Kisah Cinta

Kisah Cinta
BERJUANG MELAWAN MAUT


__ADS_3

...—POV META—...


Mobil ambulan yang kutumpangi berjalan kencang menuju rumah sakit. Duduk disebelahku, Rein masih terus terusan menangis sambil mengusap kepala Rega yang kini terbaring di mobil ambulan ini,, lebih tepatnya Rega direbahkan secara tengkurap diatas ranjang di dalam mobil ambulan karena dia tertembak di punggungnya. Kata perawat yang datang bersama ambulan ini, Rega sengaja diposisikan seperti itu agar darah yang keluar tidak semakin banyak, karena itu akan sangat mengancam nyawanya. Alat bantu pernapasan juga sudah terpasang diwajahnya,, Dia masih tidak sadarkan diri.


Bee,,, Bertahanlah,, ucapku dalam hati.


Aku juga tak henti hentinya menenangkan Rein,,,dia begitu terpukul, apalagi dia tadi bilang kalau Rega tertembak karena berusaha melindunginya. Dias tidak ikut bersama kami, karena dia masih di gedung itu menunggu mobil ambulan lain yang akan membawa tubuh Galih. Harusnya tubuh Galih yang sudah meninggal dibawa memakai ambulan yang saat ini kutumpangi,, tapi karena Kondisi Rega sedang darurat, terpaksa ambulan ini dipakai untuk segera membawa Rega ke Rumah sakit,,, Rega harus segera mendapatkan perawatan, jangan sampai terlambat, atau dia akan menyusul Galih,,


Kumohon bertahanlah Bee,,,,


Sesampainya di Rumah Sakit, aku membantu Rein berjalan karena kakinya terluka,, kami mendampingi beberapa perawat yang mendorong ranjang dorong menuju ruang operasi untuk segera melakukan operasi pengangkatan proyektil peluru yang masih bersarang ditubuhnya Rega. Kemudian datang dengan berlari seorang pria berkacamata dan berpakaian putih khas seorang Dokter ikut mendampingi dan melakukan pemeriksaan awal kepada Rega.


“Bagaimana kondisi pasien..?” tanya dokter itu kepada salah seorang perawat,,,


Perawat itu melihatku dan Rein terlebih dahulu seakan ragu menjawab pertanyaan dokter tersebut didepan kami berdua..


“Denyut Nadinya melemah,,” kata perawat itu,,,


Apa artinya? Apakah ini artinya kondisi Rega sedang mengkhawatirkan…? Aku tidak begitu mengerti tentang dunia medis, tapi orang awam pun pasti tahu kalau luka karena tembakan bisa sangat mematikan.


“Siapkan inkubasi…” perintah dokter itu,,, kemudian perawat tadi berlari mendahului kami… Ketika tiba di ruang operasi. Rega langsung dibawa masuk kedalam, aku dan Rein disarankan menunggu di ruang tunggu.


“Rega akan baik baik saja Rein,,,” ucapku kepada Rein,,,


Dia langsung menangis memelukku,,, kuusap punggungnya,,


Kamu akan baik baik saja kan Bee..? kumohon tetaplah bersama kami,, jangan pergi ,,,, jangan tinggalkan kami...


.


.


Dua Jam berlalu sejak Rega masuk ke dalam ruang operasi dan malam sudah semakin larut. Rein tampak masih terpukul dengan tertembaknya Rega,, Dia hanya duduk terdiam di sebuah kursi panjang merangkul kedua kakinya,melamun dan pandangannya tampak kosong. Sesekali kudengar isak tangisnya sambil melihat bercak darah ditangannya yang merupakan darahnya Rega…. Aku begitu khawatir dengannya,,, bahkan Dia menolak untuk dirawat kakinya yang terluka dan memilih untuk tetap disini menanti kondisi Rega.


