
“Iya! Dia sudah membayarnya.” Hati Sella merasa tenang, tanpa bantuan dia dirinya tidak tahu bagaimana ibunya akan melewati semua ini.
“Baik, sampai bertemu nanti malam.” Bryan berkata sambil menutup teleponnya.
Sella menghelakan nafasnya dia merasa berutang terlalu banyak kepada Bryan mungkin seumur hidup ini dirinya tidak bisa membayarnya.
Setelah itu Dolores kembali dengan beberapa buah-buahan yang dia beli, dia berjanji kepada Sella untuk tidak berjudi lagi.
Tadi dia bertemu dengan teman mahyongnya, kemudian mengajak dia untuk bermain mahjong tetapi dirinya menolak.
Dirinya sungguh tidak ingin melakukan perjudian lagi dan akhir-akhir ini dirinya merasa takut.
Sella mencuci buah-buahan ini, ibu dan putrinya sambil menonton tv sambil memakan buah ini.
Pada saat ini, ditelevisi ada seseorang yang berperan sebagai seorang pelacur, kemudian Sella melihat kearah ibunya, terlihat jelas wajah Dolores seperti tidak nyaman.
Seketika Sella seperti ingin mengetahui masa lalu ibunya dengan seperti itu dirinya ingin tahu seperti apa ayahnya itu.
“Ma, bolehkah aku bertanya denganmu?” Sella dengan penasaran bertanya.
Dolores mengangkat kepalanya, “Tanyakanlah!”
“Ma, pada saat di rumah sakit, aku melihat pesan yang dikirimkan kak Xia, apakah dia partner kerjamu dulu?”
Wajah Dolores seketika berubah, “Buat apa kamu menanyakan ini?”
“Ma, sebenarnya pekerjaan apa yang kamu kerjakan dulu.” Sella dengan penasaran melihat kearah ibunya.
Dolores merasa malu di depan putrinya, pada saat ini tatapan putrinya itu membuat dia seperti dipermalukan.
Dengan wajah kebingungan dia berkata, “Buat apa kamu menanyakan semua ini?”
“Karena aku ingin tahu seperti apa wajah ayahku, kamu tidak pernah membicarakannya di depanku.” Sella terlihat bingung dan berkata.
Dolores merasa bingung, ayahnya siapa? Hal ini dirinya sendiri tidak bisa memberitahunya.
__ADS_1
“Ma, beritahu aku oke? Kasih tahu aku, siapa ayahku?” Sella memohon.
Dalam benak Dolores seperti mengulang kembali kejadian pada saat itu, tentu saja dia tidak bisa memberitahu Sella jika dia memungutnya, dan juga ibunya telah meninggal.
Karena dirinya ingin Sella tahu, jika dia adalah anak kandungnya dengan seperti ini ibu dan putrinya ini bisa memiliki hubungan yang harmonis.
“Ma, apakah dulu kamu bekerja ditempat klub malam? Jadi siapakah ayahku?” Sella dengan penasaran bertanya.
Wajah Dolores memerah melihat putrinya yang sudah besar ini, dirinya sudah tidak bisa menutupi semua hal ini, mungkin semua ini seperti sebuah dugaannya mungkin dirinya bisa memberitahunya, sambil menghelakan nafasnya, “Mama tidak memberitahumu tentang masa laluku karena aku takut jika kamu akan merendahkan aku.”
“Tidak ma, kamu adalah mamaku, bagaimana mungkin aku merendahkanmu? Apapun pekerjaanmu dulu dimataku aku tetap mama yang paling ku sayangi.” Sella mengelengkan kepalanya, dirinya tidak bermaksud merendahkannya hal ini membuat hatinya terasa sakit.
“Benar, dulu aku memang bekerja di klub malam, setelah aku melahirkan kamu, selama 5 tahun aku bekerja.” Dolores mengatakan semuanya.
Setelah Sella mendengar kata 5 tahun wajahnya seperti memucat, seketika dirinya merasa membuka luka ibunya dimasa lalu.
