Kisah Unik Seorang Gadis

Kisah Unik Seorang Gadis
Bab 87 - Kesedihan Tiara dan Doni


__ADS_3


Pemakaman Nayla


Sepasang suami istri itu berpelukan lama dengan Tiara yang terus menangis dan Arga yang mencoba menenangkannya.


"Seharusnya aku tidak memaksanya untuk menikah saat dia ingin membatalkan pernikahannya, tapi aku tidak menuruti keinginannya."


"Tiara, sudahlah... Kamu jangan terus bersedih seperti ini. Nayla sudah tidak ada. Aku mengerti perasaanmu, tapi jangan lupa aku masih ada disini dan selalu ada untukmu."


Tiara mengangkat wajahnya lalu Arga menghapus lembut air mata yang membasahi pipi Tiara dari mata yang sembab. Lalu Arga mengajaknya untuk duduk dan berbincang sambil merangkulnya dan tidak melepaskan genggaman tangannya.


"Mas... Maaf aku telah tidak memperdulikanmu. Aku hanya belum bisa menerima kenyataan ini. Kepergian Nayla sangat tiba-tiba, seharusnya dia sudah menikah tapi dia melakukan hal itu dan meninggalkanku hiks hiks hiks."


Arga mengelus punggung dan tangan Tiara lalu berkata,


" Tiara, aku ingin bertanya padamu. Jika aku yang pergi meninggalkanmu, apakah kamu akan merasa sesedih ini?."


Tiara terdiam lalu menoleh ke arah Arga dan menatapnya lekat.


"Aku berharap Mas tidak melakukannya karena jika demikian, aku tidak tau harus bagaimana."


Tiara menenggelamkan wajahnya ke dada Arga dan memeluknya dengan sangat erat.


"Aku mohon... jangan tinggalkan aku. Aku sangat membutuhkanmu."


Arga merasa tersentuh dan bahagia mendengar kata-kata Tiara dan dia pun memeluk Tiara hingga istrinya itu tertidur di pelukannya, lalu Arga menggendong Tiara ke dalam kamar dan menidurkannya.


Arga menatap wajah istrinya dan mengelusnya seraya berkata,


" Aku akan tetap menjagamu dan melindungimu. Aku akan percaya padamu walaupun di luar berkata apapun tentangmu. Aku akan menjadikanmu fokus hidupku karena aku sangat mencintaimu."


Arga menciumi wajah Tiara lalu ikut berbaring dan tidur sambil memeluk Tiara hingga terlelap.


Suatu malam, Tiara bermimpi Nayla datang kepadanya dan memberitahunya bahwa dia akan pergi selamanya. Tiara terkejut dan merasa sangat sedih, karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada sahabatnya.


Nayla kemudian menjelaskan kepada Tiara bahwa dia telah lama sakit, dan dia tahu bahwa waktunya akan segera tiba. Meskipun Nayla sedih meninggalkan kehidupan dan Tiara, dia merasa lega karena tidak lagi merasakan sakit yang di alaminya.


Di dalam mimpi, Nayla meminta Tiara untuk tidak meratapi kepergiannya terlalu lama dan meminta Tiara untuk menjalani hidupnya dengan bahagia.


Keesokan paginya, Tiara merasa terusik oleh mimpi itu dan mencoba untuk menegarkan dirinya dan mencoba menerima kehilangan Nayla.


Tiara memutuskan bahwa dia tidak ingin meratapi kepergian Nayla dengan terus-menerus sedih dan bersedih. Sebaliknya, dia memutuskan untuk menghargai semua kenangan yang telah mereka miliki bersama dan mempertahankan semangat persahabatan mereka.


Esok harinya, Tiara memutuskan untuk membuat sebuah album foto untuk mengenang sahabatnya. Dia menambahkan foto-foto mereka bersama dan menuliskan kenangan mereka dalam setiap halaman.


Tiara merasa sedih saat membuat album foto tersebut, tetapi ia merasa senang dan terhibur ketika melihat kembali semua kenangan mereka bersama. Dia merasa seperti Nayla masih bersama dengannya melalui foto dan kenangan mereka.


Saat tiba Tiara sedang melihat barang-barang Nayla, tiba-tiba Tiara di buat pemasaran dengan sebuah kotak yang belum pernah dia lihat.

__ADS_1


"Aku rasa itu barang milik Nayla. Untuk Nayla...."


Saat Tiara berbalik dia menoleh lagi dan melihat kotak yang dia lihat barusan dengan penasaran tapi tidak membukanya.


~


Doni... Dimanakah Doni?


Sama hal nya dengan Tiara...


Doni merasa sangat kehilangan dan kesepian, dan tidak tahu bagaimana cara menghadapi kenyataan bahwa Nayla telah pergi untuk selamanya.


Dia merasa sangat marah dan kecewa pada takdir yang telah merenggut kebahagiaan mereka.