Saat masih menunggu, Aku melihat ke layar televisi yang terpasang di salah satu sisi dinding ruang tunggu rumah sakit,, Dalam suatu acara berita TV nasional sedang diberitakan mengenai operasi penangkapan Pengusaha terkenal yang bernama Danu Wicaksono yang tidak lain adalah otak segala kejadian yang terjadi sejak kemarin. Tidak hanya itu, polisi juga menangkap beberapa petinggi kepolisian yang diduga terlibat dan menjadi bagian dari jaringan Danu Wicaksono. Dan menurut berita itu juga tidak menutup kemungkinan akan ada nama nama lain di pemerintahan yang ikut terlibat dan akan segera ditangkap dalam dugaan kasus suap proyek pemerintahan yang dimenangkan perusahaan Danu Wicaksono. Dikatakan, polisi telah mengantongi bukti bukti kuat mengenai berbagai kejahatan yang selama ini dilakukan Danu Wicaksono.


Publik langsung heboh dengan berita penangkapan itu, karena salama ini Danu Wicaksono dikenal sebagai pengusaha Dermawan yang sering turut serta dalam acara acara Charity di dalam negeri. Dalam sekejap saja media sosial langsung ramai bertebaran tagar atau hastagh mengenai operasi penangkapan besar besaran yang dilakukan oleh kepolisian serta hastagh mengenai kejadian yang terjadi di pelabuhan seperti #DanuWicaksono #PelabuhanMencekam #TerorisMenyerangPelabuhan #KillBIllDitangkap dan masih banyak yang lainnya termasuk #DroneRace serta #TeamReinGarisKeras atau #SaveDias..hmm gak ada yang peduli sama aku nih..? Fine. Aku memang tidak ada artinya sama sekali di cerita ini. Kalian sama seperti Rega yang sudah menganggapku tidak artinya lagi dan lebih memlih Dias. Kejadian diatap gedung tadi sudah menjelaskan semuanya kalau Rega lebih memilih Dias, dan lebih menyelamatkan Dias daripada aku. sakit tau gak sih mengetahui dia yang begitu berarti segalanya bagiku, tapi aku tidak berarti apa apa baginya.. hufff.. terjadi lagi,, bukan saatnya berpikran seperti itu,, karena sekarang ini kondisi Rega lebih mengkhawatirkan daripada sakit hatiku,,, Beberapa petugas kepolisian juga sempat mendatangiku dan Rein untuk meminta keterangan, tapi kuminta mereka untuk memberikan kami waktu dan mereka mau mengerti keadaan kami.


Kurasakan tubuhku begitu letih dan lemas karena seharian tidak tidur, tak butuh waktu lama hingga akhirnya aku tertidur di kursi ruang tunggu rumah sakit.

__ADS_1


.


.


Aku merasa mendengar suara Rega sedang memanggilku, aku langsung kaget hingga terbangun dari tidurku. Hari sudah siang saat aku terbangun,, sinar matahari yang cerah masuk menyinari bagian dalam rumah sakit melalui kaca jendela yang terpasang di sebelah deretan kursi kursi panjang ruang tunggu Rumah Sakit. Sebuah selimut panjang menutupi tubuhku, siapa yang menyelimutiku,,? Hingga akhirnya aku tersadar jika di kursi panjang ini, aku sedang rebahan dipangkuan seseorang.


“Heii Cantikk,,,” Resty tersenyum menyapaku,,,


Hahh? Ternyata Resty,,,aku langsung membangunkan tubuhku ketika melihat Resty,,,, Resty langsung memeluk tubuhku…


“Resty..? kapan kamu datang…?” ucapku sambil mengusap punggungnya, dikursi panjang yang lain aku juga melihat adiknya Resty sedang duduk bersebelahan dengan seorang pria seumuran Rega., mereka berdua juga sedang menatapku.


“Semalam aku langsung datang kesini,,,,Syukurlah kamu baik baik saja…” balas Resty


“Tapi tidak dengan Rega Ress,,,,tunggu dulu, Operasinya..?” tanyaku panik, sambil melihat ke arah ruang operasi.


“Operasinya sudah selesai Meta, proyektil peluru sudah diangkat dari tubuhnya Rega,,,, tapi…..” kalimat Resty terhenti


Tapi..?


“kondisinya masih kritis dan masih belum sadar, dia sekarang dipindahkan ke ruang ICU. kata dokter, kondisi seperti itu akan berlangsung selama 2-4 hari,,sampai sekarang dia masih dalam pengawasan ketat tim dokter…” jelas Resty padaku


Beberapa saat kemudian dua orang wanita cantik datang menghampiri Adiknya Resty,, mereka juga menanyakan keadaan Rega kepada adiknya Resty… Siapa wanita wanita itu? Temannya Rega juga?


