
Berpisah selama tiga tahun, dan sekarang begitu dekat dengannya membuat hati Sella Ji masih agak tegang, sulit untuk tenang, tetapi aroma yang akrab dari belakang mengelilingi tubuhnya, lambat laun menenangkan dirinya.
Bryan Gong meletakkan dagunya yang seksi ke atas bahu Sella Ji, ia juga membungkukkan tubuhnya yang tinggi, melihat laut di kejauhan, lalu berbisik sendu di bawah telinga Sella Ji, “Tiga tahun ini betapa aku merindukanmu.”
Sella Ji sedikit menyandarkan tubuhnya, dia bertanya satu pertanyaan dalam hatinya, “Apa kamu pernah membenci aku?”
Bryan Gong tersenyum pahit, “Bagaimana tidak benci? Aku sangat benci, benci karena tidak merampasmu kembali tiga tahun lalu.” Timbul satu perasaan campur aduk di dalam hati Sella Ji, ia sangat ingin memberitahukan pada Bryan Gong tentang yang sebenarnya terjadi, tetapi, masalah ibu, akhirnya mengurungkan niatnya, awalnya, ibu adalah yang terpenting di hatinya, apalagi setelah ia mengetahui bahwa ia bukan anak kandung, tetapi ibunya tetap bersusah payah membesarkannya, rasa sayang ini jadi semakin dalam.
Sehingga, bila ia dapat untuk tidak memberitahukan orang lain apa yang pernah dilakukan ibunya, ia tak akan memberitahukannya, ia harus menjaga nama baik ibunya.
Memberi tahu Bryan Gong pun tidak, meski ia juga pasti tak akan membocorkannya, namun, ini tetap saja seperti membeberkan masa lalu ibunya kepada orang lain, dia sebagai anak, ini sama sekali tak berbakti.
Sella Ji tidak berani bertanya lagi, takut kalau-kalau ia malah mengangkat kasus tiga tahun lalu, ia memejamkan mata dalam diam, merasakan dekapan erat itu dari belakang, sambil menikmati tiupan angin laut.
Bryan Gong memiringkan kepala, dibawah cahaya lampu memandang wajah mungilnya yang putih berseri, luapan cinta yang hampir-hampir menenggelamkan dirinya keluar dari dalam dalam hati.
Bryan Gong tak kuasa menahan bibirnya, mencium pipi Sella Ji dengan lembut, Sella Ji yang sedang menutup mata kemudian membuka matanya, tidak, lebih tepatnya terkejut lalu membuka mata.
Wajah manisnya memanas, saat ini, ia begitu tenang tidak bergerak, dan juga tidak menolak, tetapi, setiap hal yang dilakukan bersama Bryan Gong masih akan membuatnya tersipu malu.
Bryan Gong tidak melanjutkan, karena takut telah mengejutkan Sella Ji, sebaliknya ia mempererat pelukannya di pinggang Sella Ji.
“Ayo kita jalan!” Sella Ji mengusulkan.
Bryan Gong melepasnya, menarik tangannya lalu berjalan ke depan, saat kembali ke tempat mobil, Bryan Gong mendapati mobilnya kehabisan bensin, sementara waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh.
“Masih bisa jalan sedikit, tetapi tidak tahu apakah ada pom bensin di dekat sini.” Bryan Gong agak kesal karena hal seperti ini terjadi.
Sella Ji melihat-lihat ke samping ada satu petugas sedang membereskan barang, lalu ia bertanya, “Permisi Pak, mau tanya di dekat sini ada pom bensin tidak ya?”
“Pom bensin ya, kira-kira dua puluh kilometer dari sini, sekitar sini tidak ada.
__ADS_1
“Terima kasih.”
Sella Ji berbalik ke arah Bryan Gong, “Dua puluh kilometer baru ada pom bensin, mobilmu bisa tahan tidak?”
“Tidak bisa! Mungkin tidak sampai sepuluh kilometer.” Kata Bryan Gong.
Jam-jam segini, jauh dari kota dan sudah malam, tentu saja tidak bisa menaruh mobil disini begitu saja, jadi mari pulang naik mobil.
Lagipula, jalan ini begitu luas, beberapa menit berlalu tidak ada mobil datang satupun, naik taksi juga pasti tidak bisa.
“Kalian berdua tampaknya bukan orang tak mampu, di dekat sini ada hotel bintang lima.” Seorang tua baik hati mengingatkan.
