
“astaga,, kenapa kepalamu nak?” tanya Bunda dengan panik sambil memegangi dahiku ketika aku tiba di rumah usai pulang sekolah. Wajar sih Bunda kebingungan, tadi pagi anaknya berangkat sehat walafiat, eh pulang pulang kepalaku bocor.
“ehm.. ini.. eh,, tadi terjatuh Bun”
“bohong Bun…” suara Rein terdengar dari lantai atas,,
” Ega.. bilang pada Bunda. kamu kenapa?” hmmm, aku gak mungkin bilang ke bunda yang sebenarnya, dia pasti sangat marah kalau tau aku habis di hajar.
“Beneran Bun.. ini tadi terjatuh lalu kepalaku kepentok pintu kelas,” memang kenyataanya tadi aku terjatuh kan,, tapi proses yang menyebabkan aku terjatuh tidak akan kuceritakan pada Bunda.
“lain kali hati hati ya Nak.. sudah sana makan terus istirahat” perintah Bunda
“iya Bun..”
Setelah makan, aku masuk ke kamarku untuk tidur.. memang kepalaku masih terasa pusing dan perutku masih terasa sakit. “ngapain dia disini?” ucapku dalam hati ketika melihat Rein ada di dalam kamarku dan sedang duduk di tepian tempat tidur.
“kenapa kamu berbohong?” tanya Rein
Aku tidak menjawabnya, Aku hanya melewati tubuhnya dan langsung tengkurap di atas tempat tidur.
“kenapa mereka menghajarmu?” tanya Rein lagi
Aku masih tidak menjawabnya..
“Dek…?”
“aku mau tidur.. kepalaku pusing”
Kemudian Aku bisa merasakan dia Berdiri dan pergi meninggalkan kamarku,, sebagai seorang cowok aku malu kepada Rein karena telah membelaku, aku malu pada siswa lain karena dihajar didepan mata mereka, dan aku malu pada diriku sendiri karena tidak bisa berbuat apa apa. bahkan aku malu mengucapkan terima kasih pada Rein.
KEESOKAN HARINYA DISEKOLAH
Pagi ini waktu tiba di kelas, aku dikagetkan dengan adanya lagi susu kemasan di laci mejaku.. “lagi..?” kali ini tidak ada catatan yang menyertainya.
“Dit,, kamu tau siapa yg menaruh ini disini?” tanyaku pada Adit yang sudah terlebih dulu datang.
“tau’.. Kakakmu mungkin?” ucap Adit
Bukan.. Bukan Rein yang menaruhnya disini. mungkinkah seseorang di kelas ini?. Aku reflek mengamati keadaan di dalam kelasku,dan sudah banyak siswa yang datang. mungkinkah salah satu dari mereka? Entahlah.. aku langsung meminum habis susu kemasan itu. kemudian setelah habis sengaja tidak kubuang kemasannya, aku menaruhnya kembali di dalam laci dan kutuliskan sesuatu di kemasan itu. “terima kasih.. kamu siapa?” semoga dia membalasnya..
NGINGGGGGGGG, terdengar suara nyaring dari speaker yg terpasang disudut kelas.
“perhatian diberitahukan kepada seluruh siswa,, dikarenakan semua guru sedang ada rapat, maka pelajaran dari jam pertama sampai dengan jam keempat ditiadakan. Diharapkan seluruh siswa kelas satu dan kelas dua untuk tidak meninggalkan komplek sekolah.. Dan untuk siswa kelas 3 tetap dikelas untuk mengikuti latihan ujian nasional. Terima kasih”
“yeeeeeeee…”
“horeeeeeee..”
Seketika suasana seluruh kelas menjadi gaduh. Ada yang tepuk tangan, ada yang memukul mukul meja.. jam kosong memang favorit para siswa. beberapa siswa di kelasku bergiliran keluar kelas,, ada yang membawa bola, ada yang membawa gitar.. dan ada yang masih berada di dalam kelas.
“kemana nih kita?” tanya Adit padaku
“ehm… perpus?” mendengar ucapanku Adit langsung lemess..
