Kisah Cinta

Kisah Cinta
PENGORBANAN 4


__ADS_3

BEBERAPA JAM LALU


...—POV ANGEL—...


“aku takut terjadi apa apa kepadanya,,,” ucapku sambil menangis dipelukan Kirana…


Rega tetaplah Rega,, dia tidak akan hanya diam saja ketika orang orang disekitarnya kesusahan atau sedang kesulitan. Sekali lagi, setiap pilihan selalu ada “1” atau “0”, ya atau tidak, untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu,,, dan Rega memilih nomor “1” yang artinya Rega harus pergi ke tempat berbahaya itu,,


Dan aku juga harus melakukan hal yang sama, aku tidak akan diam saja mengetahui Rega datang ke tempat berbahaya seperti itu. kuambil lagi handphoneku yang tadi kulempar.. lalu aku menghubungi seseorang..


“Amel,,? Ini aku,,,,”


Kirana menatapku tajam saat tau aku menghubungi Amel,


“Ohhh Fuckkk,,,,” dia terdengar syok mendapat telepon dariku,


“Rega sedang menuju tempat berbahaya, kamu harus membantunya….”


“Rega? Apa maksudmu? Untuk apa dia pergi ke tempat berbahaya?” tanya Amel penasaran


“Tidak ada waktu untuk menjelaskannya,, aku akan mengirimkan lokasinya kepadamu,,, kamu harus kesana sekarang juga,, kalau perlu bawa pasukan sebanyak banyaknya…”


“Tunggu, tunggu,,, kamu pasti sedang bermain main denganku lagi kan,,,,?” tanya Amel


“FUUCCK AMELLL, REGA SEDANG DALAM BAHAYA,, KALAU KAMU TIDAK MEMBANTU DIA, KAMU TIDAK AKAN BERTEMU LAGI DENGAN REGA SELAMANYA,,,,,” bentakku


Amel diam selama beberapa saat setelah aku berteriak teriak kepadanya,,,


“jika memang yang kamu katakan itu benar,, datang kesana bukanlah bagian dari pekerjaan kami,,, sudah ada lembaga lain yang menangani kasus seperti itu,,,” ucap Amel


“Maksudmu kepolisian? Mereka tidak akan membantu… ****,, aku tidak tau lagi harus bicara seperti apa lagi supaya kamu bisa ke tempat itu,,, Amel,,, Nyawa Rega dipertaruhkan disana,, Pliss bantu dia,,, aku akan melakukan apa saja agar kalian datang ke tempat itu,,, kalau perlu aku akan menyerahkan diri kepada kalian..”


“ANGGEEELL,,, APA YANG KAMU LAKUKANNN..?” Bentak Kirana kepadaku,,, dia sangat kaget dan marah mendengar ucapanku kepada Amel.,, Jasmine juga tidak kalah cemas mendengar keputusanku,,


“Fuckkk….baiklah,, aku akan mencoba memikirkan sesuatu…” ucap Amel


.


.


KEMBALI KE MASA SEKARANG


...—POV REGA—...


Dengan membawa senjata yang tadi diberikan Amel aku langsung berlari menaiki tangga eskalator mengejar orang orang yang membawa Meta dan Dias. Kuabaikan segala rasa sakit yang kurasakan ditubuhku agar aku bisa menyusul Meta dan Dias, jangan sampai mereka berdua dibawa pergi lagi. Pikiranku masih kacau setelah bertemu Amel di tempat ini,, bagaimana dia bisa tiba-tiba muncul disini dan beraksi seperti itu. Memang waktu bertemu dengannya di kota sebelah dan saat dia mengunjungi Ressa, Amel terlihat berbeda dibandingkan dulu waktu sekolah,,, tapi setelah kulihat aksinya tadi, Amel bukan lagi Amel yang dulu., dan perubahannya sangat mengejutkan sampai bisa berkelahi dan terampil menggunakan senjata api seperti tadi,,, satu hal yang pasti,,, Amel bukanlah seorang Agen perjalanan wisata,,,, Yeah, definitely!


