
Di sebuah Hotel berbintang 6 Arga sedang menghadiri pesta ulang tahun pernikahan temannya. Tempat yang hanya di hadiri oleh orang-orang yang terpandang dan tajir. Karena untuk memasukinya saja harus melakukan beberapa prosedur.
"Bagaimana putramu yang kamu kirim sekolah ke Amerika? Apa tidak terlalu dini untuk memisahkan ibu dan anaknya seperti itu?"
"Anakku baru berumur 7 tahun tapi dia harus di beri pendidikan yang bagus dari sejak kecil. Agar masa depannya cemerlang."
Terdengar beberapa sahabat Arga memperbincangkan anak-anak keturunan mereka dengan begitu bangga. Hanya Arga yang tidak ikut membahas. Dia merasa sekarang minum adalah jalan yang terbaik untuk mengusir rasa stres nya.
Segelas... Dua gelas lalu sebotol, hingga akhirnya Arga menghabiskan dua botol wine sendirian, yang menjadikannya sangat mabuk berat.
Daniel, asisten yang selalu berada di samping Arga segera membawanya pulang ke rumah. Tibalah di rumah kebesarannya. Arga tidak segera masuk ke rumah tapi dia duduk di depan teras rumah. Yang lalu Daniel pun ikut duduk bersamanya.
"Pak.. Sebenarnya anda mempunyai masalah apa?"
"Hari ini orang-orang membicarakan setiap anak mereka dengan begitu bangga. Seakan mereka tidak melihat bahwa aku pun berada disana. Aku juga ingin memiliki putra. Tapi Reyna, dia selalu keguguran ketika mengandung calon anakku."
Seorang Arga menangis dan meratapi nasibnya sendiri. Itu semua karna pengaruh minuman yang dia habiskan di hotel tadi.
"Pak...saya tidak tau harus menghibur anda bagaimana, akan tetapi bukankah sekarang nyonya Reyna sedang hamil. Dia akan segera melahirkan seorang putra untuk anda."
Arga membenarkan perkataan asisten nya itu. Lalu dengan berjalan sempoyongan dan mata yang teler seperti lampu satu watt. Arga menuju kamar istrinya. Akan tetapi Tiara melihat keadaan Arga yang begitu parah mab\*k lalu menghampirinya.
" Istriku.... Istriku..."
"Pak Arga.. Nyonya baru saja istirahat. Sebaiknya anda tidur di kamar terpisah dulu, tidak baik untuk nyonya dan bayinya jika anda dalam keadaan mabuk berat seperti ini."
Dengan mata yang susah untuk di buka Arga melihat dan mendekati Tiara. Lalu menepuk jidat Tiara dan mendorongnya ke belakang. Dan sontak membuat Tiara keheranan.
" Kamu orang itu..! Tiara yang sangat menyebalkan. Kenapa dalam mimpiku pun aku bisa bertemu dengan wajah ini, menyebalkan! Sungguh menyebalkan."
Arga menepuk nepuk pundak Tiara mencubit pipi Tiara dan menggumbel wajahnya.
"Aku pikir wajah ini memiliki banyak topeng, sangat licik. Wanita sepertimu ini di takdirkan untuk sendirian hingga tua. Kamu tidak akan menikah dengan siapapun.
Kamu mau seumur hidupmu tinggal di rumahku? Aku harus merawat dan membayarmu seumur hidup. Hah."
" Orang ini.. Jalan pun sempoyongan banyak bicara, menyumpahiku pula. Jatuh baru tau rasa."
"Apa yang kamu katakan?"
Mendengar kegaduhan di luar kamarnya Reyna melihat apa yang sedang terjadi.
"Mas.. Kamu ini kenapa? Kenapa meminum banyak alkohol?"
"Istriku.. Anak ini pasti seorang anak laki-laki, aku yakin itu. Setelah dia lahir dia akan menjadi kebanggaanku. Dia akan selalu menjadi anak kesayangan ku. Anak kita berdua. Aku sangat menantikanya."
__ADS_1
Dengan rasa suka dan duka yang bercampur aduk Arga membelai istrinya yang nampak berlinang air mata karena terharu atas suaminya. Lalu dia membelai perut dan hendak mencium perut istrinya.
Tetiba Arga melihat lagi ke arah Tiara dan meracu lagi.
" Apa yang kamu lihat? Istriku... Gadis ini selalu membuatku marah. Membuatku benci hingga ke dalam tulang. Sungguh sangat menyebalkan."
"Mas... Jangan seperti itu, Tiara cepat masuk ke kamarmu."
"Mas.. Lebih baik sekarang kamu istirahat."
