
Satu bulan kemudian... Arga sudah mulai menata rapih hidupnya kembali. Dia memutuskan untuk bangkit lagi menjadi seorang yang tangguh. Namun semenjak kepergian Reyna, Arga tidak pernah tidur dan menempati kamarnya bersama Reyna dahulu. Dia lebih memilih untuk tinggal di kamar yang lain.
Malam hari, ketika Arga sedang duduk di ruang kerjanya. Tiara datang dan menghampirinya.
"Pak Arga... Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."
"Apa? Katakanlah.."
"Saya akan berhenti bekerja dan keluar dari rumah ini."
Arga menghentikan aktivitas kerjanya yang sedang mengotak atik Laptop. Lalu melihat ke arah Tiara.
"Kenapa?
" Dulu saya tinggal di rumah ini karena nyonya meminta saya untuk selalu berada di sisinya. Tapi sekarang seperti yang kita semua ketahui. Nyonya sudah tidak ada di dunia ini dan di rumah ini. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk saya tinggal disini. Saya mohon pamit. "
" Apakah kamu akan pergi meninggalkan aku juga?"
Tiara segera beranjak dari tempat itu lalu terhenti saat Arga bicara.
" Maaf... Aku hanya terlalu larut dalam perasaan. Itu adalah hidupmu. Jika kamu menginginkan pergi dari sini, aku tidak berhak untuk melarangmu."
"Terima kasih pak Arga."
Tiara berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang meninggalkan Arga yang terlihat nanar melihat kepergian Tiara.
"Tiara.... Apa kamu sebaiknya tinggal disini saja. Kalau kamu pergi aku disini dengan siapa?"
Nayla terus mengekor di belakang Tiara yang sedang membereskan pakaian nya dan menatanya di koper.
"Tiara..."
"Nayla... Apa kamu tidak bisa melihat, begitu banyak orang yang tinggal disini. Kenapa kamu bertanya akan tinggal bersama siapa. Kamu ini."
"Tiara..."
"Kamu harus menjaga dirimu baik-baik. Jangan lupa makan, dan jangan sering tidur terlalu malam. Kamu harus memperhatikan dirimu dulu sebelum memperhatikan orang lain."
"Tiara... Memangnya kamu mau tinggal dimana?
" Aku akan mencari kontrakan rumah lagi dan mencari pekerjaan."
"Bukankah kamu bisa bekerja disini juga? Dan tetap tinggal bersamaku? Aku sangat mengkhawatirkanmu."
"Nayla.. Pada awalnya aku kesini karena permintaan nyonya. Tapi aku tidak ingin terus menggantungkan hidupku kepada orang lain. Lagi pula nyonya sudah tidak ada disini."
"Tiara... Uhu... Hiks... Hiks.."
Pelukan hangat sebagai salam perpisahan kedua sahabat, yang awalnya selalu berdebat berubah menjadi sobat yang saling menyayangi.
Pagi harinya, Tiara berpamitan kepada semua orang yang tinggal disana dengan penuh rasa haru.
Tok tok tok..
__ADS_1
Tiara mengetuk kamar Arga untuk berpamitan, tapi tidak ada sahutan dari dalam menandakan tidak ada orang di dalam.
"Kak Tiara... Tuan Arga sudah sejak pagi keluar. Jadi beliau tidak ada di kamarnya."
"Oh.. Ya terima kasih."
Dengan mendorong sebuah koper, Tiara meninggalkan rumah besar itu. Nayla mengantar kepergian Tiara sampai ke ujung gerbang dan terus menangis.
Hiks.. Hiks...
"Sudahlah... Kamu ini bukan anak kecil lagi. Nanti air matamu habis lho.."
Bujuk Tiara sambil menyeka air mata Nayla yang terus keluar seperti air hujan yang deras.
"Tiara..."
Nayla memeluk Tiara sekali lagi dan melambaikan tangan.
Bukan hanya Nayla yang mengantar kepergian Tiara. Arga juga melihat Tiara untuk terakhir kalinya dari atas balkon. Dan tak terasa air matanya menetes, menyaksikan kepergian seseorang lagi. Kali ini dalam keadaan sadar.
Seperginya Tiara dari rumah Reyna. Arga mengatur penerbangan ke luar negeri untuk menenangkan diri. Dia ingin melupakan sejenak kehidupan pahit yang dia alami di rumah putih yang mewah dan megah itu.
"Daniel... Aku akan pergi untuk sementara. Kamu handle semua urusanku di perusahan."
"Baik pak.."
" Juga kamu atur seseorang untuk merenovasi rumahku. Aku ingin setelah kembali dari luar negeri, rumahku sudah rapih dan bisa ditinggali."
