
"Tiara ... Kamu yakin mau tidur disini?."
"Iya Nayla .... Rembulan malam ini sangat indah dan terang. Aku ingin tidur di bawah sinar rembulan."
Tiara sedang rebahan di ayunan yang berada di balkon teras kamarnya. Nayla menyiapkan bantal dan selimut untuk Tiara gunakan.
"Ya sudah, selamat istirahat. Ingat, jangan tidur terlalu malam ya. Kamu baru sembuh."
"Iya ... Bawel."
Tiara memanyunkan bibirnya karena Nayla yang selalu menasehati majikan sekaligus sahabat nya itu.
Saat Nayla membuka pintu kamar untuk keluar dari kamar Tiara. Arga juga akan membuka pintu kamar Tiara.
"Tuan ...."
Sapa Nayla dengan hormat.
"Apakah Tiara sudah tidur?."
"Iya tuan ... Nona sedang beristirahat di balkon."
"Di balkon?." Heran Arga.
"Saya permisi dulu tuan."
Nayla berlalu dan menuju kamar istirahatnya. Sambil sesekali melihat ke belakang khawatir. Apa yang akan di lakukan Arga terhadap sahabatnya itu.
Arga masuk ke kamar Tiara dan melihat hanya lampu tidur yang masih menyala. Tapi Arga tidak mendapati Tiara di tempat tidur. Memang benar kata Nayla. Istrinya sedang tidur di ayunan.
"Pantas saja kamu sakit!. Kamu sangat ceroboh, tidur di sembarang tempat."
Tiara di kejutkan dengan suara Arga yang tiba-tiba saja datang. Lalu bangun dan duduk. Arga juga duduk di samping Tiara dan melihat sekitar.
"Rembulan malam ini sangat indah ... Aku hanya ingin menikmati suasananya."
"Tapi kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu. Kamu baru sembuh, angin malam hari tidak baik untukmu."
Arga melihat rembulan yang nampak bulat sempurna, lalu mengalihkan pandangannya melihat Tiara yang juga sedang melihat bulan.
Di bawah sinar rembulan, Tiara terlihat cantik alami. Dengan hidungnya yang mancung dan bibir ranumnya yang semerah buah cery. Bulu mata lentik yang naik turun ketika mata berkedip. Membuat Arga semakin terpesona.
"Tiara ...."
Panggilan lembut Arga membuat Tiara menoleh dan menjadikan keduanya saling berpandangan. Lalu Arga meraih tangan Tiara dan membelainya.
"Maafkan aku karena pernah meragukanmu."
Pandangan Arga semakin lekat ... dan wajahnya semakin mendekat ...
Cup ...
Arga mengecup bibir Tiara lembut.
"Pak Arga ...."
__ADS_1
Cup ...
Lagi ... Kali ini dengan durasi yang cukup lama semakin lama dan semakin membuat Arga bergairah. Tiara hanya menerima setiap kecupan Arga tanpa membalas ciumannya.
Arga menghentikan kegiatan nya saat nafasnya sudah tidak beraturan dan menyeka bibir Tiara yang basah karena salivanya. Lalu Arga menggendong Tiara ala bridle style menuju kamar.
Arga membaringkan Tiara di kasur secara perlahan. Dan membelai pipi Tiara.
"150 hari sudah terlewati, sekarang aku akan meminta hak ku sebagai suami."
Arga mulai dari mencium kening Tiara cup ... turun ke pipi cup ... lalu ke bibir. Arga sangat berga*rah, tangannya sudah tidak bisa di kondisikan dan menggerayang ke setiap lekukan tub*h Tiara.
Tiara merasakan sesuatu yang tidak biasa saat Arga melakukan setiap sentuhan nya dengan lembut. Hingga keadaan keduanya sekarang dalam keadaan polos.
Dengan mata sayu Arga melihat kedua gunung kembar milik Tiara yang di tutupi oleh tangan. Perlahan Arga menuntun Tiara untuk membiarkannya terbuka.
Lalu bermain dengan sepuasnya mere*as dan men*i*at seluruh bagian yang terlihat mulus dan kenyal tersebut.
Tiara yang sudah terbawa melayang karena ulah Arga tiba-tiba menghentikan kegiatan Arga yang semakin beringas.
"Hah... Hah... Pak Argaaa ... Hmpt."
Dua benda yang kenyal bertemu dan terus saling menyecap. Arga yang sudah tidak bisa menguasai dirinya terus berusaha memberi rang*angan pada Tiara. Sehingga membuat Tiara terus mengeluarkan suara desa*an.
Saat senjata Arga akan memasuki gawang ...
" Aaaaah ... Awwww ... Pak Argaaaa ...!."
Arga berhenti sejenak dan berkata sambil menahan nafas yang berat.
