Kisah Unik Seorang Gadis

Kisah Unik Seorang Gadis
Bab 88 - Dunia seperti runtuh


__ADS_3

Arga membawa Alina ke rumah sakit setelah Alina terjatuh di kantor. Alina sangat kesakitan di bagian perutnya dan tidak dapat berbicara dengan jelas. Arga sangat khawatir dan mencoba untuk menjelaskan kepada dokter apa yang terjadi.


Setelah beberapa waktu, dokter memberi tahu Arga bahwa Alina sedang mengandung dan beruntung kandungannya tidak apa-apa, meski begitu kecelakaan barusan hampir membuat Alina keguguran. Arga merasa sangat bersalah karena dia tidak bisa melindungi Alina dan calon bayinya yang baru saja dia ketahui.


"Mas... Aku dimana?." Alina mulai siuman setelah tidur beberapa jam.


"Sayang kamu sudah bangun? Kamu masih merasa sakit?."


Arga begitu mengahwatirkan Alina, apalagi saat dia tau sekarang Alina sedang mengantungi anaknya, keturunan yang selama ini sudah dia tunggu-tunggu.


"Aku tidak apa-apa Mas."


Alina mencoba bangun dan duduk, tapi Arga melarangnya dan menyuruh Alina untuk rebahan saja sambil mengelus perutnya.


Alina merasa heran dengan sikap Arga yang terus mengelus perutnya sambil senyum-senyum.


"Mas... Kamu kenapa?."


Arga tersenyum, "Alina, selamat... Kamu akan menjadi seorang ibu dan aku akan segera menjadi seorang ayah."


Arga mencoba untuk menjelaskan situasinya kepada Alina, tetapi Alina tidak sepenuhnya mengerti dan masih merasa bingung. Apalagi Alina harus menerima kenyataan kalau sekarang dia berbadan dua, hal yang sama sekali tidak di inginkan nya karena dia pikir kehamilan akan membuat badannya menjadi rusak dan dia tidak mau itu.


Sementara itu, Tiara datang ke rumah sakit untuk menjenguk Alina. Namun, ketika Arga melihat Tiara, dia langsung marah dan menuduh Tiara telah sengaja mendorong Alina. Tiara sangat terkejut dan mencoba menjelaskan bahwa itu tidak di sengaja.


Arga mengabaikan penjelasan Tiara dan terus menyalahkannya atas kecelakaan Alina. Tiara merasa sangat kecewa dan sedih karena dia merasa tidak dihargai oleh Arga.


Alina yang melihat amarah Arga kepada Tiara mengambil kesempatan untuk menjadikan Arga lebih murka kepada istri pertamanya itu.


"Mas! Aku takut! Jangan biarkan Tiara mendekatiku, Mas!."


Arga dan Tiara melihat Alina yang menangislah histeris dan membuat Arga semakin melarang Tiara untuk berada di sana lalu mengusirnya keluar.


Saat di luar ruangan Arga berbicara keras kepada Tiara sambil mencengkeram tangan Tiara.


" Aw! Mas, apa yang Mas Arga lakukan? Ini sakit."


Arga melepas cengkeramannya lalu memperingati Tiara.


"Jika terjadi sesuatu kepada calon anakku, aku tidak akan pernah memaafkanmu Tiara. Ingat itu."


"Alina hamil?," jawab Tiara tidak menyangka.


"Ya, Alina hamil anakku. Anakku... Hal yang tidak akan pernah kamu berikan padaku!."

__ADS_1


Deg!


Alina tersenyum lebar di ranjang nya saat mendengar perdebatan antara Arga dan Tiara lalu berkata sambil mengelus perutnya,


"Ternyata saat ini kamu berarti juga, meskipun aku tidak tau siapa ayahmu yang sesungguhnya. Tapi aku akan memanfaatkanmu." Alina tersenyum licik.


Tiara duduk di koridor rumah sakit dengan perasaan sedih dan terpukul setelah dianggap bertanggung jawab atas kecelakaan Alina oleh Arga. Dia merenungkan perkataan Arga dan merasa kesal karena merasa tidak bersalah.


Tiara terus memikirkan kejadian itu dan merasa tidak adil. Dia merenungkan bagaimana dia dapat membuktikan bahwa dia tidak bersalah dan menghilangkan keraguan Arga terhadapnya.


Tiara melihat Arga menuju ke arahnya dan merasa sedikit gugup. Dia tidak yakin apa yang harus dilakukan, tetapi dia berharap bahwa Arga akan meminta maaf atas perlakuannya yang salah terhadapnya.


