
Perjalanan menuju rumah baru segera sampai. Rumah elit bergaya Eropa berjajar di sepanjang jalan, membuat Tiara takjub akan kemewahannya.
Secara Tiara yang berasal dari desa tidak pernah menyangka akan jadi nyonya rumah dari salah satu rumah mewah tersebut.
Akhirnya tiba di depan sebuah rumah yang lebih besar dari rumah-rumah yang Tiara lihat di jalan tadi. Pintu gerbang yang lebar dan tinggi menambah kesan rumah bagaikan istana.
"Selamat datang Tuan ... Nona ...."
Kedatangan mereka di sambut beberapa pelayan yang di pekerjakan di sana.
"Nayla...!."
Pandangan Tiara tertuju pada salah seorang diantara orang-orang yang menyambutnya dan merasa bahagia. Kemudian Tiara menghampiri Nayla dan memeluknya.
"Kamu sudah ada disini? Bagaimana bisa?."
"Ini kejutan untukmu," sahut Arga.
Tiara melihat ke arah Arga dan berterima kasih padanya. Dia tidak menyangka Arga mengabulkannya secepat ini.
Tiara terus menggandeng Nayla tanpa menghiraukan seseorang di sampingnya yang berjalan sendiri.
"Ekhem ...."
Isyarat Arga menyadarkan Nayla.
Nayla dengan cepat melepaskan tangan yang di gandeng Tiara dan melangkah mundur, membuat Tiara heran.
"Kenapa?."
"Kamu harus berjalan dengan Tuan Arga."
Nayla berbisik dan menyuruh Tiara segera menghampiri Arga. Tiara pun mengerti.
"Kamu harus bisa membedakan saat kamu sedang bersamaku, dan saat bersama sahabatmu. Aku selalu tidak suka di nomer duakan."
Petuah Arga saat melangkah menapaki tangga menunju kamar.
"Bagaimana dengan rumah ini? Apa kamu menyukainya?."
"Iya...."
Ceklek
Pintu kamar terbuka.
Dan terlihat sebuah kamar yang mewah dan megah bernuansa putih. Dengan kasur king size juga perabotan kamar yang lengkap.
"Ini kamar kita. Apa ada yang ingin kamu tambahkan?."
"Tidak ... Ini sudah lebih dari cukup."
Arga berjalan menuju ranjangnya yang big size, dan duduk sambil mengelus permukaan kasur yang di lapisi bad cover.
"Tempat tidur ini akan tenang selama beberapa saat."
Lalu Arga menghampiri Tiara dan berkata,
"Tapi setelah satu bulan ... tempat tidur itu akan selalu menjadi saksi kita berdua."
Arga lebih mendekati Tiara dan hendak memeluknya ...
"Ya ampun ... Apa ini?."
__ADS_1
Tiara menghindari sentuhan Arga dan menuju satu barang yang jadi perhatiannya. Hal itu membuat Arga memejamkan mata dan menelan saliva nya.
"Ini adalah barangku, kapan Pak Arga mengambilnya?." Tiara antusias.
"Saat kita di hotel Daniel sudah mengurus semuanya dan membawanya ke sini. Apa kamu senang?."
"Iya... Terima kasih. Karena di tas ini ada barang yang sangat berharga untukku."
Tiara memeluk foto dirinya bersama kakaknya dan meneteskan air mata.
"Apa selama ini kamu hanya tinggal sendiri? Tidak ada keluarga lain?."
"Tidak ... Aku hanya sebatang kara. Orang tuaku sudah meninggal saat aku masih kecil. Dan kakakku, dia juga sudah meninggal 4 tahun yang lalu."
Arga menyadari kalau Tiara sedang bersedih mengenang keluarganya. Lalu dia memeluk Tiara dari belakang dan menenangkannya.
Arga menatap lekat mata Tiara sambil memegang kedua bahu Tiara dan berkata,
" Sekarang, kamu tidak tinggal sendiri. Ada aku yang akan selalu menjaga dan melindungimu."
Arga menghapus air mata Tiara dan memeluknya. Tiara hanya membiarkannya tanpa membalas pelukan Arga.
Krokokok ...
Tiara tersenyum dan memegang perutnya.
"Aku sudah lapar."
"Baiklah, kita makan."
Tiara menyimpan bingkai fotonya di meja. Foto yang menunjukan senyuman bahagia kedua adik kakak tersebut.
*****
Kebersamaan Nayla membuatnya tidak merasa kesepian. Banyak waktu yang mereka habiskan bersama, karena Arga sibuk dengan pekerjaannya.
"Tiara ... Kamu sangat beruntung menikah dengan tuan Arga. Selain tampan dia juga orang yang baik. Dulu saat nyonya masih adapun tuan Arga selalu memperlakukannya dengan baik dan penuh kasih sayang. Hanya saja nyonya pendek umur hiks... Hiks."
