
MALAM SEBELUMNYA
...—POV AMEL—...
“ketemu besok pagi ya… bye..” ucapku pada Adit melalui sambungan telepon, sekaligus mengakhiri percakapan kami.
Malam belum begitu larut, aku sedang berada di salah satu deretan meja dan kursi diteras sebuah kedai kopi dipusat kota. Duduk sendirian menyilangkan kaki dibawah bintang bintang malam ditemani rokok dan cold brew yang sama sekali belum kuminum, jika kalian merasa asing dengan namanya, kalian bisa menyebutnya es kopi.
Sebenarnya tadi partner kerjaku bersikeras mengajak mengunjungi night club yang biasa kami datangi, kata dia, penting bagiku mengunjungi tempat itu agar aku tidak terlalu stress dengan pekerjaan. Entah memang dia perhatian kepadaku karena melihatku kacau beberapa hari ini atau hanya sekedar modusnya untuk membuatku mabuk supaya dia bisa meniduriku lagi. Tapi kutolak ajakannya dan akhirnya aku sekarang disini, di kedai kopi ini.
Memang benar sih kata dia,, aku memang sedang stress karena pekerjaan,, kalian ingin tau pekerjaanku? Aku bisa memberitahukannya kepada kalian tetapi setelah itu aku harus membunuh kalian semua,,,haha aku suka sekali saat mengatakan kata kata keren seperti itu. Lalu Apa yang membuatku stress ? aku sedang kesulitan menyusuri jejak jejak seseorang yang selama ini kucari. Beban dipundakku semakin terasa berat ketika dia atau mereka yang sedang kucari beberapa hari yang lalu telah dilaporkan menyerang salah satu perusahaan asuransi ternama, dan berhasil membobol rekening perusahaan itu dengan jumlah kerugian yang tidak sedikit.
Kami sama sekali tidak mempunyai petunjuk untuk bisa menangkapnya, jangankan untuk menangkap, mencari keberadaannya saja kami selalu mengalami kesulitan. Berbagai macam metode pencarian sudah kami lakukan, tapi yang ada selalu berakhir dengan jalan buntu. Saat kuyakin jejaknya terdeteksi disuatu tempat, tiba tiba saja dia menghilang tanpa jejak seperti hantu, dan yang lebih tidak masuk akal, jejaknya di tempat itu hilang seperti dia tidak pernah ada disana..
benarkah dia itu hantu..? Shitt,, aku benar benar kacau jika percaya hal itu,, apakah ini artinya aku harus menyerah mengejar hantu itu? Apa Sudah cukup sampai disini saja? Menerima kenyataan telah gagal di tugas pertamaku? Aku sudah kalah?
Aku sudah hampir mencapai titik batas kemampuanku, apalagi atasanku yang brengsek itu selalu menekanku setiap hari, menyerang titik pertahananku dari segala arah agar aku menyerah. Ada saja tiap hari yang dia lakukan yang selalu membuatku emosi. Bukannya ikut membantu memikirkan cara dan solusi, malah dia selalu bersikap menyebalkan dihadapanku. Segitu bencinya dia kepadaku? Mungkin aku memang salah, Dia bersikap menjengkelkan kepadaku, meremehkanku setiap saat, itu semua karena tiba² saja aku berada di bawah divisinya tanpa melalui prosedur yang seharusnya kulalui untuk menjadi seorang agen yang terjun ke lapangan. Bagaimana aku bisa melewatkan semua prosedur itu ? uhm,,, itu semua berkat hubunganku dengan petinggi lembaga ini. Dan atasanku itu mulai mencium aroma aroma tidak sedap mengenai hubunganku dengan petinggi lembaga ini ,, apa seharusnya aku harus melalui semua prosedur itu agar aku diakui dan dia mau membantu?.. hfff…
Serius,, aku sedang kacau dan lelah saat ini, dan parahnya tidak ada satupun yang menemaniku….. Atau seharusnya tadi kuterima tawaran partnerku? sedikit alkohol mungkin bisa meredam stress dan mungkin.. ****..? ohhhh,,, aku merindukan ****,, terakhir kali aku melakukannya beberapa minggu yang lalu dengan Rega. Hfff,, berendam di bathub berdua dengan seorang pria mungkin bisa meringankan beban yang ada dipundakku, dan bercinta akan melepas semua hormon endorfin di otakku yang sedang kacau menggantinya dengan perasaan senang dan bahagia.
Tapi tidak untuk malam ini,, asalanku menolak ajakan partnerku selain ingin menjernihkan pikiran di tempat yang tenang seperti kedai kopi ini juga karena besok harus bangun pagi untuk bertemu dengan teman temanku sekolah dulu. Aku, Adit dan Mira janjian untuk bertemu esok hari di alamat yang ditunjukkan Rega pada kami, sebuah tempat yang merupakan rumah yang ditinggali Ressa sekarang ini. Aku sangat senang dan tidak sabar untuk bertemu dengan Ressa setelah bertahun tahun tidak bertemu. Walaupun besok tanggal merah, tapi tidak ada hari libur untuk pekerjaan seperti ini,, aku harus mengajukan cuti khusus dan untungnya atasanku itu mengijinkanku.