Doni berusaha untuk mengatasi kesedihannya dengan mencoba melakukan berbagai hal untuk mengurangi rasa sakitnya, seperti menghabiskan waktu dengan teman-temannya, bekerja lebih keras di tempat kerjanya, dan mencari dukungan dari keluarganya.


Namun, semuanya tampaknya tidak membantunya mengatasi rasa sakitnya.


Dretttt drettt...


Suatu hari, Tiara menghubungi Doni.


"Hallo...!."


"Hallo, Doni... Bisakah kita bertemu hari ini?."


"Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu."


"Baiklah... Kita mau bertemu dimana?."


"Di kafetaria xx jam 2 siang."


"Baiklah...."


Siang itu mereka bertemu kembali dan berbincang mengenai Nayla, lalu Tiara memberikan sebuah diary milik Nayla kepada Doni.


"Nayla menyimpan diary ini dan sangat berarti untuknya, sama hal nya denganmu yang sangat berarti untuknya. Aku hanya ingin memberikan ini untukmu, aku rasa ini memang harus kamu miliki."


Doni menatap diary yang Tiara berikan, lalu mengambilnya, "Terima kasih....."


Dia membaca halaman-halaman diary itu dan menemukan beberapa pesan dan surat cinta dari Nayla yang menyatakan betapa bahagianya dia bersama Doni.


Doni mulai merasa lebih baik setelah membaca diary Nayla, dan mulai menyadari bahwa Nayla pasti ingin dia tetap kuat dan bahagia setelah kepergiannya.


Doni akhirnya mulai memperbaiki hidupnya dan mengambil langkah-langkah untuk merawat dirinya sendiri.


Doni belajar untuk menerima kenyataan bahwa Nayla telah pergi, tetapi dia selalu akan membawa kenangan dan cinta mereka dalam hatinya.


Doni merasa berterima kasih atas waktu yang mereka habiskan bersama dan berjanji untuk terus menghormati dan mengenang Nayla dalam setiap langkah hidupnya selanjutnya.

__ADS_1


Setelah beberapa minggu meratapi kematian Nayla, Tiara akhirnya merasa lebih siap untuk kembali ke kantor dan memulai kegiatan sehari-harinya seperti biasa.


Meskipun masih merasa sedih dan terus-menerus teringat akan sahabatnya yang telah pergi, dia memutuskan untuk mencoba bangkit dan melanjutkan hidupnya.


Tiara sedang bekerja di kantor ketika tiba-tiba Alina datang menemuinya. Tiara terkejut melihat Alina, karena dia tidak pernah berpikir bahwa dia akan berbicara dengan Alina setelah dia di kurung dan di kunci di toilet oleh Alina.


Alina menyapanya dengan senyum, tetapi ia melihat bahwa Tiara bersikap dingin dan tidak peduli atas keberadaannya.


Alina mengatakan bahwa dia juga merasa sangat sedih atas kehilangan Nayla, tetapi dia percaya bahwa Nayla akan senang melihat Tiara berusaha untuk bangkit dari kesedihannya dan berkata,


"Buakankah kematian Nayla adalah hal yang terbaik untuknya, Tiara? Ya... Karena jikalau dia hidup pun dia akan terus menerus merasakan sakit jantung yang dia alami."


Deg!


Tiara merasa terkejut dengan apa yang baru saja Alina katakan, dia merasa Alina mengetahui sesuatu yang tidak dia ketahui.


" Apa maksudmu Alina?."


"Kenapa Tiara? Dari ekspresimu sepertinya kamu tidak mengetahui apa yang di alami sahabat mu itu ya?."


"Katakan saja dan jangan bertele tele."


"Aku rasa itu sudah tidak penting lagi, toh... Sekarang kan Nayla juga sudah tenang di sana."


"Alina!."


Tiara berdiri dari duduknya dan membentak Alina yang seolah mengolok kematian Nayla.


"Kenapa Tiara? Apa aku salah?."


Tiara tidak berbicara lagi dan memicingkan matanya lalu hendak pergi, tapi Alina mencegah dengan menarik tangan Tiara dan mencengkeram nya.


Tiara melepaskan tangannya dengan kuat supaya terlepas sehingga Alina terjungkal ke belakang.


" Aw!. "


" Alina kamu tidak apa-apa?." Melihat Alina yang terjatuh, Tiara ingin membantunya tapi di tolak oleh Alina.


"Lepaskan!."


Saat kejadian itu, tiba-tiba Arga datang dan melihat semua kejadiannya. Alina yang melihat kedatangan Arga terlebih dahulu berpura-pura merasa kesakitan sehingga membuat Tiara heran lalu melihat Arga yang hendak menolong Alina.


"Aw! Sakit! Tiara, kenapa kamu mendorongku? Aw! Perutku...."


Arga melihat ke arah Tiara dengan tatapan kecewa.


"Mas... Aku tidak sengaja, tadi aku hanya~...."


Arga tidak mendengar penjelasan Tiara dan berlalu dengan menggendong Alina dan membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2