
...— POV META—...
“Iya beneran aku baik baik saja kok,,, aku belum bisa pulang kak, aku masih menunggu keadaan Rega,,”
.
“Iya²,, kapan kakak bisa kesini? Doakan Rega ya kak,,” aku sedang bicara dengan Kak Neta melalui sambungan telepon. Dia sangat khawatir denganku setelah mengetahui aku berada di pelabuhan semalam. Dia juga syok mendengar kondisi Rega, dan Kak Neta akan segera menyusul kesini Menunggu Mas Dirga pulang mengajar.
Ketika aku masih berbicara dengan Kak Neta, dari tempatku berdiri aku melihat keributan di luar ruangan ICU tempat Rega dirawat,,,Rein dan semua teman temannya Rega termasuk Dias dan Resty terlihat panik dan memaksa untuk masuk ke dalam ruangan ICU.
Astaga apa yang terjadi dengan Rega..?
“Nanti kuhubungi lagi….”
Kuputuskan sambungan telepon dengan Kak Neta, lalu aku bergegas menuju ke ruangan ICU dengan sedikit berlari,, jantungku berdegup kencang, kepalaku dipenuhi pikiran pikiran buruk tentang Rega setelah melihat keributan orang orang tadi. Saat sudah memasuki ruang ICU dibalik kaca pemisah ruangan pasien, aku melihat semua orang sedang mengerebungi ranjang Rega,, dan di atas ranjang itu kulihat Rega…
Rega Sudah,,, Bangun ?
Betapa senang dan leganya melihat Rega sudah sadar dan sudah bisa duduk diatas ranjang,,,bahkan saat ini kulihat dia bisa tersenyum setelah Rein memeluknya, ini sungguh suatu keajaiban, padahal dokter tadi bilang kondisi Rega semakin memburuk. Aku bergegas ingin segera bertemu dengan Rega.
Tapi.. Kuhentikan langkahku sebelum melewati pintu pemisah ruangan pasien, aku terdiam cukup lama,,, karena saat ini aku melihat sebuah kenyataan pahit didepan mataku, rasanya seperti dejavu, aku melihat Dias menangis haru sedang memeluk Rega diatas ranjang. Sebuah pelukan hangat dari wanita yang begitu mencintai Rega. Aku melihat wajah Rega berseri menyambut pelukan Dias.
Dan aku… hanya bisa tersenyum melihat mereka dari kejauhan.. walaupun ada kesedihan dibalik senyumanku. Mespikun terasa sakit tapi aku tetap tersenyum untuk mereka berdua.
Sepertinya ini sudah saatnya bagiku untuk pergi sebelum mereka terutama Rega menyadari jika senyumanku hanyalah sebuah topeng untuk menutupi lukaku.
Baiklah, Setiap orang memang selalu berharap Happy ending dalam setiap hubungannya dengan pasangan yang begitu dicintainya. Namun kenyataanya setiap akhir tidak selamanya akan bahagia, tidak seperti yang kuharapkan akan hubunganku dengan Rega,, dan tidak seperti yang pernah dia ucapkan didepanku…
Bagiku itu salah satu kata kata manis yang pernah dia ucapkan padaku, tapi ternyata aku bukanlah akhir bahagianya,, aku bukanlah tempatnya untuk berhenti mencari cinta sejati, aku hanya diminta Tuhan untuk menemaninya sebentar saja. hff, entahlah. Meskipun ini adalah ending yang tidak kuinginkan, tetapi tetap aku harus bisa merelakan walaupun perih.
Kupandangi wajah Rega dari balik kaca…
Aku akan pergi Bee,, biar kamu tidak perlu merasa bersalah kepadaku karena telah memilihnya. Aku akan menjauh darimu Bee,, agar aku tidak terus terusan menantimu,, tidak, Aku tidak lari Bee.. Aku hanya butuh waktu untuk bisa menghapus kenangan bersamamu, menghapus semua memori tentang kita,, agar suatu saat nanti ketika kita tidak sengaja dipertemukan lagi, aku sudah siap menatap matamu lagi,, tapi aku tidak akan terlalu memaksa diriku sendiri untuk melupakanmu secepat itu, karena aku sadar, melupakanmu tidak semudah saat jatuh cinta kepadamu,,Kuharap dengan pergiku ini adalah awal baru kebahagiaanmu dengannya, semoga memang dia adalah cinta sejati yang selama ini kamu cari,sebuah happy ending yang kamu harapkan, bahagialah dengan Dias, aku tetap mendoakanmu, mendoakan kalian,,. semoga kisahmu dengan Dias tidak seperti kisahmu denganku,,
Cepat sembuh dan pulih ya Bee., Maaf jika aku harus pergi seperti ini,, kamu adalah kisah terindah yang pernah kujalani, sekalipun tidak bisa kumiliki. Terlepas kamu memang mencintaiku atau tidak, percayalah didalam hatimu,
__ADS_1
you always be My Bee.
