Kisah Cinta

Kisah Cinta
MERELAKAN KESUCIAN


__ADS_3

Rein : “dengerin ya dek,, pikirin mateng² sebelum kamu melakukannya untuk pertama kali, jangan sampai kamu menyesal,, atau jangan sampai kamu membuat pasanganmu menyesal,, belum tentu dia yang akan menjad istrimu,,, apalagi jika partnermu nanti juga pertama kali melakukannya,, kamu gak kasihan sama dia kalo misalnya kesuciannya kamu renggut tapi kamu tidak jadi menikah dengannya? Karena virgin hanya satu kali,, sekali lepas maka akan pergi selamanya…….”


.


.


Aku punya keyakinan kuat jika Dias belum pernah melakukannya dengan siapapun. Karena sejak kecil dia dilarang dekat dengan pria manapun karena dia sudah dijodohkan dan ternyata yang dijodohkan dengannya adalah Galih. Ini bukan lagi tentang ****, tapi ini tentang hilangnya sesuatu yang sangat berharga bagi seorang wanita,yaitu kesuciannya Dias. Bukankah di negeri ini perawan masih merupakan ukuran kehormatan seorang wanita?, dan masih banyak wanita yang ingin menjaga kehormatannya, permatanya hanya untuk pria yang akan menikahinya. Aku yakin Dias juga ingin seperti itu..


Lalu Kenapa Dias rela melepaskan kesuciannya untukku? Seorang pria yang baru saja menolak cintanya dan kemungkinan besar tidak akan bisa menjadi pendamping hidupnya. Apakah ini caranya untuk menjebakku agar menerima cintanya? Tidak, Dias bukan tipe wanita licik dan nakal seperti Meta atau Kak Neta, atau Rein,,, atau,, Dia,, ahh sial kenapa wanita itu muncul lagi di otakku. Intinya, apa alasannya sebenarnya? Aku mencoret alasan kebutuhan biologis adalah pemicu Dias meminta itu kepadaku.


“ya, Aku belum pernah melakukannya,, aku pernah berjanji untuk menjaganya sampai menikah nanti. Meskipun kedua orang tuaku tidak pernah mengatakannya secara langsung, tapi mereka juga selalu mengingatkanku tentang hal itu,, kamu pikir ini hanya keinginan spontan yang tiba-tiba terlintas kepalaku? Aku sudah memikirkannya sejak kejadian malam itu di pelabuhan, setelah aku hampir diperkosa orang jahat itu, dan semakin sering tersirat di kepalaku sejak mimpi buruk yang selalu datang di tidur malamku tentang kejadian malam itu….. aku tidak kuat lagi melawan apa yang kurasakan… Meskipun kamu bukanlah yang terakhir, tapi aku ingin kamu jadi yang pertama, aku tidak akan menyesalinya, aku janjii.. Egaa,, Aku mencintaimu, dan aku ingin menunjukkannya kepadamu, aku ingin mengakhiri hubungan ini sebaik mungkin,. aku akan lebih menyesal jika melakukannya untuk pertama kali dengan pria yang tidak kucintai, atau secara paksa seperti yang hampir menimpaku malam itu,,, jika kemarin aku bisa selamat, belum tentu besok aku bisa lolos,, untuk apa aku menjaga sesuatu yang sangat berharga jika diambil begitu saja oleh orang yang tidak kucintai atau orang yang tidak kukenal sama sekali,,” ucap Dias


Jadi seperti itu alasannya, kupandang wajahnya dari samping, dia melihat kedepan.


“Tapi jika memang kamu tidak mau melakukannya denganku, sebaiknya kamu mengantarku pulang sekarang juga… gapapa kok, jangan merasa bersalah,, kamu tidak harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hatimu,,, ” lanjut Dias


Aku tidak menjawabnya, aku hanya diam saja melajukan mobilku sambil memikirkan apa yang harus kulakukan setelah mendengar penjelasannya, mendengar alasan kenapa dia berani memintaku melakukan itu. Sampai akhirnya mobilku berhenti di suatu tempat, Dias sangat terkejut.


“Ega,,, kamu mau..?” tanya Dias kepadaku, setelah mobilku sudah terparkir di halaman depan hotel tempatku menginap selama dua minggu ini.


Aku mengangguk,,


“Untukmu yang mencintaiku,,” ucapku padanya, aku akan menuruti permintaanya, tapi aku akan melihat kondisinya terlebih dulu,, aku gak mau dia menyesal nantinya.


