
MALAM SEBELUMNYA, SETELAH TERJADINYA KERIBUTAN ANTARA REGA DAN GALIH
...—POV DIAS—...
Aku, Linda serta Galih berada di mobilnya Galih sedang dalam perjalanan menuju rumah barunya Galih di kota ini. Linda yang menyetir mobil, sedangkan aku berada di jok belakang menemani Galih. Sebenarnya tadi Galih memaksa untuk menyetir tapi kularang, karena tangannya masih terluka.. dia juga bersikeras tidak mau dibawa ke klinik,, dia bilang lukanya sudah tidak seberapa terasa dan hanya ingin pulang ke rumah.
Sedari tadi Galih hanya melihat kearah luar kaca mobil, aku bisa melihat bayangan wajahnya dari kaca mobil.. dan dia tampak gelisah..
“itu tadi beneran Ega kan?,, seperti bukan dia,,, padahal dulu dia anaknya pendiam dan gak banyak tingkah, ada yang nge bully dia pun dia hanya lari gak berani melawan,,,.. sumpah aku kaget banget tadi melihat dia… ya kan Dee?” tanya Linda
“aku juga tidak menyangka Ega bisa berbuat seperti itu,,” jawabku
Siapa yang tidak kaget melihat Ega yang selama ini kukenal baik, tidak suka membuat keributan dan selalu menghindari perkelahian bisa berbuat seperti tadi, aku melihatnya jelas dengan kedua mataku, sontak saja aku langsung kaget dan tidak percaya Ega melakukan hal itu kepada Galih.. tapi..
meskipun tidak terduga dan hanya sebentar saja,, aku senang bisa bertemu dengan Ega lagi setelah sekian lama,,
Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah, kenapa Ega tiba tiba seperti itu kepada Galih? Tidak mungkin dia hanya kebetulan saja menyerang Galih kan? Dia pasti punya alasan,,
“Bagaimana awalnya sampai Ega menyerangmu..?” tanyaku kepada Galih yang ada disebelahku yang masih memandangi jalanan melalui kaca mobil
“Mungkin dia mabuk,,” saut Linda dari depan,, aku juga berpikiran seperti itu tadi..
“ Jadi Kalian mengenal Rega..?” Tanya Galih,,, akhirnya Galih bersuara,
“Rega itu teman kami waktu SMP.. dan dia..” ucap Linda
“Kamu juga mengenalnya..?” potongku cepat dengan nada agak tinggi,, aku tidak ingin Galih tau apa yang akan dikatakan Linda tentang hubunganku dengan Ega.. untuk saat ini Galih tidak perlu tau hal itu,,,
“aku sudah menduga peristiwa seperti tadi cepat atau lambat akan terjadi, aku sudah meramalkannya sejak lama kalau aku akan bertemu dengan Rega lagi, hanya waktu yang memisahkan takdir pertemuan kami berdua, dan akhirnya takdir itu mendatangi kami berdua hari ini, malam ini ditempat itu,,satu satunya yang tidak kuduga adalah ternyata kalian berdua mengenalnya,,,, karena kalian berdua mengenal Rega, aku tidak bisa menutup nutupinya Lagi,, aku ingin kalian berdua terutama kamu Dee mendengarkannya pertama kali dariku, bukan darinya… sekarang memang saat yang tepat untuk mengungkap semua kepada kalian, kepadamu Dee…” Galih memandangku…
“semalam kamu bertanya apa yang terjadi kepada Alexa,, Dee,, sebenarnya Alexa wanita yang kucintai telah pergi untuk selamanya,,” ucap Galih
Astaga!! Jadi selama ini kamu bilang kalau Alexa pergi meninggalkanmu itu maksudnya adalah Alexa telah meninggal..?”
