Kisah Unik Seorang Gadis

Kisah Unik Seorang Gadis
Bab 72 - Satu ranjang bertiga


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. Sebuah mobil terparkir di depan rumah Tiara. Pemilik mobil itu adalah Alina.


Keadaan rumah sudah sepi karena semua penghuni rumah sudah beristirahat dan bermimpi indah.


Alina sedang bercermin di kaca rias kamarnya. Dia bersolek sudah seperti wanita malam dengan memakai lingerie yang sexsoy.


Alina berjalan menuju kamar Tiara. Dia melangkah dengan penuh keyakinan akan menang malam ini. Alina membuka pintu dengan perlahan lalu menghampiri ranjang yang disana ada Tiara dan Arga sedang terlelap tidur.


Alina menyelusup ke dalam selimut yang menyelimuti tubuh Arga yang terlentang. Alina tidak memperdulikan Tiara yang berada di samping Arga.


Sekarang, Alina sudah berada di atas tubuh Arga, lalu menciumi seluruh wajahnya. Kondisi Arga yang polos karena sebelum tidur sudah berhubung in*im dengan Tiara, mempermudah Alina untuk membangunkan si joni.


Arga yang tera**sang karena sentuhan Alina tiba-tiba terbangun dan membuka matanya. Dengan mata yang sipit karena kantuk, Arga tidak melihat jelas dan menyangka itu adalah Tiara.


Alina bergerak aktif di atas dan mencu*bu Arga dengan penuh nafsu dan gai*ah.


"Mas ... Aku akan menagih jatahku yang kamu janjikan kemarin."


Arga terkejut saat mendengar Alina membisikan kata-kata di telinga Arga. Dia merasa suara Tiara sangat berbeda. Lalu Arga melihat dengan jelas bahwa yang sedang berada di atasnya itu Alina.


"Kamu!."


"Stt ... Mas jangan berisik! nanti Tiara bangun."


Arga merasa tak karuan, dia melihat Tiara yang sedang terlelap tidur di sampingnya.


Dia takut, bagaimana kalau Tiara bangun dan melihatnya dengan posisi begini.


"Alina, turun!."


Bisik Arga penuh penekan.


Alina malah semakin mendekatkan wajahnya dan membungkam bibir Arga dengan mulutnya.


"Mas tenang saja, aku akan melakukan nya secara perlahan dan tidak akan membuat keributan."


Alina berbisik dengan suara yang menggoda sehingga membuat milik Arga semakin keras. Mengetahui hal itu, Alina langsung mencari mangsa yang akan dia masukan ke kandang nya.


Arga mencoba menghentikan Alina, tapi slebbbb! Akhirnya benda pusaka itu menembus milik Alina.


Merasakan kenikmatan itu, Arga mengeratkan pegangan tangannya di ping*gul Alina. Matanya merem melek saat Alina memainkan permainan yang pelan dengan ritme teratur.


Betapa teganya kedua manusia ini, mereka bermain padahal satu ranjang dengan Tiara.


Arga tidak mengeluarkan suaranya tapi terus membuka mulutnya saking menikmati permainan Alina.


Saat keduanya menuju puncak, Alina me*cium dan memainkan lida*nya di mulut Arga, sehingga mereka merasa kli*aks dan melayang bersama.


Sudah author duga, Alina sudah lihai dalam permainan ini. Hi hi.


Setelah menyelesaikan aksinya, Alina segera kembali ke kamarnya. Dia tertawa bahagia karena rencananya sangat berhasil.


"Em ... Kamu sangat membuatku puas jika melakukannya dengan penuh kesadaran. Aku sangat menikmatinya Arga."


Pagi telah tiba,


Setelah selesai mandi, Tiara membereskan tempat tidurnya.

__ADS_1


Ketika mengibaskan selimut, Tiara mencium bau parfum yang berbeda dengan parfum yang biasa mereka gunakan.


"Apa mas Arga menggunakan parfum baru?."


Lalu Arga keluar dari kamar mandi dengan mengelap rambutnya dengan handuk kecil.


"Sayang, hari ini aku akan keluar kota urusan bisnis. Apakah kamu mau ikut?."


"Berapa hari?."


"Sekitar dua hari."


"Baiklah, aku akan ikut. Sayang ... Apakah kamu pakai parfum baru?."


Arga terkejut mendengar pertanyaan Tiara. Dia hawatir Tiara akan mengetahui kejadian semalam. Lalu menjawab tidak tau dan mengalihkan pembicaraan.


Setelah menyiapkan perlengkapan Arga untuk di luar kota. Tiara menyuruh seseorang untuk memanggilkan Nayla.


Tidak lama Nayla pun datang ke kamar Tiara.


"Nayla, kenapa kamu lambat sekali?."


"Maaf Tiara."


"Nayla, aku akan pergi ke luar kota. Kamunya urus rumah ini ya."


"Baik."


Tiara merasa heran dengan sikap Nayla yang biasanya cerewet tapi sekarang banyak diam. Tiara memperhatikan wajah Nayla yang terlihat pucat.