Sambil berjalan menaiki eskalator aku melihat lagi ke bawah, Amel sedang menghajar orang orang itu dengan ilmu bela diri yang tidak kalah hebat dengan Rein,


Saat sudah mencapai anak tangga teratas di eskalator lantai empat yang merupakan tingkat tertinggi gedung ini,,, aku bisa melihat Dias dan Meta,,, Dias sedang dipegangi oleh orang bertato itu, sedangkan dibelakangnya,, Meta sedang dibawa seseorang yang bertubuh kekar dengan wajah yang sangar seperti orang orang yang sedang berkelahi dibawah,,, Kemudian aku mendengar Meta berteriak…


“BEEEE AWASSS…..” teriak Meta


Eh..? apa? Apa..?


Karena fokus dengan Meta dan Dias aku tidak menyadari dari sampingku seseorang sedang mengayunkan kayu balok panjang ke wajahku, untungnya Meta memperingatkanku,, dengan gerakan seperti sedang bermain Limbo tubuhku menunduk kebelakang menghindari ayunan balok itu. Karena gagal mengenaiku tubuhnya jadi tidak seimbang dan sepertinya dia akan jatuh ke tangga eskalator,, kutahan tubuh orang itu agar tidak terjatuh, lalu dengan cepat kupukul wajahnya menggunakan gagang senjata api ini sampai dia kesakitan tergeletak di lantai,,


Kemudian aku berlari ke arah Meta dan Dias,, orang orang itu membawa Mereka berdua memasuki sebuah pintu,, dan setelah aku sampai disana, ternyata dibalik pintu ini ada sebuah anak tangga lain menuju ke atap gedung.. aku bisa mendengar teriakan Meta yang sedang berontak untuk dilepaskan,, aku bergegas menaiki anak tangga itu dan sesampainya di atap yang luas dan tidak ada apa apanya ini,, aku melihat Meta masih berusaha berontak melepaskan diri dari orang yang mendekapnya sehingga jalan orang itu sedikit terhambat karena perlawanan Meta, walaupun perlawanannya sia sia karena badan orang itu sangat besar.. Tak jauh dibelakang sana, Dias sedang dipegangi Orang bertato itu,, mereka berdiri dekat tepi belakang gedung….


Diatas sini angin berhembus sangat kencang, suara deburan air laut yang menabarak daratan terdengar sangat jelas.


“berjalan satu langkah lagi,, aku habisi wanita ini,,,” Ancam orang itu,, sambil mendekap tubuh Dias dari belakang dan pisau yang ditempatkan di lehernya Dias..


Aku langsung merinding melihat situasi itu,, Aku teringat dengan mimpi yang kuanggap sebagai firasat buruk beberapa bulan lalu.. Dias didekap seseorang dengan pisau berdarah di lehernya, persis banget di mimpi waktu itu,,


Sedangkan Meta yang berada tidak jauh didekatku diancam dengan sebuah senjata api di kepalanya oleh orang berbadan besar itu… Dengan membawa Meta dan Dias ke atap gedung ini, kurasa orang orang jahat itu merasa sudah terdesak. Dan lebih baik aku tidak bertindak bodoh dengan orang yang sedang terdesak karena hanya akan membahayakan keselamatan Meta dan Dias.


Tapi kenapa mereka malah keatas gedung? Tidak mungkin kan mereka berencana kabur dengan melompat ke lautan..? laut di belakang gedung ini pastinya sangat dalam apalagi ini malam hari, sangat beresiko bagi mereka jika memaksa meloncat.


“Tembak saja kalau dia berani mendekatimu,,,” Perintah KillBill kepada Jamal,, lalu senjata api yang dipegang orang itu diarahkan kearahku, tangannya gemetar, tak kalah gemetar dengan tanganku yang juga sedang membawa senjata api.…..


