
"Apa? Bagaimana kalian ini!? Di suruh melenyapkan satu perempuan saja tidak becus! Aku sudah membayar kalian dengan mahal!."
Suara melengking seorang perempuan yang memarahi beberapa preman memenuhi gedung kosong di sudut kota itu.
"Maaf Nona, kami hanya melihat kondisi terlebih dahulu dan menyuruh bawahan kamu untuk membuntuti target tapi karena ketamakan, mereka ingin mengambil harta benda milik target sehingga mereka tertangkap."
Ternyata orang-orang yang waktu itu mengintip dan memaksa masuk ke apartemen Tiara adalah orang yang bekerja sama dengan Alina yang ingin mencelakai Tiara.
" Lalu bagaimana sekarang? Bagaimana kalau orang bawahanmu itu melibatkan aku di kantor polisi?."
"Anda jangan hawatir Nona, mereka tidak tau menahu tentang anda."
"Awas saja kalian! Sekarang lebih baik kalian merencanakan sesuatu yang lebih berguna dan cepat selesaikan tugas kalian, mengerti?!."
"Baik, Nona."
Alina merasa geram karena Tiara masih selamat dari rencana jahatnya. Kini dia menatap ke luar dengan menyesap sebuah rokok kesukaannya sambil di peluk seorang laki-laki dari belakang. Memanglah dari awal Alina itu bukan gadis baik-baik.
"Sayang... Cek In, yuk," ajak laki-laki yang terlihat tampan namun berpenampilan berandal sambil mengelus dan me*em*s buah da*a Alina yang setengah terbuka.
"Aku lagi gak mood." kata Alina sambil terus menyesap rokoknya.
"Benarkah? Yang benar lagi gak mood...?."
Laki-laki itu terus men*iumi lekuk leher Alina sehingga membuatnya te*ang*ang dan akhirnya mereka melakukan hubungan terlarang di sana. Bukan hanya sekali ini, bahkan saat Alina masih istri Arga pun mereka sering melakukannya.
Setiap kali de*ahan dan erangan dari kedua manusia luknut itu terdengar sampai keluar sehingga para preman yang barus keluar dari sana pun mendengarnya dan salah satu dari mereka berkata,
"Kenapa? Kalian pengen juga? Makanya... Selesaikan dulu tugas ini, nanti kita bisa jajan sepuasnya... A ha ha ha."
~
Di rumah sakit...
Siang itu, Reyhan datang menjenguk Tiara dengan membawa parcel buah dan bunga mawar kesukaan Tiara. Tiara merasa senang dan terharu dengan kedatangan Reyhan.
__ADS_1
Saat mereka berbincang, tiba-tiba Arga kembali dari pergi membeli makanan di luar dengan membawa parcel buah juga. Arga melihat kebersamaan Tiara dan Reyhan yang membuatnya merasa tidak nyaman. Dia merasa cemburu karena merasa Tiara lebih dekat dengan Reyhan daripada dengannya.
Reyhan menyadari kecanggungan Arga dan mencoba untuk meredakan suasana dengan bersikap sopan dan ramah. Namun, Arga tetap bersikap dingin dan kurang menyenangkan selama mereka berbincang.
"Apakah pekerjaanmu di kantor sudah selesai Rey?." tanya Arga tanpa melihat ke arah Reyhan sambil menyimpan parcel buahnya di meja berdampingan dengan parcel buah yang di bawa Reyhan.
"Sudah Pak, hanya ada beberapa pekerjaan yang aku simpan dulu dan akan di kerjakan nanti."
Arga menoleh sejenak dan berkata lagi,
"Seharusnya kamu tidak usah repot-repot kesini, ada aku yang menjaga Tiara. Sebaiknya kamu fokus bekerja saja."
Reyhan hanya tersenyum sedikit dan tidak menjawab perkataan Arga.
"Sayang... Kamu harus banyak makan buah, ini bagus untuk kesehatan bayi kita."
Arga mengambil salah satu buah yang dia bawa tadi dan mengupaskannya untuk Tiara, lalu hendak menyuapinya tapi Tiara mengambil dan memakannya sendiri.
Tiara merasa terheran dengan sikap Arga yang sengaja ingin membuat Reyhan merasa tidak nyaman, namun tidak nyaman juga untuknya sekarang.
