Kisah Unik Seorang Gadis

Kisah Unik Seorang Gadis
Bab 75 - Baru dapet lagi


__ADS_3

Bab 75


"Tiaraaa!."


Arga terbangun setelah pingsan selama satu hari.


"Mas, kamu sudah sadar?."


"Tiara? Dimana Tiara?."


"Mas, kamu baru siuman. Kamu harus istirahat dan jangan memikirkan yang lain."


Arga tidak mengindahkan nasihat Alina dan meluncuti impusan yang terpasang di tangannya. Dia segera turun dan keluar mencari keberadaan Tiara dan secara kebetulan Nayla bertemu dengannya.


" Nayla, dimana Tiara?. "


" Tuan, anda sudah sadar? Nona Tiara ada di ruang sebelah."


Arga segera ke ruangan Tiara di pandu oleh Nayla. Arga segera menghampiri dan memeluk Tiara yang masih terbaring tidak sadarkan diri.


"Mana dokter yang merawat istriku?!! Apa saja yang di lakukannya? Kenapa istriku masih belum bangun!."


"Tuan...."


Nayla merasa panik melihat Arga yang seperti kehilangan kendali.


"Tuan, jangan seperti ini. Kasihan nona Tiara."


Beberapa dokter dan suster datang dan masuk ke ruangan Tiara setelah mendengar keributan.


"Maaf Pak, kami harap anda bisa tenang. Kami akan berusaha secara maksimal agar pasien di tangani sebaik mungkin."


Arga menggenggam tangan Tiara dan tidak melepaskan pandangannya dari tubuh istrinya yang tiada berdaya.


"Pak..., anda juga terluka. Sebaiknya anda beristirahat di ruangan anda."


"Aku tidak apa-apa Dok, aku ingin disini dulu."


"Baiklah, tapi tolong kendalikan diri anda agar tidak mengganggu pasien."


"Ya."


Beberapa jam berlalu...


Tok tok tok


Nayla yang setia menunggu Tiara disana membukakan pintu. Tibalah Doni yang sebelumnya Arga hubungi agar segera menemuinya.


"Selamat sore Pak Arga."


"Selamat sore."


"Kamu kenapa kesini?."


Nayla berbisik sambil memegang tangan Doni.


"Pak Arga yang menyuruhku."


Doni menjawab pertanyaan Nayla secara berbisik juga.


"Ini bukan saatnya kalian untuk pacaran. Aku memanggilmu kesini agar kamu mencari kebenaran kecelakaan yang menimpa Tiara."


"Baik Pak."


"Selidiki masalah ini dengan detail dan tangkap semua orang yang terlibat."


Di saat Arga dan Doni sedang berbicara, terlihat Tiara yang mulai sadar. Nayla segera mendekati Tiara dan memberitahu Arga.


"Tuan, Tiara sudah sadar. Tiaraaaa, akhirnya kamu sudah sadar. Aku sangat ketakutan hu uu hu."


Nayla memeluk Tiara saking senangnya. Lalu Arga yang sudah di dekat Tiara pun menyuruh Nayla untuk memberikan waktu untuknya.


"Sayang, syukurlah kamu sudah sembuh."


Arga memeluk Tiara dengan satu tangan sedangkan tangan satunya lagi menggantung memakai gif. Tangan Arga terluka saat menghalangi kepala Tiara.


"Mas, tanganmu?."


"Ini tidak apa-apa sayang. Sebentar lagi juga sembuh. Syukurlah kamu sudah siuman."


"Maaf Pak, kami akan memeriksa pasien dulu."


Dokter segera melakukan pemeriksaan ulang saat Tiara baru sadarkan diri. Untungnya tidak terjadi hal buruk apapun padanya. Hanya syok dan luka ringan yang perlahan lahan sembuh kembali.


Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Tiara di bolehkan pulang dan beristirahat di rumah.


Arga merawat Tiara dengan penuh perhatian. Meskipun banyak orang di sisi Tiara, tapi Arga tetap ingin turut menjaga istrinya.


Pemeriksaan polisi tentang kejadian kecelakaan itu tidak membuahkan hasil, karena tepat pada saat itu seluruh cctv di rumah dalam keadaan mati. Jadi tidak ada rekaman apapun yang memperlihatkan jelasnya kejadian itu.


Dan kali inipun Alina terbebas dari hukuman. Karena memang kejadian itu Alina yang merencanakan, siapa lagi coba.


"Tiara, aku membuatkan bubur untukmu."


Alina masuk ke kamar Tiara dan berpura-pura memberikan perhatian.


"Aku membuat bubur kesukaanmu, lihatlah."


Tiara tidak bergeming. Hal itu membuat Alina berdelik kesal tapi tetap berpura-pura.


"Tiara, kamu harus makan. Aaa."

__ADS_1


"Alina, lebih baik kamu tidak melakukan hal yang bertentangan dengan hatimu. Itu hanya akan membuatmu merasa cape."


Merasa terabaikan dan terpojokan akhirnya Alina keluar dari kamar tiara dan mengerutu dalam hatinya.


"Siapa juga yang ingin bersikap baik denganmu! Dasar wanita ja*ang!."


Saat amarah Alina sedang bergejolak, dia melihat Arga yang berjalan menuju kamar Tiara. Lalu dia segera menghadangnya dengan berpura-pura menangis sehingga menarik perhatian Arga.


"Alina, kenapa kamu menangis?."


"Hiks hiks hisk... Mas...."


