Kisah Cinta

Kisah Cinta
MENCARINYA


__ADS_3

SATU BULAN KEMUDIAN


Hari hariku masih sama seperti sebelumnya, semuanya masih sama bahkan Rein masih saja tetap jomblo seperti sebelumnya hehe. Intinya semua masih berjalan seperti biasa tidak ada yang berubah kecuali satu hal, yaitu ada yang sesuatu yang mempengaruhi pikiranku. Sesuatu yang tidak bisa dilihat ataupun diraba hanya bisa kurasakan melalui perasaanku.


.


Bee,, Dimana Kamu?


.


Kapan kamu pulang?


.


Hai,, bagaimana kabarmu..?


.


Kamu baik baik saja kan?


.


Miss You


.


Bee,, semalam aku mimpi kamu


.


Hai,, bagaimana harimu?​


Kubaca kembali sebagian pesan pesan yang kukirim untuknya, hanya pertanyaan pertanyaan sederhana. Tapi meskipun hanya pertanyaan sederhana, semua pertanyaan itu tidak pernah dijawab olehnya. Kenyataanya pesan pesan itu tidak pernah sampai kepadanya karena nomor handphonenya sudah tidak aktif lagi. Walaupun aku tau nomornya sudah tidak aktif lagi,tapi setiap malam sebelum tidur selalu aku sempatkan mengirim pesan untuknya dan berharap tiba tiba saja pesan itu terkirim dan dia menjawab satu saja dari semua pertanyaanku, aku akan sangat senang sekali jika dia tiba tiba membalas pesanku.


Kuletakkan handphoneku di meja lampu yang ada disebelah tempat tidurku,,, kuhempaskan tubuhku kebelakang diatas kasur yang empuk. Dimalam menjelang larut ini aku masih terjaga,, Hari akan berganti lagi, pikirku. Dan sampai hari ini aku belum mendapatkan kabar tentangnya, tentangmu Bee. Sudah hampir 50 hari aku tidak melihat mata sipit yang terkadang sengaja dia lebarkan ketika memandangku yang selalu bisa membuatku terpesona, sudah lama aku tidak melihat wajah cantik yang dulu sering membuatku bertanya tanya bagaimana bisa wanita secantik dia memintaku menjadi kekasihnya, sudah lama aku tidak mendengar ucapan ucapannya yang kadang rewel hanya untuk sekedar memintaku menemaninya makan, jalan-jalan kalau sedang dia bosan, atau saat dia rewel memintaku memuaskan hasratnya. Sudah lama aku tidak merasakan tamparan tangannya yang selalu terasa panas dipipiku. Aku rela dia menamparku berkali kali asal aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku juga merindukan perbincangan kecil kami saat setelah selesai ‘melakukannya’, tentang kemarin, tentang hari ini ataupun tentang kami dimasa depan.


Kuraih lagi handphoneku. dan seperti kemarin, kukirimkan lagi pesan untuknya..


aku akan mencarimu. aku akan menemukanmu



Tapi Malam ini pun tetap sama seperti malam malam sebelumnya,, Tak lama setelah pesan kukirim, aku mendapat notifikasi kalau pesan itu gagal terkirim.


Hufft,,


Sudah sebulan berlalu sejak aku meninggalkan rumah sakit, Meskipun begitu, aku masih harus tetap mendapatkan perawatan dan pengobatan di salah satu Rumah Sakit di kota ini dua kali dalam seminggu meski tanpa perlu menginap. Selama satu bulan itu aku tidak diperbolehkan Rein terutama bunda untuk pergi terlalu jauh dari rumah,, padahal aku sangat ingin kembali ke kota sebelah untuk segera mencari Meta. Dan kini, setelah satu bulan menjalani masa pemulihan, aku sudah merasa cukup sehat untuk segera berangkat ke kota sebelah. Aku juga sudah mendapat ijin Bunda dan aku akan berangkat ke kota sebelah besok pagi. Ehmm.. sebenarnya Bunda taunya aku berangkat ke kota sebelah untuk mengunjungi Dias. Kenapa bisa seperti itu?