Tetesan air mata membasahi bumi mengiringi langkahku keluar dari ruang ICU. Sambil berjalan keluar Rumah Sakit, kuhubungi Kak Neta.
“Kak…”
.
.
DUA MINGGU KEMUDIAN
...—POV REGA—...
Hari ini adalah hari yang paling kunantikan selama dua minggu kebelakang, karena hari ini aku diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Kedua orang tuaku, Rein, Resty serta Ressa mendampingiku keluar dari Rumah Sakit ini. Tidak hanya mereka, ada seseorang yang selama dua minggu ini selalu menungguku disini turut serta mendampingiku, dan dia adalah Dias. Saat ini Dias sedang mendorong kursi roda yang sedang kududuki melewati lorong lorong Rumah Sakit menuju mobil yang akan membawaku ke Bandara untuk kembali ke kota sebelah.
Selama dua minggu berturut turut Dias selalu setia menemaniku disini bersama keluargaku, seringkali dia juga ikutan menginap di Rumah sakit ini. Dia begitu perhatian denganku, selalu memberi semangat kepadaku untuk cepat pulih, disaat Rein dan bunda gemas dan kesal denganku karena susah meminum obat, Dias selalu berhasil membujukku untuk meminum obat obat yang jumlahnya tidak sedikit itu.
Setiap sore Dias sering mengajakku berkeliling ke taman yang letaknya ada di dalam Rumah sakit biar aku tidak bosan, disana kami hanya berdua berbincang bincang, dia pernah bercerita tentang trauma yang masih dia alami setelah peristiwa mengerikan yang terjadi di pelabuhan dimana dia hampir diperkosa orang orang brengsek itu, katanya, dia masih sering bermimpi tentang hal yang paling mengerikan yang pernah terjadi di hidupnya itu. Lalu saat petang hampir tiba, Dias mengajakku kembali kedalam kamar.
Tak butuh waktu lama bagi Dias untuk langsung akrab dengan Rein dan juga dia berhasil merebut hati Bunda, mereka berdua sudah bagaikan ibu dan anak kandung jika sedang bersama. Aku sering melihat mereka bertiga tertawa bersama sama sambil melihatku,, aku yakin saat itu mereka sedang membicarakanku. Bunda pernah berkata kepadaku, kalau Bunda menyukai Dias karena dia wanita yang, baik, sopan, religius, penyayang dan sangat peduli terlebih padaku. Entah apa maksudnya Bunda mengatakan itu kepadaku, atau itu artinya Bunda merestui Dias?
“Ada satu hal yang tidak digali lebih dalam oleh Angel tentang kejahatan Danu Wicaksono, yaitu kejahatan lintas negara yang telah bertahun tahun dia lakukan. Selama ini Danu Wicaksono melakukan aktivitas human trafficking dengan mengirim ratusan wanita wanita muda usia 14 sampai dengan 16 tahun ke berbagai negara khususnya tiongkok untuk dijadikan psk. Tidak hanya itu, dia juga memfasilitasi masuknya wanita wanita dibawah umur dari negara negara timur tengah dan asia ke negara ini untuk dipekerjakan sebagai wanita penghibur. Selama ini dia melakukannya Begitu rapi, Dengan berkedok agen perjalanan wisata dan agen penyalur TKI, sehingga kami tidak bisa melacak apa yang telah dia lakukan. Dan aksinya menyuruh KillBIll menculik dan mengancam teman temanmu adalah untuk memastikan hal itu,, Danu ingin memastikan apakah kamu mempunyai bukti dan petunjuk tentang kejahatannya yang itu.. Danu tidak peduli dengan kejahatan yang dia lakukan didalam negeri karena dia mempunyai power yang begitu kuat di kepolisian, tapi tidak untuk kejahatan lintas negara yang dia lakukan. Karena dia tidak akan bisa lolos jika berurusan dengan interpol, Itu sebabnya dia sangat ketakutan saat kamu melalui Angel berhasil menggali bukti bukti kejahatan yang selama ini dia lakukan..” ucap Amel
Biadab, sungguh sungguh biadab orang itu… aku jadi teringat dengan pengakuan Galih tentang Danu Wicaksono yang akan membeli perawannya Ressa,, aku berpikir seandainya saat itu Ressa datang ke tampat orang itu, pasti Ressa akan ikut dipaksa dikirim ke Luar Negeri.. aku harap orang seperti Danu Wicaksono mendapat hukuman seberat beratnya.