“Amel, Mira,,? Kalian datang…?” sapa Ressa


Mereka tampak berbincang bincang serius bersama seorang pria yang daritadi duduk bersama adiknya Resty, tak lama dua orang wanita datang lagi,, mereka datang dengan berpenampilan serba hitam.. kedua wanita itu berlari ke arahku dengan nafas tersengal… dan kedua wanita itu adalah Dias dan Linda… mungkinkah mereka kesini setelah mendatangi pemakaman Galih? Sepertinya begitu karena melihat penampilan mereka yang berpakaian serba hitam.. aku berdiri dari tempat duduk dan Linda langsung memelukku…


“aku sudah mendengar semua yang terjadi,,,” ucap Linda bersimpati,,,


“Meta,, bagaimana keadaan Rega…?” tanya Dias kepadaku,,,


“Rega masih belum bangun Dee..” aku menatapnya sedih sambil menggelangkan kepalaku,, Dia langsung bergantian memelukku…


“Kamu gpp??” tanya Dias mengkhawatirkanku,, Dias begitu perhatian,,,


“Aku gpp kok…”


Dias tersenyum mendengar jawabanku, tapi tiba tiba saja tubuhnya lunglai seperti tidak seimbang dan hampir jatuh kalau Linda tidak menahan tubuhnya dari belakang… Aku sampai kaget tiba tiba dia lemas seperti itu…

__ADS_1


“Dee.. jangan dipaksakan,, semalaman kamu tidak tidur dan terus beraktifitas sampai pemakaman tadi,,, kamu harusnya istirahat dirumah,,” Linda khawatir melihat kondisi Dias.. Kami semua menangkap kilau air mata yang menetes di pipinya kemudian dia mengusapnya…


“Aku gpp kok Lin,,,” ucap Dias Lemas,,


Dias pasti merasakan lelah dan stress berat setelah seharian dikurung didalam ruangan sempit, lalu belum lagi trauma saat dia hampir saja diperkosa oleh orang brengsek itu, selain itu saat ini batinnya juga pasti tertekan merasakan kesedihan yang mendalam atas meninggalnya Galih seseorang yang selama ini mungkin dekat dengannya dan sekarang dia masih harus mengkhawatirkan Rega, pria yang dicintainya masih dalam keadaan kritis. Tapi Dias berusaha mengendalikan emosinya, perasaanya yang sesungguhnya, agar dia tetap kelihatan tegar dan kuat, meskipun raganya tidak bisa menyembunyikan apa yang dia rasakan.


Setelah itu kami semua bersama sama menuju ke ruang ICU tempat Rega sedang dirawat secara intensif. Diluar ruangan itu, Rein sedang berdiri menatap penuh kesedihan kedalam ruangan itu melalui kaca. Lingkaran hitam disekitar matanya terlihat begitu jelas. Resty mengatakan kepadaku kalau semalaman Rein tidak tidur menunggu kondisi adiknya yang masih belum sadar, dan dia tidak berhenti menangis semalaman,bahkan dia juga tidak mau makan. Ada seorang wanita cantik yang mendampingi Rein.


Wanita itu dan Rein terlihat begitu mirip, sama sama memiliki wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang indah. Siapa wanita itu? atau mungkin saudaranya Rein? Dua orang wanita temannya adiknya Resty yang bernama Amel dan Mira itu mendekati Rein dan mereka berpelukan sedih… lalu wanita yang bernama Amel tadi mengajak wanita yang mirip dengan Rein bicara agak menjauh dari sini.


aku melihatnya, Rega sedang terbaring tidak sadarkan diri diatas tempat tidur..


Bee,,, Bangun,,!! Lihatlah!! mereka semua yang ada disini sedang sedih menghkawatirkanmu,, apa kamu tega melihat kami seperti ini,,? Bangun Bee!!


Dengan berbagai pertimbangan, Dokter yang merawat Rega mengizinkan tiga orang masuk kedalam ruangan ICU. Rein dan Dias mengambil kesempatan itu,, sebenarnya aku tidak mau masuk kedalam, karena aku takut tidak kuat menahan rasa sedih melihat kondisi Rega.. tapi Resty memaksaku untuk ikut Rein dan Dias masuk kedalam ruangan.