Wajah Sella Ji memerah, lalu melihat Bryan Gong, kebetulan ia juga melihat Sella Ji, lalu bertanya, “Mau menginap di hotel?”
“Baiklah, mari menginap satu malam!” Sella Ji menganggukkan kepala, setuju.
Terbersit senyuman di mata Bryan Gong, “Oke, malam ini menginap disini, besok pagi aku akan menyuruh orang mengantar bensin kemari.”
Kedua orang itu naik ke atas mobil, kemudian sampai di hotel terdekat, malam hari ternyata malah ramai disini, hotel dengan pemandangan laut, di tempat parkir ada banyak mobil para tamu.
Sella Ji dan Bryan Gong masuk ke lobi, resepsionis langsung berdiri menyambut mereka dengan hangat, Bryan Gong jalan mendekat lalu bertanya, “Masih ada kamar?”
“Ada, permisi tanya, mau pesan satu kamar atau dua kamar?”
“Ada yang suite room?” Sella Ji bertanya.
“Maaf, malam ini ada satu perusahaan yang telah memesan semua kamar, jadi kamar yang tersisa sangat terbatas, tidak ada suite room. Hanya ada kamar deluxe king-size.”
__ADS_1
Wajah Sella Ji memanas, lalu melihat Bryan Gong, ia tak memaksa Sella Ji, “Kalau kamu tidak mau menginap, maka kita akan cari cara untuk kembali ke kota.”
Sella Ji tahu Bryan Gong punya cara, tapi ia tersenyum nakal lalu berkata, “Tidak usah kembali, sudah terlalu malam, menginap saja.”
“Kami pesan satu kamar yang bersebelahan dengan laut.” Bryan Gong dengan cepat memutuskan, takut Sella Ji berubah pikiran.
Petugas hotel melihat pasangan yang menarik ini, tak kuasa menahan kagum pada Sella Ji, lelaki yang tampan dan masih muda ini, penampilan yang memukau, tubuh yang ideal, beruntung sekali Sella Ji.
Petugas hotel memberikan satu kamar yang bersebelahan dengan laut, Bryan Gong mengambil kartu kunci, menggandeng tangan Sella Ji berjalan menuju ke arah sebelah lift.
Bagian atas kamar mewah, dekorasi dan pemandangan sangat indah, balkon yang besar, tetapi, yang menarik perhatian adalah kasurnya yang berbentuk bulat, dibawah cahaya lampu, terlipat dengan rapi, terlihat sangat membuat nyaman.
“Aku mau menelepon Kakak,” Sella Ji berujar, mengambil handphone lalu berjalan ke balkon, menarik nafas dalam satu kali lalu menelepon Kakak.
Entah mengapa ia berencana untuk sedikit berbohong, tak ingin mengatakan pada Kakak bahwa ia bersama Bryan Gong.
Anggap saja untuk melindungi nama baik adiknya. Bagaimanapun juga, seorang wanita dengan asal menyewa satu kamar dengan pria adalah hal yang mengkhawatirkan.
“Halo, Sella Ji, mengapa kamu belum pulang? Aku baru saja ingin meneleponmu.”
“Kak, hari ini aku bertemu dengan saudara perempuanku yang dahulu, aku berencana menginap semalam dirumahnya, sampai jumpa besok di kantor!” Sella Ji telah berbohong.
Jayce Ji tertawa sejenak, “Benarkah? Oke! Kamu hati-hati ya, sampai jumpa besok di kantor.”
“Iya, kamu cepat istirahat ya, selamat malam.” Sella Ji menyelesaikan perkataannya, lalu menutup telepon, tetapi ia punya firasat buruk, cara tertawa Kakak, mengapa sepertinya ia mengatahui sesuatu?
Tidak mungkin! Apa Kakak sungguh bisa menerkanya? Sungguh menyebalkan.
Sella Ji kadang kala agak aneh, Kakak mengapa tidak mencari pacar ya?
Tampaknya nanti kalau ada perempuan yang baik, harus diperkenalkan ke Kakak, supaya dia melepas status lajangnya. Kebetulan, tentang hal ini ia diam-diam sehati dengan Bryan Gong, Bryan Gong juga merasa harus segera menyelesaikan kehidupan lajang Jayce Ji, kalau tidak, ia juga akan khawatir.
__ADS_1