“Taruh senjatamu !!,, atau dia mati…..” ancam KillBill dari kejauhan,..,,


Kuturuti perintahnya, kutaruh senjataku dibawah,, lagipula tidak ada gunanya juga aku membawa senjata ini, karena aku tidak bisa menggunakannya..


Tak lama, terdengar seperti suara beberapa mobil yang tiba di gedung ini, beberapa saat kemudian terdengar suara tembakan dari bawah.. aku tidak tau apa yang terjadi, tapi aku jelas melihat kedua wajah orang itu sangat ketakutan setelah mendengar keributan dibawah…


Orang yang mendekap Meta semakin gemetaran membawa senjatanya.


“Melihat reaksi kalian, sepertinya yang datang itu bukanlah teman kalian,,,sudahlah,, lebih baik kalian menyerah… lepaskan kedua wanita itu…” ucapku kepada mereka..


“jangan pernah mengancam orang yang sedang mengarahkan senjata ke kepalamu bocah,,,,” gertak KillBill,,,


Orang bertato ular itu terlihat panik setelah mendengar suara tembakan yang baru saja terjadi, dia melihat ke arah samping dari tadi… ke arah,,,


Hmm? ohh Aku tau,, jadi seperti itu rencana mereka untuk kabur,, ternyata mereka berencana menuruni gedung melalui tangga besi melingkar yang tadi kunaiki. Satu satunya alasan mereka belum menuruni anak tangga itu adalah karena keberadaanku diatas sini yang menghambat mereka.


“bagaimana ini bang,,?” tanya orang besar itu ke pria bertato,


“Cepat kita pergi dari sini, kita bawa kedua wanita ini sebagai jaminan,,, Habisi bocah itu,,,,,” perintah KillBill…


Hahhh? Oh Noo,,,,


Orang berbadan besar yang mendekap Meta langsung meletuskan senjata api ditangannya ke arahku,, dan aku tidak sempat untuk berlindung ataupun menghindar…


BANG! BANG! BANG! BANG! BANG! BANG!


“EGAAAAAAAAAAA……..”


“BBBBBEEEEEEEEEEE……”


.


.


Hmmm..?


.


.


Gelap ? Dimana aku?


.

__ADS_1


.


Oh Sial, mataku terpejam pantesan gelap,,hehe,,, kubuka kembali mataku,, aku masih berdiri diatas atap gedung tua bersama para penjahat yang baru saja menembakkan senjatanya kearahku,, tapi kulihat tubuhku tidak ada yang lobang atau tekena peluru senjata itu. Aku selamat? Padahal jelas tadi orang itu menembakkan senjatanya tepat ke arahku, namun sepertinya tidak ada satupun peluru yang mengenaiku.. aneh, harusnya aku sudah mati,,sepertinya aku masih beruntung,, tidak ini bukan keberuntungan,, ini suatu keajaiban,,,


“Bangsaaaaat,, bego banget sih lu,,kemarin katamu bisa menggunakan pistol,,?” Orang bertato itu marah melihat anak buahnya gagal melumpuhkanku..


“Ampun bang,, beda banget yang asli sama di hape…” ucap Jamal


Hehhh?


“Nyesel gue ajak elu tong,,,,” ucap KillBill kesal


Kemudian dari arah belakang tepatnya dari arah pintu anak tangga yang tadi kulewati untuk menuju keatap terdengar suara beberapa orang berteriak teriak, mungkin mereka adalah Amel dan teman temannya yang barusan datang. Kedua orang jahat itu semakin panik dan ketakutan,, mereka semakin mendekat ke tepi gedung,,, mereka sudah semakin tersudut.


“kalian tidak akan bisa lari lagi,,,” ucapku percaya diri,,,


“Bang,,,?” rengek Jamal


“Cepat pergi dari sini,, “ ucap KillBill kepada Jamal


“kalian tidak akan pergi jauh jika membawa kedua wanita itu,,,,”


“Hahahaha,, hahahahaha”


Kenapa Dia malah tertawa ?