“Sebelum Alexa pergi,, Alexa menjalin hubungan dengan seorang pria dan pria itu adalah teman kalian, Rega. yang kutahu,, dulu mereka saling mencintai… Dan satu satunya alasan kenapa Rega tadi menyerangku adalah karena aku yang telah membuat wanita yang kucintai pergi untuk selamanya,,, aku membunuh Alexa…” lirih Rega
tubuhku langsung merinding mendengar pengakuan Galih,, Speechless, aku tidak bisa berkata apa apa lagi, mungkin Linda juga merasakan hal yang sama denganku, karena suasana didalam mobil langsung berubah menjadi hening selama beberapa saat,, Galih menundukkan kepalanya,, aku bisa melihat matanya berair…
Jadi itu adalah alasan Rasa bersalah dan penyesalan masa lalu yang menyelimuti hatinya, dan juga yang sempat membuatnya menderita selama beberapa tahun karena hidup dengan jiwa yang tidak tenang akibat menanggung dosa yang sangat besar. Serta yang menjadi alasan dia menghukum dirinya sendiri untuk menjauhi kebahagiaan..
“aku sangat menyesal,, maafkan aku…” ucap Galih
“jangan meminta maaf kepadaku,,,kamu sudah mengatakannya kepada Rega? Menyampaikan permintaan maaf dan penyesalanmu kepadanya…?”
Galih menggelengkan kepalanya,,
“aku akan menemuinya,,, Bagaimana aku bisa menghubunginya?” tanya Galih kepadaku,,,
“Biar aku menemanimu menemuinya…”
.
.
KEMBALI KE HARI BERIKUTNYA, DI DALAM MOBILNYA META
...—POV META—...
“Oh My God,,,, “
baru saja aku mendengarkan penjelasan Rein tentang apa yang terjadi antara Rega dan Galih.. aku langsung syok.. tidak kusangka Rega dan Galih punya hubungan serumit itu, pantas saja semalam Rega emosi kepada Galih.. kehilangan seseorang yang sangat dia cintai membuatnya memendam rasa dendam begitu mendalam kepada Galih, dan dendam masa lalu itulah yang menjadi motivasi terbesar Rega berbuat seperti semalam.
Tapi kenapa Rega tidak memberitahuku? Dan memilih diam kepadaku… atau karena Galih adalah orang yang telah menyelamatkanku..? Dia pasti sedang kebingungan saat ini,,, dan mungkin benar kata Rein kalau dia mendatangi makam Alexa..
Satu hal yang pasti, Dias bukanlah alasan Rega… aku sedikit lega…
Setelah melewati beberapa jam dijalanan, akhirnya aku dan Rein sudah sampai di kota ini, dan baru saja mobilku berhenti di sebuah tempat pemakaman umum,,, ternyata benar dugaan Rein,, Rega berada disini,, kulihat mobilnya terparkir tak jauh dari tempat mobilku berhenti…
“itu Dia…. “ Ucap Rein sambil keluar dari mobil dan berjalan ke arah masuk pemakaman ini, disana Kuihat Rega baru saja keluar pemakaman, melewati gapura besar dan menuju mobilnya,, aku langsung ikut turun menyusul Rein…
.
.
...—POV REGA—...
Ketika aku berjalan menuju mobilku yang terparkir di luar tempat pemakaman, aku dikagetkan dengan suara seorang wanita yang sangat kukenal memanggilku dari arah belakang…
“Deek,,,,!!”
Aku langsung menoleh kebelakang…
__ADS_1
“Rein,,?? Kok kamu disini…?” tanyaku heran,, bagaimana dia bisa tau aku ada disini?
“Bukan Cuma aku yang ada disini.. “ ucap Rein lalu melihat ke arah belakang,,
Hahhh…?
Meta ?
Meta baru saja keluar dari mobil dan menghampiriku, lalu saat dia sudah dihadapanku…..
PLLLLLAAAAAKKK ,, Meta menamparku, keras banget tamparannya kali ini..
“JANGAN PERNAH LAGI MENINGGALKANKU SEPERTI TADI,,, JANGAN PERNAH…” Bentaknya kepadaku,, dia kelihatan sangat marah lalu menyilangkan kedua lengannya dan membuang mukanya kesamping,,,
Langsung kupeluk tubuhnya,,,, kupeluk erat, sesaat kemudia kudengar dia terisak,,,
“maaf sudah membuatmu khawatir,,,”
“jangan begitu lagi,,,!” ucap Meta pelan…
Ya.. pantas saja Meta sangat khawatir denganku setelah melihatku semalam,, aku jadi merasa bersalah tidak berpamitan kepadanya tadi.