Setelah memakai baju steril, aku masuk kedalam ruangan menyusul Rein dan Dias. Suara mesin monitor jantung, alat bantu pernafasan dan bunyi alat alat lainnya mendominasi suasana didalam ruangan. Dan sudah pasti bau obat tercium sangat menyengat dari segala arah. Aku berjalan mendekati tempat dimana Rega berbaring dan kemudian berdiri disamping Dias.. aku tidak bisa menahan rasa perih yang kurasakan didadaku melihat kondisi Rega seperti ini, melihat wajahnya yang terluka dan memar dibeberapa bagian tubuhnya yang kekar.


Tidak hanya aku yang merasakan kesedihan, Dias dan Rein pun merasakan hal yang sama denganku. Rein tak kuasa menahan air matanya menetes melihat kondisi adik yang begitu dia sayangi terlihat payah dan tidak berdaya. Rein meraih tangannya Rega dan menggenggam erat telapak tangannya dan mengusapnya dengan tangannya yang lain berharap Rega bangun,, tapi Rega seperti tidak merasakannya sama sekali, dia masih tidur dengan wajah yang begitu tenang seperti tidak merasakan apa apa.


Bee.. aku tau kamu pasti sedang berjuang untuk sembuh… dan sebentar lagi kamu akan tersadar lalu menyapa kami kembali dengan kepolosanmu itu. Ucapku dalam hati melihat Rega yang katanya dokter sedang dalam fase kritis, atau bisa dikatakan Rega sedang berjuang melawan maut sendirian.


Tak berselang lama kami bertiga dikagetkan dengan suara alat alat medis yang sebelumnya stabil kini menjadi sangat berisik. Kami bertiga langsung panik, karena firasat kami mengatakan berisiknya alat alat itu menandakan sedang terjadi sesuatu pada Rega atau bisa dikatakan kondisi Rega sedang memburuk. Beberapa perawat dan Dokter langsung masuk kedalam ruangan memeriksa Rega dan menyuruh kami keluar ruangan.


“Dokter!! Adikku kenapa Dok,,?” Tanya Rein pada Dokter itu,, tapi Dokter itu tidak menjawabnya,,,,


“DOKTER!! KATAKAN SESUATU…!! ADIKKU BAIK BAIK SAJA KAN DOKKK,,?” Di dalam ruangan itu Rein teriak panik.. Aku dan Dias mencoba menenangkannya dan menuntunnya ke luar ruangan..


“semua salahku,, aku tidak bisa menjaganya,,, aku gagal melindunginya..” Isak tangis Rein kembali pecah diluar ruangan.. tangisannya terdengar sangat pilu bagi siapapun yang mendengarnya.


Kemudian Dias mendekati Rein, dia merangkul lengannya Rein..


“Kakk,, kamu gak boleh ngomong gitu,,, Rega seperti itu juga karena menolongku dan Meta.. tapi Rega pasti sembuh, dia pria yang kuat dan pantang menyerah,, sebentar lagi Rega pasti bangun dan tersenyum kepada kita semua..” Dias dengan keramahan hatinya tak henti hentinya menyalurkan ketegaran kepada semua orang yang khawatir dengan Rega, walaupun aku tau hatinya sendiri juga hancur melihat kondisi Rega.


Rein memeluk Dias,, beberapa menit kemudian Dokter yang merawat Rega keluar ruangan,, semua orang langsung mendatangi dokter itu dan menanyakan Keadaan Rega setelah serangan yang tiba tiba tadi. Dokter itu melepas kaca matanya dan menghela nafas panjang.


“Kondisi pasien semakin memburuk,, kami sudah melakukan yang terbaik untuk membantunya melewati masa masa kritis,, kita serahkan semuanya kepada Tuhan, saat ini saudara Rega sendiri yang harus berjuang untuk bisa melaluinya..” ucap Dokter itu menjelaskan


Astaga,, kamu tidak akan menyerah kan Bee..? Jangan Pergi Bee,,, kumohon tetaplah bersama kami,,

__ADS_1


__ADS_2