Namun, saat Arga semakin mendekat, Tiara merasa kecewa ketika dia melihat bahwa Arga hanya melewatinya saja tanpa menoleh sedikit pun. Tiara merasa sakit hati dan marah atas perlakuan Arga yang tidak adil.


Setelah kejadian itu, Tiara memutuskan untuk menghindari Arga dan berusaha untuk tidak bertemu dengannya.


Hari itu, Tiara berencana mengunjungi Alina lagi di rumah sakit, tapi hal itu adalah satu bahaya yang mengintai Tiara karena Alina sudah merencanakan sesuatu.


Saat tiba di ruangan Alina,


"Alina, apa kabarmu?."


"Ternyata kamu, Tiara. Aku baik, untuk apa kamu kemari? Bukankah Mas Arga sudah melarangmu?."


"Alina, aku datang kesini hanya ingin memintamu menjelaskan kepada Arga bahwa kejadian itu bukan di sengaja. Itu saja."


"Aku tidak mau, dengan susah payah aku mencari cara agar kau bisa berpisah dengan Arga tapi selalu gagal. Dan kali ini nasib baik sedang berpihak kepadaku."


"Apa kamu sungguh tidak akan melakukannya?."


"Tidak!."


Lalu Tiara hendak pergi, tapi bertemulah harga di depan pintu. Saat keduanya bertemu Alina mengunakan kesempatan itu untuk menelan obat yang langsung bereaksi.


"Aw! Perutku! Aw!."


Arga langsung panik melihat Alina yang kesakitan begitu pun dengan Tiara yang langsung keluar dan memanggil dokter. Tidak lama dia kembali di dampingi dokter.


Ketika dokter sedang memeriksa Alina didalam, Arga dan Tiara duduk menunggunya di luar. Tiara mencoba menenangkan Arga lalu Arga memeluknya.


"Mas... Tenanglah, Alina tidak makan apa-apa." nasihat Tiara sambil menepuk punggung Arga.


"Aku takut terjadi hal buruk kepada Alina terutama kepada calon anakku."

__ADS_1


"Mereka akan baik-baik saja, Mas. "


Lalu dokter keluar dari kamar Alina dan mengabarkan kalau Alina mengalami keguguran dan membuat Arga berhamburan masuk ke dalam di susul oleh Tiara.


Nampak di dalam Alina berpura-pura menangisi bayi yang gugur dalam kandungannya itu, dan lagi kini dia menyalahkan Tiara lagi.


"Aku sudah katakan! Aku tidak ingin bertemu denganmu! Aku merasa marah jika meliahtmu! Aku jadi stres dan harus kehilangan calon anakku hu hu hu."


Arga berdelik dan melihat ke arah Tiara dengan tatapan marah, lalu Arga menarik Tiara keluar dari rumah sakit menuju rumahnya.


Setelah sampai rumah, Arga mendorong Tiara hingga terpental di kursi.


" Mas!. "


" Diam! Sudah cukuplah Tiara! Aku tidak ingin mendengarmu memanggilku seperti itu! Wanita kejam!."


Deg!


"Apa maksudmu, Mas?."


"Dengarkan aku baik-baik, mulai hari ini aku tidak peduli lagi padamu! Kamu benar-benar wanita licik! Darinya dulu aku tidak pernah salah menilaimu. Satu kesalahanku adalah dengan menikahimu."


Jeder!


Tiara menatap tidak percaya dengan apa yang Arga katakan baru saja. Lalu mencoba berbicara baik-baik.


" Mas.... "


" Aku sudah katakan jangan memanggilku dengan sebutan itu!. "


Tiara merasa terkejut sehingga mundur ke belakang.


Kini Arga menatap Tiara dengan penuh emosi seakan ingin melahap Tiara.


"Jangan kamu pikir aku tidak akan bisa menceraikanmu!."


Tiara mengernyitkan dahinya, "Cerai?."


"Ya, cerai...."


Arga mengulang perkataan Tiara lalu membalikan badannya dan membelakangi Tiara lalu memejamkan matanya.


"Aku tidak yakin akan melanjutkan pernikahan ini." lanjut Arga dengan notasi suara yang merendah lalu pergi meninggalkan Tiara dengan sejuta tanya.

__ADS_1


Setelah kepergian Arga, sekitar tempat yang Tiara sedang berdiri terasa berputar kepalanya sangat pusing dan badannya menjadi lemah tidak berdaya lalu jatuh pingsan.


Salah seorang art yang melihat Tiara terbaring dan tidak sadarkan diri segera memanggil art yang lain untuk menolong Tiara dan membawanya ke kamar. Keadaan Tiara sangat mengkhawatirkan dengan wajah yang terlihat pucat.


__ADS_2