Kisah Unik Seorang Gadis

Kisah Unik Seorang Gadis
Bab 90 - Sungguh kejam


__ADS_3

Tiara terbaring lemas di kasur, merasa sangat sakit dan lemah. Ia sangat berharap suaminya, Arga, dapat menghiburnya dan memberikan dukungan di saat-saat seperti ini. Namun sayangnya, Arga tidak memperdulikan kondisi Tiara dan bahkan terlihat tidak tertarik untuk mengetahui kondisinya.


"Nona... Apakah anda mau kami menghubungi tuan Arga?."


Saran salah seorang asisten yang menjaga Tiara yang merasa kasihan melihat kondisi Tiara yang semakin hari semakin sakit.


Ya, setelah kepergian Arga hari itu lalu Tiara pingsan dan hingga kini masih terbaring sakit di kamar selama satu minggu. Arga tidak pernah bertanya kabar tentangnya bahkan hanya berkunjung saja tidak lagi.


Pernah satu kali art menghubungi Arga pada saat Tiara pingsan dan mereka tidak tau harus melakukan apa. Tapi Arga tidak merespon nya dengan baik, hanya menyuruh para asisten itu untuk menjaga Tiara lebih baik.


Tiara merasa semakin sakit dari hari ke hari. Ia merasa tidak nafsu makan dan setiap kali mencoba makan sedikit pun, ia merasa mual dan muntah. Para asisten yang menjaga Tiara sangat khawatir dengan keadaannya, karena Tiara semakin lemah dan tidak berdaya.


Suatu hari Tiara bertanya,


"Bi... Apa tuan Arga ada pulang ke rumah?."


Dengan suara Tiara yang lemah.


"Tidak ada Nona...."


Tiara melihat ke arah jendela yang terus dia pandangi selama satu minggu ini dengan tatapan kosong.


Awalnya, Tiara merasa bingung setiap kali melihat bunga yang dikirim selama dia sakit ke rumahnya tanpa nama pengirim. Bunga-bunga itu selalu tiba setiap hari, dan terkadang juga dilengkapi dengan pengharum ruangan yang menjadi kesukaannya.


Meskipun tidak ada nama pengirim, Tiara mulai menyadari bahwa bunga-bunga itu mungkin berasal dari Reyhan. Tiara merasa tersentuh oleh perhatian Reyhan, Ia merasa bahwa Reyhan masih peduli padanya.


"Bi... Simpan bunga-bunga ini di ruang sebelah, jangan sampai tuan Arga melihatnya."


Pesan Tiara itu karena mengkhawatirkan Arga akan melihatnya dan mengetahui bahwa itu dari Reyhan. Dia tidak ingin membuat suaminya itu marah lagi.


Alina tiba-tiba datang mengunjungi rumah Tiara tanpa sepengetahuan siapa pun. Ketika ia tiba, ia melihat Tiara yang tergeletak di kasur karena sakit dan beberapa orang teman asisten yang sedang menjaganya. Alina tampak tidak senang dan merencanakan sesuatu yang kejam.


Saat semua asisten rumah tangga dan semua pekerja di rumah Tiara berkumpul karena perintah Alina. Tanpa basa-basi, Alina meminta semua orang untuk pergi dari rumah Tiara dan meninggalkannya sendirian. Alina tidak ingin ada orang lain yang merawat Tiara.


"Jika kalian masih ada disini, aku tidak akan segan-segan kepada keluarga kalian yang berada di kampung! Cepat tinggalkan rumah ini!."


Para art itu merasa tidak nyaman dengan permintaan Alina, namun akhirnya mereka memilih untuk pergi dan membiarkan Tiara sendiri.


Beberapa art merasa tidak yakin dengan keputusan tersebut. Mereka merasa bahwa Tiara seharusnya tidak ditinggalkan sendirian dalam kondisi seperti itu tapi mereka juga takut keluarga mereka akan di sakiti Alina.


Pada satu waktu, Tiara merasa kesulitan berdiri dan ingin ke kamar mandi lalu memanggil asisten nya.

__ADS_1


"Bi...? Bibi...? Tolong bantu aku."


Hening tidak ada jawaban...


"Bi...?."


Tiara mencoba terus memanggil art nya tapi tidak kunjung tiba, lalu Tiara mencoba bangkit sendiri dan berjalan tergopoh-gopoh keluar kamar melihat sekitar.


Nampak rumah begitu sepi, gorden rumah pun masih tertutup tidak seperti biasanya, lampu pun masih menyala meski sudah siang hari.


"Kemana semua orang? Bi...?."