“Jadi kamu sudah tau kalau Angel yang mendapatkan bukti bukti kejahatan itu,, pasti kamu juga tau apa yang selama ini telah dilakukan Angel,,?” tanyaku kepada Amel yang sedang berdiri di belakang kursi roda.
“ya,, The Spectre, dia sendiri yang mengatakannya kepadaku, dia juga yang menghubungiku untuk membantumu malam itu,, awalnya aku tidak percaya dengan apa yang dia katakan,, seandainya saat itu aku langsung percaya dengan apa yang dia katakan, aku pasti datang lebih cepat dan mungkin Galih akan selamat.. Angel sangat mengkhawatirkanmu, bahkan dia sampai menawarkan untuk menyerahkan dirinya asal aku mau membantumu… sebenarnya seperti apa hubungan kalian di masa lalu?” tanya Amel
Eh? Hubunganku dengan Angel di masa lalu…? Pertanyaan Amel membuatku teringat akan masa kuliah bersama Angel, Winry, Mira, dan,,,,, dia. Ahh aku jadi teringat dengan wanita itu.
“Hmm,, lalu apakah Angel,,?”
“tidak,, Tenang saja,, aku tidak akan menangkap Angel,,, sebenarnya kami ingin merekrutnya untuk bergabung bersama kami… tapi keputusan ada ditangannya. Aku tidak akan terlalu memaksa..” ucap Amel
__ADS_1
Aku yakin Angel akan menolak tawaran Amel, aku sangat tau akan hal itu, karena wanita seperti Angel yang suka berontak sangat tidak suka dikekang dan benci peraturan..
“Mel,, sebenarnya apa pekerjaanmu,,,?” tanyaku padanya… mendengar pertanyaanku, Amel berpindah posisi ke depanku,, semerbak aroma parfumnya menggoda indera penciumanku… lalu dia menundukkan wajahnya ke wajahku,, dia membisikkan sesuatu,,
“Sebelum aku menjawab rahasiaku,, kamu harus menjawab pertanyaanku,, apa yang sering kamu lakukan dengan Kak Amanda selain berciuman mesra seperti yang kalian lakukan malam itu didepanku,,,?” tanya Amel
Ohh siaallll,,,,,
Seperti itulah sepenggalan obrolanku dengan Amel tiga hari yang lalu saat dia menjengukku.
Di lain kesempatan disaat Rein membantuku mandi, aku bercerita kepadanya tentang pengalamanku bertemu Alexa sebelum akhirnya aku sadar. Aku bertanya padanya tentang apa yang kualami, tentang keberadaanku di dunia lain, dimensi lain atau apapun itu sebutannya sehingga akhirnya aku bisa bertemu dengan Alexa. Apakah hal seperti itu bisa terjadi? Ataukah itu semua hanya terjadi dipikiranku sebagai refleksi kerinduanku akan sosok Alexa? Ataukah cuman mimpi? Jika memang hanya terjadi dikepalaku, kenapa terasa begitu nyata? Pelukan hangat Alexa, lembut bibirnya,, semua kurasakan begitu nyata. Mendengar ceritaku, Rein juga tidak bisa memastikan apa yang sebenarnya kualami. Dia mengatakan, teori kalau kita tidak sendirian di alam semesta ini sudah ada dari dulu dan di jaman now seperti ini semakin berkembang tentang kemungkinan bahwa dunia ini memiliki alam semesta lain yang sering disebut dunia pararel. Rein percaya adanya hantu, hal hal gaib dan sebagainya itu sebabnya dia sangat takut dengan setan.