"Nayla ... Sudahlah. Nyonya sudah tenang disana. Aku harap aku juga melakukan yang terbaik demi keinginannya."
"Tiara, aku ingin bertanya padamu. Pernikahanmu sangat mendadak. Apa kamu benar-benar mencintai tuan Arga?."
"Nayla ...."
"Aku tau tentang dirimu, orang yang kamu cintai adalah orang lain. Aku menghawatirkanmu Tiara."
"Apapun alasannya, sekarang aku sudah menjadi istri pak Arga. Nayla, aku rasa sekarang kamu jadi semakin banyak bicara ya...."
"He he, Tiara dengan siapapun kamu menikah. Asalkan kamu bahagia akupun turut bahagia."
Tiara mendengar perkataan Nayla, lalu teringat dan membayangkan saat kebersamaan nya dengan Reyhan.
Saat pertama kali bertemu Reyhan ...
Saat mulai pendekatan dengan memberikan banyak perhatian ...
Saat Reyhan terluka oleh pisau yang dia tusukan ...
Dan saat dirinya ditinggal nikah oleh Reyhan.
Tiara menarik nafas dalam-dalam dan melepaskannya ...
"Nayla, sebentar lagi pak Arga pulang, bantu aku memasak sesuatu ya. Kamu turun terlebih dahulu."
__ADS_1
Walaupun banyak art yang bekerja di rumah. Tapi sesekali Tiara yang memasak dan menyiapkan makanan untuk Arga.
Setelah berkutat beberapa menit di dapur akhirnya makanan sudah tersiap di meja makan. Begitu selesai, Arga pun pulang dari kantor dan langsung di persilakan untuk makan.
"Ternyata kamu jago masak juga."
"Silahkan tambah lagi."
Tiara menambahkan nasi saat piring Arga sudah kosong. Sebenarnya Arga ingin menolaknya karena sudah kenyang. Tapi sudah terlanjur dan dia pun menghabiskannya.
Di kamar...
"Aku akan menyiapkan air untuk mandi."
Setelah air sudah siap, Arga langsung mandi dan segar kembali. Lalu berpakaian rapi.
Arga melihat Tiara yang sedang merapikan selimut, lalu mendekatinya dan memeluk Tiara dari belakang.
"Pak Arga ... Anda jangan seperti ini."
"Kenapa? aku adalah suamimu."
Bukannya melepaskan Tiara, Arga malah semakin mengeratkan pelukannya. Lalu mencium leher Tiara. Nafas Arga semakin cepat saat mencium aroma tubuh Tiara.
"Pak Arga ...!" pekik Tiara hendak melepaskan diri.
Tapi sekarang Tiara menghadap Arga dan masih berada dalam pelukannya.
Dengan mata sayu dan penuh gairah Arga menatap Tiara dengan begitu lekat.
Arga hendak mencium Tiara. Tapi tangan Tiara menutupi bibirnya.
" Pak Arga ... Hmpt."
Arga langsung membungkam mulut Tiara dengan bibirnya, dan membuat Tiara membelakan matanya lalu mencoba berontak.
Arga menekuk leher Tiara dan terus menciumnya. Yang awalnya dari sebuah ciuman pelan dan lembut menjadi lebih bergairah dan menyesapnya semakin dalam.
Nafas Arga semakin cepat dan cepat. Darahnya semakin panas. Dan tangannya mulai tidak bisa dikondisikan. Lalu mereka berdua terjatuh di atas kasur.
Hasrat Arga semakin memuncak dari ciuman bibir mulai turun ke leher dan menciuminya bahkan sampai meninggalkan jejak merah.
Tiara menangis pasrah atas perlakuan Arga yang sudah tidak terkendali.
Saat Arga akan membuka baju Tiara dia melihat Tiara yang menangis. Lalu menjatuhkan dirinya di atas tubuh Tiara dan menenggelamkan wajahnya di leher Tiara.
Setelah nafas nya teratur Arga bangun dan duduk membelakangi Tiara.
"Maaf ... Aku tidak bisa mengontrol diriku. Mulai sekarang aku akan tidur di kamar yang lain dulu."
Lalu Arga segera keluar kamar dan meninggalkan Tiara yang berurai air mata.
Arga memasuki kamar sebelah dan langsung menuju toilet.
"Akh ... Sial! Kenapa aku sangat menginginkannya saat ini!."
Lalu Arga melepaskan hasratnya yang belum selesai secara solo dengan bantuan sabun mandi. He he.
****
Untuk mendukung karya ini
Jangan lupa kasih like vote favorit hadiah juga komentar terbaik ny ya... 😊🙏
__ADS_1