
Inilah saatnya aku untuk berjuang mencari keberadaan Meta,, Aku harus menemukannya, karena sudah kukatakan sebelumnya kalau dia adalah tujuanku, dia adalah Duniaku dan hidupku, dan dia itu milikku… aku harus berjuang sekuat tenaga untuk membuatnya tetap menjadi milikku, karena aku sangat mencintainya. `Satu satunya orang di dunia ini yang tau keberadaan Meta adalah kakaknya. Ya, aku harus bisa meyakinkan Kak Neta untuk memberitahuku dimana Meta berada. Dan sekarang, mobilku berjalan menuju rumah Kak Neta di kota tetangga.
Tidak sampai dua jam perjalanan, mobilku sudah sampai didepan sebuah rumah besar yang merupakan rumah kak Neta dan Mas Dirga. Beruntungnya aku, ketika keluar dari mobil kulihat sebuah mobil yang baru saja masuk kedalam halaman rumah dan itu adalah mobilnya Kak Neta. Aku berjalan menuju pagar dan langsung masuk begitu saja ke dalam halaman, seorang yang kutebak adalah asisten rumah tangga yang membukakakn pagar untuk kak Neta kaget melihat orang asing yang tiba tiba saja menyelonong masuk kedalam rumah besar ini.
Kak Neta baru saja keluar dari mobil bersama seorang asisten rumah tangga yang lain yang membawa anaknya kak Neta yang masih kecil di gendongannya. Kak Neta melihat kedatanganku melalui kaca mata hitam yang dia pakai, lalu dia menghampiriku.
“Apa lagi,,?” tanya Kak Neta sambil melepaskan kaca mata hitamnya lalu menggantungkannya di tengah tengah kaos oblong yang dia pakai.
“Kak,, Kumohon beritahu aku dimana Meta sekarang ini.. please.. aku ingin bertemu dengannya..”
“Regaa,, sudahlah, urungkan niatmu itu,, lupakan Meta, dia sudah bahagia.. jangan mencari cari dia lagi,,” lanjut Kak Neta…
“Tidak,, itu tidak benar,, kamu bohong,, Meta sedang tidak baik baik saja.. dia sedang menderita kan Kak..?”
Kak Neta terkejut mendengar ucapanku,,
“Aku tau Meta masih mencintaiku Kak,, dia tidak akan baik baik saja karena itu.. kumohon, berikan aku kesempatan untuk bertemu dengannya… Jika memang dia sudah tidak mencintaiku, aku ingin mendengar langsung dari mulutnya..”
Kak Neta terdiam beberapa saat, dia tampak gelisah..
“Jika memang itu benar,, jika Meta masih mencintaimu,, apa kamu yakin bisa membahagiakannya? menjaganya,,? Kamu tidak ingat sudah membahayakan nyawanya…? Huh? Dua kali Rega.. Aku mulai berpikir, kalau semua wanita yang dekat denganmu akan menderita dan tersiksa karena kamu tidak pernah bisa menjaga mereka dengan baik,,, seperti kamu tidak bisa menjaga Alexa….” sindir Kak Neta
Jleb, menusuk banget ucapan kak Neta.. dia langsung terlihat merasa bersalah telah berkata seperti itu kepadaku…
“Maaf,, aku tidak bermaksud..” ucap Kak Neta pelan
“,, Jika kamu memberiku kesempatan,, aku berjanji akan menjaga Meta sekuat tenaga,, takkan kubiarkan seorangpun menyakitinya, aku akan selalu bersamanya setiap saat,,” ucapku lirih,,
“Tapi kamu tidak akan bisa menjaganya dari sakit karena ulahmu” ucap Kak Neta
“Please Kak,, kumohon berikan aku kesempatan,, izinkan aku bertemu dengannya,,”
Aku masih berusaha memohon kepada Kak Neta, walaupun daritadi dia mengungkit ungkit kesalahanku yang membuatku merasa kalau aku memang tidak pantas untuk Meta,, tapi aku tidak akan menyerah, aku akan terus memohon kepadanya agar dia memberitahu dimana Meta berada.