Setelah itu aku keluar dari mobil membukakan pintu untuknya, Hujan sudah berhenti sejak sekitar sepuluh menit yang lalu. kemudian bersama sama kami berdua menuju kamar hotel tempatku menghabiskan malam di kota ini. tapi malam ini, aku tidak sendirian menghabiskan malam. Karena ada Dias yang akan menemaniku,,


Begitu masuk kedalam kamar, Dias masih banyak diam duduk di sofa tunggal didalam kamar besar bertipe presidential suite ini. Bahkan dia tidak berani lama lama memandangku, dia sedang menatap langit malam melalui kaca jendela balkon yang tadi lupa kututup tirainya. aku yakin perasaanya saat ini campur aduk memikirkan apa yang akan kami lakukan. Kuambil dua botol minuman kaleng soda di kulkas dan kuberikan satu untuknya. Kemudian kuajak dia keluar balkon kamar, dari lantai 17 kuajak dia melihat pemandangan lampu bangunan bangunan di sekitar hotel dan lampu lampu mobil di jalanan ibu kota yang masih macet meskipun sudah malam. Semuanya terlihat berkilau seperti kilau bintang.


Kami berdiri saling berhadapan bersandar pada pagar besi balkon yang sedikit basah karena air hujan, bahkan Dias harus merelakan bagian bawah rok lebarnya basah karena lantai balkon yang juga basah. Dias menatapku,,


“Kita benar benar akan melakukannya..?” tanya Dias padaku,,


Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaanya..


“Apa yang sebenarnya akan kita lakukan..?” tanya Dias lagi,, aku tersenyum mendengar pertanyaannya…


“apa yang akan aku lakukan,? aku akan menciummu, menghisapmu, membelaimu, menggodamu dan memuja muja keindahan tubuhmu sepanjang malam..” jawabku.. Mukanya langsung memerah setelah mendengar penjelasanku..


“Kamu terdengar sangat profesional,,,” ucap Dias sambil tersenyum,,


“kuanggap itu sebagai pujian,,,”


“lalu apa yang akan aku lakukan?” tanya Dias


“Kamu akan berteriak memanggil manggil namaku sampai suaramu habis,,,” wajah Dias semakin memerah.. tak kalah merah dengan awan mendung di atas langit malam ini.


“Aku tidak akan seperti itu,,” sanggah Dias


“Kamu akan seperti itu, percaya padaku,,, coba kamu lihat bintang itu..!!” perintahku sambil tanganku menunjuk ke langit,,


Pandangan Dias mengikuti kemana arah tanganku menunjuk, mencoba mencari bintang yang kutunjukkan kepadanya,, sampai akhirnya dia menyadari jika tidak satupun terlihat bintang dilangit karena langit masih terlihat merah setelah hujan yang mengguyur dari kota dari siang hari. Ketika tidak menemukan apa yang kukatakan kepadanya, Dias pun menoleh kearahku lagi,, saat itulah wajahku sudah ada tepat didepan wajahnya dan kucium bibirnya. Itu tadi hanyalah trik yang kulakukan agar aku bisa lebih dekat ke tubuhnya, dan bisa menciumnya tanpa perlu meminta ijin kepadanya yang hanya akan membuatnya salah tingkah,,, Dia sangat kaget dengan gerakanku yang tiba tiba, tapi dia tidak menolak ciuman bibirku yang lembut di bibirnya,, Bagiku ini sangatlah luar biasa, bisa merasakan bibir wanita yang sejak kecil selalu membuatku terpesona ketika dia tersenyum.. ini adalah pertama kalinya aku dan Dias terhubung secara intim.


Namun Dias hanya pasrah dan diam saja, aku tau ini pasti ciuman pertamanya dan dia tidak tau cara membalas ciumanku,, setelah beberapa kali kecupan di bibirnya kulepaskan ciumanku,,, Dias masih terperanjat, matanya melebar setelah merasakan rasanya ciuman bibir untuk pertama kali, dia sampai mundur beberapa langkah menjauhiku.


“Akhirnya aku bisa merasakan senyum indahmu,,,” ucapku terdengar seperti sebuah kemenangan,, tapi Dias masih diam mematung,, tunggu dulu,,,


Aku : “Dee,, bernafaslah,,!!” perintahku kepadanya, dan benar saja, dia langsung mengambil nafas sebanyak banyaknya,,, astaga, ternyata dia sama sekali tidak bernafas saat aku menciumnya. Aku jadi teringat saat pertama kali seseorang mencium bibirku,, Denganmu AL… Bagiku ciuman pertama tidak akan pernah terlupakan, karena sangat indah, waktu seakan berhenti berputar, rasanya seperti dibius dan jiwa terasa melayang, ,, Mungkin sekarang Dias merasakan hal yang sama,,

__ADS_1


Aku : “Kamu gapapa..?” tanyaku, Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil mengatur nafasnya,,


Kemudian aku mendekatinya lagi,


Dias : “Kamu akan menciumku lagi,,?” tanya dia sedikit panik.


