Kisah Cinta

Kisah Cinta
PURA PURA MENCINTAIMU


__ADS_3

“Ega,,, kamu masih mencintaiku?” tanya Dias


Astagaa,, Pertanyaan Dias sukses membuatku terkejut, membuatku mati kutu dan terdiam selama beberapa saat sambil melihat wajah Dias yang sedang memandang mataku. Itukah yang ingin dia katakan? Dan itu alasan dia mengajakku ke tempat ini?


Kumasukkan tanganku kedalam kantong celanaku, kupegang box kecil berisi cincin yang selalu kubawa kemanapun setiap hari.


Bee..? Inikah saatnya bagiku untuk melepaskanmu,,,?


Bee..? Apa yang harus kulakukan..?


“A…Aku tidak tau…..” jawabku lirih sambil menunduk tidak berani melihat wajahnya.


Apa aku telah menyakiti perasaanya dengan berkata seperti itu? shitt,, pasti aku telah menyakiti perasaannya. Seketika aku langsung merasa bersalah kepada wanita yang saat ini ada didepanku.Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, Aku tidak perlu meragukan kebahagaiaan yang akan kuraih jika bersama dengan Dias, dia begitu mencintaiku terlihat dari segala perhatian yang dia tunjukkan padaku akhir akhir ini. Dia adalah cinta pertamaku, Bunda juga sudah menyukai Dias, lalu Rein selalu mendukung apapun keputusanku. Tapi,,, tapi aku masih belum bisa melupakan Meta, meskipun dia telah lama pergi dan mungkin tidak akan pernah kembali.


Jika aku bersama Dias, bukankah aku hanya akan semakin menyakiti hatinya karena aku masih belum bisa melupakan Meta.? Bagaimana aku bisa tenang memeluk Dias ketika aku masih terbayang bayang Meta? Jika kupaksakan untuk bersama sama dengan Dias, aku takut selamanya tidak bisa mencintainya sepenuh hati yang hanya akan membuatku semakin berdosa kepadanya.


“terima kasih sudah mau jujur,, setidaknya kamu lebih bisa berkata jujur daripada Meta..” ucap Dias lirih,, membuatku terpaksa memandang wajahnya.


Kulihat butir air mata disalah satu sudut matanya. Saat dia mengedipkan matanya, butir air mata itu turun menjadi aliran air yang membasahi pipinya namun dengan cepat dia menahan air mata itu agar tidak jatuh terlalu jauh. Air mata itu menunjukkan emosinya, yang pasti begitu pedih dan menyakitkan. Lagi,, sekali lagi aku menyakiti perasaan seseorang yang begitu mencintaiku. Tapi terpaksa kali ini aku harus melakukannya,, Aku siap jika Dias marah, kecewa, atau membenciku… karena untuk sekarang ini, aku tidak bisa mencintai wanita lain seperti aku mencintai Meta. Aku tidak bisa bersama dengan wanita lain selain dengan Meta. Mungkin orang lain akan memilih mengubur cinta yang tidak bisa diperjuangkan dan memilih cinta yang baru. Tapi tidak denganku, aku masih akan menunggu Meta walaupun dia tidak akan pernah kembali.


“Seharusnya aku sudah mengetahuinya sejak lama,tapi aku mencoba mengabaikannya.. tatapan matamu kepadaku yang selalu kuingat begitu indah sejak kita sekolah dulu, akhir akhir ini aku tidak lagi merasakannya,,kamu melihatku tapi ada orang lain di tatapan matamu… Malam itu aku bertanya kepadanya, tapi dia tidak mengatakan yang sebenarnya, kupikir memang tidak ada hubungan apa apa diantara kalian,,, tapi melihatmu akhir akhir ini yang sering melamun dan senyum palsumu didepanku semakin membuatku tidak tenang dan khawatir… semalam kuberanikan diri menghubungi kak Amanda dan bertanya kepadanya tentang hubunganmu dengan Meta, tapi Kak Amanda tidak memberikan jawaban yang pasti dan menyuruhku bertanya langsung kepadamu…sekarang semua sudah jelas,, bahkan kedatanganmu ke kota ini lagi itu untuk mencari Meta kan Ga..? aku baru tadi siang saat Linda memberitahuku kalau Meta sudah dua bulan ini tidak pulang ke rumah ketika Linda akan mengantarkan undangan pernikahannhya kepada Meta., kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal kepadaku,,?” jelas Dias