“Pintar sekali kau Bocah, benar sekali yang kau katakan,, akan kubuat kamu dan mereka sibuk biar tidak bisa mengejar kami….” Ucap KillBill sambil menarik tubuh Dias mendekati tepi gedung yang mengarah ke lautan…


Hahhh? Apa maksudnya,,?


“Kau telah membuatku tidak bisa memiliki apa yang aku inginkan darimu,, begitupun juga denganmu,,, kau tidak akan bisa memiliki apa yang kau inginkan dariku,,, TENTUKAN PILIHANMU !!!” bentak KillBill


Tentukan pilihan ?


“JAMAL !! LEMPARKAN WANITA ITU KE LAUT,,,,,,” perintah KillBill


Ohh Tidak,,,


Deg Deg


“JJAAAANGAAAAANNN,,,”


Deg Deg


Aku langsung reflek berlari ke arah mereka setelah mendengar ucapannya,,,, kedua orang jahat itu membawa tubuh Meta dan Dias semakin mendekati tepi belakang gedung.


Deg Deg


Semua terjadi begitu cepat, tapi bagiku semua bergerak sangat lambat seperti adegan slow motion… Aku melihat Meta yang posisinya tak jauh dari tempatku berlari, kelihatan sangat panik dan ketakutan setelah ditarik paksa mendekati tepi gedung dan akan dilempar ke laut, begitupun juga dengan Dias yang posisinya lebih jauh dari posisiku berlari.


Logikanya kalau memang dulu tempat ini digunakan sebagai bersandarnya kapal kapal gede itu, harusnya lautan dibelakang gedung ini tidaklah dangkal. Pasti laut di area pelabuhan ini memiliki kedalaman minimal 20 meter agar kapal kapal raksasa bisa parkir dengan nyaman. Dan bayangkan betapa berbahayanya jika Meta dan Dias dilempar dari ketinggian gedung ini, tubuh mereka pasti akan langsung terjun ke dasar lautan.


Aku harus mencegahnya… tapi aku tidak akan bisa menyelamatkan keduanya sekaligus secara bersamaan..


Siaaaaaall… diwaktu yang sangat mepet ini aku tidak bisa berpikir dengan baik,, tapi bagaimanapun caranya aku tidak akan bisa menyelamatkan keduanya sekaligus,, aku harus memilih salah satu diantara Meta atau Dias. Aku tidak boleh ragu, Atau malah aku tidak akan bisa menyelamatkan keduanya..


Tapi siapa yang harus kuselamatkan?


.


.


Dias.?


.


.


Deg Deg


.


Deg Deg


.


Deg Deg


.


Aku harus segera menentukan pilihan.


.


Aku sudah hampir mendekati Meta, tapi aku masih terus berlari kedepan menuju Dias,,, saat sudah melewati Meta yang tubuhnya sudah terdorong menjauhi Gedung aku menoleh kearahnya,, Meta juga melihatku yang masih terus berlari, tidak menolongnya dan hanya melewatinya.


Sampai akhirnya tubuhnya hilang dari pandanganku, karena Meta sudah dilemparkan ke lautan, ,,,


.


Maaf,, maafkan aku Bee,,,, ..


.


Aku terus berlari dan sudah hampir mendekati Dias yang sudah siap dilemparkan ke Laut oleh orang bertato ular itu,, aku harus bisa mencegahnya… takkan kubiarkan Dias dilemparkan ke laut juga.


Tapi selalu saja harapan tidak sejalan dengan ekspektasi.


.


Deg Deg


.


“DDDDDDDDDDDDEEEEEEEEEEEEEEEE…”


.


“Kau terlambat Bocah…” ucap KillBill saat dia sudah melempar Dias ke lautan…..


.


Deg Deg

__ADS_1



Kulihat tubuhnya Dias melayang di udara setelah dilemparkan orang itu, kedua tangannya mengayuh di udara,,, lalu dengan cepat tubuh Dias terjun bebas meluncur kebawah karena hukum gravitasi bumi..


.


Sial..


.