“Dekk,, kayaknya mau hujan,, ajak Meta kerumah nanti kita bicara disana,,, aku mau nyapa Alexa dulu sebentar,,,” Ucap Rein
aku hanya mengangguk.,,, Langit di kota ini memang terlihat gelap sejak aku tiba disini tadi.. sepertinya akan turun hujan..
.
.
Dan Akhirnya aku pulang kerumah, dan kali ini aku pulang mengajak Meta bersamaku meskipun secara tidak sengaja,,,, tapi sayangnya aku tidak bisa mengenalkan Meta kepada Bunda dan Papa karena mereka masih di luar negeri,,
kuajak Meta ke ruang santai di lantai 2 yang terletak diantara kamarku dan kamarnya Rein…dan kami berdua duduk di sofa…
“Bee.. kenapa kamu tidak bilang saja kepadaku kalau Galih adalah orang yang harus bertanggung jawab atas meninggalnya Alexa..?” tanya Meta tanpa berbasa basi,,,
“kenapa kamu ragu mengatakannya kepadaku? Kamu pikir aku akan membela Galih karena dia telah menyelamatkanku..? iya? Meskipun dia telah menyelamatkanku tapi dia tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya didepan hukum karena dia telah melakukan tindakan pidana…” jelas Meta
Memang kuakui itu adalah alasan aku masih tidak memberitahu Meta sebelumnya.. dia pasti kecewa..
“Berapa lama kira kira penjara akan mengurungnya? 10 tahun? 12 tahun?” tiba tiba Rein datang,,, dan mendekati kami… dia sempat mendengarkan obrolan kami.. bahkan bisa Cuma setengahnya jika dia berbuat baik dipenjara,, benar kan?” imbuh Rein saat sudah berdiri didepan kami berdua…
“itu tidak akan pernah cukup membayar perbuatannya,, apalagi dia dari keluarga kalangan atas, pasti dia akan lolos lagi dengan mudahnya seperti dulu… Dia harus diadili atas perbuatannya,, tapi pengadilan dan penjara tidak akan bisa mengadilinya,, kamu setuju denganku kan Dek? ” ucap Rein ,meminta dukunganku atas ucapannya…
“lalu apa yang ingin kalian lakukan..? nyawa dibalas nyawa ? itu yang ada dipikiran kalian…? Ini bukan negara Barbar, sudah ada hukum yang akan menentukan seadil adilnya hukuman yang akan dia terima…” sanggah Meta…
“Bulshitt,,,, Meta, seperti yang kukatakan tadi,, Hukum tidak akan menyentuh orang seperti Galih,,, satu satunya keadilan yang seharusnya dia terima adalah hal yang sama seperti yang telah dia lakukan..” ucap Rein
“Astaga,, itu bukan keadilan, itu pembunuhan,, sadarkah kalian sedang merencanakan suatu pembunuhan? Kalian akan dihukum berat karena itu,,,” sanggah Meta
suasana semakin memanas antara Meta dan Rein….
