Kisah Unik Seorang Gadis

Kisah Unik Seorang Gadis
Bab 51 - Rapuh


__ADS_3

Bab 51


Rapuh


Rumah Arga terdiri dari empat lantai yang menjulang tinggi. Yang jika di ibaratkan satu lantainya setinggi 10 meter. Dalam keheningan malam, di saat semua orang sudah terlelap. Reyna berjalan menyusuri tangga menuju lantai teratas.


Dengan rambut yang terurai, Reyna menapaki anak tangga satu persatu dan hanya menatap lurus ke depan.


"Seumur hidupku, aku banyak melakukan kesalahan. Aku tidak menjadi istri yang sempurna untuk suamiku dengan tidak bisa menjaga keturunannya. Selamanya aku akan menjadi Reyna yang menjadi beban untuk suamiku." perkataan Reyna dalam hati dengan nada yang mendayu dayu mengikuti langkah kakinya.


Reyna berdiri di tepian balkon dan melihat pemandangan sekitar.


" Maafkan aku Tiara, aku tidak menepati janjiku untuk selalu menjagamu. Tapi kamu harus berjanji kamu akan hidup bahagia."


Reyna membentangkan kedua tangannya lalu menjatuhkan diri dan meninggal. Akhir dari peran Reyna di cerita ini. Hiks... Hiks


" Aaaaaaaaa"


Jeritan art yang melihat Reyna terjatuh dari ketinggian membuat gempar seisi rumah. Semua orang berkumpul dan menangisi kepergian nyonya besar di rumah itu.


Tiara berjalan menghampiri keributan yang terjadi di luar. Seketika terhenti sejenak ketika melihat Nayla menangis. Dan terlihat jasad Reyna yang terbaring di tanah.


"Tidak..! Nyonya..! Nyonya....!!!!"


Hari itu menjadi hari yang kelabu. Langit pun seakan mengiringi kepergian Reyna. Hujan yang tiada henti saat pemakaman Reyna menambah kepiluan kehilangan orang yang begitu di sayangi.


Kacau.. ! Kacau! Keadaan ini menggambarkan seorang Arga saat ini.


Seminggu setelah kematian Reyna, Arga mengalami depresi yang sangat hebat. Kehilangan seorang anak sekaligus istri tercinta membuatnya sangat putus asa.


Tidak ada hal apapun yang di lakukan Arga kecuali minum dan minum. Dia tidak menghiraukan hidupnya lagi. Tidak peduli dengan kesehatannya lagi. Hanya mengurung diri di kamar di temani botol-botol minuman yang telah memabukannya. Karena dengan cara itulah dia merasa bisa melupakan kesedihannya.


Dimana Tiara?


Dan dimana juga Nayla?


Mereka masih di dalam rumah itu. Melakukan kegiatan dan pekerjaan seperti biasa saat Reyna masih ada. Menjaga kamar yang selalu menjadi tempat mereka bertiga bersama, agar tetap bersih dan terawat.


Tok.. Tok...tok...


"Tuan... Saya membawa makan siang tuan".


"Pergi!! Jangan ganggu aku, pergi!!"


Tidak ada satupun art yang berhasil membujuk Arga untuk makan ataupun keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Tiara mencoba mengambil makanan untuk Arga, dan mencoba untuk membujuknya.


Tok.. Tok... Tok...


"Aku bilang jangan ganggu aku!!!"


Pree... Terdengar suara pecahan botol yang di lempar.


"Apakah anda pikir nyonya akan senang melihat anda seperti ini pak Arga?".


Tiara memaksakan diri untuk masuk ke kamar Arga, meskipun tidak di perbolehkan seorang pun untuk masuk.


"Ternyata itu kamu!"


Tiara melihat keadaan sekitar kamar yang bahkan tidak bisa di sebut sebagai kamar tapi lebih mirip kandang hewan. Tak ada kehidupan di kamar itu.


Tiara mulai membuka hordeng yang di biarkan selalu tertutup sepekan ini, sehingga cahaya matahari menembus ruangan dan menyinari tubuh Arga.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu pikir kamu siapa hah?!!"


Arga menarik tangan Tiara yang sedang membuka jendela ventilasi, sehingga tercipta jarak yang amat dekat di antara keduanya.


Arga melihat Tiara dengan tatapan sendu dan sorot mata yang penuh dengan kepedihan. Rambut halus yang tumbuh di sekitar dagu dan hidung nya seakan tumbuh menjadi lebih cepat sehingga terlihat tebal.


Hati Tiara merasa terenyuh melihat Arga yang selama ini kuat menjadi seorang yang rapuh dan tidak berdaya.


