
Malam kedua pernikahan Arga dan Tiara. Mereka masih berada di hotel yang sama. Tempat di langsungkannya pernikahan mereka. Dan masih di kamar tempat mereka menginap kemarin.
Kali ini mereka berada di kamar yang sama. Bukan satu hal yang aneh, karena mereka adalah pasangan suami istri.
Jangan di tanya bagaimana perasaan Arga yang satu kamar dengan perempuan yang dia sukai dan sekarang sudah menjadi istrinya.
Tiara duduk di tepi ranjang sebelah kanan, sedangkan Arga duduk di tepi ranjang sebelahnya. Posisi mereka sekarang saling membelakangi. Sesekali Arga melihat ke arah Tiara. Dia bingung apa yang harus dia lakukan.
Tiba-tiba Arga berjalan mendekati Tiara, lalu duduk di samping nya.
Apa yang akan terjadi??
Deg.. Deg... Deg...
"Tiara... Ak--."
"Pak Arga ... Ada hal yang ingin aku katakan."
Sebelum Arga menyelesaikan perkataannya, Tiara langsung mendahului Arga.
"Pernikahan ini begitu mendadak karena wasiat nyonya. Tapi aku tidak memungkiri pernikahan tetaplah pernikahan. Dalam hubungan ini ada hak dan kewajiban untuk kita sebagai pasangan suami dan istri. Tapi sebelum itu, bolehkah aku mengajukan satu permintaan?."
"Permintaan apa?."
"Aku ingin menjaga kesucian ku sampai hari ke 150 kematian nyonya."
"Apa?."
"Pak Arga, bagiku nyonya bukan hanya sekedar majikan. Tapi dia juga sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Kematian nya yang begitu mendadak membuatku merasa sangat kehilangan. Walaupun ini adalah pesan dari nyonya, tapi aku tidak ingin menjadi orang yang tamak dan tidak tau berterima kasih. Aku ingin menghormatinya selama masa berkabung ku."
" Kenapa harus selama 150 hari? Maksudku, orang lain pun tidak melakukan masa berkabung selama itu."
"Ini adalah pendirianku."
Arga menatap tidak percaya dengan permintaan Tiara. Tapi apalah daya dia hanya bisa mengabulkan permintaan istrinya itu.
Arga mendekatkan wajahnya ke wajah Tiara dan berkata.
"Baiklah... Aku akan menjaga kesucianmu. Tapi aku tidak berjanji akan menjaga bibirku untuk menciummu."
Cup...
Satu kecupan lembut tanpa durasi Arga daratkan di bibir Tiara. Sontak Tiara kaget dengan apa yang di lakukan Arga barusan.
"Pak Arga! Anda..."
Arga merebahkan tubuh Tiara di kasur dan menindihnya dari atas sambil berkata.
"Kamu jangan banyak protes, jika tidak aku tidak akan menjamin kamu masih suci sebelum 150 harimu."
__ADS_1
Tiara membelalakan matanya lalu mendorong Arga hingga menjauh. Tiara mengambil kesempatan itu untuk segera berdiri. Arga tersenyum kecil dan menyuruh Tiara untuk segera tidur.
" Tidurlah ... Besok kita akan pulang."
Seru Arga sambil berjalan menuju air minum yang berada di meja, lalu meneguk satu gelas sampai habis.
Arga merasa kepanasan dan ingin meredam hasratnya yang sudah terpancing karena perlakuannya pada Tiara barusan. Sebagai laki-laki normal wajar lah ... apalagi Arga kan sudah menduda beberapa bulan. He he.
Tiara mendudukkan dirinya di kasur dan membenahkan diri. Dia mengambil guling dan menyimpannya di tengah. Lalu merebahkan badannya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Arga pun segera menuju tempat tidur, dia melihat guling yang terbentang di tengah membuatnya tersenyum geli. Lalu dia merebahkan dirinya juga.
Keduanya tidur dengan posisi terlentang. Tiara yang masih dalam posisi waspada belum memejamkan matanya. Dia terus mengamati pergerakan Arga.
Di rasa orang di sampingnya sudah terlelap tidur. Tiara membalikkan badannya ke sebelah kanan dan mulai memejamkan matanya.
Tiba-tiba ...
Arga menyingkirkan guling pembatas dan memeluk Tiara dari belakang.
"Pak Arga...!."
Tiara berteriak karena kaget dan hatinya menciut karena ketakutan.
Arga semakin mengencangkan pelukannya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Tiara dan berbisik :
"Sutttt... Aku sudah mengatakan kamu tidak boleh protes. Aku tidak akan melakukan hal yang lebih selain memelukmu."