"Tenang sayang ... Aku akan melakukannya secara lembut dan perlahan. Tahanlah sebentar ya ... Hah ... Hah ...."
Arga terus bermain ke atas dan ke bawah dengan ritme yang pelan dan teratur.
"Urghhhh ... Aaah ... Tiara ... Kamu nikmat sekali oh ... Milikmu sangat sempit, aku menikmatinya aaah ...."
Sampai akhirnya Arga mempercepat permainannya ketika Tiara sudah or*as*e beberapa kali, dan di rasa Arga sudah berada di puncaknya lalu akhirnya Arga pun tumbang setelah menyemburkan benih yang sangat berharga itu.
Tiara terlelap tidur di pelukan Arga. Begitupun dengan Arga yang memeluk Tiara dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih Tiara ... Kamu sudah menjaganya untukku."
Cup ...
Kecupan penutupan di daratkan di kening Tiara. Peluh yang membasahi tubuh kedua insan setelah pelepasan tidak menghalangi mereka untuk terus berpelukan. Noda merah yang membekas di seprey berwarna putih membuat Arga bahagia dan semakin mengeratkan pelukannya.
Malam itu Arga membuktikan bahwa benar kasur king size mereka itu kini telah menjadi saksi kegiatan mereka, yang terus menerus di lakukan hingga kurang lebih sebanyak 5 ronde. Permainan yang sangat melelahkan terutama untuk Tiara.
Pagi harinya ...
Tiara masih terlelap tidur karena ulah Arga yang tiada henti membuatnya berolah raga malam. Sedangkan Arga sudah rapi dengan setelan santainya.
Hari ini Arga tidak masuk kantor dan hanya akan menghabiskan waktunya seharian ini di rumah. Layaknya pengantin baru.
Jam 9 pagi Tiara baru membuka matanya dan merasakan seluruh tubuhnya sakit dan terasa remuk.
__ADS_1
"Awww ...! Pak Arga ini benar-benar keterlaluan!."
Tiara berusaha turun dari ranjang secara perlahan dan mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya yang polos. Dengan tertatih tatih dan ringisan Tiara menahan perih karena rasa sakit di bagian sensitifnya.
Tiba-tiba Arga menggendong Tiara yang kesusahan berjalan dan membawanya ke kamar mandi.
"Pak Arga, saya bisa sendiri."
"Tidak apa-apa, aku akan membantumu."
"Terima kasih ... Sekarang silahkan Pak Arga keluar dari sini."
"Kenapa? Aku sudah melihat semuanya semalam."
"Pak Argaaaaa ...!."
Arga tersenyum nakal, lalu Tiara mendorong Arga agar segera keluar dari sana. Lalu Tiara mengunci pintunya.
Tok tok tok
"Sayang ...."
Tiara tidak menghiraukan Arga yang terus memanggilnya dari luar.
Tiara menatap dirinya dari pantulan cermin yang ada di kamar mandi. Betapa terkejutnya, sekarang kulit putihnya terdapat banyak tanda merah karena ulah Arga. Hampir seluruh tubuhnya terdapat tanda yang sama.
Entah apa yang di rasakan Tiara. Tiba-tiba saja dia meneteskan air mata. Permainannya semalam dengan Arga bukanlah murni keinginannya tapi dari sebuah keterpaksaan karena ikatan pernikahan dari sebuah wasiat.
Tiara merendamkan seluruh tubuhnya di bathub yang berisi air hangat dengan waktu yang cukup lama.
Kemudian Tiara membersihkan seluruh tubuhnya di shower dengan suara air yang kencang beradu dengan suara tangisannya. Tapi tidak sampai terdengar keluar karena dindingnya kedap suara.
Sekarang badan Tiara sudah fresh dan keluar dari kamar mandi. Arga yang bersandar di kasur terus menatap Tiara sambil tersenyum tanpa berpaling. Sedangkan Tiara hanya fokus memakai pakaian dan merapikan diri.
"Kenapa?."
Tiara bertanya kepada Arga yang tiada berhenti melihatnya.
"Aku hanya sedang melihat istriku yang sangat cantik."
Lalu Arga menghampiri Tiara seraya memeluknya dan berkata,
"Tiara ... Terima kasih, kamu telah membuatku menjadi orang yang sangat spesial. Tetaplah di sisiku hingga akhir hayatku. Ya?."
Arga melonggarkan pelukannya dan menatap Tiara meminta persetujuan. Dan di balas dengan senyuman Tiara.
"I LOVE YOU ...."
Hening ...
...... ..... ......
"Aku sudah lapar ...."
Bukannya membalas ungkapan Arga, Tiara malah mengalihkan pembicaraan dengan berdalih ingin makan.
__ADS_1
****
Jangan lupa kasih like vote favorit hadiah juga komentar terbaik ny ya...