Itulah salah satu kebodohanku Dee, dari dulu aku memang selalu ragu dan selalu tersesat dengan pikiranku sendiri jika dihadapan dengan urusan hati, sampai aku tidak menyadari kalau sudah memberikan harapan harapan kepada semua wanita yang dekat denganku. Aku semakin tidak bisa berkata apa apa mendengar penjelasan dari Dias… Aku tidak menyangka Dias akan seperti itu memperhatikanku.. bodohnya aku sama sekali tidak menyadari itu, bagaimana aku bisa melupakan fakta bahwa Dias itu adalah wanita yang sangat peka seperti Alexa ataupun Winry.


“Maaf…” ucapku lirih tidak berani menatap wajahnya lagi.


“Jangan meminta maaf kepadaku,, aku yang salah telah hadir di kehidupan kalian hingga memisahkan kalian berdua..” ucap Dias sambil sibuk mengusap air matanya.


“Dee,,?”


Aku benar benar tidak tega melihatnya,


“Aku gpp kok Ga,, jangan mengkhawatirkanku,, mungkin ini yang dikatakan bahwa seseorang diciptakan hanya untuk tinggal dihati kita, bukan di hidup kita,,, Aku sudah terbiasa memahami bahwa tidak semua yang kuinginkan harus terjadi,, aku tidak akan seperti Meta yang tiba-tiba pergi dari hidupmu karena tidak kuat menerima kenyataan karena tidak bisa bersamamu,, kita masih bisa berteman seperti dulu, aku baik baik saja dengan itu” ucap Dias lalu mencoba tersenyum,, tapi senyumnya kali ini tidak begitu lepas seperti tadi.. benarkah dia bisa begitu saja menerima ini,,? Tidak,, tidak secepat ini.


Kemudian yang terjadi berikutnya adalah kesunyian diantara kami berdua, aku tidak tau harus berkata apa apa lagi. Bahkan makanan yang sudah diantar pelayan sama sekali tidak kami hiraukan.


“Bagaimana upayamu mencarinya selama ini,,,?” tanya Dias setelah keheningan yang terjadi diantara kami selama beberapa saat.


Aku menggelengkan kepalaku pelan,,


“Sampai sekarang tidak sedikitpun aku mendapat kabar tentangnya,, aku juga tidak tau apakah dia masih memikirkanku atau tidak.. ironisnya aku sama sekali tidak bisa berpaling darinya, aku tidak bisa berhenti mencintainya,, Bahkan aku menyadari cintaku kepadanya begitu besar disaat dia telah menghilang,,, tapi aku sudah mulai kehabisan tenaga untuk mencarinya Dee,,”


“dan kamu menyerah begitu saja?” tanya Dias


“Setiap orang punya hak untuk bahagia kan Dee,,? mungkin dia memang akan lebih bahagia tanpaku, karena bukan kali ini saja aku membuatnya terluka,, sudah terlalu sering aku menyakiti perasaanya dengan tingkahku., dan aku berpikir mungkin perpisahan ini adalah yang terbaik untuknya,,tapi bukan untukku, karena aku masih akan mencintainya walaupun Pada akhirnya memang cinta tidak harus memiliki…”


Sedalam dalam cinta adalah cinta yang tidak bisa dimiliki. Ahh,, Rasanya sakit sekali mencintai seseorang yang tidak bisa kumiliki.. aku yakin seperti itu juga yang saat ini dirasakan Dias., kenapa takdir mempertemukan Aku, Dias dan Meta dalam kerumitan seperti ini?


“Apa yang dikatakan Meta tentang kamu ternyata benar,,, Bodoh dan tidak bisa berbuat apa-apa…”


Hahhh? Ucapan Dias seperti sebuah pisau tajam yang menusuk tubuhku..


Wajar jika Meta berkata seperti itu tentangku,, tapi kenapa Dias menyetujui itu..? Dias yang selama ini kukenal tidak akan bicara seperti itu kepada siapapun..