Pasalnya setelah kejadian kebakaran tempo hari, rumah Arga mengalami kerusakan sebanyak 5 persen.
Di temani secangkir kopi hitam Arabica dan roti yang super gede. Tiara mencari informasi lowongan pekerjaan di setiap koran yang menumpuk di mejanya. Beberapa di antara koran itu Tiara coret untuk di kasih tanda lalu mencoba menghubungi , tapi setiap pekerjaan sudah terisi. Hal itu tidak membuat Tiara putus asa dan terus berusaha. Lalu dia seperti mengingat sesuatu.
"Tiara jika suatu saat kamu membutuhkan pekerjaan, datanglah kesini pintu kami akan selalu terbuka untukmu."
Tiara teringat bos kafe coffee yang dulu dia pernah bekerja disana. Dan berencana untuk melamar pekerjaan di sana lagi.
Malam berlalu dengan cepat. Paginya Tiara hendak pergi ke kafe coffee. Dengan setelan simpel seperti biasa dan sepatu sport yang sedang dia kenakan sambil duduk dan bersandar di kursi depan.
"Tiara...!"
Orang yang di panggil namanya mencari keberadaan orang yang memanggilnya.
"Seperti suara Nayla, ah tidak mungkin."
Tiara menepis dan mengira dia salah mendengar.
"Tiara...!"
Terlihat Nayla sedang berjalan di blok sebelah menuju rumahnya. Antara bingung dan tidak percaya, Tiara hanya termangu sampai Nayla tiba tepat di hadapannya.
"Nayla? Kenapa kamu ada disini?"
"Tiara...! Aku sangat merindukanmu."
__ADS_1
Nayla langsung berhamburan memeluk Tiara untuk melepas rindunya. Agak lebay sih, padahal cuman berpisah dua minggu juga he he.
"Tunggu tunggu. Kamu disini dengan koper ini. Kamu kabur dari rumah itu?."
"Untuk apa aku tinggal disana, orang tuan rumahnya pun tidak ada disana."
"Pak Arga? Memangnya kemana dia?."
"Dua hari setelah kamu pergi, tuan Arga langsung tinggal landas terbang ke London. Katanya untuk berlibur, entah sampai kapan. Mungkin tidak akan kembali lagi kesini. Jadi aku mencarimu he he."
"Kamu ini, memangnya tidak ada rumah yang bisa kamu tuju selain kesini?."
"Aku bantu uang sewanya deh, kan rumah ini cukup besar kalau kamu tinggal sendiri, iya kan?."
"iya Nayla... Yuk masuk."
"Sepertinya kamu akan pergi? "
"Tadinya hari ini aku mau melamar pekerjaan."
"kerja dimana?."
"Aku mau mencoba melamar di tempat kerjaku dulu di kafe coffee."
"Ikut dong, aku juga mau melamar biar kita bareng kerjanya."
"Sip...."
Lamaran pekerjaan Tiara dan Nayla langsung di terima. Tanpa surat lamaran pun mereka sudah di terima. Hanya Tiara ingin melamar secara resmi.
Hari demi hari Tiara dan Nayla menikmati pekerjaan mereka. Dengan upah yang lumayan besar cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Di sela istirahat mereka sering menghabiskan waktu berdua sekedar untuk berbincang dan makan bersama.
"Tiara, apa kamu tau selama ini Reyhan dan Sarah tinggal terpisah. Entah apa yang terjadi pada mereka. Tapi menurut kabar rumah tangga mereka tidak harmonis. Sikap Sarah sudah keterlaluan. Mungkin alasan itu juga mereka seperti itu."
"Jangan suka membicarakan orang, Kualat tau." Tiara beranjak pergi tapi hatinya terenyuh mendengar nama Reyhan.
Di kontrakan.
"Nayla, besok kita pergi ke taman hiburan yuk, rasanya aku sudah lama tidak pergi kesana."
"Ingat... Kita sudah umur berapa? 22 tahun lho... Tiara, benarkah kamu ingin pergi kesana?."
Tiara hanya mengangkat kedua alisnya dan tersenyum, membenarkan pertanyaan Nayla.
Hu.... Hua.... Ye.... Yuhu.....
Teriakan Tiara dan Nayla saat naik bianglala.
Kedua gadis itu menikmati setiap permainan di taman fantasi layaknya anak ABG.
Mereka mencoba semua wahana yang ada di sana tanpa terlewati. Gelak tawa mereka menunjukkan bahwa bahagianya mereka saat ini, terasa tidak punya beban.
****
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, favorit, hadiah juga komentar nya ya...