Kak Neta mendekatiku,, kemudian memegang lenganku,,
“Maaf aku tidak bisa mengatakannya,, aku sudah berjanji kepada Meta untuk tidak memberitahu kemana Meta pergi kepada siapapun,, terutama kamu.. relakan Meta,,, Rega… aku tau dibalik segala kekuranganmu, kamu adalah pria yang baik,, masih banyak wanita di dunia ini yang bisa kamu cintai… bahagialah dengan wanita lain.. oke?” Ucap Kak Neta lalu berjalan perlahan meninggalkanku menuju pintu rumah…
“Baiklah kalau kamu tidak mau memberitahuku,,, tapi aku tidak akan berhenti mencari meta dengan atau tanpa bantuanmu, aku akan terus mencarinya meskipun aku harus mencarinya sampai ke ujung dunia,, jika aku tersesat, aku akan memulai lagi mencarinya dari nol dan aku akan mencarinya ke ujung dunia yang lain, aku tidak akan pernah menyerah mencarinya walaupun aku harus melakukannya seumur hidupku,,,”
“Dan suatu saat , aku pasti akan menemukan jalanku kembali kepadanya,, Karena Meta adalah Pantaiku,,tujuan ahir perjalanan cintaku.. sampai kapanpun ombak akan tau dimana jalan pulang menuju pantainya….”
Kak Neta menghentikan langkahnya menuju pintu rumah setelah mendengar ucapanku, kemudian dia membalikan badannya lagi menatapku..
.
.
DUA HARI KEMUDIAN
...—POV META—...
“nih diminum… aku kesana dulu ya… “ ucap Kak Neta sambil memberikan minuman kelapa itu kepadaku… aku hanya mengangguk dan dia pergi menuju Mas Dirga suaminya kak Neta yang sedang berjalan dekat bibir pantai menggendong anak mereka yang masih kecil, kevin.
Tapi sebelum kak Neta pergi jauh,, dia memanggilku, dan aku menoleh kepadanya..,
__ADS_1
“Deeek,, setelah ini kamu akan baik baik saja,,,” ucap Kak Neta sambil tersenyum kepadaku..
Kubalas senyumnya dan kuminum air kelapa yang dia bawakan untukku tadi,,
Kuakui aku merasa sedikit tenang setelah berbicara dengan kak Neta, aku senang bertemu dengannya disini… atau sebenarnya itu yang harus kulakukan? Bersosialisasi dengan keluarga dan teman teman, starting over,, sepertinya memang sudah saatnya aku untuk pulang kerumah,, daripada terlalu lama terpuruk disini duduk dalam keheningan,, trust me, keheningan ternyata sangat menyeramkan. Dan selama hampir dua bulan disini aku tersadar, bukan soal lamanya waktu yang akan menghilangkan duka atau kesedihan, karena tidak ada batasan waktu untuk orang bersedih. Tapi Kita akan selamanya bersedih jika kita belum bisa menerima kenyataan..
Itu yang seharusnya aku lakukan, menerima kenyataan kalau kamu tidak akan pernah kembali lagi,,, iya kan Bee,,,? Aku akan mencobanya… mencoba untuk benar benar merelakanmu,, tapi jangan marah kepadaku kalau dalam usahaku merelakanmu aku masih berkeinginan untuk bertemu denganmu lagi, ingin berdansa denganmu lagi, ingin menciummu lagi,,, karena seperti yang kukatakan sebelumnya, melupakanmu itu bukan hal yang mudah.
Bee,, aku hanya ingin kamu tau,, kalau aku akan tetap setia mencintaimu sampai kapanpun,,,
Terima kasih karena telah mencintaiku dengan sebesar besarnya ketulusanmu kepadaku
Disana Jangan khawatir denganku ya Bee, aku disini akan baik baik saja, setelah semua yang telah terjadi, setidaknya aku akan mencoba untuk bangkit,
Aku akan selalu mendoakan Semoga kamu bahagia disana.
.
.
Sesudah meminum air kelapa yang dibawakan Kak Neta, Kuturuti sarannya untuk berjalan jalan di tepi pantai. Melangkahkan kaki diatas pasir putih yang sangat indah, Menikmati deru suara ombak yang serasa sedang memangil manggilku. Beberapa turis lokal maupun asing sudah mulai ramai berdatangan, beberapa dari mereka sedang asyik berfoto foto mengabadikan keberadaan mereka di pantai ini.