"Baiklah... Tapi aku akan tidur di kamar sebelah. Dengan keadaanku yang seperti ini, aku mengahawatirkanmu dan bayi kita."
Dengan sigap Tiara mengatur tempat untuk Arga.
"Nayla... Persiapkan kamar sebelah untuk pak Arga. Jika dia melihatku yang ada dia akan melahapku."
"Baiklah.."
Bagaikan cicak yang nemplok di dinding.
Dengan tatapan yang penuh amarah dan ambisi, Sarah melihat dan ingin menggunakan setiap kesempatan untuk melancarkan aksinya.
Tiara berada di kamar Reyna untuk mengantarkannya istirahat kembali.
"Nyonya... Jangan banyak pikiran lagi. Istirahatlah." Tiara segera keluar dari kamar Reyna. Lalu bertemu Nayla.
"Bagaimana, apakah pak Arga sudah beristirahat di kamarnya?"
"Sudah.."
"Baguslah, kalau tidak dia akan terus berbuat semaunya dan bicara yang tidak tidak padaku."
Di kamar lain yang di huni Sarah. Dia duduk memikirkan satu cara yang akan membuat rencananya semakin berjalan mulus.
Dan mengingat perkataan Reyhan :
"Di pandangan ku kau tidak akan bisa di samakan dengan Tiara. Kejamnya dirimu membuatku sangat jijik padamu."
Ketika semua orang sudah terlelap dalam mimpi tidurnya. Sarah diam-diam memasuki kamar yang di tinggali Arga. Dia menggunakan kesempatan Arga yang sedang mabuk berat untuk menidurinya.
Akhirnya... Malam itu menjadi saksi bisu dua orang yang melakukan hubungan terlarang antara saudara ipar tersebut.
Ketika pagi tiba, Arga terbangun dari tidurnya dan mendapati Sarah yang sedang menangis sambil merapihkan bajunya.
Arga segera mengumpulkan kesadarannya untuk mencerna apa yang sudah terjadi padanya dan Sarah.
__ADS_1
Betapa kagetnya Arga setelah mengingat kejadian semalam walau dalam keadaan setengah sadar.
"Apa yang kamu lakukan di kamarku?!!" Arga marah dan meneriaki Sarah. Kemudian Sarah berlutut berpura-pura menangis menyesalinya.
"Tuan... Maafkan saya. Tadi malam saya hanya ingin memberikan teh agar rasa mabuk yang tuan alami menjadi berkurang. Tapi tiada di sangka tuan malah melakukan itu pada saya. Hiks... Hiks... Hiks.."
Bagaikan di sambar petir di pagi hari Arga menepuk jidatnya dan melempar semua barang yang ada di depannya. Dia marah dengan apa yang sudah dia perbuat.
Tiara melihat Sarah keluar dari kamar Arga dengan tergesa-gesa dan menghampirinya.
" Sarah apa yang kamu lakukan dari dalam sana? Apakah pak Arga sudah keluar dari kamar itu?" Tiara merasa heran dengan dandanan Sarah yang berantakan.
"Tiara ... Tidak terjadi apa-apa, tadi aku hanya salah masuk kamar. Aku pergi dulu."
Dengan penuh pertanyaan Tiara terus menatap curiga Sarah yang berlalu.
Hingga Arga keluar dari kamar itu dan mendapati Tiara berada di depan kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
Tiara hanya diam menatap Arga tanpa bergeming. Tapi Arga tidak menghiraukan Tiara yang hanya diam tidak menjawabnya. Lalu dia segera pergi dari hadapan Tiara.
Saat Tiara ingin memasuki kamar dan membereskannya. Nayla memanggilnya.
" Tiara... Nyonya memanggilmu, kamar ini biar aku saja yang membereskannya." di balas dengan anggukan Tiara.
Sarah bersolek dan merayakan keberhasilannya di jebol oleh Arga. Dia merasa puas rencana selanjutnya akan berhasil.
"Nyonya... Aku akan pulang hari ini. Terima kasih karena nyonya sudah membiarkan sya tinggal disini. Reyhan akan segera pulang dari luar negeri. Tidak baik juga jika saya tetap disini. Jika nyonya akan melahirkan jangan lupa mengabari keluarga."
Di dapur Tiara sedang menyiapkan teh, tapi dia hanya melamun dan memikirkan apa yang tadi dia lihat antara Sarah dan Arga.
" Tiara.. Kamu kenapa? Membuat teh sambil melamun."
"Oh, Nayla ternyata kamu."
"Aku rasa ada sesuatu yang salah terjadi."
Batin Tiara.
****
Jangan lupa.. kasih like, vote, favorit, hadiah dan komennya ya..
Terima kasih sudah membaca mohon dukungannya 😊🙏
__ADS_1