“Ya,, ciuman pertamamu tadi tidak akan pernah terlupakan, tapi yang kedua ini akan terasa lebih dahsyat.. masih ingat posisi saat dansa tadi..?” ucapku padanya saat aku sudah mendekatinya, dan kedua tanganku memegang belakang pinggulnya,, Dias dengan malu malu meletakkan kedua tangannya di pundakku,, wajah kami semakin dekat..


.


.


Dan Kami berdua melakukannya yang masih mengatur nafas kami masing masing,, tak lama, Dias menegakkan badannya melihat kondisi tubuhnya yang mengalir sedikit darah bercampur cairan orgasmenya. Darah itu menetes begitu saja menimbulkan nada merah di sprei tempat tidur yang putih, aku yang menyadari itu langsung berdiri mengambil beberapa lembar tisu di meja kemudian membersihkan sisa sisa darahnya,,


“ahhh,, ssshh,, perih Gaa…” Dias memegang lenganku…


Kemudian aku mengangkat tubuhnya dan menggendongnya ke kamar mandi,


“aku bisa sendiri,,,” ucap Dias ketika tubuhnya kududukkan di jaccuzi yang ada didalam kamar mandi,,


“Untuk sementara, kamu tidak akan kuat berjalan ,, percaya padaku,,,”


Kemudian kutekan tombol disisi jaccuzi itu, seketika air hangat keluar dari bawah memenuhi jaccuzi dan meneggelamkan tubuh Dias yang sedang bersandar sambil memejamkan mata. Kubiarkan dia disana, aku menuju shower untuk membersihkan diriku yang juga masih terdapat bercak darah perawannya Dias.


.


.


“Sudah cukup..?” tanya Dias sambil melilitkan handuk menutupi tubuhnya menghadap cermin didalam kamar mandi,, dia melihatku melalui pantulan cermin itu, aku daritadi berdiri di samping pintu kamar mandi menunggu Dia selesai mandi.


“Kamu masih ingin melanjutkan yang tadi,,?’ ajak Dias


“hah,,? Kamu masih mau,,,?”


“uhmm, terserah kamu…” aku menangkap senyumnya melalui pantulan di cermin


Selesai? Tidak, tak cukup sampai disitu,, setelah istirahat sekitar satu jam,, aku dan Dias melakukannya lagi mencoba posisi yang lain lagi. Sekejap saja Dias sudah mulai kecanduan dengan sebuah rasa yang baru saja dia rasakan pertama kalinya malam ini, kenikmatan orgasme. Lalu bagaimana denganku? Aku sangat menikmati malam ini bersama seorang wanita yang sangat mencintaiku, Meskipun malam ini adalah pertama kali dan terakhir kalinya kami bisa seperti ini.


Terima kasih Dee,, ucapku dalam hati kemudian kukecup keningnya,, Dias baru saja terlelap setelah pertempuran kami yang terakhir kalinya,,tak terasa waktu sudah menunjukkan hampir jam 4 pagi. Pengalaman bersamanya malam ini begitu indah, dan tidak akan pernah terlupa. Kupeluk tubuhnya, yang sedang terbaring telanjang disebelahku,, hingga akhirnya aku juga terlelap.


.


.


Ketika aku bangun, sinar matahari adalah hal pertama kali yang kulihat menyinari tubuh telanjangku melalui kaca kamar hotel yang tirainya terbuka. Sudah siang? Ketika aku menoleh kesamping untuk melihat Dias, ternyata diatas tempat tidur ini aku tidur sendirian. Aku reflek menegakkan tubuhku, aku tidak menemukan Dias didalam kamar.


Dias sudah pergi..?


Aku tidak menyangka dia akan pergi tanpa menungguku bangun. Saat aku masih meratapi kepergian Dias, tiba tiba sosoknya muncul dari dalam kamar mandi dan berjalan pelan menju tempat tidur,,


“Kamu sudah bangun,,,” sapa Dias


Aku sedikit lega melihat Dias,, dia sudah memakai tanktop dan pantiesnya untuk menutupi tubuhnya,, kemudian dia duduk diatas tempat tidur.