Arga merangkul dan memeluk Tiara, lalu menangis dengan tersedu sedu. Tidak ada penolakan ataupun pemberontakan yang Tiara lakukan, bahkan Tiara menepuk nepuk punggung Arga untuk memberi semangat dan mengurangi kesedihannya.


" Pak Arga... Anda harus tegar dan tetap kuat. Nyonya sudah tenang disana... Dia tidak akan bersedih hati lagi. Mungkin itu adalah jalan yang terbaik untuknya. Jika anda menyayangi nyonya, untuk sekarang sayangilah diri anda sendiri. Jangan seperti ini. Anda harus bersemangat. "


Cahaya matahari seakan menjadi lampu dalam kegelapan yang menampakkan bayangan dua orang yang saling berpelukan.


Pagi harinya... seluruh art dan para asisten pribadi mengerjakan semua pekerjaan yang sudah menjadi kewajiban mereka.


Menu makanan sudah rapi tertata di meja makan. Walaupun sang tuan rumah, dalam satu pekan ini tidak menampakkan batang hidungnya apalagi untuk duduk di meja makan. Tapi tetap mereka menyiapkan semuanya seperti biasanya.


Tap.. Tap.. Tap...


Terdengar suara langkah dari arah kamar Arga menuju tangga. Semua orang melihat ke atas dan penasaran siapa orang yang turun dari ruangan tuan rumah itu. Apakah Arga?


Semua orang terpaku dan memberhentikan aktivitas mereka dan terus melihat langkah Arga yang menuruni anak tangga.


"Kalian ini sedang apa? Apa kalian hanya akan bengong seperti itu? Cepat kerjakan pekerjaan kalian."


Suara Tiara membuyarkan lamunan semua orang lalu kembali dengan pekerjaan mereka. Arga tersenyum saat melihat dan mendengarnya. Akhirnya... Ada senyum lagi di wajah Arga meskipun tipis, bahkan sangat tipis yang kalau orang lihat tidak akan terlihat.

__ADS_1


" Tiara... Lihatlah, tuan Arga sudah keluar dari kamarnya dan tidak mengurung diri lagi."


"Syukurlah kalau begitu, bukankah itu lebih baik?." pernyataan Tiara dengan senyuman rasa syukur.


Arga mendudukkan dirinya di meja makan tapi tidak langsung memakannya.


"Tiara... Kemari, duduk disini dan temani aku makan." Arga menarik kursi agar Tiara duduk di sampingnya.


"Pak Arga... Saya tidak bisa makan bersama anda disini."


"Aku tidak ingin makan sendiri. Duduklah."


Pinta Arga tanpa menoleh ke Tiara.


Setelah Tiara duduk piring Arga pun masih kosong, belum ada makanan yang menghuni piringnya untuk di jadikan santapan. Tiara melihat Arga yang terus menatap piringnya yang masih kosong. Lalu Tiara menuangkan nasi dan lauk pauk di piring Arga tanpa di minta.


"Makanlah... Anda harus makan agar tetap sehat."


"Aku tidak makan sebanyak ini.!"


Terlihat piringnya terisi makanan yang banyak.


"Anda sudah tidak makan selama satu minggu. Kalau anda tidak perduli pada diri anda tidak apa-apa, tapi anda harus pikirkan juga cacing-cacing yang ada dalam perut anda. Mereka sudah kelaparan dan minta makan."


"Hua... Ha.. Ha.. Ha... Ha..."


Gelak tawa Arga menggelegar di dapur rumah yang besar itu dan membuat semua penghuni yang ada di rumah itu kaget dan langsung mencari arah suara itu berasal.


Nayla mengintip di balik tembok kebersamaan tuan nya dengan sahabat nya itu dengan bahagia dan tanda tanya.


"Kamu juga harus makan, ambillah nasi dan lauk ini."


Arga memenuhi piring Tiara dengan makanan.


"Baiklah.. Kalau anda tidak akan makan, saya akan menghabiskan makanan saya ini. Karena saya tidak mau kelaparan. Nyam... Nyam.. Nyam...."


"Apakah kamu terbiasa makan banyak seperti itu?"


"Tidak pak.. Hanya saja akhir akhir ini saya makan sedikit."


Jawab Tiara dengan makanan yang penuh di mulutnya. Arga merasa terhibur dengan tingkah gadis yang selama ini dia kagumi.


Tiara melahap semua makanan nya tanpa tersisa, begitu pun Arga. Kehadiran Tiara seakan menjadi penyemangat dalam hidupnya.


*****

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, favorit, hadiah juga komentar nya ya...


__ADS_2