Alina membawa Arga menjauh dari kamar Tiara dan menuju kamarnya. Kemudian dia mengadu hal-hal yang tidak benar. Dia bercerita bahwa Tiara sangat membencinya dan menyalahkan semua kejadian yang menimpanya adalah kesalahan Alina.


"Mas, aku hanya ingin memberi perhatian padanya. Tapi dia malah berburuk sangka padaku dan mengatakan semua ini terjadi karena aku!."


"Sudahlah Alina. Tiara baru sembuh, dia perlu beristirahat. Untuk sementara kamu jangan menemuinya dulu."


"Apa sebaiknya aku pindah rumah saja? Mungkin Tiara keberatan aku tinggal disini."


"Terserah kamu saja. Aku akan menemui Tiara dulu."


"Mas! Kamu tidak mencegahku pergi dari sini?."


"Alina, aku sedang banyak pikiran. Aku harap kamu jangan menambah pikiranku dengan rengekanmu. Kalau kamu mau melakukan apapun silahkan, lakukanlah."


Arga segera pergi dari kamar Alina sehingga membuat gadis yang mempunyai tinggi badan sempurna juga wajah cantik bak model terkenal itu merasa semakin marah.


Di kamar Tiara...


" Sayang, kamu sudah makan obat?. "


" Sudah."


Arga melihat bubur yang tadi di bicarakan Alina. Bubur yang masih utuh dan belum di makan.


"Tiara... Alina hanya bermaksud baik padamu. Jangan berburuk sangka padanya. Lihatlah, dia sengaja membuatkan bubur untukmu. Tapi kamu sama sekali tidak menghargainya dengan tidak memakannya."


Arga berbicara panjang lebar, tapi Tiara tidak bergeming.


"Tiara, kenapa kamu hanya diam saja?."


"Aku rasa, aku tidak perlu menjelaskan apapun pada Mas Arga jika Mas menganggap seperti itu."


"Tiara, bukan maksudku untuk menyalahkanmu. Aku hanya ingin kedua istriku akur, tidak ada perselisihan apapun."


"Aku tidak pernah membuat masalah apapun pada Alina Mas, tapi semenjak kejadian akhir-akhir ini. Aku mencurigai Alina mempunyai niat jahat pada keluarga kita."


"Apa maksudmu Tiara?."


Arga menghela nafas, dan segera mengakhiri topik pembicaraan mereka.


"Tidak Mas, aku sedang tidak ingin pergi kemanapun. Aku hanya ingin di rumah saja."


"Baiklah, memang lebih baik kamu banyak beristirahat."




Malam hari...



"Sayang, malam ini aku ada acara dan akan makan malam di luar. Tidak apa-apa jika aku tinggal?."



"Tidak apa-apa."



"Mas Arga... Ayo!."



Alina tiba-tiba saja nyelonong masuk ke kamar Tiara. Sama sekali tidak punya sopan santun.



"Makan malam bersamanya, Mas?."



Arga merasa tidak enak karena tidak berterus terang pada Tiara.



"Ya Tiara, ak~...."



"Sepertinya aku harus mengunci otomatis kamarku, agar tidak sembarangan orang bisa masuk dan tidak sopan!."



Alina mendengar perkataan Tiara tapi menganggapnya masa bodo. Berbeda dengan Arga yang merasa tidak nyaman oleh Tiara dan berkata,



"Alina, lain kali kamu harus mengetuk pintu jika akan memasuki kamar orang lain, mengerti?."

__ADS_1



"Iya Mas, maaf aku tidak sengaja. Lain kali aku tidak akan mengulanginya."


Jawab Alina malas.



"Cepat dong Mas... Nanti kita terlambat."



"Kamu tunggu saja di mobil, nanti aku menyusul."



Arga membungkuk dan mendekati Tiara.



"Sayang..., aku pergi dulu."



"Jika aku melarangmu pergi, apa kamu akan tetap pergi, Mas?."



"Apa maksudmu?."



Kemudian Tiara berdiri dan lebih mendekati Arga seraya memeluknya dan membisikkan beberapa kata,



"*Bukankah kita sudah lama tidak bersama... Apakah Mas tidak merindukannya*?."



Lalu Arga melihat wajah Tiara dan merasa tidak percaya bahwa Tiara mengatakan hal yang akan menggodanya. Lalu mereka berc\*uman perlahan sampai memanas.



Di tengah aktifitas mereka, Arga menghentikannya lalu menuju pintu dan segera menguncinya.



Setelah itu mereka melanjutkannya di ranjang yang sudah lama tidak mereka gunakan. Jas dan pakaian Arga yang sudah rapi pun kini sudah bergeletakan di lantai.



"Mas Arga mana sih!."



Alina merasa kesal karena Arga belum turun dan keluar rumah, di telpon pun selalu tidak di angkat.



Tut...tut...!



"Hallo!."



"Hallo! Mas! Kenapa kamu lama sekali?."



"Alina acara malam ini kita batalkan saja."



Pinta Arga dengan suara parau dan nafas berat.



"Kenapa Mas?."



"*Aaahh... Ouch... Akhhh Maaaas... Oh*!."



Mendengar suara de\*ahan dan suara-suara pemersatu bangsa di ujung telpon sana membuat Alina segera menutup telponnya.



"Sialan kamu Tiara! Akkhh...!!!."



\*\*\*\*



Jangan lupa kasih like vote favorit hadiah juga komentar terbaik ny ya...

__ADS_1


__ADS_2