Setelah semua kesedihan dan air mata itu, setelah semua kata kata yang diucapkan Kak Neta kepadaku. Entah kenapa hari ini terasa begitu hangat daripada kemarin atau hari hari sebelumnya. Langit di sudut horison itu juga terlihat lebih cerah daripada sebelumnya, menampilkan pemandangan yang begitu mempesona dimataku. Ataukah hanya perasaanku saja? Sebenarnya suasana seperti ini sama seperti hari hari sebelumnya cuman aku tidak menyadarinya karena terlalu larut dalam kesedihan. Entahlah,,,
Aku terus berjalan menuju tepi pantai, langkahku terhenti saat sisa sisa ombak menabrak kedua kakiku, kemudian ombak itu pergi,,, tak lama ombak itu datang lagi,, kemudian pergi lagi,,, dan datang lagi,,,, seperti itu terus.
Aku berjalan lagi. Angin berhembus menyentuh tubuhku membawa rasa rindu akan belaian tangannya, seolah sekarang ini dia sedang ada disebelahku. Kenyatannya Dia memang selalu ada disini, selalu menggelayuti pikiran dan hatiku selama dua bulan ini.
Ombak yang lebih besar datang menghampiriku, menghentikan langkahku untuk berjalan lebih jauh lagi. Bersamaan dengan datangnya ombak itu, kupejamkan mataku. Kupanggil dia didalam hatiku..
Bee…
Aku tau jika aku tetap berdiri disini ombak itu akan mendatangiku lagi,, tapi Sudah cukup pikirku, biarlah ombak itu pergi membawa rasa sepi dan rinduku, meskipun rasa itu tidak akan pernah sampai kepadanya karena keterbatasan jarak dan waktu, biarlah,, biar kupendam dan kutahan sendiri rasa ini.. dia tidak perlu tau tentang apa yang kurasakan, karena dia sudah bahagia disana.. aku jadi bertanya tanya, jika ombak mampu menyampaikan rasa sepi dan rinduku padanya, apa yang akan dibawa ombak itu saat mendatangiku lagi?
Kemudian Aku berjalan kembali menuju deretan kursi pantai. Saat aku sudah ada diatas pasir pantai yang kering, aku melihat kerumunan orang sedang berkumpul menjadi satu disuatu titik ditepi pantai. Aku juga melihat Kak Neta dan Mas Dirga diantara kerumunan orang orang itu,, Sedang apa mereka..? beberapa orang yang melihat kerumunan itu ikut mendekat, aku semakin penasaran sedang apa mereka disana.. saat aku mendekati mereka,, beberapa orang berteriak, telingaku dengan jelas menangkap teriakan teriakan mereka.
Ada yang tenggelam
Ada orang terdampar
Ada mayat
Mayat? ih kok serem sih..? beneran ada yang tenggelam di pantai ini? Saat sudah mendekati kerumunan itu, Aku belum bisa melihatnya dengan jelas. Aku hanya bisa melihat di sela sela banyaknya orang yang berkerumun ada seorang pria dengan tubuh yang basah kuyup tergeletak di atas pasir pantai yang basah, beberapa kali ombak kecil menabrak tubuhnya yang kaku. Kenapa orang orang ini malah diam saja? Kenapa tidak ada seorangpun yang menolong pria malang itu? Apakah benar dia sudah mati..? Tiba-tiba kak Neta berteriak memanggilku,,,
“Deeek, itu Rega…..”
Hahh? aku langsung berusaha menembus kerumunan orang orang itu, dan setelah aku bisa mendekatinya dan melihatnya dengan jelas, ternyata orang yang tergeletak itu memanglah Rega.
“Regaa,,?”
Dengan cepat aku duduk disebelah tubuhnya yang basah membelakangi laut , mencoba memeriksa keadaanya disaat semua orang hanya berdiri tidak melakukan apapun,,, bagaimana dia bisa tiba tiba ada disini dengan keadaan seperti ini? kupandangi bentangan laut dibelakangku.. apakah dia datang bersama,,,,,, ombak.? Astaga,, apa yang kupikirkan,, tidak mungkin hal seperti itu bisa terjadi.
