
"Tiara, hari ini sepupu dari pak Arga akan datang kemari. Dia ingin gaun pernikahan nya perusahan kita yang mendisign. Nanti sekitar pukul 10 kamu temui dia di lantai dua untuk pengukuran dan minta contoh desain yang dia inginkan ya," perintah bu Mira.
"Baik Bu".
Tok... tok.. tok...
"Nona indira...."
TOK! TOK! TOK!
"Nona... Nona ...!."
" Sepertinya tidak ada orang."
Tok! tok! tok!
"Nanti aku kembali lagi kesini mungkin Nona Indira belum sampai," sangka Tiara. Dia segera beranjak.
Tiba-tiba....
"Uhuk! uhuk!."
Tiara mendengar sesuatu dari dalam. Ketika membuka pintu Tiara terkejut karna mendapati ada yang berusaha membunuh nona Indira.
"Hei!!! Apa yang kamu lakukan! lepaskan!!."
Tiara berusaha melepaskan tangan pembunuh yang sedang mencekik nona Indira. Lalu Tiara mengambil pas bunga dan memukul kepala penjahat tersebut hingga terjatuh dan pingsan.
" Nona... nona...! bangun!."
Tiara mencoba membangunkan nona Indira.
Tiba-tiba dari belakang penjahat itu menarik dan mencekik Tiara hingga kehabisan nafas. Lalu Tiara menendang nya, dan berlari ke luar meminta pertolongan.
"Tolong... ! tolong... !."
Tidak lama banyak orang yang mendengar teriakan Tiara dan menghampirinya. Termasuk Reyhan.
"Ada apa??" tanya Reyhan
__ADS_1
"Cepat tolong dulu nona Indira."
Tidak lama berselang pihak kepolisian datang menangkap penjahat dan membawanya ke kantor polisi. Sedangkan nona Indira di bawa ke rumah sakit. Walaupun sudah sadar dari pingsan nya, tetapi dia merasa syok dan sesak.
"Kamu tidak apa-apa?."
Reyhan menghampiri Tiara yang nampak kewalahan. Dia tidak ke rumah sakit karna dia merasa baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa hanya lecet sedikit."
"Tunggu sebentar...!."
Tiara memijit-mijit tangannya, mengusap dan meniup lukanya.
"Ini...."
Reyhan memberikan sebuah salep luka.
"Apa ini??."
"Oleskan pada lukanya nanti akan segera membaik."
Tiara berpikir sejenak lalu berinisiatif mendekati Reyhan.
"Bisakah anda tolong oleskan pada luka ku...?."
Tiara menghapus jarak diantara mereka sampai seperti tidak ada jarak sambil menyodorkan salep.
Reyhan mundur ke belakang, membuat Tiara penasaran atas respon Reyhan.
"Kenapa??."
"Maaf tidak baik lawan jenis terlalu dekat seperti itu." Tiara memicingkan matanya.
Flashback
"Bu Mira... bolehkah aku bertanya sesuatu??Bu Mira kan sudah lama bekerja disini... Apakah ibu tau karyawan yang Bernama Tina yang dulu pernah bekerja disini?."
Bu Mira terkejut mendengar pertanyaan Tiara.
__ADS_1
"Aku tidak tau."
Bu Mira menjawab dengan penuh penyesalan karena sudah membohongi Tiara. Padahal sesungguhnya dia tau tentang Tina. Lalu
Tiara bertanya sekali lagi.
"Apakah ibu benar-benar tidak mengetahui nya?."
" Memang nya kenapa kamu bertanya tentang dia?" tanya bu Mira penasaran.
"Kak Tina itu kakak ku, keluargaku satu-satunya. Tapi dia sudah meninggal."
Tiba-tiba bu Mira menarik Tiara dan menjauh dari keramaian dan bicara dengan pelan-pelan.
"Kamu tidak boleh membicarakan Tina lagi disini. Kejadian itu adalah musibah yang sangat menggemparkan perusahaan ini dan banyak memakan korban. Sekarang kakakmu sudah tenang disana, kamu harus mengikhlaskan nya. Dan jangan mengungkit ungkit lagi ya... "pinta bu Mira.
" Aku sudah menebaknya. Kakakku memang bukan bunuh diri tapi dia di bunuh. Apakah Ibu tau pembunuhnya? "
" Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa, aku percaya kakakmu adalah perempuan baik-baik dia tidak mungkin melakukan perbuatan Tercela. Saat itu Tina bercerita padaku kalau dia telah di nodai seseorang, tapi dia tidak mengatakan siapa orangnya ."
"Apakah Ibu tau ini milik siapa?."
Tiara mengeluarkan sesuatu dalam sakunya. Sebuah pin yang ditinggalkan kakaknya dan disimpan baik-baik oleh kakak nya itu.
"Coba aku lihat."
"Ini adalah pin dari keluarga terpandang dan ini keluaran edisi terbatas biasanya kepemilikan husus, disini sepertinya ada nama nya."
Hening sejenak.
"Reyhan dalam bahasa latin." lanjut bu Mira.
Deg...
" Jadi orang yang selama ini aku cari ada di depan mataku." Emosi Tiara.
****
Jangan lupa kasih like, vote, favorit dan komen nya ya kak... Terima kasih atas dukungannya 🙏
__ADS_1