
Saat weekend pagi yang cerah, Kirana dan Sandra sedang menikmati waktu mereka di taman rumah mereka. Kirana dan Sandra menemukan sebuah pepohonan besar yang terlihat sangat menarik. Mereka merasa penasaran dan mulai mendekat untuk melihat lebih dekat. Tiba-tiba, mereka melihat ada seekor burung merak yang indah sedang bertengger di atas cabang pohon.
"Kakak... lihatlah burung merak itu di atas pohon! Cantik sekali warna bulunya."
"Benar, Kirana! Bagaimana ya kalau kita mencoba menirukan burung merak itu?."
Kirana dan Sandra sangat senang melihat burung merak itu. Mereka mulai berbicara tentang burung itu dan bagaimana warna bulunya yang indah. Mereka memutuskan untuk mencoba menirukan burung itu dengan membuka tangan mereka seperti sayap dan berlari-lari di sekitar pohon.
"Ingat, jangan sampai kita jatuh atau terbentur pohon ya!," seru Sandra.
"Tenang saja, Kakak! Kita harus hati-hati dan fokus," jawab Kirana dengan suara lucunya.
Mereka merasa sangat bahagia dan bersenang-senang, dan tiba-tiba terdengar suara tawa mereka yang riang di sekitar taman sehingga menarik perhatian Tiara dan Arga yang memperhatikan mereka dari kursi yang berada di taman.
Gelak tawa Kirana menghiasi taman itu dan dia berkata, "Wah, rasanya seperti kita menjadi burung merak sungguhan!."
__ADS_1
"Iya, tapi sayap kita agak kecil ya, Kirana. Mungkin kita perlu makan lebih banyak supaya bisa terbang tinggi-tinggi!," jawab Sandra.
Setelah bermain dan berlari-lari sejenak, Kirana dan Sandra akhirnya merasa lelah dan ingin beristirahat. Mereka duduk di bawah pohon, menikmati udara segar dan sinar matahari yang terik. Kirana menatap ke atas dan melihat daun-daun yang bergerak di atas kepala mereka. Dia merasa damai dan bahagia, dan berpikir betapa indahnya alam.
"Ha ha ha... Tadi kita seperti burung merak, sekarang kita seperti monyet yang sedang makan pisyang!," celoteh Kirana.
"Ha ha ha... Iya, tapi monyet yang lucu dan bahagia!," timpal Sandra.
Kirana dan Sandra tertawa bersama-sama dan menikmati waktu mereka di taman. Arga tersenyum bahagia melihat kedekatan dua putrinya itu lalu berkata,
"Aku hanya mempunyai satu putri," jawab Tiara sehingga membuat Arga menatap Tiara tidak percaya, namun Arga tidak memperpanjang hal itu, karena memang semua itu kesalahannya.
"Arrggh! U... Hu hu...."
Terdengar pekikkan dan suara tangisan Kirana yang tidak terlihat oleh kedua orang tuanya itu. Tiara merasa panik karena tidak melihat Kirana lalu memanggil manggilnya.
__ADS_1
Tiara berjalan menuju arah suara Kirana berasal dan tidak lama Tiara menemukan Kirana yang sedang duduk menangis sambil memegang kakinya yang berdarah.
"Kirana kamu kenapa sayang!," tanya Tiara dengan panik, namun Kirana tidak menjawab pertanyaan Tiara dan hanya terus menangis, lalu Tiara memeluk putrinya itu agar merasa tenang.
"Kirana jatuh dari pohon Pah...," ucap Sandra yan sedang berdiri di atas pohon sehingga membuat Arga dan Tiara terkejut.
"Apa!," pekik Tiara dengan suara agak tinggi sehingga membuat Sandra terkejut. Lalu Arga membantu Sandra turun dari pohon, "Tidak apa-apa sayang... Ayo papah bantu kamu turun," kata Arga sambil memangku Sandra.
Tiara fokus menenangkan Kirana sampai tangisannya berkurang dan terhenti. Setelah itu, Tiara berdiri sambil menggendong Kirana yang sesegukan. Tiara menatap tajam ke arah Sandra yang sembunyi di belakang Arga lalu beralih menatap Arga dengan tatapan yang kecewa dan segera beranjak dari sana meninggalkan Arga yang penuh tanda tanya.
Kemudian Arga menoleh ke arah Sandra lalu berlutut menyeimbangi tinggi putri sulungnya itu dan mencoba bicara, "Sandra... Sebenarnya apa yang terjadi?."
"Maaf Pah, tadi aku gak sengaja mendorong Kirana karena aku juga mau jatuh," jawab Sandra.
Bersambung...
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