Karena pengalaman mistis yang kualami sudah sering terjadi, Rein memintaku untuk mempercayai jika aku berada di dimensi lain disaat aku sedang tidak sadarkan diri, dan memintaku bersyukur karena sudah dipertemukan dengan Alexa. Ya memang kuakui aku sangat senang dan bahagia bisa diberi kesempatan bertemu dengan Alexa sekali lagi. Walaupun hanya sebentar, tapi sudah cukup mengobati rinduku kepadanya. Aku tersenyum memikirkan itu, seperti permintaan Alexa kepadaku untuk tersenyum jika aku sedang mengingatnya..
“Egaa.. Kamu kok senyum senyum sendiri..?” tanya Dias memergoki senyumanku,,,
“Eh.. ini Dee,, aku cuman merasa senang akhirnya bisa keluar dari rumah sakit ini..”
Setelah itu aku sudah berada didalam Mobil yang sudah siap membawaku, Rein, bunda dan papa menuju bandara untuk pulang kembali ke kota sebelah.. semua sedang sibuk membantu memasukkan barang termasuk Dias. Lalu tiba tiba Resty mendatangiku,, dia masuk begitu saja ke dalam mobil dan mengatakan sesuatu kepadaku.
“aku akan tetap berusaha mencarinya, akan kukabari jika sudah menemukannya..” ucap Resty lirih,,,, aku hanya mengangguk mendengar ucapannya. Kemudian dia keluar dari mobil.
Mobil kami sudah berangkat menuju bandara,,tadi sebelum berangkat Bunda meminta kepada Dias untuk mengunjungiku ke kota sebelah dan Dias mengiyakan permintaan Bunda.
Sepanjang perjalanan menuju Bandara aku hanya duduk terdiam di kursi belakang sambil memandangi padatnya lalu lintas jalanan kota siang hari ini. Pikiranku sedang menerawang jauh, aku sedang memikirkan seseorang,, seseorang yang selama dua minggu ini tidak kulihat raganya,, berbagai macam pertanyaan muncul dikepalaku tentangnya, Kenapa sampai dengan hari ini dia tidak datang menjengukku? Kenapa dia tiba tiba saja menghilang? Dia pergi begitu saja dengan mudahnya tanpa ada satupun penjelasan, tanpa ucapan selamat tinggal. Sampai saat ini yang kutahu dia pergi karena kesalahanku atas sikapku kepada Dias dan merahasiakan kepadanya tentang hubunganku dengan Dias. Tak kusangka dia akan bereaksi seperti ini, atau memang aku yang terlalu bodoh sama sekali tidak tau perasaannya saat melihatku dengan Dias, dia menderita dan sangat terluka karenaku.
Tidak hanya Resty yang sedang mencarinya,, polisi juga sedang mencarinya karena dia adalah salah satu saksi korban kejadian malam itu.
Dimana Kamu ?
Aku sangat berharap agar bisa segera bertemu dengannya, ada yang ingin kukatakan kepadanya. Rein yang duduk disampingku tiba tiba mengusap tanganku,, aku menoleh wajahnya yang sedang memandangiku… raut wajahnya mengisyaratkan kalau dia mengetahui apa yang ada didalam pikiranku, siapa yang sedang kupikirkan. Kemudian Rein menaruh sesuatu ditelapak tanganku. Ini kan?
“Aku menemukannya di kantong celanamu saat kamu tidak sadarkan diri,,,” ucap Rein
Dia memberiku sebuah kotak kecil, kukira kotak ini hilang saat aku menyelam di lautan ketika aku berusaha menyelamatkan Dias. kubuka penutup kotak itu…
__ADS_1
Seharusnya cincin ini melingkar di jari tangannya dimalam saat dia memintaku untuk menemuinya di taman. Malam itu aku ingin mengenakan cincin ini di salah satu jari tangannya sebagai tanda kalau aku memilihnya, aku mencintainya. Tapi tidak terwujud karena saat itu dia mengatakan ingin mengakhiri hubungannya denganku, kemudian Dias datang dan semuanya berantakan ketika penjahat penjahat itu muncul. Rein tau cincin ini harusnya untuk siapa, karena dia yang membantuku memilih saat aku membelinya.
Aku hanya berharap agar dia segera kembali.