Kisah Unik Seorang Gadis

Kisah Unik Seorang Gadis
Bab 71 - Gagal


__ADS_3

Di kamar yang lain ada seseorang yang sedang kegirangan menghayalkan sesuatu. Ya, Alina sedang terbaring di ranjang nya dan menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut.


Alina terus tertawa sendiri. Khayalan nya tentang malam ini membuatnya sangat tidak sabar menunggu kedatangan Arga.


Dia terus menatap pintu yang masih tak kunjung terbuka.


Setelah selesai menelpon Arga bergumam,


"Berkas itu ada di kamar."


Lalu Arga hendak pergi ke kamarnya dan mengambil berkas yang dia maksud.


Saat tiba di kamar, Arga mendapati kamar Tiara dalam keadaan gelap. Lalu melihat Tiara yang sedang berdiri di balkon dengan baju haramnya.


Sinar rembulan menembus baju transparan yang Tiara kenakan, sehingga menyinari kulit putih Tiara.


Arga terpesona dengan pemandangan yang dia lihat di luar sana. Sehingga dia melupakan maksudnya masuk ke kamar itu dan segera menghampiri sosok yang menjadi fokus penglihatannya sekarang.


Semenjak Arga melihat pose Tiara yang sangat menggoda itu. Benda pusaka yang ada di tubuhnya pun sudah berdiri tegap.


Tiara menyadari kehadiran Arga dan menatapnya dengan tatapan yang menggoda.


"Kamu sengaja kan ingin menggodaku?."


Arga merangkul Tiara dan menatapnya sayu.


"Apa maksudmu ..., Sayang...."


Tiara sengaja mendekatkan bibirnya di telinga Arga saat memanggilnya dengan panggilan sayang. Hal itu membuat bulu roma Arga merinding dan membuatnya semakin ber*airah.


Arga tidak menunda lama, si joni yang berada di antara kedua pahanya itu semakin menuntut agar segera mencari kandang kesukaannya.


"Sayang ... Bukankah malam ini kamu harus tidur di kamar Alina?."


Tiara bertanya tanpa menghentikan aktifitas mereka. Arga tidak memperdulikan pertanyaan Tiara itu. Dia terus menyecap bagian-bagian tubuh Tiara yang menjadi candunya.


Malam itu, Alina gagal untuk menggapai impiannya. Saat pagi hari menjelang dia marah-marah, penantiannya malam tadi gagal karena Tiara.


"Awas kamu Tiara! Aku tidak akan membiarkan penghinaan ini! Aku akan membalas sakit hatiku saat ini!."



Hari ini adalah hari minggu, hari libur untuk sebagian besar orang. Begitupun dengan Arga, pagi ini dia masih berada dalam pelukan hangat Tiara.



"Sayang ... Geli."



"Aku mau lagi ...."



"Belum cukup? Dari semalam kita sudah melakukannya berapa kali...."



"Tapi aku ingin lagi, kamu sudah menjadi canduku. Dan aku rasa ini tidak akan ada obat penawarnya."



Dan ... Lagi. Arga dan Tiara tidak keluar kamar sampai jam 9 pagi. Mereka tidak berpikir orang lain yang juga tinggal disana sekarang sedang kebakaran jenggot.


__ADS_1


Lima belas menit kemudian, Tiara sudah siap dengan penampilannya dan menuju meja makan di bawah. Disana sudah terlihat Alina yang sedang makan sendiri dan bersikap cuek pada Tiara.



"Selamat pagi Alina."



Alina tidak menjawab sapaan Tiara dan terus melanjutkan makannya. Ekspresi mukanya tidak ada rasa damai sedikitpun.



"Akhirnya sekarang kamu menunjukan sifat aslimu," gumam Tiara.



Tiara tidak memperdulikan sikap kesal dan marah Alina kepadanya, karena semua itu memang Tiara sengaja.



Malam tadi, Tiara sengaja menarik perhatian Arga agar dia tidak menemui Alina di kamarnya. Tiara marah atas kelakuannya yang semena - mena kepada Nayla dan art lainnya. Dia tidak akan membiarkan ketidakadilan yang terlihat olehnya, apalagi hal itu terjadi di rumahnya dan kepada sahabatnya.



Alina hendak pergi saat Arga sampai di meja makan.



"Alina, apa kamu sudah sarapan?."



Alina tidak menjawab pertanyaan Arga dan tidak menghiraukannya.




"Mungkin dia marah karena semalam."


Jawab Tiara, santai. Lalu menyuapkan serapannya dengan lahap.



