
Bab 24
"Tiara....Tiara , bangun Tiara!."
Reyhan memeluk Tiara dan menggendong nya. Sangat nampak kesedihan Reyhan melihat kekasih hatinya itu terluka. Dengan sigab dia segera membawanya ke rumah sakit.
Para penjahat pun ditangkap polisi yang sebelumnya ikut bersama Reyhan.
"Tiiittttt... tittttt... tittttt!."
Suara mesin di rumah sakit terdengar nyaring. Impusan dan oksigen masih terpasang di tangan juga hidung Tiara.
Selama dua hari ini Tiara belum sadarkan diri. Setelah kejadian penculikan itu seakan menjadi trauma yang besar untuk Tiara.
Reyhan mengganti kompresan di kepala Tiara. Dia selalu di samping dan menjaga Tiara. Selama dua hari itu juga Reyhan meliburkan semua aktifitas dan pekerjaannya demi untuk menemani Tiara.
"Maafkan aku Tiara... jika aku tidak telat sedikit saja mungkin kamu akan baik-baik saja."
Reyhan mengelus rambut Tiara dengan penuh kasih sayang.
Dan... cup....
Satu kecupan hangat di kening Tiara mengungkapkan rasa sayangnya dan menggiringnya untuk tidur di kursi samping Tiara.
Esok harinya...
" Bagaimana keadaan Tiara?."
" Dia masih belum siuman. Dokter mengatakan selain karna kekerasan, Tiara juga trauma atas semua kejadian yang telah menimpanya beberapa hari ini."
Samar - samar Tiara mendengar dua orang yang sedang berbicara dan akhirnya mulai membuka matanya dan siuman. Orang yang pertama kali dia lihat adalah Reyhan.
__ADS_1
"Rey... aku dimana?."
" Tiara, kamu sudah sadar? aku akan panggilkan dokter."
" Tiara... syukurlah, akhirnya kamu siluman."
Suara lembut dari Reyna membuat Tiara semakin sadar.
"Nyonya... anda disini?." di balas senyuman Reyna.
Setelah Tiara sadar keadaannya berangsur membaik. Reyhan selalu ada menemani Tiara dan sekarang sedang menyiapkan bubur untuk Tiara.
"Rey... saat aku tertidur aku merasa ada seseorang yang menciumku."
"O yah, siapa?." Reyhan mengelak.
"Apa kamu benar-benar tidak melakukannya?."
"Aku? Mungkin kamu terlalu berkhayal tentangku, sampai kamu memimpikan kalau aku menciummu." goda Reyhan.
Tiara kebingungan, lalu Reyhan tertawa kecil.
"Rey! kamu membohongi ku... Awas kamu ya."
"Awww!." cubitan kecil Tiara membuat Reyhan memekik.
"Tiara, kamu harus beristirahat jangan melakukan hal yang akan membuat mu kecapean." sambil memegang erat tangan Tiara.
"Iya, pak dokter bawel."
Tiara mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Tiara, hari ini aku akan pulang dulu nanti aku akan kesini lagi setelah pekerjaanku selesai. Jika kamu perlu sesuatu panggil saja dokter atau suster, ya."
Reyhan berpesan dengan berat hati, karna sesungguhnya dia tidak mau meninggalkan Tiara sendirian di rumah sakit.
" Iya pak dokter." Tiara tersenyum.
Setelah kepergian Reyhan, Tiara turun dari tempat tidurnya dan melihat ke luar rumah sakit.
" Rey... terima kasih ... kamu selalu ada untukku. Terima kasih juga kamu sudah menempati satu ruang di diriku yang bernama hati." Tiara tersenyum bahagia.
"Nona saatnya minum obat dan tidur siang." seru suster. Tiara menurutinya dan terlelap tidur.
Setelah beberapa jam, Tiara membuka matanya dan melihat ada sosok pria yang dia ragukan keberadaannya. Tiara mengerjapkan matanya agar lebih jelas, ternyata memang benar.
Arga sedang duduk di sampingnya dan menatapnya.
"Pak Arga... anda sedang apa disini?."
Arga bingung harus menjawab apa, dia mendadak kikuk menghadapi pertanyaan Tiara.
"Eh ... itu ... aku... ~."
"Tiara, kamu sudah bangun?."
Kegugupan Arga terselamatkan dengan kehadiran Reyna yang keluar dari toilet.
"Nyonya... anda disini?." tanya Tiara.
"Aku meminta suamiku untuk mengantarku kesini, kamu sudah baikan?."
Arga mengusap mukanya kasar dan berkata,
__ADS_1
"Aku tunggu di luar, ada urusan." Pesan pada istrinya.
"Baiklah."