
Awalnya dia berencana ingin pulang naik MRT, tapi Dolores tidak ingin berhimpit-himpiitan di dalam MRT jadi dia pun memanggil taksi untuk pulang, di dalam taksi Dolores masih tidak bisa menaha rasa penasarannya, bertanya kepada Sella Xia “Berapa umur pria itu? Kalian sudah berapa lama tinggal bersama?’
“Ma! Kami hanya teman biasa!” Sella menjawab dengan cepat.
“Apa teman biasa bisa memberikan pakaian sebagus ini? Itu pasti bukan teman biasa! Jadi cepat beri tahu mama, mama ingin tahu.” Dolores mengunci tatapannya pada Sella.
Sella langsung mengalihkan wajahnya, dengan malu berkata “Ma, kamu jangan bertanya lagi.”
“Baiklah, sekarang aku tidak tanya kamu lagi, tapi sesampai di rumah kamu harus beritahu mama.” Dolores juga tidak ingin menanyakan hal ini kepada anaknya sendiri di depan supir taksi. Dia selalu tahu wajah yang dimilik oleh anaknya ini tidak mungkin mirip dengannya, karena anak yang ada di hadapannya ini bukanlah anak kandungnya.
19 tahun yang lalu di malam hari yang sedang turun hujan, dia bertemu dengan seorang wanita yang ingin lompat ke sungai, wanita itu memohon kepadanya agar bisa membawa anaknya pulang, karena dia sudah tidak ada kekuatan lagi untuk hidup di dunia ini.
Saat itu sudah sangat terkejut, ketika wanita itu baru saja menyerahkan anaknya kepada dirinya, dia langsung lompat bunuh diri. Dirinya bahkan tidak tahu siapa nama anak itu, berasal dari keluarga mana anak itu, yang dia tahu hanyalah di dalam tas anak itu terdapat sebuah batu giok yang bewarna hijau, namun karena pada saat itu dia sangat miskin, jadi dia menukar batu giok itu dengan seorang teman perempuan dengan uang, sekarang batu giok itu ada berada di teman perempuannya itu.
Tapi dia sangat senang bisa membawa anak itu pulang kerumah, dengan adanya seorang anak di hidupnya dia tidak akan merasa kesepian lagi, dan karena masalah yang di buatnya sendiri pada jaman dulu, jadi selama sisa hidupnya dia tidak ingin punya anak lagi, jadi bisa memiliki satu anak pasti adalah keberuntungan yang di beri oleh Tuhan kepadanya.
Ketika memungut anak ini, dia baru lahir beberapa hari saja, wajah kecilnya itu merah dan berkejut, awalnya dia mengira kalau dirinya sudah memungut anak yang jelek, tapi siapa sangka makin lama anak ini terlihat semakin cantik, lucu dan menggemaskan.
Dia pikir anak ini seumur hidupnya harus sehat dan baik, maka dari itu dia memberinya nama Sella di tambah dengan marganya sendiri. Sekarang Dolores tiba-tiba teringat dengan wanita yang lompat ke sungai itu, dia tidak tahu mengapa wanita itu mau lompat ke sungai, padahal dia bisa membesarkan anaknya sendiri, yang dia tahu saat itu dia sedang menangis sambil menggendong anaknya di bawah guyuran air hujan, anaknya juga dalam keadaan basah kuyup, mungkin dia berencana ingin membawa anaknya ikut mati juga, tapi akhirnya dia tidak tega dengan anaknya, maka dia membiarkan anaknya hidup dan dia mati sendiri.
Dolores melihat Sella yang sedang ke arah luar jendela, hatinya sedikit sakit ketika teringat dirinya hampir saja memutuskan masa depan anak ini, dia benar-benar sangat menyesal.
Setelah sampai di rumahnya, Dolores membawa masuk kopernya kedalam rumah, lalu dia sadar kalau pintu rumah ini sudah berbubah dan kunci rumah berada di tangan Sella , Dolores dengan terkejut bertanya “Sella, apa yang terjadi? Mengapa pintu rumah kita rusak?”
“Tidak ada apa-apa, saat itu ketika aku pulang ke rumah aku mendapati pintu ini sudah rusak, jadi aku memanggil orang untuk menggantinya.” Sella berbohong.
“Lalu mengapa pintu kamarmu juga diganti?”
“Itu rusak juga! Jadi aku menggantinya bersamaan.” “Ohh!” Dolores berpikir uang yang dimiliki anaknya ini tidak cukup untuk menukar pintu ini, pasti dia tidak menggunakan uangnya sendiri.
__ADS_1
“Sella, cepat beritahu mama kamu bertemu dengan pria seperti apa? Apa dia baik denganmu?” Dolores langsung mengerti kalau anaknya pasti bertemu dengan pria kaya, bisa jadi pria yang sudah menikah, intinya dia khawatir anaknya berada di jalan yang salah.
Sella dengan gugup melihat mamanya, dia menggelengkan kepala berkata “Ma, aku bukanlah wanita yang seperti kamu bayangkan, benar, dia baik denganku, tapi hubunganku dengannya hanyalah sebatas teman saja.”