“Ohh ****,, kamu tidak akan pernah mengerti,, Galih membunuh Alexa tepat didepan kedua mata kami, mimpi buruk itu selalu mendatangi tidur kami berdua… kamu juga tidak akan tau bagaimana dampak yang ditimbulkan atas kehilangan Alexa, penderitaan yang kami alami sepeninggal Alexa, semua air mata dan kesedihan yang kami rasakan selama beberapa tahun… KAMU TIDAK AKAN MENGERTI….” Ucap Rein sambil menteskan air mata…
“Dan karena kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya,sebaiknya kamu jangan ikut campur, ini bukan urusanmu,,,” teriak Rein
“TIDAK,, INI SUDAH MENJADI URUSANKU,, AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN CALON SUAMIKU MENJADI SEORANG PEMBUNUH…” Bentak Meta kepada Rein sambil berdiri…. Mereka saling memandang,,,,
Oh Shitt,,kenapa jadi seperti ini.. Saat ini mereka berdua bagaikan dua sisi manusia yang berbeda tapi selalu berdampingan, yaitu kebaikan dan kejahatan. Meta seperti malaikat berada di sisi baik yang mencegahku berbuat salah dengan dasar dasar ilmu hukum yang dia miliki,, sedangkan kakakku Rein, berada di sisi jahat seperti iblis yang mendasarkan dendam masa lalu sebagai alasan, mencoba merayuku untuk berbuat salah dan mencoba membenarkan perbuatan yang salah itu sampai aku hampir tergoda untuk melakukannya.. Shitt,,, aku harus bagaimana? Kepalaku pusing banget….
Aku berdiri dari sofa,, dan berjalan begitu saja melewati Meta dan Rein tanpa berkata apa apa.. langsung menuju kamarku dan kututup pintunya…
.
.
...—POV META—...
Setelah terjadinya perdebatan serius antara aku dan Rein,, sekarang aku ditinggalkan sendirian disini,,, sejak 30 menit yang lalu Rega dan Rein memasuki kamar mereka masing masing,,, dari posisiku ini, disebelah kanan adalah kamarnya Rein sedangkan di sebelah kiri adalah kamarnya Rega, kedua pintu kamar mereka tertutup..… tapi daritadi aku melihat ke arah sebelah kiri, memandangi pintu kamarnya Rega,.. Tidak sadarkah dia keberadaanku yang masih ada dirumah ini? Atau aku yang harus menyadarkannya? Mengetuk pintu kamarnya nya atau langsung masuk begitu saja ke dalam kamarnya..? atau memang keberadaanku disini tidak harapkan olehnya? Begitu juga oleh Rein…
Walaupun keberadaanku tidak diharapkan disini, tapi aku akan tetap bertahan disini memastikan Rega tidak melakukan hal bodoh,, aku akan sekuat tenaga mencegahnya melakukan sesuatu yang mengerikan demi masa depanku dengan dia nantinya,, meskipun aku harus berdebat dengan Rein dan dibenci olehnya…
Kudengar Pintu kamar terbuka,,, tapi yang terbuka adalah pintu kamar sebelah kanan yaitu kamarnya Rein… Rein mendatangiku,,
“kenapa kamu masih disini? Masuklah kekamarnya Rega,,, Istirahat.. kamu pasti lelah…” ucap Rein
Hmm? Rein membolehkanku tidur dengan Adiknya…? Meskipun mungkin Rein sudah tau kalau Rega dan aku sudah biasa tidur bersama,, tetap saja aku merasa canggung… aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepalaku,,,,
“mungkin Rega masih ingin sendiri dulu saat ini….”
“uhm,, dibawah ada dua tempat tidur untuk tamu, kamu bisa menggunakannya,, atau kalau kamu mau,, istirahatlah denganku dikamarku,,” ucap Rein,, dia bersikap baik kepadaku,, seperti tidak terjadi apa meskipun tadi kami berdebat hebat… bahkan aku tadi sudah membentaknya,,,
__ADS_1
“,, gak usah Rein,, disini aja gpp kok…”
“Udah ayook….” Rein menarik tanganku,, aku tidak kuasa menolak dan kami berdua masuk kedalam kamarnya… kemudian Rein masuk kedalam kamar mandi didalam kamarnya,,
Aku duduk diatas tempat tidurnya, menikmati nuansa girly di didalam kamarnya,, seleranya sama denganku..suasana di dalam kamarnya tidak jauh beda dengan suasana didalam kamar apartemenku, yang membedakan hanya banyaknya boneka yang ada di dalam kamar ini,, tidak kusangka Rein yang teriihat tangguh mengoleksi boneka sebanyak ini,, aku jadi penasaran boneka mana yang diberikan Rega padanya, beberapa saat kemudian Rein keluar dari kamar mandi dan dia langsung duduk disebelahku,, tapi kini dia sudah melepaskan pakaiannya,, dan dia hanya memakai… Bikini..?