Dias Syandriani.. dia menepati janjinya kepada Bunda untuk mengunjungiku di rumah,, tiap akhir pekan selama sebulan ini Dias selau datang menjengukku dan selalu menginap disini, dia juga pernah mengajak Linda bersamanya. Bunda selalu terlihat senang dan antusias jika Dias datang,, Tak jarang Bunda mengajak kami sekeluarga makan diluar bersama sama dengan Dias. Bunda juga pernah memaksa Dias untuk menginap disini selama beberapa hari,, hadeeh,, sepertinya Bunda sudah begitu menyukai Dias, mereka berdua jadi deket banget….

__ADS_1


Saat Dias berkunjung, beberapa kali aku pergi jalan berdua dengannya karena Bunda menyuruhku mengajak Dias keluar jalan bersama di kota ini. Bagaimanapun juga Dias adalah wanita pertama yang kupuja puja saat aku masih bocah SMP. Kami juga pernah dekat setelah bertemu di acara reuni, meskipun belum dekat sebagai sepasang kekasih,, aku pernah mencintainya dan pernah mencoba mengupayakan cintaku padanya,, dan sekarang aku tau yang sebenarnya jika dia begitu mencintaiku.


Aku senang jalan berdua dengannya, aku nyaman didekatnya, kami tertawa bersama lagi seperti dulu. Dan aku harus mengakui, kehadiran Dias di hari hariku lagi sedikit membuatku lupa tentang kesedihanku atas kepergian Meta. Untuk saat ini Aku dan Dias masih menikmati kebersamaan kami walaupun tanpa terlalu vulgar mengumbar perasaan kami. Dias tidak pernah mengucap kata cinta lagi kepadaku sejak kejadian aku berkelahi dengan Galih, dimana Dia mengungkapkan keinginannya agar aku menikahinya. Dias tidak pernah menyinggung soal itu lagi denganku, padahal aku belum memberikan tanggapan. Seharusnya aku tidak perlu meragukan kebahagiaan yang akan kudapat jika bersama dengan Dias. Karena dekat dan menjalin cinta dengan Dias adalah hal yang paling kuinginkan sejak lama, bahkan sejak sekolah dulu saat aku belum mengenal apa itu Cinta.


Tapi meskipun aku dekat lagi dengan Dias dan membuat hari hariku terasa menyenangkan,, aku masih merasa ada sesuatu yang hilang dari diriku,, perasaan seperti ini sudah menghantuiku sejak Meta tiba tiba pergi,, Karena sampai dengan malam ini cintaku kepada Meta masih sama, tidak pernah padam walaupun dia telah lama pergi.


Mulai besok, aku akan berusaha mencari kepingan yang hilang itu, aku akan mencari cintaku, dan aku akan menemukannya.


.


.


DUA MINGGU KEMUDIAN


Sore hari menjelang petang ini aku sedang duduk termenung diatas tempat tidur di salah satu kamar hotel yang telah dua minggu kutinggali di kota ini. Diluar, hujan masih tidak lelah membasahi ibu kota sejak siang hari tadi.


Mencari keberadaan Meta ternyata tidaklah mudah. Karena sampai saat ini aku belum bisa mengetahui keberadaan Meta, tidak sedikitpun aku mendapatkan kabar tentangnya. Selama dua minggu aku sudah berusaha mencarinya, tapi masih belum membuahkan hasil. Sampai sekarang nomor telepon genggamnya masih tidak aktif. Meskipun Resty sudah memberitahuku kalau Apartemennya Meta sudah dua bulan ditinggalkan, tapi hampir setiap hari aku mengunjungi apartemennya berharap dia tiba tiba kembali kesana.


Beberapa kali aku mencari Meta dibantu oleh Resty, Ressa dan kadang Adit juga ikut membantu. Kami menghubungi teman temannya, mulai dari teman teman kuliahnya dulu sampai dengan teman temannya di tempat magang di salah satu kantor advokat. Tapi lagi lagi kami menemui jalan buntu, tidak ada seorangpun yang mengetahui dimana Meta berada. Aku juga meminta bantuan Angel, tapi sampai sekarang Angel belum bisa menemukannya. Aku harus mengakui kemampuan Meta untuk melarikan diri dan bersembunyi sangatlah hebat, Aku sempat berpikir saat ini Meta sedang berada di Luar Negeri, seperti yang pernah dia katakan kepadaku tentang mimpinya untuk mengunjungi kota kota di penjuru belahan Dunia.


Kamu dimana Bee? Kemana lagi aku harus pergi mencarimu?


