
Arga terbangun dari tidurnya dengan senyuman bahagia di wajahnya saat ia melihat Tiara tidur di sampingnya. Dia tak percaya bahwa dia benar-benar bersama Tiara.
"Wah, Tuhan, terima kasih! Aku tidak bisa mempercayai keberuntungan yang aku miliki," batin Arga.
Tiara mulai terbangun "Hm, pagi yang indah."
"Halo, sayang. Apa kamu tidur nyenyak?."
"Iya, tidurku sangat nyenyak. Terima kasih untuk kemarin malam."
Arga tersenyum lebar, "Kamu tahu aku sangat senang kamu ada di sini di pelukan ku."
Tiara juga tersenyum, "Sama-sama, aku juga merasa nyaman di sampingmu."
Arga tersenyum lebih lebar lagi, "Aku harap kita bisa melakukannya lagi lain kali."
"Kenapa harus lain kali? Kenapa tidak sekarang saja?."
Arga membelalakan matanya tidak percaya lalu mereka melakukannya lagi sampai beberapa babak. Di tengah pergulatan mereka Arga berbisik,
"Sayang... Kenapa punyamu terasa sempit? Seperti pertama kali saja."
"Kamu senang dan menikmatinya kan Mas?."
"Iya sayang... Cup cup cup."
Arga dan Tiara kemudian tertawa bersama dan saling berpegangan tangan sambil merasa sangat bahagia di pagi hari yang indah ini. Mereka menyadari bahwa mereka sangat menyukai satu sama lain.
"Mas... Aku ingin bertanya satu hal, boleh?."
"Ya, katakanlah."
"Di rumah aku sering merasa bosan dan tidak ada kegiatan. Begitu banyak waktumu luang yang aku habiskan secara percuma. Bagaimana kalau aku bekerja lagi di kantor?."
"Untuk apa sayang... Kamu tidak usah bekerja, diam saja di rumah. Bukankah aku sudah mencukupi keperluanmu?."
"Iya Mas... Tidak ada kekurangan apapun yang Mas berikan padaku, hanya saja aku ingin ada kegiatan lebih itu saja. Lagi pula, kalau aku ikut bekerja kita bisa setiap waktu bertemu bukan?."
"Ya... Terserah kamu saja. Tapi jika di kantor kita tetap harus profesional."
"Siap Pak! Ha ha ha ha."
Akhirnya kamar itu hangat lagi dan di hiasi oleh gelak tawa kedua penghuni. Nayla yang mendengarnya ikut tersenyum bahagia.
Sekarang Nayla merasa bebannya berkurang dan saatnya mempererat hubungannya dengan Doni setelah lama tertunda karena memikirkan masalah Tiara.
__ADS_1
Setelah mendapat izin dari Arga untuk bekerja di kantornya, Tiara mulai bekerja sebagai karyawan baru. Karena tidak memiliki pengalaman kerja sebelumnya, ia memutuskan untuk memulai sebagai sekretaris kedua di kantor tersebut, yang sudah diisi oleh Alina.
Tiara: Selamat pagi, Bu Alina.
"Selamat pagi..., Tiara? Bagaimana kamu bisa ada disini?. "
"Mulai hari ini saya akan bekerja disini. Saya ingin memberitahukan bahwa saya siap bekerja sebagai sekretaris kedua, jika itu masih memungkinkan."
"Bagaimana bisa~."
"Alina, kamu harus bersikap profesional di kantor. Mulai sekarang Tiara akan bekerja disini."
"Mas Arga?." Alina kesal karena Arga memutuskan satu hal tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Lalu mencoba bersikap profesional meski dalam hatinya dia tidak menerimanya.
" Tentu saja, Tiara. Kamu dipersilakan untuk memulai pekerjaanmu hari ini. Kamu akan membantu saya dalam mengatur jadwal dan menjawab panggilan telepon," lanjut Alina.
"Baik, Bu. Saya akan melakukannya dengan baik. Terima kasih sudah memberi kesempatan ini."
"Tidak perlu berterima kasih, Tiara. Saya senang bisa bekerja denganmu. Jangan ragu untuk bertanya jika ada yang tidak kamu mengerti."
"Baik, Bu. Terima kasih banyak. Saya akan berusaha sebaik mungkin.
" Saya yakin kamu akan melakukannya dengan baik, Tiara. Selamat bekerja!. "
Tiara menatap kepergian Alina yang merasa kesal atas kehadirannya lalu berkata,
Tiara menghabiskan hari pertamanya bekerja di kantor Arga dengan berbagai tugas dan tantangan baru. Ia merasa sedikit tegang, tapi juga antusias dan siap untuk belajar dan menunjukkan kemampuannya.