Tanpa pikir panjang aku langsung melompat dari atas gedung, kemudian terjun tepat kearah jatuhnya Dias yang baru saja tenggelam di lautan yang gelap menimbulkan buih buih gelembung air. Dan aku terjun tepat kearah buih itu,, kuambil nafas dalam dalam,, sebelum tubuhku menyentuh air, sempat terdengar suara tembakan dari atap gedung,, yang kemudian suara tembakan itu tidak kudengar lagi ketika tubuhku sudah tenggelam di lautan yang gelap dan dingin.


Didalam lautan yang gelap ini tubuhku meluncur lurus kebawah mencoba mencari Dias,


aku harus segera menemukannya secepat mungkin sebelum terlambat. Sebelum Dias kehabisan nafas.. Karena air laut bisa menjadi sangat mematikan bagi orang yang tidak siap,, Air laut akan dengan cepat masuk kedalam setiap lobang yang terbuka pada tubuh kita, mata, hidung, mulut hingga telinga lalu meluncur masuk ke dalam paru paru dan jantung yang bisa berakibat sangat fatal.


Ketemu…


Meskipun aku sama sekali tidak bisa melihat di dalam air karena gelap, tapi aku merasakan telah menyentuh Dias,,, aku bisa merasakan Dias sedang panik dan bergerak gerak tidak menentu didalam air, hal itulah yang menyebabkan Dias akan semakin tenggelam dan membuatnya tidak bisa mengapung ke permukaan. Langsung kupeluk tubuhnya dari depan,,, agar dia tidak panik,,, tapi dia malah menjambak Rambutku, dan mencakar tanganku,,,buset,, mungking sangking paniknya, tapi itu wajar karena naluri setiap manusia untuk bertahan hidup. Aku harus segera membuat Dias tenang agar tubuh kami tidak semakin tenggelam,,, kupeluk erat tubuhnya dari depan… kedua kakiku juga melingkar di kakinya Dias..


sedetik kemudian saat dia sudah mulai tenang, perlahan tubuh kami dengan sendirinya mengapung ke atas, sesuai dengan ilmu fisika, karena berat jenis tubuh kita lebih kecil ketimbang berat jenis air laut yang membuat tubuh kita otomatis mengapung. aku mempercepat laju kami ke permukaan dengan gerakan tanganku yang teratur,,


Saat sampai di permukaan aku dan Dias sudah pasti langsung mengambil nafas sebanyak banyaknya,,


“Ega,,,” teriak Dias


“Kamu gpp Dee…?” tanyaku padanya,, dia hanya mengangguk..


“Aku tau kamu pasti datang,,,” ucap Dias lalu dia memelukku,,,


Sepertinya dia memang baik baik saja, beruntung waktu dia terjun bebas tadi dia tidak mengalami cedera,, kulihat di atap gedung beberapa orang sedang melihat ke arah kami. Mungkin mereka teman temannya Amel.


Kemudian kubimbing tubuhnya Dias berenang ke daratan dibelakang gedung, disana ada jalan setapak yang lebarnya tidak lebih dari 2 meter.. kuangkat tubuhnya untuk duduk di tepi daratan itu. Saat itu aku tidak sengaja melihat sesuatu dibalik kemeja Dias yang terbuka… sialnya, Dias memergoki pandangan mataku, kemudian,,,,,


PLAAAAAKKKK,,


Dias menamparku karena melihatku sedang menatap *********** meskipun tamparannya tidak begitu keras, , Dia langsung menutupi bagian depan tubuhnya yang terbuka,, mukanya memerah…


Sial,, kena gampar Deh,, Oke Dias, selamat kamu telah bergabung ke dalam club wanita wanita yang telah menamparku.,,,


“Egaa !!! Meta,,,,?” tanya Dias


Astaga, aku sampai lupa dengan Meta,, aku melihat sekeliling,, tidak ada tanda tanda keberadaan Meta dipermukaan. Aku harus segera mencarinya,,,


Namun tak lama berselang, di kejauhan aku melihat gerakan di air kemudian diikuti buih buih gelembung air,, dari buih buih itu muncul seseorang ke permukaan, dan itu Meta…


Syukurlah Meta juga selamat….


