
Kirana, yang tengah sibuk melayani pengunjung yang penasaran dengan lukisan-lukisannya di galeri, merasa senang dan terhormat dengan minat yang begitu besar terhadap karyanya. Setiap orang terpesona oleh keindahan dan kreativitas lukisan-lukisan Kirana.
Namun, di tengah kesibukannya yang penuh kegembiraan, Kirana tiba-tiba bertabrakan dengan seorang laki-laki yang tak dikenal, Rafi, teman satu kampusnya dulu. Tubuh mereka saling terhempas dan mereka saling menatap dengan kejutan.
"Maaf! Maaf... Aku tidak sengaja," ucap Kirana seraya menudukan kepalanya.
Kirana cepat mengambil napas dan meminta maaf pada Rafi. "Tidak apa-apa." Rafi, dengan senyum hangat di wajahnya, memaafkan Kirana dan menawarkan tangannya untuk membantunya berdiri.
Mereka berdua saling bertukar kata-kata canggung dan tertawa atas kejadian yang tak terduga ini. "Aku Rafi," ucap laki-laki yang ada di hadapan Kirana itu sambil mengulurkan tangan. "Kirana," jawabnya ramah.
"Lukisanmu bagus-bagus."
Rafi, yang juga memiliki minat pada seni, tertarik untuk melihat lukisan-lukisan Kirana dengan lebih dekat. Kirana dengan senang hati mengajak Rafi berkeliling galeri, menjelaskan inspirasi dan makna di balik setiap karya seninya.
Selama berjalan-jalan di sekitar galeri, Kirana dan Rafi mulai mengenal satu sama lain lebih baik. Mereka saling berbagi cerita tentang minat mereka dalam seni dan ambisi mereka dalam bidang kreativitas.
Kirana terkesan dengan kecerdasan dan ketertarikan Rafi terhadap seni, sementara Rafi terpesona oleh keahlian dan kreativitas Kirana.
__ADS_1
"Gadis ini benar-benar unik," batin Rafi.
Mereka berdua saling memberi inspirasi dan motivasi dalam perbincangan mereka. Kirana menyadari bahwa ada lebih dari sekedar pertemuan kebetulan dalam pertemuan mereka. Mereka memiliki kedekatan dan ketertarikan yang berpotensi menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar teman.
Sementara itu, di tengah suasana yang riuh di galeri, Kirana dan Rafi melupakan sejenak tentang dunia di sekitar mereka. Mereka tenggelam dalam percakapan mereka yang penuh semangat dan kekaguman terhadap seni hingga waktu terasa berlalu dengan cepat.
Ketika momen mereka berakhir, Kirana dan Rafi saling berpandangan dengan senyuman yang tak terlupakan. Mereka tahu bahwa pertemuan ini bukanlah kebetulan semata, melainkan awal dari sesuatu yang istimewa.
Kirana kembali ke tugasnya di galeri, tetapi hatinya penuh dengan pemikiran tentang pertemuan dengan Rafi. Mereka berdua tahu bahwa takdir mungkin sedang mengatur jalan mereka menuju petualangan yang mengagumkan dalam seni dan cinta.
"Kirana!," panggil seseorang yang berada tidak terlalu jauh dari Kirana yang sedang sibuk melayani pengunjung. "Da..fa?."
Gadis berperawakan jangkung lenjang itu bersorak gembira saat ia melihat sahabatnya sejak SMP turut hadir di acara seminarnya. Lalu Kirana pun segera menghampiri Dafa dan memeluknya secara agresif hingga membuat Dafa kikuk dan merasa tidak percaya.
"Dafa... Terima kasih karena kamu sudah datang ke acara aku...," ucap Kirana penuh bahagia.
"Acaramu sangat penting, mana mungkin aku melewatkannya...," jawab laki-laki yang berwajah tampan dan kalem itu.
__ADS_1
"Ayo! Aku akan tunjukan setiap karya seniku!."
Mereka berjalan menyusuri setiap lorong yang berjejer lukisan-lukisan yang mengantung di dinding dan tidak henti-hentinya Dafa berdecak kagum dan memuja setiap pemandangan indah hasil dari keahlian tangan Kirana itu.
Hingga saat mereka bertemu dengan Sarah yang baru hadirnya di acara tersebut. "Kakak...! Akhirnya kakak datang juga," ucap Kirana seraya memeluk kakak tersayangnya itu.
"Maaf ya... Tadi kakak ada urusan dulu jadi telat."
"It's ok," jawab Kirana sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Sandra pun tak lupa menyapa Dafa yang berada di samping Kirana dengan ramah. Kini mereka bertiga berbincang hangat dan bercanda.
Melihat sikap Dafa pada Kirana, Sandra seakan mengerti jika Dafa mempunyai satu perasaan lebih pada adiknya itu, namun Kirana tidak pernah menyadari hal itu dan hanya menganggap Dafa itu hanya sebagai sahabatnya.
Bersambung...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1