Kulihat rokok yang berada di sela sela jariku yang masih menyala… papa akan sangat marah padaku jika tau aku merokok… Kuhisap rokok yang tinggal sebatang ini dalam dalam lalu menghembuskan asapnya ke udara. Seketika Asap rokok yang menjadi alasan mengapa aku memilih tempat duduk diteras daripada didalam kedai kopi dengan pasrah menyebar mengikuti hembusan arah angin, menarik perhatianku untuk mengikuti kemana arah asap rokok itu berhembus. Saat mataku mengikuti asap itu berhembus, mataku teralihkan ke suatu tempat disalah satu sudut kedai ini. Di sudut itu duduk seorang wanita yang juga sedang menatapku.
Seorang wanita cantik yang kutaksir usianya tidak jauh beda dengan usiaku. Wanita muda dengan rambut panjang lurus berponi dicat blonde, tubuhnya tinggi, langsing dengan buah dada yang besar. Cukup besar untuk membuat mata para lelaki tidak berhenti menatapnya,besar *********** juga bisa membuat wanita lain envy jika membandingkan dengan *********** sendiri, sepertiku yang iri dengan besarnya ***********.
Dengan Percaya Diri di malam hari wanita itu hanya memakai Wire Bra dan celana jeans pendek, semakin menambahkan kesan sexy pada dirinya. Diatas kepalanya, dia menggunakan bowler Hat yang warnanya senada dengan pakaiannya. Bisa dikatakan penampilannya terlihat trendy ala ala cewek korea. Wajahnya cantik dengan kulit yang putih bersih dengan make up yang tidak berlebihan. Bentuk wajah dan indah tubuhnya sekilas mengingatkanku kepada Kak Amanda kakaknya Rega.
Walaupun sangat mencolok, tetapi Ekpressinya manis dengan gaya duduk yang anggun seperti seorang wanita yang sedang berusaha menjaga citra diri dihadapan gebetannya. Wanita itu masih menatapku kemudian tersenyum manis kepadaku, membuatku terpaksa membalas senyumannya. Berhasil mendapatkan perhatianku, wanita itu berdiri dan melangkah menuju kearahku. Saat wanita itu sudah tepat dihadapanku, dia menyapaku…
“Amelia….?” Sapanya dengan senyum manis kemudian menjulurkan tangannya. Terpaksa aku berdiri dari tempat dudukku dan menyambut tangannya.
“hei…” sapaku padanya,, Bagaimana dia tau namaku ? aku tidak pernah merasa kenal atau bertemu dengan dia sebelumnya..
Setelah itu dia duduk begitu saja satu dihadapanku.. sambil masih mencoba mengingat ingat lagi barangkali pernah bertemu atau kenal dengan dia, aku duduk kembali di tempat dudukku. Aku menyerah… aku tidak kenal dia,, atau aku lupa dengannya..
__ADS_1
“Maaf,, apa aku mengenalmu? Atau kita pernah bertemu sebelumnya..?” tanyaku padanya…
“Aku ragu kamu kenal denganku atau kita pernah bertatap muka sebelumnya… tapi yang pasti aku sangat mengenalmu,,,” balasnya atas pertanyaanku.
“uhm,, maksudku, aku tau semua tentangmu…” imbuhnya, kemudian tersenyum lagi..
Mendengar penjelasannya, instingku sebagai seorang agen bereaksi mengatakan dia bukan hanya sekedar wanita cantik yang anggun dan polos,, wanita ini lebih dari yang terlihat.
“bisa kita sudahi saja basa basinya,, apa yang kamu tau tentangku? siapa kamu sebenarnya?” tanyaku padanya.,,
Apakah dia tau kalau aku ini adalah seorang agen intelijen? Ucapannya tadi sangat sensitif bagiku, atau bagi semua agen intelijen yang menyembah nyembah akan kerahasiaan, ketertutupan dan misterius. Karena jika ada seseorang yang tau jati diri seorang agen, maka dia sudah dinyatakan gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang agen intelijen.
“Mati tidak dicari, berhasil tidak dipuji, tapi jika salah.. akan dicaci maki……” ucapnya bangga..
Aku langsung kaget dengan mata yang terbuka lebar setelah mendengar ucapannya, dia barusan mengucapkan prinsip seorang agen intelijen. ****,, Dia benar benar tau siapa aku sebenarnya, aku tersudut, secepat ini ada yang mengetahui jati diriku yang sebenarnya. Siapa wanita ini..?
“sebelumnya, aku ingin tau,, apa alasan yang membuat seorang wanita muda dan cantik sepertimu bergabung kedalam badan intelijen,,? Hmm ? Pengabdian? Ambisi..? atau sekedar ingin diakui..?” ucapnya
“Diam!!”
