
Tiara menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu Tiara membasuh mukanya agar rasa panas di dadanya itu mereda. Setelah merasa tenang. Tiara keluar dari dalam kamar mandi.
Saat menutup pintu kamar mandi, tiba-tiba Tiara di kejutkan oleh Arga yang memeluknya dari belakang.
"Akh...!."
Kemudian Arga membalikkan badan Tiara sehingga menghadap kepadanya.
"Mas! Kamu mengagetkan aku saja! Kalau jantungan bagaimana?."
Arga malah tertawa sendiri.
"Mas, kenapa?."
Tiara bertanya karena aneh dengan sikap Arga yang tertawa sendiri. Lalu melihat keberadaan Alina yang sudah tidak ada di ruangan itu.
Arga memegang dagu Tiara dan menyuruhnya untuk menatap matanya.
"Mas, jangan seperti ini. Nanti Alina akan melihatnya."
Tiara mencoba untuk melepaskan pelukan Arga, tapi Arga tidak melepaskannya. Arga menyeret Tiara sehingga mentok ke dinding, lalu dia mencium bibir Tiara dengan begitu bergai*ah.
"Maaaaaas ... Ahhhh ...."
Tiara tidak bisa berkata-kata saat Arga menciumi leher dan dada nya. Tangan Arga yang semakin liar membuat Tiara semakin sering mengeluarkan de*ahannya.
Arga memeluk Tiara dan menggendong Tiara ke meja kerjanya tanpa melepas ******* mulutnya pada sesuatu hitam yang nyembul dari dua gunung kembar Tiara.
"Ahhhh ... Maaaas ...! Auchhhh ...."
Erangan dari Tiara terus keluar tiada bisa di hentikan saking nikmatnya. Gairah mereka berdua membuat meja kerja Arga sangat berantakan dan menjatuhkan semua barang yang ada di atasnya.
Arga memencet tombol kunci otomatis, agar pintu ruangannya itu tidak bisa terbuka. Mereka melakukan aktifitas itu dengan penuh semangat dan penuh fantasi.
Dengan jendela kaca besar yang terbuka dan berada di ketinggian membuat mereka menikmati tantangan permainan panas itu.
Alina? Dimanakah dia? He he ternyata Arga sengaja membuat Alina keluar dari ruangannya agar bisa berduaan dengan Tiara. Dengan cara memberikan kartu atm itu sudah cukup membuat Alina segera keluar dari sana.
"Tiara ... Aku sangat mencintaimu. Cup."
Setelah adegan panas yang mereka lakukan selesai, keduanya berbaring di sofa dengan posisi Tiara yang berada di atas tubuh Arga.
Jangan ditanya bagaimana keadaannya. Tentu saja polos tanpa sehelai benang. Hi hi.
"Mas ...."
"Hmmm ...."
"Aku merasa kasihan kepada Alina. Dia juga istri sah mu, tapi dia seperti istri pajangan."
Arga membuka matanya dan berpikir sejenak. Lalu berkata,
"Dia memang bukan istri sungguhanku, aku menikahinya hanya karena tanggung jawab."
"Tapi pernikahan Mas dengannya juga sungguhan."
__ADS_1
Lalu Arga bangkit dan duduk.
"Sebenarnya, apa yang ingin kamu katakan?."
"Aku ingin Mas memperlakukan Alina sama seperti Mas memperlakukan aku."
Arga mendekatkan wajahnya sehingga begitu dekat dengan wajah Tiara.
"Apakah kamu tidak merasa cemburu jika aku menyayangi Alina?."
Hening ...
Tiara tidak menjawab pertanyaan Arga karena dia tidak tau jawaban apa yang harus dia berikan. Karena memang rasa itu sudah Tiara rasakan jika suaminya itu berdekatan dengan perempuan lain.
" Ha ha ha...!."
Arga tertawa bahagia, karena dengan diamnya Tiara dia mengetahui bahwa istrinya itu memang cemburu kepadanya.
Tiara merasa kesal karena di tertawakan Arga seperti orang bodoh. Lalu segera pergi ke kamar mandi yang ada di ruang kerja Arga itu.
Satu jam kemudian sepasang suami istri itu baru keluar dari kamar mandi bersama - sama. Entahlah bagaimana cara mandinya dengan bisa menghabiskan waktu selama itu.
"Aku langsung pulang ya, suamiku."
Arga yang sedang sibuk merapikan bajunya langsung terhenti seketika saat mendengar panggilan Tiara kepadanya.
"Apa? Kamu barusan memanggilku apa?."
