
"Kamu bisa kembali ke sisi Reyna dengan syarat memilih diantara pilihan. Kamu bisa memilih salah satunya."
Tiara tertegun memikirkan syarat yang akan di berikan Arga.
"Yang pertama : kamu katakan kepada Reyhan bahwa selama ini kamu telah membohongi perasaannya. Dan hanya memanfaatkannya saja.
Pilihan yang kedua : kamu harus membersihkan seluruh ruangan kantor."
"Aku akan memilih pilihan yang kedua."
Jawaban Tiara sontak membuat Arga tak percaya.
"Kenapa kamu memilih yang kedua?."
"Karena semua tentang aku dan Reyhan adalah kenyataan, bukan suatu kebohongan." tegas Tiara.
"Kamu! Kamu memang keras kepala!." lalu Arga pergi meninggalkan Tiara.
Pagi-pagi sekali, Tiara sudah ada di kantor dan mulai membersihkan setiap ruangan yang ada di kantor. Meskipun dengan banyaknya orang yang menggunjing dan membicarakannya, Tiara tetap fokus mengerjakannya.
Mulai dari menyapu, mengepel, lap kaca dan semua tugas yang biasa di lakukan OB Tiara kerjakan semua tanpa terkecuali.
__ADS_1
Hingga waktu menjelang sore Tiara masih dengan pekerjaannya. Tiara bukanlah robot yang bisa terus On, dia hanya manusia bernama wanita hingga akhirnya Tiara pingsan karena kelelahan.
Tiara terbaring di lantai sendirian, lalu Arga datang dan segera menggendong nya. Karyawan yang ada disana semua menyaksikan apa yang di lakukan Arga tapi tidak ada yang berani mencelanya karena dia sang penguasa, apapun yang di lakukan nya adalah kehendaknya.
Arga membawa Tiara ke kamar pribadi nya di kantor lalu membaringkannya. Arga menyeka keringat di wajah Tiara dan menyikapkan rambut yang menghalangi wajah Tiara. Arga terus memandangi wajah Tiara yang pucat, lalu mengelus pipi Tiara dengan iba, dia seakan menyesali syaratnya itu. Lalu Arga mengingat kata-kata Tiara.
"Aku tidak pernah membohongi perasaanku dan Reyhan. Itu semua adalah kenyataan."
Lalu Arga menjauhkan tangannya dari wajah Tiara. Hingga akhirnya Tiara sadar. Dan yang pertama dia lihat adalah sosok Arga yang sedang menatap dirinya.
"Akhirnya kamu sadar juga, kalau tidak mampu bekerja jangan memaksakan diri. Merepotkan orang saja."
"Pak Arga... mulai besok apa saya sudah boleh pulang?."
Pagi harinya... Tiara langsung pergi menemui Reyna. Akan tetapi Reyna sama sekali tidak ingin bertemu dengan Tiara.
Sekeras apapun Tiara memanggil dan menggedor pintu, Reyna tidak kunjung menemuinya. Hal itu membuat Tiara sangat bersedih.
"Nyonya... izinkan Tiara masuk dan menemui nyonya. Kenapa nyonya tidak mau menemuinya? Bukannya nyonya selalu berharap Tiara datang kesini lagi. Nyonya..."
Bujuk Nayla.
__ADS_1
"Biarkan dia pergi Nayla, aku tidak membutuhkannya disini."
"Nyonya.... " lalu Nayla inisiatif membuka pintu nya.
"Nayla! Apa yang kamu lakukan?." teriak Reyna.
Kemudian Tiara masuk dan langsung bersimpuh di hadapan Reyna.
"Nyonya... izinkan aku menjaga nyonya lagi... izinkan aku berada di sisi nyonya lagi... aku sangat merindukan nyonya, aku tidak akan meninggalkan nyonya lagi, nyonya...."
Tiara memohon pada Reyna dengan sungguh-sungguh bahkan dengan bercucuran air mata.
"Nyonya... saya tau nyonya selalu merindukan Tiara... nyonya selalu mengkhawatirkan Tiara. Sekarang Tiara sudah ada disini, izinkan Tiara menemani nyonya lagi."
Nayla juga ikut berlutut memohon.
"Kalian ini...."
Reyna memandangi kedua orang yang ada di depannya dengan kasih sayang.
"Tiara... memang benar aku sangat merindukanmu. Tapi seperti yang kamu ketahui, sekarang Reyhan sudah pergi meninggalkanmu dan menikahi perempuan lain. Dengan karakter kamu, aku hawatir... kamu akan menyimpan dan membawa perasaan marah mu dan tidak akan memaafkan Reyhan. Di samping itu, aku juga tidak ingin melihatmu menderita karena keputusan yang Reyhan ambil."
__ADS_1
"Nyonya... aku dan Reyhan sudah menjadi masa lalu. Aku sudah mengubur semua kenangan ku dengannya.... Aku tidak akan tinggal di masa laluku. Sekarang, aku sudah bahagia karena bisa bersama nyonya lagi. Nyonya sudah seperti kakak kandungku. Sekarang tujuan hidupku adalah untuk selalu bersamamu dan selalu menjagamu."
Akhirnya semenjak hari itu, Tiara tinggal di rumah Reyna lagi.