Hari itu, Tiara bertemu dengan berbagai orang di kantor dan berusaha untuk mengenal lebih dekat dengan lingkungan kerjanya.
Di ruang kantor Arga...
Alina mulai merasa tidak nyaman dengan kehadiran Tiara di kantor setelah Arga mempekerjakannya sebagai sekretaris kedua. Alina merasa bahwa Tiara adalah ancaman bagi posisinya dan tidak ingin kehilangan kepercayaan Arga terhadapnya. Dia mulai mengeluh dan mencari cara untuk menyingkirkan Tiara dari kantor.
"Mas... Kenapa Mas membiarkan Tiara bekerja disini? Dan bukankah Mas Arga sudah tidak memperdulikan Tiara lagi?."
"Alina apa yang kamu bicarakan? Tiara, dia juga istriku sama seperti dirimu. Dan juga ini perusahaanku, aku boleh memperkejakan siapapun sesuai kehendakku."
"Iya tapi Mas...~."
"Alina sudahlah, kamu jangan membesar besarkan masalah. Aku sedang sibuk, pergilah."
Alina pergi keluar dengan kesal, saat di depan pintu dia bertemu Tiara yang akan masuk ke ruangan Arga. Dan mereka bertatapan tajam seperti dua pedang yang siap bertarung.
" Sayang... Masuklah. "
__ADS_1
Arga menyadari ketegangan di antara kedua istrinya itu lalu meminta Tiara untuk segera masuk. Lalu Alina protes,
"Mas Arga, bukankah Mas Arga sedang siguk dan ingin sendirian? Kenapa membicarakannya masuk dengan membawa makan siang lagi."
"Alina...."
Mendengar suara Arga yang sudah tidak ramah, Alina segera keluar.
"Dasar perempuan tidak tau di untung!."
-
-
-
"Mas... Makan siang yuk. Aku sudah siapkan makanan dari rumah. Tadi Nayla kemari dan membawanya untuk kita."
Tiara tersenyum dan memberikan kotak makanan itu pada Arga. "Ini makan siang kita hari ini," ujar Tiara sambil tersenyum.
Arga kagum dengan makanan yang disiapkan oleh Tiara. Dia membuka kotak makanan dan mencium aroma yang harum dari makanan itu. Setelah itu, mereka berdua makan siang bersama dengan lahap. Arga sangat senang dan berterima kasih kepada Tiara atas makan siang yang enak dan spesial itu.
Suatu hari, saat Tiara sedang bekerja di kantornya, dia merasa perutnya sakit dan harus segera pergi ke toilet. Namun, ketika dia mencoba membuka pintu toilet, dia menemukan bahwa pintu itu terkunci dari luar.
Tiara mencoba mengetuk pintu dan berteriak meminta bantuan, tetapi tidak ada yang mendengar. Dia merasa khawatir dan panik, terutama ketika dia menyadari bahwa dia tidak membawa ponselnya bersama.
Setelah beberapa menit mencoba mencari jalan keluar, Tiara memutuskan untuk mencoba menenangkan dirinya dan mencari cara untuk keluar dari toilet itu.
Tiba-tiba, Tiara mendengar suara Alina dari luar toilet.
"Alina! Apa itu kamu?."
"Iya, bagaimana enak tidak terkucil di dalam? Aku sengaja menguncimu di dalam agar kamu tidak berkeliaran di dekat Arga!."
Alina mengatakan bahwa dia telah mengunci pintu dengan sengaja. Tiara merasa marah pada Alina, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk keluar dari toilet.
" Apa yang kamu lakukan Alina! Cepat keluaran aku!. "
Bukannya membuka kunci, Alina malah melenggang begitu saja dan pergi.
Beberapa saat kemudian, seorang rekan kerja yang lain datang ke toilet dan mendengar Tiara menangis dan berteriak meminta tolong. Dia membuka pintu toilet dan membebaskan Tiara dari penjara yang dibuat Alina. Tiara merasa sangat terkejut dan bersyukur, dan dia memberi tahu Arga tentang kejadian ini.
"Apa? Keterlaluan Alina! Kamu tidak apa-apa sayang?."
"Tidak Mas."
__ADS_1
Setelah itu, Arga mengadakan pertemuan dengan Tiara dan Alina, dan menegur Alina atas tindakannya yang tidak profesional dan merugikan. Alina diminta untuk meminta maaf kepada Tiara dan tidak di izinkan masuk ke kantor selama beberapa hari.
Tiara merasa lega dan berterima kasih kepada rekan kerjanya yang telah membantunya. Meskipun kejadian itu membuatnya merasa ketakutan dan terganggu, dia tetap berusaha untuk tidak membiarkan Alina memengaruhi kinerjanya di kantor.