“kamu pasti bercanda.. Dengerin.. mulai sekarang hindari tempat² menyeramkan seperti itu, tempat itu gak baik buat karirmu di sekolah ini,, tau nggak, manusia itu harus bersosialisasi untuk hidup,, dan sekolah adalah tempat antar siswa berinteraksi.. bukan malah diem²an di perpus.. harusnya kita ke tempat dimana para siswi yang sedang beranjak dewasa berkumpul,, kalau kamu pengen cari cewek solehaa,, biasanya mereka berkumpul di musholla,, kalau kamu mau cari siswi yang sporty mereka biasanya dia aula lagi latihan cheer,, kalau kamu pengen cari siswi yang agak kegatelan,, biasanya mereka ada di dekat ruang kelas senior,,” ucap Adit menjelaskan
Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan dari Adit.. ada benernya sih omongannya, tapi banyak salahnya juga. Adit bener bener expert kalau masalah cewek,,
“btw, uda nentuin gabung eskul apa? Pendaftaran ditutup minggu depan loh.” tanya Adit
Oiya, di sekolah para siswa diwajibkan mengikuti salah satu eskul.. dan aku belum menentukan mau gabung yang mana, masalahnya aku tidak punya hobi yang begitu aku seriusin.
“belum.. Kamu?”
“aku mau daftar eskul musik. lagi tertarik belajar electronic music,, Ayo ikutan” ajak adit
Musik yah? Aku suka musik tapi hanya sekedar untuk didengar,,
“yauda deh..”
“nahh gitu dong.. kita daftar sekarang” ucap Adit sambil menarikku keluar kelas..
“eh.h.. Sekarang nih?”
Aku diajak Adit menuju bagian samping gedung sekolah…
“aku masih gak nyangka kamu adiknya Amanda.. Beruntung banget hidupmu” ucap Adit
“hehe..”
“tapi untungnya bukan adik Kandung, masa’ kakaknya secantik model cover majalah,, adiknya…..” ledek Adit
“apa,?”
“model kalender perpustakaan. hahahaha. Pisssss bro.. naaaah di situ daftarnya” ejek Adit sambil menunjuk arah tempat pendaftaran eskul musik
Kami sudah sampai Di aula kedua sekolah ini.. terlihat beberapa antrian siswa yang sedang berdiri menunggu giliran mendaftar di beberapa stand eskul… begitu banyak stand pilihan eskul yg bisa di pilih mulai dari stand sepak bola yg terlihat paling panjang antriannya, futsal, basket, badminton, dance, cheer, dll. Sedangkan aku dan Adit berdiri di antrian pendaftaran eskul musik. ada 2 anggota eskul musik yang menjadi penerima pendaftaran dan salah satunya adalah Alexa. Dia tampak begitu mengkilau di tengah kerumunan siswa disini,, karena memang dia sangat cantik meskipun dengan gaya yang sedikit tomboi. Aura kecantikannya terpancar memenuhi seluruh ruangan ,begitu menyilaukan mata yang memandang.
Kini tiba waktunya bagi Adit yang berdiri didepanku untuk mengambil formulir pendaftaran dan Alexa langsung memberikan formulir itu tanpa berkata apa². kemudian giliranku maju mendekati Alexa..
“mau ngapain?” ucap Alexa ketika aku sudah tepat dihadapannya. Temannya yang ada disebelahnya tertawa kecil..
“eh. mau daftar kak”
“kamu gak salah stand?” tanya Alexa
Aku menggelengkan kepalaku,,
“kamu mau gabung eskul musik? Iya?” ucap Alexa sedikit membentak
“ii.iya..” jawabku dengan gugup karena bentakannya
“ohh.. bisa main alat musik apa?” tanya Alexa
Aku menggelengkan kepalaku..
“bisa nyanyi?” tanya Alexa lagi
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku lagi.
“LALU NGAPAIN DISINIII..?” ucap Alexa dengan sangat keras sambil memukul meja..