"Nayla, apakah kamu sakit?."


Tiba-tiba Nayla jatuh pingsan sebelum menyelesaikan perkataannya.


"Toloooong! Toloooong!."


Arga yang sedang berada di bawah terkejut mendengar suara Tiara teriak meminta tolong. Dia hawatir terjadi sesuatu pada istrinya itu. Arga berlari dengan cepat tanpa melihat langkahnya dan tiba di kamar.


"Mas Arga, tolong Nayla."


"Dia kenapa?."


"Aku tidak tau, dia tiba-tiba saja pingsan."


Arga segera menyuruh art laki-laki untuk menggendong Nayla menuju mobil dan akan membawanya ke rumah sakit. Tapi saat di depan pintu Tiara menghentikan Arga sejenak.


"Sayang, bukankah hari ini kamu harus ke luar kota. Biar aku saja yang membawa Nayla ke rumah sakit. Kamu pergi saja. Maaf ... Sepertinya aku tidak bisa menemanimu kesana."


"Baiklah sayang, aku tidak apa-apa. Aku akan cepat pulang. Bahkan jika memungkinkan, aku akan tinggal di sana hanya satu hari."


"Baiklah, aku pergi ke rumah sakit dulu ya."


Arga memeluk Tiara dan memberi kecupan mesra di kening juga bibirnya.


Di rumah sakit ...


Nayla masuk ruang icu. Di dalam Dokter sedang memeriksa kondisi Nayla yang masih belum sadarkan diri. Tiara sangat mencemaskan keadaan Nayla.

__ADS_1


Setelah sekian lama Tiara baru menitikan air matanya lagi. Dia merasa sangat ketakutan, dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Nayla. Dia tidak ingin kehilangan sahabatnya itu.


Satu malam Tiara lewati di rumah sakit itu. Dia terus berada di samping Nayla yang masih memejamkan matanya. Tiara terbangun saat mendengar dokter dan suster yang memeriksa Nayla.


"Dokter, bagaimana keadaannya?."


"Kami belum bisa mendiagnosa pasien, kami menunggu hasil lab yang akan keluar nanti siang. Nona tidak usah khawatir pasien akan baik-baik saja."


"Terima kasih dokter."


"Nona tidak usah berterima kasih, ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami. Dan saya sarankan agar Nona juga menjaga kesehatan Nona. Karena saya lihat dari kemarin Nona belum makan sesuatu. Anda tidak ingin pasien disini menjadi dua orang bukan?."


"Iya dokter, terima kasih nasehatnya."


Benar yang di katakan dokter tadi, sekarang cacing di perut Tiara sudah kejang-kejang meminta makan. Tiara merasa tidak apa-apa meninggalkan Nayla sebentar dan akan keluar dulu untuk mencari makan.


"Aku sarapan disini saja agar tidak terlalu jauh. Mang, buburnya satu ya."


Di ruang icu, Nayla baru tersadar. Kebetulan ada dokter yang akan mengambil barangnya yang ketinggalan di ruangan Nayla.


"Kamu sudah sadar."


Dokter itu memeriksa kondisi Nayla.


"Dok, dimana teman saya?."


Nayla tau kalau Tiara yang membawanya ke rumah sakit, karena saat perjalanan menuju kesana dia sedikit tersadar sebelum pingsan kembali.


"Rupanya teman Nona sedang keluar sebentar."


"Dokter, aku ada satu permintaan."


"Oh boleh, Nona membutuhkan apa?."


"Tidak dok, aku hanya ingin apapun hasil dari pemeriksaanku nanti. Temanku tidak boleh mengetahuinya. Aku mohon ya dok."


"Baiklah, sepertinya kalian dua sahabat yang saling menyayangi. Nona tidak usah khawatir, kami tidak akan memberitahukannya."


Hari demi hari, Tiara terus menemani Nayla yang di rawat di rumah sakit. Dia tidak pernah pulang ke rumah. Kalaupun untuk baju ganti Tiara selalu meminta art untuk membawakannya ke rumah sakit.


"Tiara, kamu pulang saja. Aku merasa tidak enak dengan tuan Arga. Lagi pula aku baik-baik saja. Dokter mengatakan kalau aku hanya dehidrasi."


"Aduh!."


Tiara menepuk jidatnya, selama 4 hari ini dia melupakan suaminya begitu saja. Lalu Tiara berpikir dan berkata,


"Aku disini lupa kepada mas Arga karena menjagamu. Tapi kenapa mas Arga tidak pernah menghubungiku ya!."


"Tiara, coba kamu hubungi tuan Arga."


"Baiklah, aku akan mencoba menghubunginya."


Tuuuut ... Tuuuut...


"Nomor yang sedang anda hubungi tidak dapat menerima panggilan anda atau sedang berada di luar jangkauan."


****

__ADS_1


Jangan lupa kasih like vote favorit hadiah juga komentar terbaik ny ya...


__ADS_2