Damn,,, Rein benar benar Hot,,,, lihat belahan itu,,lihat betapa besar ***********,, sampai bra bikini itu hampir tidak muat menyanggah kedua ***********.. aku yang perempuan saja sangat mengagumi tubuhnya Rein,, apalagi pria? Yakin Rega tidak horny lihat kakaknya seperti ini…?
“hmm…?” Rein menyadari aku sedang mengamati tubuhnya yang indah itu,,,
“kamarmu bagus Rein,, rumah ini juga,,,,” ucapku mengalihkan perhatian…
“Sebenarnya papa bermaksud menjual rumah ini,, dan akan membeli rumah baru di pusat kota… tapi aku keberatan dengan rencana itu,,, karena banyak kenangan yang terjadi dirumah ini,,, rumah ini seperti mengikat semua kenangan tentang mama, masa kecilku dengan Alexa, dan juga masa remaja yang kujalani berdua dengan Rega, semua kenangan indah bersama dengan orang orang yang menyayangiku,,, bagaiamana aku bisa merelakan hal itu? sampai kapanpun aku tidak akan menjual rumah ini,,, aku akan tetap tinggal disini.. uhm,, aku sudah bilang ke Rega, kalau dia sudah menikah kuminta dia tetap tetap tinggal disini.. bagaimana pendapatmu.. ?” tanya Rein
“sepertinya rumah ini cocok untuk membesarkan anak anak,,,,” ucapku sambil tersenyum,, begitu juga dengan Rein yang juga tersenyum mendengar ucapanku.. Rein memegang tanganku…
“Meta… maafkan ucapanku tadi,, aku sadar, ternyata dendam sudah membutakanku, aku sama sekali tidak memikirkan masa depan kalian, aku sungguh sungguh minta maaf,,” lirih Rein
“aku juga minta maaf sudah membentakmu tadi,,, jadi?”
“Aku serahkan semua kepada Rega,, aku akan mendukung apapun keputusannya,, dan semoga dia tidak mendengarkan ucapanku tadi…” ucap Rein dan aku sedikit lega mendengar ucapannya..
“kamu sangat menyayangi Rega ya Rein..?”
“lebih dari apapun,, kita berdua sama sama menyayangi Rega,, tapi mencintainya dengan setulus hati adalah tugasmu,,, kamu wanita yang tepat untuk Rega,, aku suka saat tadi kamu menamparnya,,karena terkadang dia memang membutuhkan itu supaya sadar,,, ” ucap Rein kepadaku sambil tersenyum dan kubalas senyumnya lalu kupeluk dia…. Kami berpelukan selama beberapa saat. Entah kenapa aku sangat bahagia Rein berbicara seperti itu kepadaku.. dia merestui hubunganku dengan adiknya.. meskipun aku harus bertemu dengan kedua orang tua mereka terlebih dahulu .
“tidurlah,, kamu pasti capek,,,,” perintah Rein kepadaku,,
“enggak seberapa kok,,, kan tadi kamu yang menyetir,, kamu yang harusnya istirahat…”
Rein merebahkan tubuhnya di tempat tidur,, begitu juga denganku,, aku mencoba memejamkan mata,, tapi sedikit terganggu dengan pemandangan tubuhnya Rein…
“tahukah kamu,, dulu waktu sekolah aku sangat membenci kakakmu karena terlalu dekat dengan Rega,,, sekarang adiknya yang dekat dengan Rega,,,” ucap Rein sambil memiringkan tubuhnya,,,
“Neta memang seperti itu jika bertemu dengan cowok tampan,, hehe,,”
“beruntung banget tuh anak pernah dekat dengan wanita seperti kalian berdua,,,” imbuh Rein
“hahaha,, Rega yang sangat beruntung punya kakak sepertimu, yang selalu menyayanginya, menjaganya,,,,beda banget dengan kakakku”
“haha, apakah kamu percaya kalau Rega pernah melamarku beberapa kali,,” ucap Rein
“hah,,,?”