Kudekatkan telingaku di sekitar hidung dan mulutnya, aku tidak begitu yakin, nafasnya sangat kecil..
“Bee? Bee?” kupukul pukul wajahnya pelan mencoba menyadarkannya, tapi tidak ada respon darinya,, kugerak gerakkan tubuhnya tetap saja dia tidak bangun,, aku bisa mendengar orang orang berbisik bisik melihat keadaan Rega.
__ADS_1
“Dekk,, beri dia CPR..!!” ucap Kak Neta saat dia mendatangiku, Mas Dirga berdiri disebelahnya,
Pertolongan pertama,,? Oke,, oke,, aku harus tenang,, berbekal ilmu CPR yang kudapat saat latihan renang dulu disekolah aku mulai melakukan pertolonagn pertama kepada Rega, kuawali dengan menekan dadanya beberapa kali agar darah tetap bersikulasi di otaknya, seharusnya dia akan sadar jika aku melakukan ini. Tapi belum ada tanda tanda dia sadar,, Kutekan dadanya lebih kuat, kupikir tidak masalah menekan dadanya lebih kuat lagi karena Rega memiliki dada yang kekar dan bidang. Namun Tetap tidak ada respon darinya,, kutempelkan lagi telingaku di antara mulut dan hidungnya, nafasnya masih sangat kecil. Kemudian kuangkat sedikit dagunya, aku bersiap memberikan nafas buatan untuknya. Sedikit kubuka mulutnya lalu kujepit hidungnya dengan jariku. Kemudian kuletakkan bibirku di mulutnya dan kuhembuskan nafas dari mulutku dua kali.. Sambil menghembuskan nafas kulihat Dia masih terpejam,,
tapi.. hmm?
Aku merasakan Rega memagut bibir bawahku dua kali saat aku menghembuskan nafas untuknya, dan sesudah itu matanya terbuka lebar.. aku terkejut dan spontan melepaskan bibirku dari ciumannya. Rega malah tersenyum melihatku…
Hahh..?
“Setelah sekian lama tersesat ditabrak angin dari segala arah, , akhirnya aku sampai di pantaiku…” ucap Rega sambil meneggakkan badannya., kemudian tangannya merogoh saku celananya yang basah,, dia menunjukkan padaku sebuah kotak kecil yang setelah dibuka penutupnya berisi sebuah cincin yang sekilas kulihat begitu cantik.
“Bee.. Kuberikan kamu pilihan,,, Kamu jadi istriku atau aku yang jadi suamimu? Mana yang Kamu pilih?” ucap Rega
Hahhh? Sekejap saja Rega berhasil membuatku terdiam syok… Apa maksud semua ini? Aku melihat kak Neta,, dia tersenyum melihatku,, orang orang yang berkerumun mengelilingi kami juga tak kalah menunjukkan raut senang dan antusias melihatku dan Rega,,,,
Tapi tidak denganku, aku malah tidak suka dengan semua ini, bahkan aku merasa tidak senang dengan kehadirannya yang tiba tiba.. aku berdiri menatap Rega dengan raut marah diwajahku, lalu aku berjalan memaksa menerobos kerumunan orang orang itu dan terus berjalan meninggalkan mereka semua…
“Bee..? Bee…?” Rega berteriak memanggilku , begitu juga dengan kak Neta
“Deeekk..?”
Aku tidak mempedulikan mereka, aku terus berjalan sedkit berlari di tepi pantai diatas pasir yang sedikit basah.
Apa coba maksudnya tiba tiba dia datang dan berkata seperti itu kepadaku? Dia pasti datang bersama kak Neta semalam, aahhhh,, Nenek Lampir itu memang tidak bisa dipercaya, padahal dia sudah berjanji kepadaku tidak akan mengatakan apapun tentang kepergianku kepada siapapun terutama kepada Rega. Tak terasa air mataku menetes, kenapa aku menangis? Kenapa aku malah menghindar dari orang yang selama ini ada di khayalanku.. tidak,,tidak… dia bukan untukku,, aku tidak bisa bersamanya. Kenapa dia semakin menyiksaku dengan meuncul dihadapanku,,,
Saat aku masih terus berjalan, seseorang dari belakang menarik tanganku dari belakang dengan paksa, membuatku menghentikan langkahku dan membalikkan tubuhku. Dan yang memegang tanganku adalah Rega,, dia mengejarku.