“kukira kamu sudah pergi,,,”


“Apakah semua wanita yang selesai melakukannya denganmu selalu tiba tiba pergi meninggalkanmu,,?” tanya Dias

__ADS_1


“Hehe, ya enggak gitu juga sih,,,”


“jangankan pergi jauh, untuk berjalan ke kamar mandi saja aku harus bersusah payah,, saat bangun tadi, aku seperti tidak merasakan tulang tulangku.. kakiku terasa sangat nyeri dan,, uhmm,, masih perih dibawah sana saat aku pipis,,,” ucap Dias malu malu,,


Aku tersenyum, kamu bukan orang pertama yang komplain kepadaku tentang itu Dee,, Rein sering merasakan hal yang sama.


“bagaimana dengan perasaanmu Dee.. kamu gapapa..?”


“Selain semua rasa nyeri dan perih itu,, bagiku semuanya masih terasa sama.. berhentilah berpikir aku akan menyesali apa yang kita lakukan semalam,, sebaliknya, aku merasa sangat senang…. Jadi kamu jangan pernah merasa bersalah,” ucap Dias kemudian dia mempersembahkan senyumnya kepadaku..


hmmmm senyumnya merupakan sesuatu yang indah untuk dilihat dipagi hari. Syukurlah,, kurasa Dias memang baik baik saja.


“akhirnya aku tau alasan kenapa Linda sangat menyukai melakukan itu,,, hahaha” Dias tertawa geli setelah mengucapkannya,,,


“kamu menyukainya..?”


Dia mengangguk, itu artinya dia sudah bisa mengganti kenangan buruk saat dia hampir diperkosa.


“Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi semalam, tapi, bagaimana menurutmu? Apa aku melakukannya dengan baik,,?” tanya Dias malu malu


“Kamu melakukannya dengan sangat baik,,” ucapku, dia langsung tersipu, wajahnya merona.


“Baguslah,, Sudah siang,, bangunlah!! kamu harus segera mencari cintamu,,, uhm, Ega,, berjanjilah untuk tidak mengatakan apa yang kita lakukan semalam kepada siapapun, terutama kepada Meta., biarlah ini menjadi rahasia indah kita berdua,, jika suatu saat nanti ada seorang pria yang akan menjadi pendampingku bertanya kepadaku tentang itu, aku akan mengatakan kalau kesucianku telah kuberikan kepada pria yang sangat kucintai, dan aku tidak pernah menyesal telah memberikan kesucianku untuknya…” ucap Dias


Astaga,,, aku sangat terharu mendengar ucapannya,,,


“Dan jika pria yang akan menjadi pendampingku itu benar benar tulus mencintaiku, dia pasti akan menerimaku apa adanya,,,, Malah diem,, Egaa,, Berjanjilah!!” ucap Dias sambil cemberut.


“eh,, iya, aku berjanji tidak akan mengatakannya kepada siapapun,,,”


Dias terseyum lega,,,


“Setelah ini apa yang akan kamu lakukan..?”


“uhmm, mulai minggu depan, aku resmi menjadi ketua yayasan rumah asuh yang didirikan Galih,, mamanya Galih mempercayakan posisi itu kepadaku,, tak hanya itu, disana aku juga menjadi seorang guru untuk anak anak yatim piatu,, akhirnya cita citaku menjadi seorang guru anak anak kecil kesampaian,, jadi, setelah ini, aku akan fokus disana..” jelas Dias


Hmm? Menjadi Guru anak anak kecil? Alexa juga punya cita cita yang sama…


“Uhm, kalau bisa, setelah ini antarkan aku kesana,, karena semalam aku bilang ke orang rumah kalau akan menginap di tempat yayasan,, atau kalau kamu buru buru, aku bisa kesana sendiri…” ucap Dias


“Aku akan mengantarmu kesana,,”


“Baiklah, tapi sebelum itu,, aku mau mandi dulu,,, “ ucap Dias lalu berdiri dari tempat tidur.


“Uhmm, boleh aku menemanimu,,?”


“Tidak boleh,, takkan kubiarkan kamu melihat tubuh telanjangku lagi…” ucap Dias sambil berjalan menuju kamar mandi..


Hihihi,, aku menghempaskan lagi tubuhku diatas tempat tidur.


.


.


“Aku siap kapan saja jika kamu membutuhkan bantuanku untuk mencari Meta,,” ucap Dias setelah kuantar dia masuk ke dalam tempat yayasan yang begitu besar ini.


Aku mengangguk, Dias pun masuk kedalam,, disana dia langsung disambut beberapa anak kecil yang terlihat senang dengan melihat kedatangan Dias.

__ADS_1


__ADS_2