“Hanya orang bodoh yang mengatakan cinta tidak harus memiliki, bagaimana bisa kamu mencintai sesuatu yang tidak bisa kamu miliki..? Jika kamu bicara hal bodoh seperti itu, itu artinya dari awal memang kamu tidak benar benar memperjuangkan cintamu kepada Meta.. ” ucap Dias


Pisau yang dia tancapkan melalui kata katanya kini semakin dalam menusuk tubuhku,,, Ucapan Dias membuatku terperanga,,, dia mengucapkannya dengan tegas sambil menatap mataku seolah yang dia katakan adalah cerminan apa yang dia alami..


“Dan bagaimana kamu bisa tau tentang kebahagiaan Meta dimanapun saat ini dia berada? Bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Dia sama sekali tidak bahagia setelah berpisah denganmu, menangis setiap malam, setiap saat terbayang kamu bergandengan tangan berdua denganku,, seperti penderitaan yang kamu rasakan akhir akhir ini karena kepergiannya..Apakah Meta begitu berarti bagimu..?” tanya Dias

__ADS_1


Aku mengangguk tanpa keraguan…


“Lalu kenapa kamu melepaskan hal yang paling berharga dalam hidupmu semudah ini?” ucap Dias


Pisau itu kini benar benar telah menembus hatiku..


“Egaa… Dimanapun saat ini Meta berada, percayalah kalau dia masih mencintaimu, masih merindukanmu, dan sedang menunggu kedatanganmu untuk menjemputnya,, kembalilah kepada dia yang tidak henti hentinya memikirkanmu, karena itu adalah rumah tempatmu untuk kembali.,” ucap Dias


Rumah untuk kembali?


“Jika memang kamu serius mencintai Meta,,jangan asal menyerah dan melepaskan begitu saja, perjuangkan dia.. yang kamu butuhkan hanya berjuang lebih lagi untuk mencarinya,,, Jika Tuhan memang mentakdirkan kalian untuk bersama,pasti Tuhan akan menunjukkan jalan kepadamu agar kamu bisa menemukannya… Aku akan membantumu..” seru Dias


Butuh waktu beberapa saat sebelum aku bisa mencerna semua yang Dias katakan. Segala yang Dias ucapkan membuatku tersadar betapa mudahnya aku menyerah untuk seseorang yang kucintai.


“Terima kasih Dee,, aku memang bodoh karena tidak serius memperjuangkan hal yang paling berharga dalam hidupku,, aku akan kembali berusaha mencarinya, aku tidak akan berhenti mencarinya sampai aku bertemu dengan Meta,, aku berjanji kepadamu. ”


Setelah mengatakan itu dia tampak lega, Kulihat senyum tipis bibirnya,,


“Tapi kamu tidak akan mencari Meta malam ini juga kan Ga..?.. ehmm,,”


Dias seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia ragu untuk mengatakannya,, Dia kelihatan tidak tenang..


“Dee,,?”


“uhm,, Aku punya permintaan terakhir kepadamu sebelum akhirnya kamu pergi mencari cintamu,,,” pinta Dias


Permintaan?


“Jika kamu tidak keberatan,, untuk malam ini saja,, maukah kamu berpura pura mencintaiku, Hari ini aku ulang tahun ,, aku ingin menghabiskan malam ini bersama seseorang yang kucintai…” ucap Dias pelan


Hahhh? Sontak ucapannya membuatku begitu terkejut,,, jadi pesta kecil kecilan yang diadakan keluarganya tadi siang dan kedatangan Linda di rumahnya itu untuk merayakan ulang tahunnya Dias? dan aku baru saja memberikan kado terburuk dalam hidupnya… astaga,, 18 Nopember, bagaimana aku bisa melupakan tanggal ulang tahunnya Dias.. padahal dulu saat sekolah aku selalu menunggu nunggu tanggal ini untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. .. ahh,, bodoh,, bodoh,, Sial,,


Aku berdiri dari tempat dudukku, kuhampiri Dias di tempat duduknya yang sedang sibuk menyiapkan tas kecilnya, tidak berani memandangku.