Aku juga sudah berusaha mendatangi rumah orang tuanya dan bertanya langsung kepada mamanya, tapi kedua orang tuanya bilang jika sudah dua bulan Meta tidak pulang. Selama ini mereka hanya mengetahui kabar Meta melalui kak Neta. Kedua orang tua Meta juga sangat berharap Meta segera kembali. Kemudian aku mendatangi Kak Neta dan bertanya langsung kepadanya, Namun Kak Neta menolak memberitahuku dimana Meta sekarang ini. Malah Kak Neta memintaku untuk tidak mencari Meta lagi dan memintaku untuk melupakan Meta. Sedihnya, Kak Neta bilang itu adalah permintaan Meta…


Segitu bencinya dia kepadaku? Permintaannya itu Seakan akan dia memang ingin menjauh dariku, ingin menghilang dari hidupku , melupakan kisah indah yang pernah kami lalui dan memulai lembaran baru di tempat lain tanpaku. Atau mungkin dia sengaja pergi dariku agar aku bisa bersama dengan Dias? Seperti yang dia ucapkan di taman malam itu.


Mataku masih memandang tetesan rintik rintik hujan yang berubah menjadi aliran air yang menuruni bagian luar jendela balkon kamar ini. Aku hanya duduk terdiam sambil memegang box kecil berisi cincin berlian yang begitu indah. Pikiranku kosong, Hujan selalu berhasil menghipnotis orang orang yang sedang merindu. Kalau kata kak Fanny, 90 persen air hujan itu terdiri dari kenangan. Bagiku sekarang ini memandang rintik rintik hujan bagaikan sedang melihat layar proyektor besar yang sedari tadi memproyeksikan wajah Meta di layar itu. Aku tidak bisa menghentikan rekaman memori kenangan kenangan indah saat aku bersamanya.


Sampai kapan kamu akan lari dariku? Sampai kapan aku harus mengejar bayanganmu?


Suasana hujan seperti ini semakin membuat perasaanku menjadi hampa memikirkan kegagalanku menemukan Meta. Aku hampir putus asa, sampai aku tidak menyadari jika sudah dua hari aku tidak berusaha mencarinya lagi, aku lelah dan capek mengejar bayangannya yang terus berlari menjauhiku tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.


Aku mulai menyerah dan telah kehabisan tenaga mengejarmu.. Aku mencintaimu Bee,, Sungguh aku mencintaimu.. tidak bisakah kamu berhenti berlari sebentar dan merasakan ketulusan cintaku.


Atau memang dia tidak akan pernah berhenti berlari dariku. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa mengejarnya karena dia sudah terlalu membenciku dan dia akan terus berlari sampai menemukan kebahagiaan yang tidak didapatkannya dariku. Di dalam keputusasaanku aku berpikir Mungkin memang ini lebih baik untuknya, hidup tanpaku yang hanya membuat hatinya terluka berkali kali. Dan mungkin ini saatnya bagiku untuk membuka hati untuk seseorang yang telah menungguku untuk menyambut cintanya.


Jam ditanganku menunjukkan waktu tepat pukul 18:00. Malam ini aku ada janji dengan Dias, tadi siang dia mengajakku dinner diluar bersama. Kutatap kembali box kecil berisi cincin berlian yang daritadi kupegang, kututup dengan mantap penutupnya lalu kumasukkan box kecil itu ke kantong celanaku. Kemudian aku bergegas keluar dari Hotel menjemput Dias di rumahnya.


.


.


Sesampainya di rumah Dias, kulihat dia sedang berdiri di beranda rumahnya. Aku keluar dari mobil menuju ke arahnya dengan sedikit berlari karena hujan masih terus berjatuhan dari langit.


“baru saja aku akan meneleponmu, kirain kamu tidak datang karena hujan..” seru Dias saat aku sudah berada di hadapannya.


“Cuma hujan kok Dee,, tidak akan menghambatku untuk menepati janji kencan berdua denganmu,,” ucapku bicara sok manis didepannya,, dia tersenyum mendengar ucapanku.


Seperti biasa, kecantikan wajahnya tidak bisa digambarkan dengan kata kata karena terlalu indah. Apalagi saat ini dia sedang tersenyum kearahku, kalian pasti masih ingat kalau Senyum Dias selalu berhasil membuatku meleleh,, di cuaca yang sedang hujan seperti ini, senyumnya seperti memancarkan pelangi yang begitu indah. Meskipun bukan pelangi yang kuharapkan, tapi sudah cukup menyinari perasaanku yang sejak dari dua hari yang lalu mendung gelap.

