
Lima tahun telah berlalu...
Tiara dan Arga sangat bahagia melihat Kirana tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik, sehat dan cerdas. Mereka sangat mencintai putrinya dan selalu memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih pada Kirana.
Tak hanya Kirana, Sandra juga tumbuh menjadi gadis kecil yang patuh. Sandra dan Kirana terpaut perbedaan usia 3 tahun sehingga terlihat tidak jauh berbeda. Arga selalu memberikan kasih sayang yang sama pada Sandra, meskipun awalnya Tiara sempat merasa keberatan karena Sandra adalah anak Sarah.
Kirana, yang kini berusia lima tahun, memiliki wajah cantik dengan mata yang besar dan bulu mata yang lentik. Rambutnya panjang dan ikal, sering kali dihias dengan pita dan jepit rambut yang lucu. Dia selalu ceria dan penuh energi, suka bermain dan berbicara dengan orang-orang yang berada di kediaman Tiara dan Arga yang besar itu.
Sedangkan Sandra yang kini berusia 8 tahun semakin tumbuh menjadi gadis yang anggun dan penyayang, namun ia memiliki ambisi yang tinggi. Ia sering kali membicarakan cita-citanya kepada Arga, ingin menjadi seorang dokter yang bisa menyelamatkan nyawa orang-orang yang sakit. Sandra lebih dekat dengan Arga di banding Tiara yang lebih sedikit tertutup padanya.
Kedekatan antara Kirana dan Sandra semakin hari semakin erat meskipun mereka saudara tiri. Mereka selalu bermain bersama, belajar bersama, dan saling membantu dalam kegiatan sehari-hari. Sandra senang bisa menjadi kakak bagi Kirana, dan Sandra sangat mengagumi kecerdasan dan keceriaan Kirana.
Seringkali mereka berdua terlihat mengobrol atau bermain di taman rumah, dan seringkali juga mereka berdua menemani Tiara dan Arga saat bersama-sama di ruang keluarga.
__ADS_1
Hubungan mereka begitu harmonis dan mesra sehingga membuat Tiara dan Arga senang melihatnya. Bahkan Arga sering kali menyebut Kirana dan Sandra sebagai putri-putri kesayangannya.
Suatu malam, Kirana bangun dari tidurnya dan merasa takut. Dia tidak tahan lagi dengan ketakutannya dan mengambil keputusan untuk mengetuk pintu kamar Tiara sambil memeluk boneka kesayangannya.
Tok! Tok! Tok!
Tiara terbangun dari tidurnya dan mendengar suara ketukan pintu. Dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu. Kirana berdiri di depannya dengan wajah lembut dan suara yang lirih namun sangat lucu.
"Mama..., boleh aku tidur di kamarmu malam ini?."
"Iya, Mama... Terus, kamar Nana jauh dari kamar Mama. Aku takut sendirian."
Tiara tersenyum dan memeluk Kirana erat-erat. "Tentu saja, sayang. Mama selalu siap untuk tidur bersama kamu. Tapi Kirana janji gak ngompol kaya malam itu ya....."
__ADS_1
"Janji, Mama! Aku nggak akan ngompol lagi."
Mereka berjalan ke kamar Tiara bersama-sama dan Tiara membimbing Kirana untuk tidur di sampingnya. Tiara memeluk Kirana dan merangkulnya erat-erat, memberinya rasa aman dan nyaman. Kirana tertidur dengan cepat dalam pelukan hangat ibunya.
Saat Tiara akan memejamkan matanya, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perut Tiara dan memeluknya erat-erat. Terdengar suara serak di balik punggung Tiara berkata,
"Sayang... Aku tidak dapat jatah dong, kalau Nana ada disini," bisik Arga.
"Mas... Nana baru tidur, jangan berisik nanti dia bangun lagi," jawab Tiara sambil menoleh ke Arga. Lalu saat Tiara menghadap kembali ke Kirana, dia melihat putri kecilnya itu sedang menatapnya sehingga membuat Tiara terkejut.
"Kirana sayang... Kenapa bangun lagi?."
"Habisnya Papa berisik, jadi Nana gak bisa tidur...."
__ADS_1
Arga juga ikut bangun dan melihat Kirana yang sedang berbicara dengan Ibunya itu. Lalu Arga pindah posisi, dan sekarang dia berbaring di samping Kirana sehingga kini Kirana berada di tengah-tengah kedua orang tuanya dan mereka pun terlelap tidur.