Kisah Unik Seorang Gadis

Kisah Unik Seorang Gadis
Bab 80 - Kenyataan


__ADS_3

💔


Suasana makan malam yang sunyi...


Penghuni rumah satu lagi akhir-akhir ini jarang ada di rumah jadi hanya Arga dan Tiara yang duduk berdua di meja makan tanpa ada satu patah katapun terucap.


Arga menyuapkan makanan dengan sesekali melihat ke arah Tiara. Dia makan dengan tidak begitu selera, baginya lebih baik Tiara marah dengan banyak mengomelinya dari pada mendiamkannya seperti ini.


Arga tidak habis pikir... menurutnya Tiara yang harusnya kena marah karena sudah terlihat berduaan dengan pria lain tapi ini malah sebaliknya, tidak pernah terpikir juga olehnya bahwa yang menjadi alasan di balik kemarahan Tiara ini sesungguhnya adalah kesalahannya, kesalahan yang belum Tiara buka karena belum saatnya.


"Tiara... Ada yang ingin aku bicarakan."


Tiara menoleh sejenak dan mengangguk lalu meneruskan makannya.


"Sebenarnya... ~."


Ting tong! Ting tong!


Arga dan Tiara menoleh ke arah pintu saat terdengar bel rumah berbunyi. Lalu seorang art membukakan pintu.


"Tuan... Nona... Ada tamu."


"Siapa?."


"Beberapa orang berseragam polisi."


Arga terheran tapi Tiara hanya menatap makanan di piringnya dan terus mengunyah. Arga menyelesaikan makannya lalu menghampiri polisi yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Oh, kamu Doni... Ada apa?."


"Selamat malam Pak Arga." di balas anggukan Arga lalu mempersilahkan Doni dan teman polisi nya untuk duduk kembali.


"Maaf, kami mengganggu waktu anda... Kami ingin mengabari bahwa telah di temukan mayat di rumah anda yang dulu."


"Apa maksudmu?."


"Sore ini kami menerima sebuah panggilan dari seseorang yang tidak menyebutkan namanya. Dia melaporkan bahwa ada seseorang yang meninggal di rumah anda. Kami ingin meminta izin untuk melakukan investigasi di rumah anda. Sebagian petugas polisi sudah ada di sekitar rumah anda untuk menjaga TKP."


"Kemana para pelayan? Dan kenapa tidak menghubungiku?!."


"Pak Arga, ada sesuatu yang ingin saya infokan. Besar kemungkinan mayat yang ada di rumah anda itu adalah Nona Sarah."


"Apa!."


Keterkejutan Arga membuatnya spontan berdiri dan berteriak lalu melihat ke arah Tiara yang bersikap biasa-biasa saja setelah mendengar kabar itu.


Teg!


Arga memicingkan matanya dan memikirkan satu hal yang entah apa itu.


"Silahkan... Lakukan investigasinya."

__ADS_1


"Baiklah, kami segera undur diri dan terima kasih waktunya."


Setelah kepergian Doni, Arga melakukan satu panggilan.


"Hallo! Pak Tono, amankan semua rekaman cctv."


"Baik Tuan."


Arga segera menyusul Tiara yang sudah berada di kamar. Dia melihat istrinya itu sedang bersiap siap untuk tidur dengan piyama nya lalu mendekatinya.


"Tiara... Apa kamu sudah mengetahui hal ini?."


Tiara menghadapkan badannya ke Arga dan bertanya,


"Apa?."


"Sarah..., Apa kamu sudah tau dia meninggal di rumahku yang dulu?."


Tiara tidak bergeming lalu Arga semakin mendekatkan dirinya ke Tiara.


"Jawab aku... Jawab kalau kamu tidak mengetahui semua ini dan tidak ada hubungan nya dengan semua ini."


Tiara melihat mata Arga dengan tatapan yang dalam dan penuh kebencian. Semakin banyak pertanyaan yang timbul di pikiran Arga di tambah dengan diamnya Tiara seperti ini, lalu Arga menurunkan pandangannya dan beranjak dari sana.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Tiara? Kenapa dia menatapku seperti itu?." batin Arga sambil keluar kamar menuju ruang kerjanya.


Saat di meja kerja Arga membuka laptopnya dan memutar video cctv yang ada di rumahnya dulu. Saat video di putar Arga mendekatkan wajahnya ke layar laptop untuk melihat lebih jelas.


Arga menyaksikan semua kejadian yang terjadi. Perdebatan antara Tiara, Sarah dan Nayla. Arga menambah volume suaranya dan mendengar semua pembicaraan ketiga perempuan yang dia kenal itu.