Teman disebelahnya semakin tertawa, antrian siswa dibelakangku juga pada tertawa.. aku tertunduk sangat malu… “Adit tadi gak di tanya tanya gini, gak adil,,,”
“tidak ada tempat untuk anak culun disini,, coba ke stand yang lain,, ada cheer, tari, balet,..mungkin itu cocok buat kamu” ejek Alexa
“hahaha. Hahah” siswa lain pada tertawa mendengar ucapan alexa..
“atau eskul ngumpulin kutu buku..” kata teman Alexa
“nahh bener itu paling cocok buat dia.. Eh tapi ada gak sih eskul itu?”
“tau’.. Kalau belum ada,, suruh dia bikin aja.. hahahaha”
“hahahha. Hahaha. Hahahahhhahah” siswa lain tertawa sangat kencang..
Astaga, kejam sekali mulut mereka,,, hatiku panas mendengar tawa mereka.. Aku langsung pergi meninggalkan stand itu, aku begitu kesal pada mereka..
“Bro.. Bro…” adit berusaha menahanku.. tapi aku langsung berlari menjauh dari tempat itu.
Sampai akhirnya aku sudah ada di samping gedung sekolah yang sepi.. aku tertunduk disana. merenungi nasibku yg sama sekali tidak berubah jika berada di sekolah… “aku benci tempat ini..”
“hei culun. Apa yang kamu benci?.” seseorang mendekatiku..
“ehh.. kamu?” dan ternyata yang memanggilku adalah Ressa.
“aku tadi melihatmu berlarian ke arah sini.. Ada apaan sih?” tanya Ressa
“gpp kok..hehe”
“aneh,, nih uangmu,, tapi masih separo yah.. sisanya mungkin besok” Ressa memberikan uang padaku..
“jangan.. buat kamu aja”
Dia menatapku tajam,, beberapa detik kemudian dia memegangi bagian kerah baju sekolahnya. Waduh.. masa’ dia mau buka baju lagi..
Reflek aku menutup mataku dengan kedua tanganku…
“hakahakhakakh.. dasar culun”
Eh? Waktu aku membuka mata teryata dia tidak membuka kemejanya.
“kamu ini cowok apaan sih? Dikasih yg seger gak mau..”
Sialan dia mengerjaiku…
“beneran nih gak mau uangmu kembali?” tanya Ressa
“iya gpp…”
“kamu anak orang kaya ya?” kemudian Ressa mendekatiku, apa yg akan dia lakukan? Ternyata Tangannya bergerak memegang dahiku…
“masih sakit yah?” Ressa mengelus keningku di dekat luka yang tertutup perban, aku tidak pernah sedekat ini dengan cewek selain Rein.. jantungku berdebar,, apalagi aku bisa melihat belahan payudara milik Ressa, langsung kupandang ke arah lain..
“uda gak seberapa kok.. Kamu gimana? Mukamu masih keliatan pucat..”
ucap Ressa
“Nah itu dia.. dicari kemana mana ternyata disini”
Seseorang berbicara dan mendekati kami.. bukan,, bukan seseorang tapi bergerombol sekitar 7 siswa mendatangi kami, mereka adalah Galih dan gengnya yg kemarin menghajarku.
“pelanggan baru nih?” tanya salah satunya kepada Ressa
“widiiihh.. si culun ini ternyata nakal juga yah.. hahaha” seorang anak mendekatiku
“kita tidak ada urusan dengan si culun itu, heh *****, ayo sudah waktunya. Kami semua sudah kepengen nih..” ucap Galih
“hahahah hahah betul bos… Sudah gak tahan pengen diemutin mulutnya”
“aku masih gak enak badan.. libur dulu hari ini” tolak Ressa
Ada apa ini? Sekarang satu anak mendekati Ressa dan menarik tangannya..
“ayolaah,, nanti kami obati,, kami punya 7 suntikan yg siap mengobatimu” ucap Galih sambil menarik Ressa, Ressa yang kalah kuat tidak bisa menahan tarikan anak itu. Tak bisa kubiarkan ini terjadi,,,
“stop.. dia sedang sakit” ucapku pada mereka.. dan mereka semua menatapku. sesaat kemudian Salah satunya mendekat kearahku.