“berdansalah denganku,,!!” ajakku padanya..


Dias terkejut dengan ajakanku, matanya sedikit melebar dan rona wajahnya berubah lagi,,,, mungkin dia tidak akan menyangka jika tiba tiba aku mengajaknya berdansa, dia terlihat begitu gelisah di tempat duduknya..


“A,,aku tidak bisa melakukannya,, aku belum pernah,,.,” balas Dias


Melihat ekpresi wajah Dias mengingatkanku saat pertama kalinya Meta mengajakku berdansa di tempat ini,, lalu aku melakukan seperti yang Meta lakukan padaku malam itu..


“Malam ini kamu pasti bisa…” ucapku padanya untuk memotivasinya agar mau berdansa denganku…


“Ayolah!!”


Butuh waktu beberapa saat sampai akhirnya Dias meraih tanganku yang daritadi kujulurkan didepannya. Kemudian Aku dan Dias berjalan berdampingan menuju lantai Dansa, dengan tanganku memegang belakang punggungnya.. sambil berjalan Aku tidak henti hentinya memandang wajah Dias yang sedang tertunduk malu. Dia hanya sekilas melihatku..


“Kamu tidak perlu melihatku seperti itu,,,” ucap Dias lirih sambil melihat kedepan..


“Upss,, sorry..” ucapku padanya… tapi aku tidak benar benar mematuhi larangannya, aku masih memandangnya…


“Egaaa,,, “ Dias sedikit kesal karena aku masih melihat wajahnya.


“hahahaa…”


Wajahnya Dias semakin memerah karena tingkahku,, sesampainya di Lantai Dansa, Aku berdiri berhadap hadapan dengan Dias.. kuraih kedua tangannya,, dia tidak menolak. Lalu kuarahkan kedua tangannya melingkar di punggungku. Dias berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat denganku,, dia terlihat masih kaku. Lalu kedua tanganku memegang belakang pinggangnya, kupaksa tubuhnya agar lebih dekat dengan tubuhku… dia semakin salah tingkah.


“Rileks,,” bisikku,,

__ADS_1


Aku dan Dias sudah berdiri berhadapan begitu dekat. Lalu mulai kutuntun dia untuk menggerakkan badannya mengikuti alunan musik. Beberapa saat kemudian saat dia sudah mulai rileks dan bisa mengikuti gerakanku, semakin kudekatkan tubuhku ke tubuhnya.. hampir seperti sedang memeluknya.


“Kamu benar benar nekat mengajak seorang wanita berjilbab berdansa,, aku malu, mereka semua sedang melihatku..” bisik Dias pelan…


Hmmm..? aku melihat sekeliling, sepertinya benar apa yang dikatakan Dias. Apakah memang wanita berjilbab dilarang berdansa..? memang tidak ada aturan wanita berjilbab dilarang berdansa, mungkin lebih ke masalah budaya dan pandangan orang lain… ah,, masa bodo dengan itu.


“Sudah terlambat untuk kembali ke tempat duduk, kamu akan semakin malu jika kita sebentar saja disini… sudahlah jangan melihat mereka,, lihat wajahku saja,,” ucapku menenangkannya,, dia menatapku kemudian tersenyum..


“kenapa kamu mau melakukan permintaanku,,,?” Dias menatapku..


“kenapa aku melakukan apa..?” jawabku,, kemudian aku tersenyum dan dibalas oleh senyumya. Lalu kami melanjutkan kembali gerakan gerakan kami..


Untuk sejenak malam ini aku dan Dias melupakan topik serius yang tadi kami bicarakan. Kami berdua menikmati waktu dan suasana tanpa membahas tentang perasaan kami masing masing. Malam ini aku hanya ingin fokus kepada Dias. Aku ingin membuatnya senang di sisa malam hari kelahirannya ini, sebagai tanda terima kasihku karena dia telah mencintaiku dan telah berbesar hati mau mengerti tentang perasaanku kepada Meta,, Walaupun Cuma ini yang bisa kulakukan untuknya.