“Kamu bukannya tidak mengerti pria, pria mana yang bisa dengan polosnya berbuat baik padamu? Pasti dia memiliki tujuan tertentu, entah itu dia memanfaatkan kecantikanmu atau menginginkan tubuhmu, jadi kamu jangan terlalu bodoh!” Dolores memiliki salah sangka yang dalam terhadap pria, dia sudah setua ini tapi masih saja tidak bertemu dengan pria yang ingin di nikahinya.
Sella menganggukkan kepalanya “Ma aku tahu itu, kamu tidak perlu khawatir dengan hidupku, kamu lebih baik menjalani sisa hidupmu dengan baik saja! Jangan pergi berjudi lagi.”
“Apa hutang 650 juta itu benar-benar sudah kamu lunasi?”
“Benar! Dia yang membantuku melunasi hutang itu, jadi sekarang aku berhutang padanya, tapi dia bilang kepadaku tidak perlu terlalu buru-buru untuk melunasinya, aku boleh pelan-pelan membayarnya.”
“Berarti dia benar-benar baik padamu! Apa dia sudah menikah?”
“Belum!”
“Berapa umurnya!”
“Muda sekali! Apa dia tampan?” Dolores merasa senang, sepertinya anaknya tidak berada di jalan yang salah, hanya saja dia mulai bisa berpacaran.
Sella tentu saja tidak mungkin mengatakan kalau Bryan adalah pria yang sangat tampan, karena jika ibunya tahu maka dia semakin bersemangat bertanya sesuatu kepadanya, jadi dia hanya menjawab “Biasa saja.”
“Kalau biasa saja sudah bagus, jangan sampai kamu mendapati pria buruk rupa yang tidak cocok denganmu, bagaimana pun kamu juga anakku, jadi kecantikkanmu ini jangan sampai di sia-siakan seperti itu.” Dolores dengan wajah yang bangga berkata.
Walaupu Sella tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh ibunya ini, tapi dia tidak ingin berdebat dengannya, dia hanya menghelakan nafas ringan, berkata “Ma, kamu harus janji kepadaku kamu jangan berjudi lagi ya?”
Dolores langsung tersenyum dan berjanji berkata “Tenang saja! Mama tidak akan berjudi lagi, tapi mama sempat pergi memohon dengan dewa, lalu dewa itu mengatakan kehidupan kedepannya akan memiliki keberuntungan yang besar.”
Mendengar hal ini Sella mulai khawatir lagi, jika mamanya berpikir seperti ini maka bisa jadi dia akan pergi main judi lagi!
__ADS_1
“Sudah, ayo kita bereskan rumah! Kita berdua akan menjalani hidup dengan baik.”
Sella pukul sepuluh pagi harus pergi melakukan pemotretan, jadi dia memanfaatkan sisa waktu untuk mencuci selimut, setelah itu dia langsung pergi bekerja. Dolores juga cukup lelah, da berencana ingin beristirahat dan memikirkan hidup yang akan dia jalani kdepannya, namun dia juga sangat berharap dengan pria yang berbuat baik pada anaknya itu, jika dia memang baik maka Sella harus terus menjalani hidupnya dengan pria itu, maka kedepannya dia akan mendapati menantu yang hebat, siapa tahu pria itu adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi, maka dia kedepannya akan menjalani hidup yang baik.
Jika Dolores tahu dengan identitas Bryan Gong maka dia pasti akan bangun dari mimpinya sambil tertawa.
Tapi Sella dan Bryan belum sampai ke tahap itu, mereka berawal dari orang asing yang lama kelamaan memiliki hubungan teman biasa.
Sella melakukan pemotretan hingga pukul tiga sore, dia pikir ibunya sudah kembali maka dia sekarang tidak bisa menginap di rumah Bryan seperti biasa, maka dia mencari sebuah taman untuk mengatakan hal ini kepadanya.
Panggilan terhubung.
“Halo!” suara Bryan Gong masih sangat menawan.
“Halo, ini aku Sella .”
“Aku tahu itu kamu, ada apa?” Bryan bertanya.
“Ibuku sudah pulang, jadi mungkin aku tidak bisa tinggal di rumahmu lagi, aku harus tinggal di rumahku sendiri.” Nada bicara Sella sedikit tidak tega.
“Apa dia menyuruhmu pulang?”
“Aku sendiri yang ingin pulang, aku tidak memberitahunya tentang masalah yang terjadi antara kita, jadi dia khawatir padaku.”
“Baiklah! Kamu buat keputusan sendiri saja! Aku tidak bisa menahanmu.” Nada bicara Bryan seperti tidak senang.
“Maaf!” Sella minta maaf kepadanya.
__ADS_1
Bryan Gong menghelakan nafas “Sudahlah, jika kamu ingin pulang ke rumahmu pulang saja, tapi kedepannya kapan saja aku memanggilmu makan kamu harus datang.” Sella Xia memicingkan matanya, wajahnya sedikit memanas, lalu dia pun menjawab dengan rendah “Iya.”