
Arga pulang ke rumah dengan hati yang berat setelah tahu bahwa Tiara masih kesal padanya karena pernah melakukan pengkhianatan dalam hubungan mereka dan Reyna dahulu.
Saat ia memasuki rumah, suasana terasa sangat hening dan sepi. Tiara duduk di sofa dengan tatapan kosong yang terfokus pada televisi yang sedang menyala di depannya. Arga memutuskan untuk duduk di sebelahnya, namun Tiara tetap tidak menyapa.
"Tiara, aku minta maaf atas kesalahanku," ujar Arga dengan suara lembut.
"Aku benar-benar menyesal telah membuatmu terluka dan kecewa. Tolong berikan kesempatan padaku untuk memperbaiki semuanya."
Tiara tetap diam, namun Arga bisa melihat bahwa matanya mulai berkaca-kaca. Ia meraih tangan Tiara dan memohon dengan tulus,
"Tiara, aku sangat mencintaimu. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tolong maafkan aku."
Setelah beberapa saat yang terasa seperti berjam-jam, Tiara akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Arga dengan tatapan tajam.
"Aku masih kesal padamu, Mas," ucapnya dengan nada tegas.
Arga duduk di dekat Tiara, merenung dan menatap kosong ke arah dinding. Ia merasa sangat menyesal atas kesalahannya dan merasa bersalah atas luka yang ia timbulkan pada Tiara.
"Tiara," katanya dengan suara lembut.
"Aku sangat menyesal atas apa yang aku lakukan. Aku tahu bahwa aku telah membuatmu merasa sakit dan kecewa. Aku minta maaf."
Tiara masih diam, tetapi ia menatap Arga dengan tatapan kosong. Ia tidak ingin mendengarkan penyesalan dan permintaan maaf Arga, lalu Tiara pergi menuju kamarnya.
Alina yang berada di balik pintu kamar dan menyaksikan ketegangan di antara Tiara dan Arga tertawa bahagia. Dia merasa sekarang akan ada kesempatan yang besar untuknya.
"Akhirnya... meskipun aku tidak melakukan hal yang banyak, tetapi mereka bertengkar dan menjauh dengan sendirinya."
Setelah kejadian terkuaknya rahasia Arga dan Sarah juga kematian Sarah. Arga tidak lagi tidur bersama Tiara dan lebih sering tidur di kamar Alina.
Bukan karena keinginan Arga, hanya saja saat Arga masuk ke kamar pun Tiara seolah tidak memperdulikan Arga. Dengan begitu Arga mulai mensiasati lebih mendekati Alina untuk mencari tau seberapa perdulinya Tiara terhadapnya.
"Mas... Nanti malam tidur lagi denganku ya?."
Alina bergelayut manja di tangan Arga saat di meja makan, dan Arga pun meladeninya. Arga bersikap romantis kepada Alina padahal Tiara sedang ada di depannya.
Bohong jika Tiara tidak merasa cemburu sedikitpun, pasalnya sesungguhnya Arga sudah ada di hati Tiara. Oleh karena itu saat mengetahui penghianatannya dengan Sarah hati kecilnya pun menangis.
"Alina, apakah kamu sudah tau berlian keluaran terbaru di toko xx?."
"Aku sudah dengar sih Mas, tapi belum beli."
"Kamu mau?."
"Mau dong."
Tiara hampir menitikan air matanya lalu dia segera pergi, Arga melihat ekspresi Tiara dan bersorak dalam hati. Dia pikir usahanya itu akan berhasil.
Pagi hari...
Seorang art sedang berjalan dan membawa sebuah paket milik Tiara. Alina melihat itu dan mengira itu adalah paketnya lalu segera membuka tanpa melihat tujuan penerima nya. Saat di buka...
"Ahli kandungan?."
__ADS_1
Paket Tiara yang sedang berada di tangan Alina itu adalah obat dari dokter yang biasa merawat Tiara dan memberikan obat yang rutin di minum Tiara.
"Obat kontrasepsi? Ini punya siapa? Aku tidak memesan ini... Tiara?."
Alina terkejut saat melihat isi di dalam paket tersebut, lalu Tiara datang dan langsung menyambar paket tersebut yang membuat Alina tersenyum kegirangan.
"Tiara, apa aku tidak salah melihat? Apakah mataku sedang terganggu? Jadi selama ini kamu memakai obat kontrasepsi ini?."
Tiara tidak bergeming dan hanya menatap Alina, Tiba-tiba di kejutkan dengan suara yang menggelegar,
"Apa?!."
Arga yang akan turun dari tangga mendengar percakapan Alina. Mimik wajah Arga sudah terlihat merah padam lalu berjalan menuju ke arah Tiara dan menatapnya tidak percaya.
Arga merasa dunia ini tiba-tiba runtuh di hadapannya. Ia sudah merencanakan segalanya dengan matang, termasuk masa depan bersama Tiara dan memiliki putra putri mereka. Namun, ternyata Tiara memiliki rahasia besar yang tidak pernah ia ungkapkan selama ini.
"Mas... Kamu sangat menyayangi Tiara seharusnya Tiara tidak melakukan ini, menurutku mungkin dia memiliki alasan tertentu."
Alina memiliki celah yang sangat luas dan sengaja mengatakan hal demikian.
Arga menarik tangan Tiara dengan kasar dan bertanya,
"Tiara, katakan... Obat kesehatan yang selama ini kamu minum sebenarnya itu obat apa?."
Tiara melihat amarah dari sorot mata Arga tapi tidak segera menjawabnya.