__ADS_1


“Jadi,, malam ini kamu ingin dinner dimana..?” tanyaku padanya, ini bukan pertama kalinya aku jalan berdua dengannya selama aku di kota ini. Disela sela usahaku mencari Meta aku masih sering jalan berdua dengan Dias walaupun hanya sekedar untuk makan bersama. Aku dan Dias juga pernah mengunjungi makam Galih.


“Sebenarnya aku sudah makan..” ucap Dias lalu mengacungkan dua jarinya sambil tersenyum, pipinya merona malah kelihatan semakin menggemaskan.


“Tadi siang keluargaku mengadakan pesta kecil kecilan, Linda tadi juga kesini.., jadi aku belum begitu lapar,,” lanjut Dias..


pesta? Aneh, padahal tadi siang dia yang mengajakku makan malam bersama.


“Tapi pasti kamu belum makan,, yukk aku temenin, aku tau tempat yang pas,, ehm, ada yang mau aku omongin sama kamu,,!!” ajak Dias.. Dias terlihat begitu ceria, senyumnya terlihat begitu lepas.. dan Apa yang akan dia bicarakan? Apakah dia akan melanjutkan ucapannya untuk menjadikannya sebagai alasan kebahagiaanku? Seperti yang dia ucapkan waktu itu… Setelah itu kami berdua berangkat ke tempat yang direkomendasikan Dias.


Dias tidak henti hentinya membuatku terheran heran malam hari ini. Mobilku baru saja berhenti ditempat yang ditunjukkan Dias, dan ternyata tempat itu adalah ‘Royal 1989 PB’. ****,, Begitu banyak yang terjadi di tempat ini. Jika kalian lupa, pertama kali aku menginjakkan kaki di tempat ini itu bersama Meta,, dia yang mengajakku kesini. Saat itu dia mengajakku berdansa dan memaksaku menyanyikan sebuah lagu untuknya, sungguh sebuah kencan yang romantis awalnya,hingga akhirnya Resty datang dan malam harinya Meta memutuskan hubungannya denganku. Meta juga kecelakaan setelah dari tempat ini. Kedua kalinya datang ke tempat ini aku yang mengajak Meta datang kesini berharap bisa mengulangi kencan romantis namun berantakan saat aku bertemu dengan Galih dan aku berkelahi dengannya sampai aku sempat diamankan di ruang security selama beberapa jam.


Kenapa Dias mengajakku ke tempat ini?


“Kamu sering kesini..?” tanyaku padanya,, aku dan Dias berjalan menuju pintu masuk, kami berdua berjalan berdekatan dibawah payung yang sedang kupegang agar tubuh kami tidak basah terkena air hujan.


“Kamu sudah lama mengenalku, kamu pasti tau aku tidak begitu suka datang ke tempat seperti ini,, aku tuh sukanya pergi ke taman lihat bunga bunga dan melihat anak anak kecil lucu yang bermain ditaman,,,, Ini kedua kalinya aku kesini,,” jawab Dias,,,


Sambil memandang wajahnya dari samping yang sedang melihat lurus kedepan, Aku bertanya tanya dalam diriku,, Jadi saat aku bertemu dengannya disini bersama dengan Galih dan Linda itu adalah pertama kalinya dia ke tempat ini? Jika memang dia tidak suka datang ke tempat seperti ini, lalu kenapa dia malah mengajakku kesini?


Didepan pintu masuk, berdiri seseorang security berpakaian formal yang masih kuingat wajahnya ketika menahanku didalam. Tapi sepertinya orang itu tidak mengenalku. Kemudian aku dan Dias menuruni beberapa anak tangga menuju sederetan meja dan kursi yang sebagian besar sudah diduduki. Kami memilih tempat duduk dekat dengan panggung mini yang tak jauh dari bar. Diatas panggung itu terdapat seorang wanita yang berdiri memegang stand michrophone sedang membawakan sebuah lagu berjudul You Are The Reason yang dipopulerkan oleh Calum Scott. Lagu itu seperti sedang menggambarkan perasaanku sekarang ini…