“Ma maaf... aku...” “Tidak apa, semua ini sudah berlalu dan aku tidak peduli dengan semua ini, jika kamu ingin tahu aku tidak akan menutupinya, tetapi setelah melahirkan kamu aku meninggalkan pekerjaan ini, demi kamu aku tidak memutuskan pekerjaan ini.” Dolores berkata dengan jujur, pada tahun itu dirinya sedang naik daunnya tetapi karena takut putrinya akan dihina oleh orang lain maka dia memutuskan untuk keluar dari sana.
Perasaan Sella terasa tidak nyaman, perasaan ini membuat dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menghibur ibunya.
Hati Sella seperti tergores dirinya sendiri sudah dewasa dan dia mengerti perkataan dari ibunya.
“Ma, tidak apa-apa, aku tidak akan mencari papa lagi.” Mata Sella seketika memerah.
Dolores mengeluarkan tangannya untuk mengelus kepala dia, “Bersama mama kamu sangat kesusahan.”
“Tidak! Yang terpenting kamu jangan berjudi lagi, kita lewati kehidupan ini dengan baik ya.” Sella sangat berharap dengan kehidupannya kelak.
“Baik, mama berjanji untuk tidak berjudi lagi, kita akan lewati kehidupan ini dengan baik-baik.” Dolores menganggukkan kepalanya dan sekarang dia ada seorang putri yang cantik, dia mempunyai harapan yang besar sekarang.
Karena dibalik putrinya ada seseorang pria kaya dengan seperti ini kehidupannya kelak bisa bersandar dengannya.
“Sella, apakah kamu tidak kenapa-napa dengan kehidupan mama dulu?” Dolores berkata.
Sella mengelengkan kepalanya dengan serius, “Tidak! Aku tetapi mencintaimu.”
__ADS_1
Dolores yang mendengar perkataan ini merasa sangat bahagia, dia sungguh memiliki seorang putri yang baik, lugu dan mengemaskan.
Walaupun bukan anak kandungnya tetapi dia merasa dia memiliki seorang putri.
Sella berkata jika nanti malam dia akan keluar, hal ini membuat Dolores merasa sangat senang dirinya tidak menghalanginya, malah dia berharap hubungan dia dengan tuan muda gong ini bisa semakin erat.
Biarpun mereka akan bertemu setiap harinya dia tidak akan menghalanginya.
Pukul 6 malam Bryan telah berada dibawah, Sella turun kebawa dan dia telah menunggunya di dalam mobil.
Sella terus melihat keluar jendela, Bryan yang anggun dan tampan ini membuat hatinya terus berdetak dengan kencang.
Dia duduk didalam mobil, Bryan yang melihat dia memiliki perasaan yang menyenangkan juga merasa bahagia, dia akan kembali memberikan kabar baik lagi.
“Pencuri yang mencuri tas ibunya telah ditemukan, pihak polisi sedang mencari dimana cincin itu, mungkin besok akan ada kabar.”
Sella merasa bahagia, “Benarkah? Kabar baik.”
Bryan tersenyum, melihat dia yang begitu peduli dengan barang beriannya membuat dia merasa puas.
“Setelah itu aku tidak akan menghilangkannya lagi.” Sella berjanji.
Bryan malah merasa lucu dengan dia yang terlihat begitu mengemaskan, “Jika hilang tinggal beli lagi.”
“Tidak, barang semahal itu tidak perlu kamu berikan lagi untukku, aku sudah merasa cukup dengan memiliki satu saja.” Sella berjanji tidak akan menghilangkannya.
Bryan mengecilkan matanya, “Bagaimana mungkin tidak diberikan lagi? Semua ini adalah sebuah ungkapan, kita masih harus bertunangan, menikah dan semua ini pasti harus memberikan cincin.”
Sella yang mendengar ini wajahnya memerah, dengan malu dia tidak berani melihat matanya.
“Ini... terlalu cepat!”
Bryan mengecilkan matanya, “Terlalu cepat atau lambat, semua itu kita yang memilihnya.”
Sella merasa apakah perkataannya benar? Dia tidak perlu mengetahui dirinya, hanya ingin bersama dengan dirinya selamanya hingga menua?
__ADS_1
Bryan yang melihat reaksinya merasa mungkin dia merasa terkejut lalu tersenyum, “Kamu tidak perlu merasa tertekan, semua ini akan kita bahas lagi nanti.” Sella menganggukkan kepalanya, “Baik!”