Arga merasa heran atas sikap istrinya ini, kemarin dia membujuknya agar memperlakukan Alina dengan adil. Tapi sekarang dia terlihat merasa puas atas kejadian semalam.



Tapi Arga tidak berpikir yang lain, dia hanya senang bahwa dengan begitu itu tandanya istrinya sangat mencintainya.



"Tiara, kamu sedang apa?."


Nayla terkesiap saat Tiara meraih tangannya dan mengoleskan salep pada lukanya. Salep yang sama yang di berikan Reyhan kepadanya dulu.


"Diamlah, ini akan lama sembuhnya jika tidak di obati."


"Aku tidak apa-apa, ini sudah mulai kering. Sebentar lagi juga sembuh."


"Kenapa kamu berbohong padaku?."


Nayla gelagapan menyadari Tiara mengetahui ketidak jujurannya.


"A ~ ak ~."

__ADS_1


"Kamu pikir aku tidak akan tau jika kamu tidak memberitahuku? Kamu ini."


"Maaf Tiara, aku hanya tidak ingin menambah masalah untukmu."


"Kenapa baru bicara sekarang? Bukankah selama ini kamu sudah merepotkanku? Hmmm."


Tiara mencebikan bibirnya.


"Lagi pula masalah sangat senang menghampiriku. Jadi masalah sepele seperti itu tidak akan membuatku mundur."


"Tiara...."


Kedua sahabat itu berpelukan dan saling menguatkan.


"Lain kali jangan menyembunyikan hal apapun dariku, mengerti!."


"Iya. He he he."


Semenjak pagi setelah sarapan, Alina tidak terlihat di rumah itu. Bahkan sampai malam tiba dia tak kunjung pulang ke rumah.


"Sayang, Alina belum pulang sejak tadi siang."


"Mungkin dia sedang bersama teman-temannya."


Arga tidak terlalu menghiraukan keberadaan Alina, karena dia pikir Alina sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri.


"Sepertinya aku sudah terbiasa dengan panggilan barumu kepadaku." Sayang"."


"O ya ... Mulai hari ini aku tidak akan memanggilmu Mas."


"Kenapa?."


"Panggilan itu terlalu familiar. Aku tidak suka panggilan itu terdengar dari dua orang dalam satu rumah."


"Oh, begitu ya? Sepertinya ada sinyal peperangan di rumah ini. Kalau tidak salah kemarin ada yang memintaku untuk berbuat adil. Sepertinya itu bukan permintaan yang tulus."


"Kamu ini, membuatku tidak selera untuk bicara."


Tiara berpura-pura merajuk lalu segera merebahkan dirinya di kasur dan berbaring menghadap sebelah kanan membelakangi Arga.


"Sayang, apakah kamu harus marah karena hal itu? Aku kan hanya bercanda."


Tiara tidak merespon suaminya yang terus berbicara dan menggerayangi tubuhnya. Di kepalanya memikirkan sesuatu. Hatinya merasa akan ada sesuatu yang terjadi.


Malam itu Arga bekerja sendiri, tapi meskipun begitu tetap membuat Arga merasa sangat puas. Tidurnya Tiara dengan posisi itu membuat Arga menemukan posisi ber*inta yang baru. Pose bermain dari belakang dengan posisi tu*uh miring dan kaki yang sedikit di tekuk.


"Ouh ... Ahhh ... Sayang ... Oh oh oh ... Ah!."


Getaran hebat Arga telah ikut menggetarkan busa yang berukuran jumbo itu. Arga terlelap tidur setelah pelepasan hasrat nya. Sedangkan Tiara masih terjaga.


Tiara pergi ke kamar mandi dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang sebelumnya dia ambil dari loker pribadinya.


Sesuatu yang rajin di minum oleh Tiara sebelum tidur.


Di sebuah apartemen.


Ada seseorang yang sedang bahagia melihat foto-foto yang ada di tangannya.


"Aku akan menjadikan ini sebagai senjata andalanku."


Sunggingan senyum jahat Alina terlihat jelas di wajahnya. Terlihat di meja dan kasur apartemen tempatnya itu banyak foto Tiara yang bersama Reyhan.


Ternyata seharian ini Alina keluar dan mencari asal-usul Tiara. Dengan menggunakan informan, Alina menemukan banyak hal tentang Tiara yang dia rasa akan membantunya mendapatkan Arga.


"Tidak ada yang bisa menghalangi keinginanku. Cukup sudah aku mengalah! Aku bukanlah Alina yang dulu Arga. Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku."

__ADS_1


****


Jangan lupa kasih like vote favorit hadiah juga komentar terbaik ny ya...


__ADS_2