Arga pura-pura tidak mendengar panggilan Tiara dan memintanya untuk mengulanginya.
"Apa?."
"Kamu ini, barusan...."
Arga hendak memeluk Tiara, tapi Tiara segera menghindar dan menjulurkan lidahnya mengolok Arga.
"Awas kamu ya...."
Mereka berdua main kucing-kucingan mengelilingi sofa yang ada di sana. Langkah Tiara kalah telak dengan langkah Arga sehingga dengan mudah Arga menangkapnya.
"Aku tidak akan melepaskan mu."
"Ha ha ha, hua ha ha...."
Ruangan itu terdengar ramai dengan gelak tawa pasangan suami istri yang sedang di mabuk cinta.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak usah ... Aku pulang sendiri saja."
"Tidak ada penolakan hemm."
Tiara pasrah, karena percuma saja berdebat sekarang Arga juga tidak akan mengalah.
Lima belas menit kemudian, akhirnya sampailah di rumah tempat tinggalnya selama ini. Saat Tiara hendak turun dari mobil Arga menahannya. Lalu memberi ciuman panas terakhir. Setelahnya Arga langsung kembali ke kantor.
__ADS_1
"Cepat ambil! Kerja begitu saja tidak becus! Kamu hanya mengandalkan Tiara saja!."
Teriakan Alina yang sedang memarahi Nayla terdengar sampai keluar. Tiara yang baru sampai bisa mendengar dan menyaksikan perlakuan Alina yang sebenarnya.
Alina mendorong Nayla hingga terjatuh.
Tiara melihat kejadian itu dari balik pintu yang sedikit terbuka.
"Kamu mau luka bakar itu aku tambahkan, hah!."
Teg ...
"Ternyata luka bakar di tangan Nayla itu Alina penyebabnya," batin Tiara.
Tiara masuk ke rumah saat Alina dan Nayla sudah pergi ke arah tujuan masing-masing.
"Tiara ...."
Panggilan nyaring Alina menghentikan langkah Tiara menuju tangga. Lalu Alina berhambur menghampiri Tiara.
"Tiara, aku sangat senang. Tau tidak, akhirnya malam ini mas Arga akan tidur di kamarku."
Tiara membelakan matanya. Setelah melihat sifat asli Alina, sekarang Tiara merasa tidak rido mendengar Arga akan tidur dengan Alina. Padahal tadi di kantor dia membujuk Arga untuk melakukannya.
"Hmmm ... Akhirnya penantianku tidak sia-sia."
"Apa maksudmu Alina?."
"Baru saja mas Arga menelepon ku. Dia menyuruhku untuk bersiap - siap, karena malam ini dia ingin aku melayaninya."
"Hmm, bagus kalau begitu. Aku ke kamar dulu ya."
Tiara mencari keberadaan Nayla. Tapi Nayla tidak berada di tempat yang mudah Tiara temukan. Saat melihat ke taman dari balkon, Tiara melihat Nayla yang sedang duduk menyendiri sambil menangis.
Jarak mereka cukup jauh, sehingga tidak memungkinkan Tiara untuk menenangkan kesedihannya. Tiara memikirkan sesuatu.
Setelah siang tadi pergi ke salon untuk manicure dan pedicure, sore harinya Alina memilah milih baju untuk dia kenakan nanti malam.
"Mana yang harus aku pakai ya? Duh... Aku gugup sekali."
Malam pun tiba. Sepulang kerja seperti biasa tiara melayani suaminya itu dari mulai menyiapkan air untuk mandi dan mengurus pakaian yang akan suaminya itu kenakan. Setelah itu mereka makan malam bersama.
Di meja makan, Alina sudah memberi kode untuk malam ini. Kakinya di bawah meja bergerak aktif ke paha Arga. Tapi Arga menghindari sentuhan nakal Alina itu.
"Mas Arga, aku duluan ya ... Nanti Mas Arga menyusul saja."
Arga tidak mengiyakan pesan Alina itu, tapi melihat ekspresi Tiara yang diam saja.
"Sesuai permintaanmu, malam ini aku akan tidur di kamar Alina."
Tiara menatap Arga dengan tatapan yang dalam, dia ingin sekali melarang suaminya itu tapi dia tidak bisa menarik ucapannya.
Dretttt drettt ...
Arga menerima telepon dari seseorang dan berbicara panjang lebar dengan orang di sebrang sana yang tak lain adalah Daniel. Lalu Tiara pergi ke kamar nya tanpa menunggu Arga menyelesaikan telponnya.
__ADS_1
****
Jangan lupa kasih like vote favorit hadiah juga komentar terbaik ny ya...