
Bab 28
Pada satu malam... Reyna sedang berbaring di tempat tidurnya. Badannya menggigil kedinginan. Tiara yang sedang mengecek keadaan Reyna segera menghampiri.
"Nyonya... anda kenapa?."
"Tiara... aku...."
"Nyonya tunggu sebentar aku akan segera panggilkan dokter."
"Jangan pergi... aku tidak apa-apa. Cepat tambahkan selimut untukku."
"Baik.... " Tiara segera menambahkan selimut untuk Reyna yang masih terus menggigil.
"Apa sekarang sudah lebih baik? Sebenarnya kenapa?nyonya sakit tapi tidak mau di panggilkan dokter."
"Siapa yang sakit... aku tidak sakit... pergilah... aku sudah lebih baik."
Pagi harinya Reyna sudah terlihat baik-baik saja dan sehat. Tiara pun merasa lega.
Tiara sedang membawa air untuk menyiram bunga, tiba-tiba...
Bruk! wurr...
Air yang di bawanya tumpah mengenai Arga yang sedang berjalan karna bertabrakan dengan Tiara.
"Apa yang kamu lakukan!."
Bentak Arga membuat tiara semakin panik.
"Maaf Pak Arga, aku tidak sengaja... maaf! maaf...!."
Seru Tiara sambil mencoba menyeka air yang membasahi baju Arga. Lalu Arga memegang tangan Tiara dan berkata,
"Kamu benar-benar ceroboh! bisa-bisanya Reyna membiarkan orang sepertimu tinggal di sisinya."
Lalu segera pergi dan menghempaskan tangan Tiara. Arga masuk ke kamar dengan keadaan basah kuyup.
"Mas Arga....! kenapa bajumu basah?."
"Ini semua gara-gara gadis itu. Sayang... Sepertinya keputusanmu membiarkan dia tinggal disini salah."
"Mas... aku rasa Tiara pasti hanya tidak sengaja. Dia biasanya hati-hati, pekerjaannya juga rapi."
"Apa kamu tidak melihatnya?." tanya Arga.
"Melihat apa?."
"Tadi dia sengaja menabrakku... benar dugaaanku. Dia mempunyai penampilan yang menarik. Dia seperti penggoda laki-laki."
__ADS_1
"Hai ga ha ha...."
Reyna tertawa mendengar tutur kata Arga.
"Mas...! dia tidak seperti itu."
"he he he, aku melihatnya sendiri, apa mungkin aku salah? Jika aku tidak salah menebak dia sengaja menggodaku. Dia ingin kekuasaan. Kamu lihat tatapan matanya, semyumannya. Jelas-jelas dia... ~.."
"Jelas mas ada pandangan negatif padanya, jadi apapun yang dia katakan dan lakukan mas salah paham padanya."
Reyna memotong ocehan Arga dan tersenyum geli.
"Sudahlah! aku tidak mau berdebat denganmu. Suatu hari nanti kamu akan tau gadis seperti apa dia sebenarnya."
Di kantor...
Arga sedang memeriksa beberapa berkas, tiba-tiba tangannya gatal lalu menggaruknya.
"Anda kenapa pak?."
"Pak! tangan anda penuh dengan bintik merah, saya akan panggilkan dokter."
"Tidak, aku akan pulang ke rumah saja. Mungkin aku hanya kecapean."
Arga bergegas pulang.
Saat di rumah gatal di badannya tidak kunjung reda. Akhirnya Reyna memanggil dokter ke rumah. Setelah di periksa ternyata Arga menderita penyakit kudis. Dokter menyarankan dia tidak kontak dengan orang lain, karna penyakit ini menular.
Reyna menyuruh semua orang meninggalkannya sendiri dan merawat Arga. Akan tetapi di tentang oleh Arga karna hawatir Reyna tertular. Kemudian Tiara menyarankan bahwa dirinya yang akan merawat Arga, karna dulu dia pernah terkena penyakit kudis juga. Jika seseorang yang sudah pernah sakit kudis, dia tidak akan tertular lagi.
__ADS_1
Awalnya Reyna menentangnya. Tapi untuk kesehatan bersama, akhirnya Reyna mengizinkannya.
Arga berendam di air hangat yang sudah di taburi obat. Dia duduk di depan cermin dan bertelanjang dada sambil memejamkan matanya. Tiara menghampiri dan mengoleskan salep pada luka Arga.
Arga terkejut dan membuka matanya dan melihat siapa yang mengobatinya.
Tiara terperanjat melihat tatapan Arga yang menakutkan.
"Keluar!."
Tiara hanya diam saja.
"Aku menyuruhmu segera keluar. Panggilkan orang lain saja!."
"Pak Arga, penyakit ini sangat menular. Jika nyonya yang menjaga anda, hawatir dia juga akan tertular."
Arga melihat ke arah Tiara dan berkata,
"Kamu sangat ceroboh, yang ada aku akan tambah sakit."
"Kalau pak Arga tidak ingin saya mengobati anda, saya akan memanggil nyonya untuk melakukannya."
Sejenak Arga berfikir lalu menyetujui Tiara yang merawatnya.
"Tidak usah! Baiklah... kamu lakukan saja."
__ADS_1
Bersambung...