Sampai dengan tiga kali lagu berganti aku dan dia masih berdansa, tubuh kami semakin dekat. Sesekali Aku merasakan hangat nafas Dias di wajahku ketika dia mendongakkan kepalanya untuk menatapku. Dan sekarang wajahnya seperti sedang bersandar di pundakku..


“Ega… bawa aku ke tempatmu menginap..” ucap Dias lirih,,


Hahhh..? aku tidak salah dengar kan..? untuk apa dia meminta itu?


“Ma,,maksudnya..?”


“Kamu tidak sepolos itu,, kamu tau apa yang kubicarakan,,,,” ucap Dias, dia tidak berani melihatku..


Apa sebenarnya maksud dia berkata seperti itu? apakah dia memintaku untuk…? Aku bisa merasakan jantungnya Dias berdegup kencang didadaku,,


“Dee.. Kamu serius..?”


“Kamu keberatan,,?” kali ini Dias menatapku,


“Tapi Dee,,,”


“Aku tidak akan memintanya lagi jika kamu merasa hanya akan menghianati Meta..” ucap Dias


Kali ini Dias menghentikan gerakannya kedua tangannya juga sudah diturunkan dari punggungku, dan sedikit menjauhkan diri dari tubuhku,, dia tertunduk dengan mukanya yang memerah.


“Dee…?”


“Iya atau tidak,,? Jangan banyak tanya,, atau aku akan semakin merasa seperti wanita murahan… jika tidak, lebih baik kamu mengantarku pulang..” ucap Dias tegas sambil menatapku. Tidak kusangka Dias bisa menjadi berani seperti ini, dia kelihatan berbeda dari biasanya.


Malam ini Dia benar benar penuh dengan kejutan. Seorang Dias mempunyai keinginan seperti itu denganku,, tanpa berbicara, kupegang tangannya lalu kutuntun dia kembali ke meja untuk mengambil barang barang kami, lalu kami berdua keluar dari tempat ini menuju mobilku.


Sepanjang perjalanan, kami hanya terdiam dan larut dengan pikiran kami masing-masing. Hanya terdengar bunyi hujan dan suara wiper yang bergerak ke kanan kiri menggesek kaca mobil.


“Kamu akan mengantarku pulang..? tanya Dias memecah keheningan,, mobilku memang sedang menuju ke arah rumahnya.


“Dee,, kamu yakin dengan permintaanmu,,,?”


“Aku ulangi lagi pertanyaanku,apakah kamu keberatan,,?” ucap Dias lirih,,


“Bukannya kamu sudah terbiasa melakukannya tanpa perasaan? Aku pernah melihat apa yang pernah kamu lakukan dengan Linda di kost, dan Linda bilang kalau kalian melakukannya sama sekali tidak berlandaskan atas perasaan,, jika kamu bisa melakukannya dengan Linda kenapa tidak denganku?” ucap Dias dengan nada agak tinggi,,,


Astaga, Aku tidak menyangka Dias akan bicara seperti itu kepadaku.


“Maafkan ucapanku,, Kamu tidak harus menuruti kemauanku,, aku tau apa yang ada dipikiranmu .padahal kamu sudah jelas menebalkan tulisan cintamu itu hanya untuk Meta,, , aku memang tidak tahu malu.. kamu bisa menyebutku munafik, wanita ******, wanita murahan,,,terserah, tapi satu hal, aku bukanlah wanita sempurna seperti yang orang lain sering pikirkan..” jelas Dias


Kali ini nadanya merendah, dan dia memalingkan wajahnya ke jendela pintu mobil. Sesekali aku melihat tangannya diarahkan ke wajahnya. Mungkinkah dia sedang menangis?


“Dee,, jangan berkata seperti itu,,, aku sama sekali tidak berpikiran seperti yang kamu ucapkan,,tapi,, maaf, Bukankah kamu belum pernah melakukannya? Aku hanya tidak ingin kamu menyesal nantinya.,,, ”

__ADS_1


Meskipun ini bukan pertama kalinya ada wanita yang memintaku untuk bercinta pertama kali dengannya,, tapi tetap saja aku masih sangat berat jika ada wanita yang memintaku seperti itu,, Seperti yang pernah dikatakan Rein,


__ADS_2