“gak usah ikut campur..” bentak Galih
BRUGG
Satu pukukan mendarat di perutku, perutku langsung muless,,. Kemudian dia mendorongku ke belakang sampai aku terjatuh..
Lalu dia dan temannya yang lain akan segera pergi meninggalkan tempat ini sambil tetap menarik Ressa.. Tidak akan kubiarkan mereka memaksa Ressa dengan keadaannya masih seperti itu… aku bangkit, dan berlari ke arah Ressa dan menarik tangannya.. Hingga akhirnya Ressa terlepas dari tangan mereka… Lalu kuposisikan Ressa di belakangku sambil aku menghalangi mereka.
“aku bilang dia sedang sakit..” ucapku pada mereka dengan teriak..
“anjinngg… bernyali juga culun inii”
Dua anak mendekatiku,
“Apa yang mereka akan lakukan? Apapun itu aku siap.. aku akan melawan mereka. Ya,, aku pasti bisa. “ ketika satu anak mendekatiku, langsung sekuat tenaga kuarahkan pukulanku ke wajahnya,, tapi dia menghindar,, “eh..tidak kenak yah..” . karena gagal mendaratkan pukulanku, tubuhku jadi tidak seimbang,, satu kakiku ditendangnya, membuat tubuhku terjatuh,,
BRUGGGGG, tubuhku terjatuh dengan keras di tanah,,,
aku bisa merasakan sakit di bagian lengan karena jatuhku tadi,,
Tanganku yang sakit itu malah dipegangi anak itu dan aku dipaksanya berdiri.. lalu teman satunya juga memegangi tanganku yang lain, kini 2 anak itu memegangi tanganku,,,. aku mencoba berontak tapi tubuhku kalah besar dengan mereka… lalu keempat temannya mendekatiku dan secara bergantian memukuliku.
BRUGG BRUGG
BRUGG BRUGG BRUGG
Kini rasa mules yang kurasakan tadi di perutku kurasakan di seluruh tubuhku, perut dan wajah yang paling terasa perih.
__ADS_1
“berhentii.. berhentii…” kudengar Ressa berteriak. tapi mereka tetap melayangkan pukulan demi pukulan ke tubuhku, ke wajahku,.. aku tidak berdaya. Aku bisa melihat Galih sedang berdiri dengan senyum di bibirnya..
“Galih hentikan Mereka…” ucap Ressa
BRUGG BRIUGG BRUGGG
“aku akan melakukannya.. please hentikan mereka” bentak Ressa
BRUGG BRIUGG BRUGGG
“GAAALIHHH”.
“Oke.. cukup..cukup” mendengar perintah Galih, anak buahnya berhenti memukuliku.. tubuhku langsung roboh,, kacamataku jatuh entah kemana..
“Rasainn..mampuss..”
“tunggu aku 5 menit lagi di tempat biasanya.. nanti aku susul” ucap Ressa kepada mereka..
Badanku terasa sakit semua.. pandanganku tidak jelas dan darah keluar dari mulutku. Aku masih tidak berdaya di tanah… Kemudian pandanganku bisa kembali normal karena Ressa memasangkan kacamataku..
“lain kali jangan jadi sok pahlawan,, aku tidak butuh dikasihani dan jangan dekat dekat denganku lagi” itu yang diucapkan Ressa kepadaku, kemudian dia pergi meninggalkanku yang masih terkapar di tanah,,,
Karena aku,,, karena aku Ressa terpaksa menuruti permintaan mereka. aku bodoh,, aku malah membuatnya menderita. Lagi lagi aku tidak bisa berbuat apa apa.. kenapa aku begitu lemah? Aku hanya bisa menangis disini, aku masih terlalu lemah untuk berdiri.
Tiba² kurasakan ada yang memegangku, lalu ku tepis tangan orang itu,, aku masih mengira gengnya galih kembali kesini..
“Egaaa..? Astaga baru aja pergi, uda babak belur begini” kemudian Adit membantuku untuk duduk..