Tiara kembali ke kamarnya dan pergi ke kamar mandi. Setelah itu Tiara tidak mendapati art nya datang juga. Dia sudah merasa lapar dan kehausan tapi tidak berdaya untuk turun tangga karena kondisi nya yang sangat lama.


Akhirnya Tiara hanya kembali berbaring lagi di kasur dengan pipinya yang sudah tirus dan badannya yang kering karena tidak ada makanan yang masuk. Sungguh memprihatinkan.


Sore hari di rumah Reyhan...


"Tuan Reyhan... Ada paket bunga untuk anda."


Reyhan berpikir dan menyadari kalau bunga itu adalah bunga yang dia berikan kepada Tiara.


"Mas kurir nya mengatakan jika di rumah alamat tujuannya tidak ada orang satu pun."


"Ya sudah, terima kasih."


Reyhan masuk ke kamar dan membawa bunga itu di tangannya.


"Apakah Tiara tau jika bunga ini aku yang kirimkan?."


Reyhan mencoba menelpon ke telpon rumah Tiara tapi tidak ada yang mengangkatnya seorang pun. Reyhan merasa hawatir, lalu mencari tau keadaannya dan mendapatkan informasi jika sekarang Tiara tinggal sendiri di rumah tanpa perawatan seorang pun padahal sedang sakit. Reyhan mengepalkan tangannya dan merasa marah kepada Arga.


"Pak Arga, anda sudah keterlaluan!."


~


"Air... Aku butuh air... Ambilkan aku air...."


Tiara terbaring lemas di tempat tidur, mengigau karena kehausan yang tak tertahankan. Wajahnya terlihat pucat dan bibirnya yang kering dan pecah-pecah tidak bisa berbicara karena kehausan.


Namun, kondisi Tiara sangat lemah sehingga ia tidak bisa bangun untuk mengambil air minum.

__ADS_1


Tiara terus mengigau dan merintih karena rasa sakit dan kehausan yang dirasakannya, namun tidak ada seorang pun yang mendengar keluhannya.


Tiara merasa putus asa dan terpuruk karena tidak ada yang bisa membantunya. Namun, ia terus berjuang untuk bertahan hidup dan berharap agar seseorang akan datang menemukannya segera.


Di saat-saat terakhir rasa haus Tiara, tiba-tiba ada seseorang yang memberikannya segelas air dan langsung di minum Tiara dengan cepat sampai habis.


Tiara menyodorkan gelas dan ingin minta minum lagi, tapi saat Tiara membuka matanya, dia melihat Alina yang sedang menyeringai mentertawakan Tiara.


"Apa kamu haus, Tiara? Aku akan membantumu."


Alina mengucurkan air dalam teko tapi bukan ke gelas yang Tiara pegang melainkan ke bawah lantai secara percuma.


"Ups! Maaf, aku tidak sengaja."


Alina tertawa senang di atas penderitaan Tiara.


"Aku sangat kasihan padamu Tiara, kamu di tinggalkan suamimu dan orang-orang yang membantumu. Kini kamu hanya seorang diri tidak berdaya."


Tiara hanya diam dan tidur kembali tidak merespon perkataan Alina. Melihat sikap Tiara yang acuh, Alina bereaksi dengan menarik baju Tiara dan berkata,


" Cepat berlutut di hadapanku! Dan memohon agar aku menolongmu!."


Tiara tertawa meledek sehingga membuat Alina semakin murka.


"Baiklah, kamu yang keras kepala! Jangan salahkan aku jika kamu mati kelaparan."


Tiara membalikkan badannya membelakangi Alina dan memajamkan matanya.


"Tiara, aku mempunyai satu cara. Reyhan... Bagaimana kalau aku memanggilnya kemari untuk menolongmu. Aku dengar kalian adalah mantan kekasih yang masih saling mencintai. Jadi aku pikir jika dia mengetahui keadaanmu sekarang pasti dia akan segera kemari."


Tiara membuka matanya dan memikirkan apa yang Alina katakan. Lalu Tiara membayangkan momen indah ketika pertama kali bertemu dengan Reyhan dan saat-saat ketika masih menjalin hubungan dengan Reyhan.


Hal itu membuat Tiara tergerak dan merasa jika Reyhan adalah satu-satunya orang yang bisa menolongnya.


"Kamu bisa melakukan apa untukku?."


Tiara membuka mulutnya dan mulai bicara kepada Alina dan Alina langsung merespon lalu mendekati Tiara dan berbicara padanya.


"Kamu dan Reyhan lebih baik kawin lari saja."


Saran Alina kepada Tiara dan Tiara pun memikirkan sesuatu.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Jangan lupa kasih like, vote favorit hadiah juga komentar terbaik ny ya...


__ADS_2