Meta melihat ke arahku dan Dias… kemudian dia berenang ke tepi daratan,, aku bergegas naik ke jalan setapak itu,, dan berlari ke arah laju berenangnya Meta.. saat dia sudah hampir sampai daratan kujulurkan tanganku untuk membantunya,,, dia menatapku.. Tapi dia tidak menyambut tanganku, dia naik sendiri ke daratan tanpa bantuanku… kemudian dia duduk di tepi daratan, nafasnya sangat berat, dia merangkul dirinya sendiri, tubuhnya menggigil, sepertinya dia kedinginan…


“Kamu gpp..?” tanyaku padanya,, kupegang lengannya,,, namun dia menepis tanganku…


“Aku Gpp…” ucap Meta singkat,,,


Sikapnya tidak kalah dingin dengan dinginnya air laut itu,,, Meta pasti kecewa denganku karena aku lebih memilih menyelamatkan Dias.


.


.


Beberapa menit kemudian semua sudah berkumpul di depan gedung, bersiap meninggalkan tempat terkutuk ini… Orang orang jahat tadi dikumpulkan menjadi satu dipojokan dan dijaga oleh beberapa orang berbadan tegap yang memegang senjata api laras panjang. Disana juga terlihat orang bertato ular itu sedang kesakitan memegang kakinya, sepertinya dia terkena tembakan. Lalu orang yang tadi gagal menembakku terlihat paling berisik karena daritadi dia menangis memanggil manggil emaknya. Terlihat juga Amel yang masih memakai maskernya sedang sibuk menelepon seseorang,,sepertinya Rein belum tau kalau wanita itu adalah Amel,, sebelum mendapat penjelasan dari Amel, sebaiknya aku tidak memberitahu Rein terlebih dahulu. Aku juga belum tau pasti siapa sebenarnya orang orang ini, mereka semua kompak memakai pakaian serba hitam. Bahkan dua mobil suv yang terparkir didepan juga dicat berwarna hitam doff.


Aku berdiri memapah Rein yang kakinya terluka, merangkul tubuhnya dari belakang, sementara ini lukanya hanya ditutup oleh selembar kain dan aku harus segera membawanya ke rumah sakit Tapi masih menunggu Ambulan datang, karena mobil ambulan yang datang masih satu,, dan mobil ambulan itu akan digunakan untuk membawa tubuh Galih,, Dias tak henti hentinya menangis disebelah tubuhnya Galih yang sudah kaku. Aku merasa bersalah dengan apa yang menimpa Galih,, dia datang kesini atas permintaanku dan dia juga mengorbankan nyawanya untuk melindungiku dan Rein.. Galih memang sudah berubah 360 derajat, benar yang dikatakan Dias kalau Galih sedang dalam upaya menebus segala kesalahannya di mala lalu terutama apa yang telah dilakukan kepada Alexa. Bahkan kudengar dia mendirikan beberapa rumah asuh untuk anak anak yatim piatu, yang katanya untuk mewujudkan impian Alexa. Aku yang pernah dekat dengan Alexa tidak pernah tau kalau Alexa punya impian semulia itu.


“Meta kenapa Dekk..?”Tanya Rein lirih,, sambil melihat Meta di kejauhan yang sedang duduk terdiam di suatu tembok rendah di halaman gedung ini,, seseorang telah memberinya jaket agar tubuhnya tidak kedinginan.


“Nanti aku akan bicara dengannya,.. sekarang yang penting membawamu ke rumah sakit dulu..”