Suara merdu wanita itu terdengar dari setiap sudut sudut tempat ini. Dias yang duduk didepanku sedang memilah milah menu yang akan dia pesan, disebelahnya berdiri seorang pelayan dengan pakaian rapi sedang mempromosikan menu menu andalan tempat ini kepada Dias. Aku melihat sekeliling tempat ini, meskipun bukan akhir pekan tapi banyak orang yang mendatangi tempat ini. Mereka semua memakai pakaian yang elegan yang bisa kutebak dari brand brand ternama. Beberapa pasangan berdansa di lantai dansa tak jauh dari tempat kami, mereka berdansa menggerakkan badan dan kaki mereka diiringi lagu syadu yang dinyanyikan wanita tadi. Disana aku melihat sepasang pasangan yang berdansa, raut wajah sang wanita terlihat begitu bahagia menatap pria yang sedang memegang pinggang wanita itu, mungkin pria itu adalah kekasihnya. Ah,, sudah pasti mereka sepasang kekasih.


Melihat pasangan yang sedang bahagia itu membawa ingatanku kembali ke malam itu, aku dan Meta pernah merasakan kebahagaiaan yang sama. Malam itu aku dan dia menciptakan suasana romantis bersama, Berdansa dengan penuh cinta yang menggelora diantara kami berdua, orang orang yang melihat kami saat itu pasti sangat iri melihat kami, bahkan sejak kami baru tiba di tempat ini semua pria sudah iri melihatku datang dan bergandengan bersama seorang wanita yang malam itu tampil sangat cantik bagaikan seorang putri kerajaan. Lalu saat aku selesai menyanyikan sebuah lagu untuknya, dia mendatangiku ke panggung dan Meta menciumku dihadapan banyak orang. Hff,,, betapa bahagianya aku dan dia saat itu, bahkan orang orang yang melihat kami pun ikut merasakan kebahagiaan kami.


Jika tidak karena kebodohanku mungkin sekarang ini aku dan Meta masih akan berdansa di lantai dansa itu. Memang salahku, hingga akhirnya dia pergi meninggalkanku, menghilang selamanya dari hidupku meninggalkanku sendirian disini yang setiap saat dihantui oleh bayangannya, membuatku selalu merasakan rindu yang terasa begitu menyakitkan. Hanya memikirkan seperti apa rambutnya sekarang atau baju apa yang sedang dia pakai saja membuatku sakit. Kepergiannya menciptakan sebuah rutinitas baru di malam malamku, yaitu.. memikirkanmu. karena disetiap malam malamku pikiranku selalu dipenuhi dengan pertanyaan pertanyaan sedang apa dia disana? apakah dia baik baik saja? Apakah tidurnya nyenyak? Apa dia sedang sakit? Dan pertanyaan yang sangat begitu ingin kuketahui jawabannya adalah Apakah dia masih merindukanku?


“Bee…”


Tiba tiba suara Meta yang sedang memanggilku membangungankan lamunanku. Aku begitu terkejut mendengar suara wanita yang dari tadi ada di khayalanku, suaranya sangat dekat. Mendengar suaranya, aku sedikit panik dan reflek berdiri dari tempat duduk dan menoleh ke sebelah kanan.. tapi tidak kutemukan Meta.


“Bee..”


Meta memanggilku lagi,, aku menoleh ke sebelah kiri, namun masih tidak bisa kulihat dirinya.


“Bee..”


Ternyata suara itu berasal dari depanku, dan daritadi yang memanggilku bukanlah suara Meta, melainkan suara Dias? Dias menangkap syok dari raut wajahku, dia hanya tersenyum tipis sambil memandangku. Kemudian Aku duduk kembali ke tempat dudukku sambil bertanya tanya dalam hati, kenapa Dias memanggilku seperti itu?


“Kamu sedang memikirkan dia..? tanya Dias pelan..


“Meta..? dia selalu memanggilmu seperti itu,, dan tempat ini,,,” Dias melihat sekeliling,,, lalu menatapku lagi


“Pasti Tempat ini menjadi salah satu saksi dari banyaknya kenangan kebersamaanmu dengannya.. ” imbuh Dias


aku masih tidak sanggup berkata kata setelah Dias memanggilku seperti Meta memanggilku dan dia mengetahui tentang tempat ini. Bagaimana dia bisa tau? Atau dia hanya sekedar menebak?


“Ega,,, kamu masih mencintaiku?” tanya Dias

__ADS_1


__ADS_2