Kisah Unik Seorang Gadis

Kisah Unik Seorang Gadis
Bab 54 - Hanya demi sebuah wasiat.


__ADS_3

Tiara dan Nayla menjadi karyawan yang profesional di cafe itu dan mendatangkan keuntungan yang banyak untuk pemiliknya.


Pekerjaan mereka apik dan telaten.


Tapi hari itu menjadi hari yang terbilang kurang beruntung dan hari terakhir juga untuk Tiara bekerja di cafe tersebut. Kenapa? Lanjut ceritanya....


Saat Tiara sedang membersihkan meja pelanggan. Tiba - tiba ada seseorang yang mendekati Tiara hingga membuatnya kaget bukan kepalang. Minuman sisa di gelas yang sedang dia pegang, sedianya harus di bawa dan di cuci di belakang, malah tumpah di baju seseorang yang tak lain adalah Arga.


"Hah... Maaf pak... Maaf, saya tidak sengaja. Maaf..."


Tiara meminta maaf pada orang yang dia siram tanpa sengaja, tanpa melihat ke wajahnya. Lalu tangan Tiara di genggam sehingga menghentikan aktifitas Tiara yang sedang menyeka air yang mengotori baju Arga.


" Pak Arga.... "


" Tiara... Ikut aku, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." to the point.


"Maaf pak, tangan anda."


Tiara melihat ke arah tangan yang sedang Arga pegang, diikuti oleh mata Arga yang ikut melihat ke arah tangannya. Lalu Arga melepaskan genggamannya pelan pelan.


"Silahkan ikuti saya."


Tiara mengajak Arga untuk mengikutinya ke toilet. Setibanya di tempat yang cukup sepi itu, karena jarang sekali orang yang datang ke toilet.


"Silahkan buka baju anda."


"Apa maksudmu?"


Arga mengernyitkan keningnya dan berpikir yang tidak tidak tentang Tiara.


"JAS anda kotor tersiram kopi, saya akan membantu anda untuk membersihkannya."


Arga merasa malu dengan apa yang sudah dia pikirkan tentang Nayla barusan. Lalu dia melepas jas nya, dan membiarkan Tiara mencuci nya. Jas itu di bilas tanpa menggunakan sabun, lalu mengeringkan nya menggunakan hairdryer.


"Sudah selesai. Anda sudah bisa menggunakannya lagi."


Arga mengambil jas nya dan hanya menyoren jas di tangan nya.


"Tadi anda ingin mengatakan sesuatu, apa itu?."


"Kita cari tempat lain."


Arga membawa Tiara pergi dari kafe tempat Tiara bekerja menuju sebuah tempat yang biasa Arga gunakan untuk bertemu klien atau acara tertentu.


"Kenapa tidak di tempat cafe tadi saja, jarak kesini cukup jauh. Saya sedang bekerja pak..."


Arga dan Tiara duduk di sebuah restoran bintang 5. Arga merasa harus mengatakan ini dengan hati-hati. Lalu dia mengeluarkan sebuah surat dari sakunya dan menyimpan nya di meja. Tiara melihatnya tanpa bertanya.

__ADS_1


" Itu adalah surat wasiat Reyna, bacalah. "


"Disini tertulis dan di tujukan kepada pak Arga. Kenapa saya harus membacanya?."


Arga melihat Tiara dan mendekatkan wajahnya ke hadapan Tiara.


"Apa kamu akan selalu bertanya tentang sesuatu?."


Tiara membuka dan segera membaca surat itu.


"Mas... Kepergianku adalah suatu perpisahan. Hanya, aku ingin mengatakan kalau Tiara itu adalah gadis yang sangat setia juga baik hati, tidak ada maksud yang lain. Tolong jaga dia baik-baik, jangan membiarkan hidupnya kesusahan. Dan aku ingin agar Tiara menggantikanku sebagai pendamping hidup dan matimu. Aku yakin dia akan menjadi pasangan yang baik untukmu. Jadikanlah dia sebagai istrimu. Salam dari istrimu. Reyna. "


Tidak banyak ekspresi yang Tiara tunjukan setelah membaca surat itu.


"Aku hanya menunjukan ini padamu, karena aku merasa itu harus di sampaikan padamu. Aku tidak akan memintamu untuk mewujudkan keinginan Reyna untuk terakhir kalinya. Itu semua tergantung keputusanmu."


Tanpa pikir panjang hanya berselang 5 menit, Tiara memberikan jawabannya.


"Aku akan menerimanya dan melakukan apa yang di inginkan nyonya."