Tak berselang lama samar samar kami mendengar suara sirine yang suaranya semakin terdengar jelas mendekati tempat ini, mungkin itu sirine ambulan yang kami tunggu. Ternyata bukan, suara sirine itu adalah dari sebuah mobil polisi yang baru saja masuk kedalam halaman gedung. Terlihat empat orang polisi keluar dari dalam mobil dengan masing masing membawa senjata api laras pendek ditangannya dan berjalan mendekati kami,,


Namun tiba tiba Amel berteriak,,,


“BERRLINDUNGGG,,,,,,” Teriaknya,,,


Hahhh? Sedetik kemudian terdengar letusan senjata api dari arah polisi yang baru datang itu, lalu diikuti letusan senjata api yang lain.. polisi polisi itu menembak ke segala arah dan kemudian salah satu polisi itu mendekatiku dan Rein mengarahkan pistolnya ke arah kami dan dengan cepat meletuskan senjatanya…


BANGGG!!


Sesaat sebelum polisi tadi meledakkan senjatanya reflek dengan cepat kupeluk tubuh Rein untuk melindunginya dari letusan senjata api polisi itu. Kemudian suasana berubah menjadi mencekam saat Orang orang yang datang bersama Amel membalas serangan polisi itu,, adu tembakan jarak dekat menimbulkan suara yang sangat bising, kami benar benar seperti berada di tengah tengah medan perang. Tak berselang lama suara tembakan berhenti,, polisi polisi tadi berhasil dilumpuhkan.. aroma asap dan mesiu begitu kental terasa dihidungku.


Aku masih memeluk tubuh kakakku, tiba tiba aku merasakan sakit luar biasa di punggungku, lalu kemudian kurasakan panas yang menyebar diseluruh tubuhku. Aku langsung tersadar kalau sebuah proyektil telah menembus kulit punggungku, merobek daging dan memecah pembuluh darahku kemudian proyektil itu berhenti dan bersarang di rusukku. Seketika jantungku berdenyut kencang,, sakit karena pendaharan di dalam tubuhku semakin kurasakan,, dan aku tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya,,


Kutatap wajah kakakku, yang masih kupeluk..


“Re…yynnn…”


Aku sempat melihat kepanikan diwajah Rein, Kemudian…….


.


.


...—POV META—...


Suara rentetan tembakan yang begitu membisingkan telinga sudah tidak terdengar lagi, aku berlindung dibalik tembok rendah yang tadi kududuki. Shitt,,, kenapa polisi polisi yang baru datang itu malah menembaki kami sih?.. kupikir semua sudah berakhir,,, sampai kapan suasana seperti ini akan terjadi..? untung tadi aku berada cukup jauh dari tempat polisi polisi itu menembak membabi buta.


“DEEKKK,,, DEEEKK..?…. REGAAA..? TOLONGG…. TOLONGG…” teriak Rein


Dari tempatku berlindung, Aku mendengar teriakan panik Rein meminta tolong… saat aku melihat Rein,, disana dia sedang mengusap usap wajah Rega yang tergeletak di pangkuannya sambil meminta pertolongan..


Astaga..? apa yang terjadi kepada Rega,,? Mendengar teriakan Rein aku bergegas mendekati Rein dan Rega,,


“Seseorang tertembak,,,,,” teriak salah seorang yang sudah mendekati Rein dan Rega,,,


Hahh? Rega tertembak ? tiba tiba tulangku terasa lunak dan tak bisa berjalan lagi, tubuhku lemas mengetahui Rega terkena tembakan polisi itu,,, aku sampai tidak bisa melanjutkan jalanku dan hanya bisa duduk lemas di tanah… aku syok terdiam menutupi mulutku dan tidak sanggup berkata apa apa sambil memandangi Rega yang terpejam di pangkuan Rein..


“REGGAAA,,,? BANGUN DEEEKK,, BANGUN,,, JANGAN TINGGALKAN AKU,,, REGAA BANGUNN,,,,, ” Jerit tangisan Rein memecahkan suasana…


Beberapa orang langsung berkerumun didekat Rein dan Rega termasuk Dias yang juga panik melihat keadaan Rega,,,


Bee.. Kumohon jangan pergi,,,,,


Jangan pergi,,,

__ADS_1


__ADS_2