"Lihat ekspresi wajahmu ini, kamu sudah mengakuinya."
Lalu Arga mendorong Tiara sehingga mundur beberapa langkah ke belakang dan hampir terjatuh beruntung Nayla segera menahannya sehingga terhindarkan.
Setelah rasa terkejut atas sikap Arga barusan, Tiara mencoba bersikap tenang dan mulai bicara.
"Mas Arga... Masalah ini... ~."
"Aku sedang bertanya kepadamu, kenapa? Jangan mengalihkan topik pembicaraan. Kamu tidak ingin mengatakannya? Biar aku yang katakan."
Tiara menoleh sejenak dan menyimak.
"Semenjak kamu menerima wasiat Reyna kamu berniat ingin balas dendam dan mencari tau penyebab kematiannya, benar kan?."
Tiara mengangguk dan menjawab, "Ya."
"Kamu terkadang baik dan terkadang menghindar karena ingin mengontrol diriku? Bukan hanya itu kamu sengaja membuat dirimu berada dalam hatiku agar menguasai ku?."
"Ya."
"Kamu menjadikanku batu loncatan untuk mendekati orang-orang yang dulu dekat dengan Reyna dan menangkap pelakunya. Sekarang dendammu sudah terbalaskan dan Sarah pun sudah meninggal. Di matamu, aku sudah tidak ada gunanya lagi. Jadi kamu butuh untuk menenangkan ini semua, benar kan?."
Tiara terdiam...
" Jawab! Benar atau tidak?!. "
Tiara mengangkat wajahnya dan menatap Arga dan berkata,
__ADS_1
" Jika Mas Arga sudah mengetahui semuanya, untuk apa menanyakan ini lagi?."
"Aku ingin mendengar kamu yang mengatakannya sendiri."
"Baiklah... Semua yang Mas Arga duga adalah benar."
Arga menatap Tiara tidak percaya dan merenung sejenak. Ia tahu bahwa kepercayaannya pada Tiara telah hancur berkeping-keping.
"Aku memang ingin balas dendam untuk nyonya Reyna, sehingga menjadi istrimu. Aku berusaha untuk mendapatkan kasih sayang darimu dan melancarkan rencanaku. Jika sekarang dendamku sudah terbalas, maka Mas Arga bagiku sekarang sudah tidak ada gunanya lagi. Tentu tidak berusaha baik lagi padamu. "
" Jika kamu hanya melakukannya dengan tidak tulus, lalu semua sikap dan perhatianmu padaku... Apa semua itu?. "
"Aku hanya merasa malu."
Jawaban Tiara membuat Arga tersentak lalu lebih mendekati Tiara.
"Apa yang kamu katakan?."
"Karena Mas Arga sudah terlalu baik terhadapku, terlalu baik sehingga membuat aku malu."
"Tapi kenapa kamu menggunakan obat pencegah kehamilan?! Karena bagimu, aku bukan apa-apa... Aku hanya alat untukmu."
"Sebagai alat... Apakah Mas Arga merasa sedih di perlakuan seperti itu? Nyonya Reyna dahulu lebih sedih lagi."
"Tiara... Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?."
"Saat nyonya Reyna meninggal... Mas Arga adalah orang yang paling bersedih dan merasa kehilangan dan orang-orang pun bersimpati padamu. Tanpa mereka ketahui penyebab sebenarnya kematian nyonya."
"Tiara, diam!."
"Mas Arga berani berbuat, kenapa tidak berani mendengar? Begitu banyak wanita di dunia... Kenapa kamu harus berselingkuh dengan Sarah? Dia adalah adik ipar nyonya Reyna."
Tiara menahan tangisnya yang sudah sangat menekan dadanya.
"Malam itu... Nyonya kehilangan anak tersayangnya dan mendapat kenyataan memalukan penghianatan suami dan adik iparnya. Tidak akan ada orang yang bisa sabar dengan semua itu."
Dengan berlinang air mata Arga mencoba menguatkan dirinya, menguatkan rasa malu dan bersalah menghadapi Tiara.
" Kamu akhirnya mengatakan apa yang ingin kamu katakan. Dalam hatimu aku adalah orang hina yang sengaja menodai istri adik iparku, orang licik yang tidak tau malu?."
"Mas Arga berani mengatakan kalau Mas Arga tidak bersalah?."
"Aku tidak bersalah semua itu adalah kecelakaan."
"Benar atau tidaknya, Mas Arga lebih mengetahuinya."
"Tiara... Aku sudah terlalu baik padamu sehingga membuatmu melupakan sesuatu. Kamu sudah menjadi istriku... Mau atau tidak... seumur hidupmu, kamu akan selalu ada di sampingku hingga tua dan hingga mati."
Arga segera beranjak dan meninggalkan Tiara dengan air mata yang terus jatuh di pipinya. Lalu Arga berhenti sejenak dan berkata sambil membelakangi Tiara,
" Lalu... Untuk obat itu kamu tidak perlu memakannya lagi karena tidak akan di perlukan lagi." Arga tersenyum miris lalu pergi.
Tiara mengerti dengan maksud Arga lalu terduduk di kursi merenung. Alina yang menyaksikan semuanya melenggang ke kamarnya dengan senyuman kemenangan.
__ADS_1
Nayla yang baru mengetahui kebenaran Tiara selalu minum obat pencegah kehamilan mengomeli tindakan sahabatnya itu dan menyuruhnya untuk meminta maaf kepada Arga dan menyesalinya. Tapi Tiara menolaknya karena semua sudah terlanjur dan tidak bisa kembali.