“Pembuktian diri..?” Imbuhnya
“aku tau segalanya tentangmu Mel…” bisiknya
“Kamu tidak tau apa apa tentangku…”
“Aku tau alasanmu memutuskan untuk bergabung kedalam badan intelijen bukan karena pengabdian kepada Negara, tetapi untuk pembuktian diri,, kamu selalu tampil seolah olah kamu adalah orang yang paling kuat dan paling berani padahal didalam hatimu, kamu adalah orang paling lemah ,penakut, dan kesepian,,,,, dan semua ini kamu lakukan agar diakui oleh ayahmu yang merupakan seorang petinggi lembaga intelijen… ohh,, aku tau semua tentangmu Mel,, karena aku sama sepertimu….” ucapnya
Beberapa detik aku sampai tidak bisa berkata kata setelah mendengar apa yang dia ucapkan, semua yang dikatakannya benar,, dia juga tau tentang papa yang merupakan petinggi lembaga intelijen.
“SIAPA KAMU SEBENARNYA…?” bentakku padanya sambil berdiri… semua orang disekitar kami kaget mendengar suaraku, dan melihat kearah meja kami..
“Hei,, tenang dulu,, apa kamu ingin semua orang yang ada disini tau siapa kamu..?” ucapnya sambil melihat sekeliling..
****,,aku benar benar kacau,, benar apa yang dikatakannya,,, aku harus tetap tenang meskipun dia benar benar tau semua tentangku,,, tidak seharusnya aku emosi dan gegabah bersikap seperti tadi yang akan semangkin membongkar jati diriku.
__ADS_1
“apakah kamu juga seorang agen..?” tanyaku padanya,, mungkin saja dia juga seorang agen yang sedang menyamar..
“bukan,, walaupun kita mempunyai banyak kesamaan tapi kita sangat berbeda… kamu memang tidak mengenalku, tapi bukankah kamu sedang mencari seseorang..?” ucapnya pelan kemudian tersenyum lagi,,,
“Oh Shitttt,,,,” umpatku sambil menatap wajahnya,
Jadi dia adalah seorang yang selama ini kucari,,,? disaat aku dan semua agen lapangan kesulitan untuk menyusuri jejaknya dan menangkapnya, dan hampir menyerah,,, tiba tiba saja dia muncul menunjukkan wajahnya tepat dihadapanku,,
****,, aku benar benar kalah telak,,,
“sebaiknya sekarang juga kamu ikut denganku…” ucapku tegas padanya..
“Kamu pikir aku disini hanya untuk menyerahkan diri..?” tanyanya yg masih tersenyum
Tidak, aku yakin dia mempunyai maksud lain bertemu denganku, entah apa yang menjadi alasannya tiba² muncul dihadapanku,, tapi yang terpenting aku harus membawanya ke kantor pusat. Dan aku tau dia tidak akan mau begitu saja secara sukarela ikut denganku,, saat ini yang terlintas dipikiranku adalah menghubungi pusat untuk mengirim beberapa agen kesini. Aku berencana mengirim pesan kepada mereka melalui handphoneku.. tapi.. hmm?… Handphoneku mati..?
“maaf,, untuk sementara waktu handphone atau segala perangkat elektronik yang kamu bawa tidak akan berfungsi,,” ucapnya..
Jadi ini ulahnya…? Bagaimana dia bisa melakukannya..?
“Amel,,mungkin aku bukan orang baik, tapi aku bukan orang jahat…” tegasnya kepadaku,,
“Oh Please,, kebanyakan orang jahat berkata seperti itu,,”
“hfff,,C’mon,, jangan menjadi orang yang menyebalkan…” padahal daritadi dia yang bersikap menyebalkan..
“katakan kepadaku,, apa kamu melakukannya seorang diri..? The Spectre,, itu kamu..? atau nama sebuah kelompok, organisasi, grup, army,, atau apapun itu kalian menyebutnya…”
“kamu sedang menginterogasiku..?,, hei,, lihat sekelilingmu,, kita ini sedang di kedai kopi.. bukan waktu dan tempat yang pas membicarakan hal seperti itu,, apalagi bagi dua wanita seperti kita,, bagaimana kalau kita membicarakan seorang pria,,?” ucapnya lalu tangannya memegang gelas kopi yang ada di meja yang seharusnya milikku kemudian dia berusaha mengambilnya.. tapi dengan cepat kutahan tangannya..
“berhenti bermain main….” Ucapku padanya sambil meremas kuat pergelangan tangannya yang kecil… seketika dia menatapku dengan tatapan mata yang serius lalu menarik tangannya, kemudian menyilangkan kedua lengannya di bawah *********** yang besar itu.
“Sudah kukatakan padamu,, aku bukan orang jahat…” ucapnya tegas..
“Oh yah..? Setelah melakukan serangkaian serangan, membobol rekening perusahaan sampai dengan menimbulkan korban jiwa, kamu masih menganggap dirimu bukan orang jahat.? ”
__ADS_1
“Tentu… karena mereka semua pantas menerimanya,, kami mengambil uang yang seharusnya tidak pernah jadi hak mereka dan memberikan uang itu kepada masyarakat yang benar benar berhak mendapatkannya, kami sama sekali tidak mengambil uang itu sedikitpun.,” jelasnya padaku,
Dia mengatakan “Kami”, artinya dia memang tidak melakukannya seorang diri.