“tadi Ressa menghampiriku dan menyuruhku kesini,, eh ternyata ada kamu disini,,,Gengnya Galih lagi? Gak ada kapoknya kamu cari gara² sama mereka… aku panggilkan Amanda ya” ucap Adit
“Jangan Dit… Antar aku pulang kalau kamu bisa”
“yakin? Oke.. Oke..akan kuantar kamu pulang..” ucap Adit sambil mengambil handphone disakunya
Adit : Halo Pak Karto,,
Adit : Pak Karto bisa ke sekolah sebentar..
Adit : Oke.. terimakasih
Adit : “Kusuruh sopir rumah kesini.. tunggu sebentar ya Bro.”
MALAM HARINYA
BRAKKKKKK,
Pintu kamarku di dorong sangat keras sama Rein, dia baru saja pulang. Aku sedang rebahan di atas tempat tidur.. Hadeeehh, bakalan di marahin lagi nih.. tadi sudah habis²an dimarahin Bunda setelah melihatku pulang babak belur.
“Amanda.. pelan2 Nak” kudengar suara Bunda dari luar kamar
“Biarin Bun.. kesel banget aku sama dia.. Bisa²nya dia babak belur gitu gak bilang aku” bisa kulihat wajahnya Rein memerah.. Dan dia mendekatiku. siapa? Siapa yg bikin kamu kayak gitu?” tanya Rein kepadaku
“SIAPAAA?” Rein berteriak sangat keras,, bisa kulihat air matanya berlinang.. Dia begitu kecewa denganku.. jangankan kamu Rein, aku aja kecewa sama diriku sendiri.
“Amandaaa…” suara Bunda lagi dari luar kamar..
“aku ini kakakmu,, kayak gak dianggap gini yah., kamu itu lemah, gak bisa berkelahi,,, ” ucap Rein
Dia benar,,
“aku memang lemah.”
“aku mengkhawatirkanmu Ga..” air mata Rein menetes,,
“Maaf..” Rein bener² mengkhawatirkanku, aku membuatnya sedih,,,Cukup lama dia melihatku masih dengan wajah yang sedih.
“Geser…!” perintah Rein
Ehhh? Kenapa..? Aku pun menggeser tubuhku
Rein naik ke atas tempat tidurku.. dan dia ikutan rebahan disebelah tubuhku.. tidurnya miring menghadap ke arahku.
“malam ini aku tidur disini.. ” ucap Rein pelan padaku..
“mulai sekarang aku akan selalu mengawasimu..!” perintah Rein
Pasrah deh kalau dia uda bilang gitu. tubuhku kuposisikan miring juga agar bisa bertatapan dengannya..
“Rein..”
Mata kami bertemu,
“bantu aku…”
“apa?” jawab Rein
“aku tidak ingin seperti ini lagi.. kamu bisa bantu merubahku?”
“kenapa? Kenapa kamu tiba² pengen berubah?” tanya Rein
“ehm.. aku tidak pengen diremehkan orang lagi..”
Mendengar ucapanku kulihat dia tersenyum..
“okeee.. kamu bisa berubah, tapi butuh waktu.. tidak bisa secepat membalikkan sebuah kartu” ucap Rein
“aku siap..”
“Baiklah, aku akan membantumu… Tapi berjanjilah satu hal padaku.. Jika kamu ada diposisi seperti tadi lagi, atau sedang diganggu anak lain, jangan ngelawan,, berjanjilah kalau kamu akan lari sejauh mungkin dari mereka,larilah dari masalah apapun itu yang kamu tidak bisa menghadapinya.. kamu harus lari lari dan lari,,” ucap Rein
“janji…” aku tidak ragu mengatakannya, aku akan menuruti permintaannya, lagipula aku tidak ingin melihatnya sedih lagi karena aku. maafkan aku Rein.
“Baiklah.. deal”
“satu lagi Rein…”
“hmm..?”
__ADS_1
“ajari aku memainkan Piano..”
Kulihat dia tersenyum lagi. Lalu dia mencium keningku… ini pertama kalinya dia mendaratkan ciuman di wajahku. bahagia sekali rasanya punya kakak seperti dia…