Mimik wajah Arga berubah menjadi padam hitam saat mendengar tutur kata Sarah apalagi saat mengetahui bahwa Tiara selama ini sudah mengetahui dia dan Sarah pernah berhubungan gelap.


Arga memejamkan matanya dan menahan emosinya. Dalam satu momen Arga harus menerima beberapa kenyataan. Yang pertama, penyebab sesungguhnya mendiang istrinya dahulu meninggal. Kedua, kenyataan bahwa Tiara sudah mengetahui semua kesalahan nya.


Dretttt... Dretttt...


Pagi-pagi Arga menerima sebuah panggilan dari kantor polisi dan mengabarkan hasil investigasi mereka. Arga di minta untuk menemui polisi di TKP.


Arga terbangun dari kursi, ternyata semalam dia tidur di ruang kerjanya. Dia mencoba menetralisir dirinya dan mencoba bersikap tenang di hadapan Tiara.


Arga menuju kamar dan mendapati Tiara yang sudah tidak berada di sana. Panik... Arga panik dan mencari keberadaan Tiara. Dia membuka lemari baju Tiara dan mendapati semua barangnya masih ada menandakan Tiara tidak pergi kabur dari rumah. Owalah Arga...


Setelah bersiap diri Arga segera menuju rumah yang dulu dan saat tiba disana Tiara pun sudah duduk santai di kursi tamu. Lalu Arga mendekati Tiara dan berbisik,


"Sayang, kenapa kamu kesini?."


"Polisi tadi pagi menghubungiku."


"Seharusnya kamu tidak kesini."


Doni menghampiri pasangan suami istri yang sedang berbincang tapi berbisik.

__ADS_1


"Selamat pagi Pak Arga."


"Selamat pagi."


"Maaf, saya juga memanggil Nona Tiara karena sejak tadi saya menghubungi anda tapi tidak terhubung."


"Baiklah, tidak masalah. Bagaimana hasil pemeriksaannya?."


"Setelah kami periksa, kemungkinan besar Nona Sarah melakukan upaya bunuh diri. Karena kami menemukan barang bukti beberapa alat untuk bunuh diri."


"Baguslah kalau begitu."


Pernyataan Arga membuat Tiara melihat Arga dan mengernyitkan dahinya.


Polisi sudah membereskan TKP dengan kesimpulan Sarah meninggal karena bunuh diri. Dan kasus nya pun sudah di tutup.


Sekarang tinggalah Arga dan Tiara berdua di ruangan itu sedangkan Nayla berada di ruangan yang lain.


"Kenapa tidak memberitahu polisi yang sesungguhnya?."


Arga menoleh dan melihat ke arah Tiara dan berkata,


"Sarah, dia bunuh diri karena sangat bersedih mengenang kematian Reyna. Tidak ada hubungan dengan siapapun."


"Tidak! Aku yang menyuruhnya untuk bunuh diri karena dia pantas mendapatkannya. Bahkan dia pantas di hukum lebih dari itu!."


"Tiara, jaga mulutmu."


Tiara tertawa kecil lalu menangis...


Arga merangkul Tiara dan mencoba menenangkannya tapi Tiara menyingkirkan tangan Arga dan menangis lebih keras.


"Kalian... Kalian telah bersekongkol membuat nyonya menderita. Pengkhianatan yang kalian lakukan benar-benar tidak bisa di maafkan dan di terima oleh nyonya sehingga dia memutuskan untuk bunuh diri hiks hiks hiks...."


"Tiara, dengarkan aku. Waktu itu aku tidak sengaja melakukannya aku dalam keadaan mabuk jadi ak~...."


"Sama seperti yang kamu lakukan dengan Alina bukan? Alasan mabuk juga kamu menghianatiku. Tapi aku tidak selemah nyonya dan mengakhiri hidupku."


"Tiara...."


Arga menatap Tiara nanar dan ingin menyentuhnya tapi mengurungkan niatnya dan menarik tangannya kembali.


Tiara segera berdiri dan menghapus air matanya dan pergi meninggalkan Arga yang berlinang air mata.


Arga segera melajukan mobilnya menuju sebuah bar dan duduk di kursi pelanggan. Dia memesan minuman dan hendak meminumnya lalu mengingat perkataan Tiara,


"Sama seperti yang kamu lakukan dengan Alina bukan? Dengan alasan mabuk juga kamu menghianatiku. Tapi aku tidak selemah nyonya dan mengakhiri hidupku."


Arga menyimpan kembali gelas yang berisi minuman haram tersebut dan tidak jadi meminumnya, dia takut melakukan kesalahan yang sama lagi. Bahkan tidak tau apa yang akan terjadi jika dia meminumnya lagi.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


__ADS_2