar Ji.



Sella hari ini karena ada tidak ada pelajaran, jadi lebih awal pulang, saat dia dihalaman melihat mobil rumah sakit, dia menjadi panik, juga bergegas membuang tasnya di ruang tamu dan dengan panik naik ke atas, benar dia melihat kakek berbaring ditempat tidur, memakai alat oksigen.

__ADS_1



"Kakek..." Sella dengan kaget masuk kedalam, lalu dengan suara kecil memanggil.



Jayce menemani ditempat tidur, dia melihat Sella yang pulang ini juga terkejut, kemudian berkata pada dia, "Sella, kamu ikut aku keluar dulu."



"Kakek kenapa?" Sella dengan cemas tanya pada dia.



Jayce membawa dia ke ruang tamu yang disamping, dia terdiam sejenak, akhirnya mengatakan kenyataan juga, "Tubuh tuan tidak bisa lagi."



"Apa? Apa yang kamu katakan? Tidak mungkin! Tubuh kakek sangat sehat." Sella dengan tidak percaya menggeleng kepala, dimatanya kakek hidup sampai seratus tahun juga tidak masalah, sekarang kakek baru 68 tahun. Jayce menghela nafas, dengan penuh sakit hati melihat dia, "Saat kamu pulang, tuan sudah diperiksa terkena penyakit kanker hati ganas, dia dua tahun ini tidak kambuh, mungkin karena kamu pulang jadi suasana hati senang, juga terus makan obat kemoterapi, tapi kondisi tubuh tuan tidak bisa lagi."



Saat Jayce mengatakan ini, ekspresi yang tenang juga terlihat kesedihan dan tidak berdaya.




Sella pernah merasakan sakit kehilangan seorang keluarga, saat ini belum lewat dua tahun, harus membuat dia merasakan kesakitan ditinggalkan seorang keluarga lagi, hati dia sakit sampai tidak bisa bernafas.



Air mata dari mata yang jernih ini mengalir, Jayce juga memeluk dia, lalu menepis bahunya berkata, "Tuan suruh aku jangan bilang pada kamu, tapi aku tahu masalah ini tidak bisa terus ditutupi, Sella kita bersama temani kehidupan terakhir tuan!"



Sella bergegas memeluk erat dia, kemudian didalam pelukannya menangis, "Tidak, aku tidak ingin kakek pergi...aku ingin bersama dengan kakek hidup, aku tidak ingin dia pergi."



Jayce mengelus kepala dia, seperti senior terhadap anaknya, kemudian membujuknya, "Kamu bisa datang sudah membuat waktu terakhir tuan sangat senang dan penuh harapan, dia pernah katakan aku adalah hadiah dari tuhan, tapi sekarang kamu baru adalah hadiah daru tuhan untuk dia!"



Sella tidak bisa menerima kenyataan ini, dia menangis sebentar, Tuan Besar Ji juga bangun, dia dengan Jayce duduk disamping tempat tidurnya, Tuan Besar Ji melihat Sella yang matanya berkaca-kaca, sudah tahu dia sudah tahu kondisi tubuhnya.

__ADS_1



Derick hanya berkata, "Anak, jangan nangis juga jangan sedih, hidup, tua, sakit, meninggal adalah hal yang biasa."



"Tidak! Aku tidak ingin kakek pergi, kamu pergi, aku bagaimana?" Sella seperti anak yang keras kepala, memeluk tangan dia, lalu menempel wajahnya ke tangannya.



Tuan Besar Ji tertawa, "Kakek sudah pergi, masih bisa ditemani Jayce! Jayce pasti akan jaga kamu dengan baik."



"Tuan kamu tenang saja, aku akan menjaga Sella selamanya." Jayce dengan nada yang yakin katakan.



Derick juga dengan tenang mengangguk kepala, "Jayce jika aku sudah pergi, Sella harus mengandalkan kamu, kamu harus membuat dia bahagia."



Jayce mengerti dengan maksud perkataan tuan, tatapan dia dengan lembut melihat Sella, tatapan terlihat ada cahaya, seperti sedang melihat junior, juga seperti melihat kekasih, dia dengan serius mengangguk kepala, "Aku pasti bisa! Kamu tenang saja."



Sella masih dalam kesedihan, tidak menyadari bahwa kakek mamberi dia pada Jayce untuk menjaga seumur hidupnya.



Kondisi tubuh tuan tidak baik, dia memegang tangan Sella berkata, "Sella, kakek ingin minum teh Da Hong Pao yang kamu buat, bisakah kamu buatkan untuk kakek? Teh yang kamu buat, kakek sangat suka."



Sella mendengar ini, bergegas mengangguk kepala, "Baik, aku segera buatkan." Semua keinginan kakek dia akan penuhi.



Sella baru pergi, Jayce sudah melihat kakek, menunggu perkataan selanjutnya.



Tuan Besar Ji jelas-jelas sedang menghindari Sella, Derick menghela nafas, berkata pada dia, "Jayce, Sella serahkan pada kamu, aku juga tenang, tapi ada hal yang masih tidak bisa membuat aku tenang, Sella kelihatan sangat senang, tapi dalam hatinya penuh banyak masalah yang perlu dijawab."


__ADS_1


Jayce bertanya, "Tentang ayahnya kah?"


__ADS_2