“Lepaskan!!” bentakku padanya..
“Sampai kapan kamu akan terus terusan lari dariku? Bee, aku mencintaimu.. Hentikan permainan petak umpet ini..” ucap Rega
“Oh Ya? Kamu Mencintaiku..? Aku pernah mendengar itu sebelumnya dan kata kata manis lainnya seperti kamu bilang kalau aku adalah Duniamu, hal paling berharga di hidupmu dan akan menjadikanku akhir bahagiamu,, tapi apa? Kamu tidak jujur kepadaku dan merahasiakan sesuatu, lalu saat Dias datang,, didepan mataku kamu memeluknya dengan mesra... Kamu tau rasanya diperlakukan seperti itu? Huh? kurasa kamu tak akan mengerti , kamu tidak akan mengerti betapa sakitnya menerima kenyataan bahwa orang yang sangat berarti bagiku sudah tidak menganggapku lagi..”
Nada bicaraku meninggi, kuluapkan semua emosiku.
“Aku minta maaf telah membuat luka dihatimu, maaf telah membuatmu bersedih, maaf atas segala tangis air matamu,, aku memang pria bodoh yang tidak mengerti apa apa tentang perasaanmu, yang tega membuatmu menderita dan menangis.. aku benar benar minta maaf atas segala kesalahanku kepadamu.. aku berjanji tidak akan mengulanginya,,” Mata Rega sayu menatapku, kami masih sailing berpandangan setelah dia mengucapkan segala permintan maafnya kepadaku..
“Aku memaafkanmu, sekarang pergilah dari sini.. kembalilah kepadanya!!”
Kali ini kulihat keterkejutan di wajahnya,
“Bee.. aku tidak mencintainya,, hanya kamu yang kucintai…” ucap Rega
Aku menggelengkan kepalaku,,
“KEJADIAN MALAM ITU SUDAH MENJELASKAN SEMUA, SIAPA YANG KAMU PILIH, SIAPA YANG KAMU CINTAI,,, KAMU LEBIH MEMILIH MENYELAMATKANYA DAN TEGA MEMBIARKANKU BERJUANG HIDUP MATI SENDIRIAN DILAUT YANG DINGIN ITU… “
Aku sedikit terbawa emosi mengingat kejadian malam itu,, hingga membuat nada suaraku semakin meninggi
“Tapi wajar kok kalau kamu lebih memilih menyelamatkannya,, karena dia memang wanita sempurna,, tidak sepertiku,. sudahlah, kembalilah bersama wanita yang kamu pilih,, tinggalkan aku disini,,”
“Itu sama sekali tidak benar Bee,, Dengarkan dulu penjelasanku,,, aku terpaksa menyelamatkan Dias karena dia tidak bisa berenang, Dia sangat membenci berenang karena trauma masa kecilnya, aku sangat tau akan hal itu karena dulu disekolah dia selalu memintaku menemaninya bolos saat pelajaran renang. Tidak sepertimu, aku masih ingat tiga tahun berturut turut kamu menjuarai kejuaraan renang tingkat provinsi. Aku percaya,, berenang dilaut seperti itu bukanlah hal yang sulit bagimu…” jelas Rega
Hahhh? Dia mengingat itu…? aku sangat terkejut mengetahui alasannya malam itu lebih memilih menyelamatkan Dias.
__ADS_1
“Jika malam itu aku memilih menyelamatkanmu, aku yakin Dias tidak akan bisa selamat….” lanjut Rega
Aku terdiam Mengingat kembali kejadian malam itu, Rega pasti dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit baginya dan dia harus cepat mengambil keputusan sebelum terlambat,, tidak kusangka dia sempat memikirkan hal itu., dia masih ingat kalau dulu waktu sekolah aku menjuarai kejuaraan renang tiga tahun berturut turut.