Tak lama terdengar dengkuran halus Arga menandakan dia sudah tidur pulas. Tiara mencoba menyingkirkan tangan Arga yang melingkar di tubuhnya. Lalu dia mencoba melepaskan diri dari pelukan Arga dan akhirnya berhasil.
Tiara berdiri di samping ranjang dan melihat Arga dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Kemudian Tiara mengambil satu bantal dan selimut lain lalu dia tidur di sofa.
Pagi hari sebelum matahari terbit, Tiara sudah terbangun dan segera merapikan sofa bekas dia tidur. Dia tidak ingin Arga sampai mengetahui kalau dirinya tidur di sofa.
Lalu Tiara segera ke toilet membersihkan diri. Tak lama berselang Tiara keluar dan sudah dengan pakaian rapi.
"Pak Arga... Pak Arga.."
Tiara membangunkan Arga yang masih terlelap tidur. Arga pun mengerjapkan matanya dan melihat Tiara.
"Selamat pagi. Tiara, kamu sudah bangun?."
Dengan suara parau has orang bangun tidur, Arga menyapa Tiara dengan semangat. Lalu segera beranjak ke toilet. Tiara menyiapkan pakaian untuk baju ganti Arga, dan menyimpannya di atas kasur. Kemudian memesan makanan untuk sarapan mereka.
Arga keluar dari toilet hanya dengan handuk yang terlilit di pinggangnya dan bertelanjang dada.
"Tiara mana bajuku?."
Awalnya Tiara merasa risih, tapi dia memberanikan diri untuk profesional menjadi seorang istri yang melayani suami, bagaimanapun keadaannya. Tiara memberikan baju yang sudah dia siapkan.
__ADS_1
"Aku ingin kamu selalu membantuku memakai pakaianku."
Tiara melihat ke arah Arga dan berpikir. Dulu memang Reyna selalu melakukan kebiasaan hal yang sama seperti yang Arga katakan.
Tanpa banyak penolakan Tiara pun membantu Arga memakaikan bajunya. Tapi saat akan memakai celana, Arga mengambil dan memakainya sendiri. Arga tidak membiarkan Tiara untuk berlutut di hadapannya. Lalu Arga memberikan sisir agar Tiara menyisirkan rambutnya.
"Apa dia ini masih bayi..." batin Tiara.
Tiara mencoba menjangkau kepala Arga yang jauh karena perbedaan tinggi badan mereka. Lalu Arga melebarkan kakinya agar sejajar sehingga Tiara bisa dengan mudah menyisir rambut Arga.
Arga menatap Tiara yang sedang telaten menyisir rambutnya. Sesekali Tiara melihat Arga yang melihatnya tanpa berkedip. Posisi wajah mereka yang sangat dekat membuat nafas keduanya saling beradu.
"Nah.. Sudah siap."
Tiara menjauhkan dirinya dan menyimpan sisir di meja rias untuk menghindar.
Setelah mereka menyantap sarapan pagi. Tiara membereskan kamar juga pakaian dan bersiap untuk pulang.
"Tiara, kita akan pulang ke rumah baru. Kita tidak akan tinggal di rumah lama."
"Kenapa?."
"Aku hanya ingin masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Aku akan membangun masa depanku di tempat baru, suasana baru juga dengan istri baru. Rumah baru ini juga tidak terlalu jauh dari rumah dulu. Jadi kalau kamu mau bisa berkunjung kesana kapanpun."
"Pak Arga, apa aku boleh mengatakan sesuatu?."
"Tidak! Aku tidak setuju."
"Kenapa? Aku belum mengatakannya. Kenapa langsung di tolak."
"Aku tau setiap kamu menginginkan sesuatu, pasti itu tidak akan nyaman untukku. Jadi aku langsung menolaknya."
"Padahal aku hanya ingin mengatakan agar Nayla ikut tinggal bersamaku."
"Apa?"
"Aku merasa tidak nyaman jika di rumah sendiri saat pak Arga bekerja. Jadi apakah boleh Nayla tinggal dengan kita untuk menemaniku?."
"Ya, boleh. Aku kira kamu akan meminta hal yang aneh-aneh."
"Terima kasih pak Arga."
Tiara tersenyum lebar karena begitu senang. Dan ada perasaan tersendiri untuk Arga melihat Tiara sebahagia itu.
Akhirnya Tiara dan Nayla pun akan tinggal bersama lagi. Kedua sahabat yang memulai persahabatan mereka di rumah Arga yang sama-sama menjadi asisten pribadi istri Arga terdahulu. Sekarang pun sama tinggal di rumah Arga tapi dengan status Tiara yang berbeda.
*****
Jangan lupa kasih like vote favorit hadiah juga komentar terbaik ny ya....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 😊🙏