“hahahaha tapi dia cuman bercanda kok,,,,” sanggah Rein
.
.
...—POV REGA—...
Aku bergegas pergi dari rumah setelah mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal yang kuyakin adalah pesan dari Galih. Seperti ini pesannya :
Aku menunggumu ditempat semuanya bermula, datanglah.
Galih menyuruhku datang ke tempat semuanya bermula ? dimana? Tempat dia membunuh Alexa? Bukan, disana adalah akhir dari semuanya,,, sedangkan yang menjadi tempat awal mula tragedi itu terjadi adalah disini,
Disekolah…
lebih tepatnya adalah di lahan kosong disamping sekolah, dan aku sudah sampai disini,,, Tempat sepi ini adalah awal mula semua itu terjadi,, di tempat inilah Galih memendam dendam kepada Rein saat dia dan gengnya dikalahkan oleh Rein setelah mencoba membawa Ressa pergi. Aku melihat sebuah mobil terparkir tidak jauh dari tempat mobilku berhenti.
Aku berjalan melewati sebuah lorong diantara dua bangunan besar, diujung lorong ini ada sebuah lahan kosong yang masih belum difungsikan. Awan gelap diatas langit akhirnya menumpahkan airnya, Tetes demi tetes kecil air hujan mulai turun terjun bebas mengiringi langkahku,,
Sesampainya diujung lorong aku terdiam… Aku melihatnya, seseorang sedang berdiri sendirian didepan semacam bangunan kecil yang sudah tidak terpakai,, dan orang itu memang Galih..
Datang ke tempat ini semakin membuat amarah dan emosiku semakin memuncak. Saat aku berjalan mendekatinya, semua ingatan tentang yang pernah terjadi ditempat ini muncul seperti sebuah bayangan bayangan semu,, sambil berjalan lurus aku melihat ke sebelah kanan,, disana muncul bayangan Ressa dipukul kepalanya dengan sebuah balok kayu saat mencoba melindungiku.. kupejamkan mataku sesaat, merasakan betapa mengerikannya kejadian itu…
Dan saat ini aku sudah berada dihadapan Galih, satu satunya orang yang harus bertanggung jawab atas meninggalnya Alexa dan segala kekerasan yang dia dan kelompoknya lakukan kepada Ressa,,
kami saling berpandangan..
kenapa dia mengajakku kesini? Apa yang akan dia lakukan? ****,, Aku tidak peduli dengan apa yang akan dia lakukan,, karena saat ini yang ada pikiranku adalah,,
apa yang akan kulakukan padanya…?
pada saat itu aku mendengar suara langkah kaki yang cepat seperti tergesa gesa,, aku reflek menoleh ke arah belakang… ternyata suara langkah kaki itu milik Rein dan Meta yang menyusulku kesini,, Mereka berdiri tidak jauh dariku dengan masing masing memegang payung untuk melindungi tubuh mereka dari air hujan yang mulai turun agak deras… sebenarnya Meta ingin mendekatiku tetapi ditahan oleh Rein…
Galih juga menyadari kedatangan mereka…. Mungkin dia sedang bertanya tentang Rein yang datang bersama dengan wanita yang pernah dia tolong, Meta,,
Kembali kulihat Galih, wajahnya bagaikan sebuah tombol play memori tentang peristiwa kematian Alexa,, setiap aku melihat wajah Galih aku teringat Alexa yang sedang kesakitan di pangkuanku dan akhirnya pergi,,, tapi aku mencoba sekuat tenaga untuk tetap tenang karena Meta berada disini,, aku tidak ingin dia sedih karena melihatku emosi…
__ADS_1
aku akan menanyakan suatu hal kepada Galih, sebuah pertanyaan yang sudah lama kupendam dipikiranku, yang selalu terucap didalam hati ketika aku bersedih mengingat kepergian Alexa…
“Kenapa kamu membunuh Alexa..?” tanyaku kepada Galih, akhirnya pertanyaan itu bisa kulontarkan langsung kepadanya..