
\*\*\*
13 tahun kemudian...
Tok tok tok...!
"Ya... Aku datang...!," seru seorang gadis berambut panjang lurus dan nampak anggun yang berlari dan segera membuka pintu kamarnya, dan dia adalah Sandra.
"Kakak...!," panggil gadis cantik berambut panjang juga namun agak berombak. Gadis itu segera masuk dan merebahkan dirinya di kasur yang selalu menjadi favoritnya.
"Hmmmm... Aku lebih suka tidur disini daripada di kamarku...," ucapnya seraya merem melek.
"Kenapa? Bukannya kamarmu lebih besar, Kirana?."
"Hm, pokoknya lebih nyaman disini."
Beberapa tahun telah berlalu sejak kejadian-kejadian dramatis yang telah melanda keluarga Arga dan Tiara. Kini, suasana rumah mereka mengalami perubahan yang mencerminkan kemajuan dan perkembangan keluarga tersebut.
Rumah mereka telah direnovasi menjadi lebih mewah dan elegan, menciptakan atmosfir yang berbeda namun tetap mempertahankan jejak-jejak kenangan yang telah terukir di dalamnya.
Kirana, putri Arga dan Tiara tumbuh menjadi gadis yang ceria dan penuh pesona, sekarang ia telah berusia 18 tahun. Ia telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan berbakat.
Keindahan wajahnya mengingatkan semua orang pada ibunya, Tiara, sementara semangatnya yang riang dan kecerdasannya mencerminkan kepribadian ayahnya, Arga.
Kirana mengejar passionnya di dunia seni dan terus mengembangkan bakatnya sebagai seorang pelukis yang berbakat.
Sandra, kakak Kirana, anak Arga dari mendiang Sarah, telah berusia 23 tahun. Ia tumbuh menjadi seorang wanita yang tangguh dan mandiri.
Dengan pesona alaminya, Sandra berhasil meniti karier yang sukses di dunia bisnis. Ia memiliki kepemimpinan yang kuat dan dedikasi yang tinggi dalam mencapai tujuan-tujuannya.
Meskipun dunia bisnis sering kali menuntutnya, Sandra tetap menjadi sosok yang hangat dan penyayang terhadap keluarganya.
"Kakak, apa kakak akan datang ke pameran lukisan aku di galeri?," tanya Kirana dengan wajah penuh harap.
"Hmmm... Gimana ya...?," jawab Sandra seraya menggoda.
"Kakak... Ayolah kak... Datang ya, plis...." Kirana merengek sambil memeluk kakaknya itu dengan bibir manyun.
__ADS_1
"Ok, Ok," jawab Sandra, dan mereka pun tertawa bersama.
Kirana dan Sandra, meskipun memiliki ibu yang berbeda, tumbuh menjadi kakak dan adik yang sangat akrab. Mereka memiliki ikatan yang kuat dan saling menyayangi satu sama lain.
Hubungan mereka tidak terhalang oleh perbedaan darah atau status keluarga, melainkan didasarkan pada cinta dan kasih sayang yang tulus.
Kirana, sebagai adik yang lebih muda, selalu melihat Sandra sebagai kakak teladan dan panutan. Dia mengagumi kecerdasan, keberanian, dan kebaikan hati Sandra.
Kirana sering mencari nasihat dan dukungan dari Sandra, dan Sandra dengan senang hati memberikan perhatian dan bimbingan kepada adiknya.
"Selamat pagi Mah...," sapa Kirana yang turun dari tangga bersama Sandra.
Mereka berjalan menghampiri seorang perempuan paru baya namun masih terlihat cantik dan awet muda bahkan terlihat hampir sebaya dengan dua gadis itu, yang tidak lain adalah Tiara.
Tiara, meskipun telah melewati usia kepala empat, masih memancarkan pesona kecantikan yang tak terelakkan dan terlihat awet muda. Meskipun waktu terus berlalu, kecantikan dan pesona Tiara tidak pudar, tetapi justru semakin memikat.
Banyak orang yang terpesona dengan penampilan Tiara yang selalu terjaga dengan baik. Kulitnya tetap bersinar, bebas kerutan, dan tampak segar. Rambutnya yang indah dan terawat membuatnya terlihat anggun dan mempesona.
Pesona mata Tiara, yang penuh dengan kecerahan dan kehangatan, memancarkan kebijaksanaan dan kebaikan hatinya.