Namun, sikap Arga tersebut malah membuat Reyhan tertawa kecil. Reyhan yang sudah lama mengenal Arga, mengetahui betul bahwa Arga bukanlah tipe orang yang suka menunjukkan perasaannya secara terbuka. Oleh karena itu, tingkah konyol Arga yang mencoba menunjukkan bahwa Tiara hanya miliknya membuat Reyhan merasa lucu.
Reyhan tidak ingin mempermasalahkan hal tersebut dan memilih untuk hanya tersenyum dan tidak menggangu tingkah konyol Arga.
"Sayang... Anak ini, jika laki-laki pastinya akan tampan sepertiku. Tapi jika dia seorang anak perempuan dia pasti akan cantik sepertimu, benar tidak? Aku berharap anak kita ini memiliki hati yang penuh kasih dan sayang, karena kita membuatnya juga dengan kasih dan sayang bukan?."
"Ekhem."
Tiara berdelik kesal mendengar perkataan Arga yang membuatnya teringat kembali saat dia meninggalkannya begitu saja ketika pingsan saat awal kehamilan.
Tidak ingin melihat lebih banyak lagi tingkah konyol Arga, akhirnya Reyhan memutuskan untuk pergi dulu dari sana.
Reyhan menghampiri Tiara dan berkata,
"Tiara... aku harus pergi dulu, ada satu pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kamu baik-baik ya, jika memerlukan sesuatu jangan sungkan untuk segera menghubungiku." di balas dengan anggukan Tiara di iringi satu senyuman yang membuat hati Arga terenyuh.
__ADS_1
"Pak Arga, aku permisi."
"Silahkan. Kamu tidak perlu khawatir, Tiara adalah istriku, aku akan selalu menjaganya."
Pesan Arga kepada Reyhan dengan meraih tangan Tiara dan menggenggamnya. Tapi Reyhan hanya tersenyum lalu segera beranjak dari sana.
Seperginya Reyhan dari sana, Tiara segera melepaskan tangan Arga dan membuat Arga heran dan mempertanyakannya, lalu Tiara mengatakan bahwa Arga tidak perlu melakukan itu semua. Hal itu di sadari Reyhan yang masih bisa mendengar percakapan mereka di dalam.
Setelah beberapa hari di rawat, Tiara akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Arga sangat senang karena Tiara akhirnya bisa kembali ke rumah dan kembali bersamanya.
Namun, ketika Tiara keluar dari rumah sakit, ia terkejut karena bukan di bawa pulang ke apartemennya, tetapi malah ke rumah Tiara yang telah dibersihkan terlebih dahulu oleh para pekerja dan asisten rumah tangga yang Arga pekerjakan. Tiara merasa sedikit tidak nyaman karena ia sudah terbiasa tinggal di apartemen dan merasa tidak nyaman di rumah lamanya.
Saat di depan pintu,
"Mas, kenapa aku di bawa kesini?."
"Tiara, kamu lebih baik tinggal disini lagi. Jika di apartemen kamu hanya sendirian jika aku sedang berangkat ke kantor. Kalau disini ada banyak art dan akan selalu menjagamu."
Pada awalnya Tiara menolaknya. Namun, setelah dipikir lagi, Tiara menyadari bahwa ia sedang hamil dan membutuhkan bantuan lebih banyak dari sebelumnya. Ia merasa bahwa dengan banyaknya orang yang membantunya, ia akan lebih terbantu dalam menjalani kehamilan dan mengurangi risiko terjadinya komplikasi.
Arga telah menyiapkan segalanya dengan baik untuk menyambut kembalinya Tiara.
Arga menyuruh para art merapikan dan membersihkan rumah Tiara sehingga terasa lebih nyaman dan hangat.
Mereka juga telah menyiapkan kamar yang nyaman untuk Tiara dan menyediakan segala kebutuhan yang dibutuhkan oleh Tiara selama masa kehamilan menjelang persalinan, bahkan kamar bayi pun sudah di sediakan dan di hiasi dengan sangat indah sehingga membuat Tiara tersentuh.
"Bagaimana Tiara, apakah kamu suka dengan kamar bayinya?."
"Ini terlihat nyaman." jawab Tiara.
Tiara merasa terharu sehingga tidak terasa air matanya menetes lalu Tiara menyeka air matanya dan terlihat oleh Arga.
Lalu Arga mendekati Tiara dan meraih tangannya lembut.
"Maafkan aku...." hening sejenak.
__ADS_1
"Tidak, kamu tidak harus memaafkan aku. Tapi izinkan aku menjaga dan melindungimu juga anak kita," lanjut Arga.