Jawaban Tiara membuat Arga tercengang. Jawaban yang sangat tidak di sangka. Karena Arga mengira Tiara akan menolaknya tapi ini sebaliknya.


Entah perasaan apa yang di rasakan Arga sekarang. Dulu ketika Reyna masih ada, Arga memang sangat mengharapkan Tiara dan ingin memilikinya.


Seharusnya dia senang dengan persetujuan Tiara, tapi Arga merasa Tiara menyetujuinya hanya karena terpaksa.


"Saya tidak mengerti maksud pak Arga. Bukankah anda melakukan nya juga karena wasiat ini bukan?."


Arga tersenyum getir mendengar perkataan Tiara.


"Baiklah... Dalam waktu dekat aku akan menikahimu."


Arga beranjak dari duduknya dan berkata lagi.


"Hanya memenuhi sebuah wasiat."


Arga menegaskan.


Tiara tidak bergeming, hanya menyedot minuman yang dari tadi menjadi saksi atas persetujuan kedua insan itu. Lalu Arga pergi meninggalkan Tiara sendiri yang masih duduk terdiam.


"Nyonya..."


Tiara mengingat majikannya itu, lalu menangkupkan kedua tangannya dan menjatuhkan wajahnya di meja.


Tempat yang mewah dan elegant berdinding kaca transparan menjadikan Arga melihat keadaan Tiara yang masih di dalam sepeninggalnya, dan terus menatapnya tanpa di ketahui oleh orangnya.


Arga meraih sakunya dan mengambil satu benda yang sangat berharga bagi berjuta umat di dunia ini, yaitu Handphone. Lalu memanggil seseorang.

__ADS_1


"Hallo Daniel, aku ingin kamu mengurus persiapan pernikahanku. Pernikahannya akan di laksanakan minggu depan."


"Baik pak..."


Kesetiaan Daniel sudah tidak di ragukan lagi, dia selalu menuruti perintah bos nya itu tanpa banyak bertanya alasan di balik setiap perintah Arga.


"Ada yang lain pak?"


"Untuk sementara itu saja dulu, jika ada urusan lain aku akan menghubungimu lagi."


Segampang itukah menikah? Dan persiapannya? Untuk Arga mungkin mudah, secara ini adalah pernikahan keduanya. Tapi untuk calon mempelai wanita nya?


"Apa??."


Lonjat kaget Nayla menggetarkan kasur springbad yang sedang mereka tiduri bersama.


"Tiara, apa kamu serius? Tidak! Tidak! Kamu pasti bercanda. Tiara...?".


Nayla menggerak gerakkan badan Tiara yang tidur meringkuk membelakangi Nayla, setelah mengatakan bahwa dia akan menikah dengan Arga. Mantan majikan mereka.


"Tiara, Apa kamu di ancam oleh pak Arga? Atau dia sudah melakukan sesuatu padamu?Jangan jangan kamu hamil?."


"Iih... Kamu ini. Pikiranmu sudah melebihi tinggi badanmu. Keputusanku ini tidak akan aku tarik. Aku akan menerima pernikahan ini."


Tiara bangkit dari tidurnya lalu meyakinkan dirinya sendiri.


"Ya tidak salah juga sih, tuan Arga walaupun seorang duda. Dia itu memiliki ketampanan yang tidak terkalahkan oleh pria lajang. Dia juga seorang yang kaya raya. Hidupmu akan terjamin Tiara."


"Bukan itu pertimbangan ku Nayla. Ada alasannya kenapa aku memilih keputusan ini."


"Tiara..."


Nayla memeluk sahabatnya itu dengan terharu.


"Nyonya... Kenapa anda memberiku sebuah pilihan yang bahkan aku tidak bisa memilih."


Batin Tiara, seakan tidak percaya wasiat terakhir Reyna untuknya.


Malam itu Tiara tidak memejamkan matanya. Entah apa yang bergelayut di pikirannya. Secangkir kopi hitam menemani masa bergadang nya, membuat matanya semakin menjauhi rasa kantuk.


Suasana perumahan komplek di malam hari begitu sunyi. Lampu jalan yang menyinari aspal nampak terang.


Tiara melihat pemandangan sekitar dari atas balkon kamarnya. Angin malam yang berhembus tidak mengusir Tiara untuk segera beranjak dari tempat diamnya sekarang menuju kamarnya yang hangat.


Dia seakan menikmati dinginnya angin malam itu untuk mendinginkan hatinya yang panas karena di permainankan oleh kehidupan. Dan di jadikan sebagai orang yang berperan sebagai boneka mengikuti alur cerita author. He he


****

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, vote, favorit, hadiah juga komentar terbaik nya ya... 😊🙏


__ADS_2