Tiara selalu menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya. Dia mengutamakan pola makan sehat, olahraga dan rutinitas kecantikan yang teratur membantu menjaga tubuhnya tetap bugar dan kulitnya tetap segar.
Kecantikan yang dimiliki Tiara adalah bukti bahwa usia hanyalah angka. Lebih dari itu, kecantikan yang sejati datang dari sikap hidup yang positif, perawatan diri yang baik, dan kebahagiaan yang terpancar dari dalam hati.
"Sarapan apa kita Mah? Ada sandwich kan?," tanya Kirana sambil mencium pipi Tiara dan begelayut manja.
"Kamu ini, sudah besar masih saja manja," ucap Tiara namun Kirana malah senyum geli. "Selamat pagi Mah...," sapa Sandra. "Pagi," jawab Tiara.
"Putri papah udah pada siap sarapan nih?," tanya Arga yang baru datang dari kegiatan joging yang merupakan rutinitasnya sebelum pergi ke kantor.
Cup
Satu kecupan hangat mendarat di kening Tiara sambil merangkulnya. "Papah! Kalian sudah meracuni pandanganku...!," protes Kirana seraya menutup kedua matanya. Semua orang disana pun tertawa bersama dan mulai melahap sarapan yang sudah tersedia.
"Pah... Untuk acara rapat nanti siang, Aku udah menyiapkan rancangan busana yang sudah di desaign oleh Pak Codri, desainer ternama dari kota xx itu," tutur Sandra di sela-sela sarapan mereka."
"Hmmm, bagus itu, Sandra, kamu memang selalu bisa papah andalkan, papah sangat bangga padamu," jawab Arga sumringah.
__ADS_1
"Kirana, kamu harus tambah lagi, jangan cukup satu makannya biar banyak tenaga untuk beraktifitas hari ini," ucap Tiara seraya menyajikan sandwich kedua untuk Kirana.
"Tapi Mah... Kirana udah kenyang."
"Tidak ada penolakan, Hm," jawab Tiara tegas.
"Iya Kirana, kamu harus banyak makannya agar bersemangat, kamu mau kan jadi seperti kakakmu?," timpal Arga sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
Mendengar hal tersebut, tiba-tiba Tiara menghentikan makannya dan menyudahinya. Sikap Tiara itu membuat Arga dan Sandra merasa tidak nyaman dan saling berpandangan.
Berbeda dengan Kirana yang memprotes karena ibunya itu juga sarapan dengan sedikit. "Mamah curang, aku aja di suruh makan banyak, tapi Mamah sendiri cuma makan sedikit."
Tiara pun akhirnya mengalah dan melanjutkan sarapannya, namun wajahnya terlihat tidak bersahabat karena dia merasa tidak suka jika Arga terlalu memuji Sandra di hadapannya.
"Sayang, kenapa kamu bersikap seperti tadi di hadapan anak-anak?," tanya Arga saat mereka berada di kamar.
"Sikap apa Mas?."
"Ya... Kamu bersikap tidak ramah pada Sandra, padahal dia juga anakmu... Kamu seperti terlalu menjaga jarak dari Sandra."
"Aku tidak salah kan Mas? Sandra memang bukan anakku, aku hanya ibu sambungnya, dan kamu jangan lupa, dia itu anaknya Sarah...."
Jawaban Tiara membuat Arga tidak bisa berkutik karena memang itulah kenyataannya. Merasa suasana menjadi tegang, Arga pun berinisiatif untuk mengajak Tiara 'bermain' di pagi hari.
"Sayang...," bisik Arga sambil memeluknya dari belakang. "Aku mau mandi nih...."
"Ya udah, tinggal ke kamar mandir aja," jawab Tiara hendak melepaskan pelukan Arga, tapi Arga tidak melepaskan Tiara dan semakin mnegeratkan pelukannya. "Aku mau di mandiin sama kamu," bisik Arga lagi ke telinga Tiara.
"Mas, tadi malam kan udah...."
"Aku mau lagi... Pliss...."
Ya, Arga Wijaya, meskipun usianya sudah menginjak 60 tahun, tapi ia juga masih terlihat awet muda dan selalu bersemangat jika 'bermain' dan memuaskan Tiara.
Semakin bertambah usia, dia malah semakin banyak menuntut urusan ranjang pada Tiara. Apalagi dengan pesona Tiara yang kecantikannya tidak pudar dan semakin menantang.
Bersambung...
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