
Arga keluar dari apartemen Tiara dengan langkah tegap dan mantap. Dia merapikan jasnya dan menatap Reyhan yang menunggunya di luar. Arga terlihat tegang dan menatap Reyhan dengan tajam.
Arga mengambil nafas dalam-dalam sebelum berbicara. "Apa yang kamu lakukan di sini, Reyhan?," tanyanya dengan suara serius.
Reyhan memandang Arga dengan tatapan yang penuh tekanan. "Aku ingin bicara dengan anda, Pak Arga," katanya pelan.
Arga mengangkat alisnya. "Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?."
Reyhan menatap Arga dengan serius. "Tentang Tiara. Aku ingin memastikan bahwa Pak Arga tidak akan melukai hatinya lagi."
Arga mengernyitkan keningnya. "Apa maksudmu?."
Reyhan menatap Arga dengan tatapan tajam. "Aku tahu tentang anda dan Tiara. Aku tahu bahwa Pak Arga telah melukai hatinya."
Arga tersenyum sinis. "Kamu tahu, apa yang sebenarnya terjadi di antara kami berdua?."
Reyhan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin tahu. Yang penting sekarang, aku tidak akan menyerahkan tiara kepadamu untuk ke sekian kalinya. Selama ini aku sudah bodoh dengan terus membiarkan Tiara di sisi anda. Aku pikir dia akan hidup bahagia dan anda akan selalu membahagiakannya. Tapi aku sudah salah, kenyataannya dia hidup menderita."
Arga menatap Reyhan dengan tatapan tajam. "Apa urusanmu dengan ini?."
Reyhan menatap Arga dengan serius. "Aku mencintainya, Pak. Sejak dulu sampai sekarang aku sangat mencintainya. Aku ingin melindunginya."
Arga menghela nafasnya. "Jangan berpikir bahwa ini akan membuatmu memiliki Tiara. Dia bukan milikmu!." mulai dari emosi.
Reyhan mengangguk. "Aku tahu. Aku hanya ingin anda menghormati perasaannya dan tidak melukainya lagi." kata Reyhan dengan penuh tekanan.
Kedua pria itu saling menatap dalam keheningan sejenak sebelum akhirnya Arga melangkah pergi. Reyhan menatap Arga yang pergi dengan rasa lega dan harap-harap cemas.
Di dalam apartemen...
Tiara menatap keluar jendela dengan perasaan campur aduk. Dia teringat kembali kenangan manis dan pahit yang ia alami bersama Arga.
__ADS_1
Meskipun ia masih merasakan sedikit keinginan untuk kembali pada Arga, namun ia membulatkan tekadnya bahwa dia tidak akan kembali lagi kepada Arga.
Meskipun ia merasa sedih dan kecewa, Tiara juga merasa lega karena telah memutuskan untuk berhenti berjuang mempertahankan hubungan yang tidak sehat. Ia siap untuk bergerak maju dan mencari kebahagiaan yang lebih baik.
Tiara mengambil nafas dalam-dalam dan memandang keluar jendela dengan tekad yang kuat. "Aku harus kuat," gumamnya pada dirinya sendiri. "Aku harus terus maju dan mencari kebahagiaanku sendiri."
Tiara duduk sendiri di ruang tamu dan merenung. Lalu dia teringat kepada Reyna, istri Arga yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Tiara mengingat kembali saat Reyna memberinya wasiat.
"Aku ingin agar Tiara menggantikanku sebagai pendamping hidup dan matimu. Aku yakin dia akan menjadi pasangan yang baik untukmu. Jadikanlah dia sebagai istrimu. Salam dari istrimu. Reyna."
Potongan isi surat wasiat Reyna kepada Arga untuknya terngiang di telinga Tiara dan membuatnya memejamkan mata dan berkata,
" Maaf nyonya... Aku tidak bisa menjaga wasiat terakhirmu."
Sekarang, setelah memutuskan untuk berpisah dengan Arga, Tiara merasa bersalah kepada Reyna. Ia merasa bahwa ia tidak bisa memenuhi wasiat yang diberikan Reyna padanya. Tiara merasa berat hati dan menangis dalam diam.
Akhirnya, Tiara memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia membuka album foto dan mengambil satu foto Reyna. Tiara memandang foto Reyna dengan air mata di matanya.
Tiara meletakkan foto Reyna kembali ke album dan mengambil nafas dalam-dalam. Ia siap untuk melangkah maju dan memulai hidup yang baru. Ia yakin bahwa Reyna pasti akan memahaminya dan berharap yang terbaik untuknya.
Beberapa bulan berlalu...
Semenjak pertemuan terakhir Tiara dan Arga di apartemennya. Tiara tidak memberikan waktu kepada Arga untuk menemuinya kembali.
Walaupun Arga sudah berusaha agar Tiara mau menemuinya tapi selalu di tolak Tiara dan mengancam Arga. Tiara mengatakan jika dia terus berusaha ingin menemuinya, maka akan lebih baik jika Tiara meninggalkan kota itu dan tidak bertemu kembali.
Tidak ingin hal itu terjadi, Arga hanya memperhatikan Tiara dari kejauhan dan tidak menampakkan dirinya di depan Tiara. Arga merasa belum waktu yang tepat. Dia harus menunggu perasaan Tiara tenang kembali sehingga bisa di bujuk lagi.
Pagi itu...
__ADS_1
Tiara duduk di kursi taman kota yang teduh, menatap pemandangan di sekitarnya. Beberapa bulan telah berlalu sejak dia mengetahui bahwa dia hamil, dan sekarang perutnya yang sebelumnya datar sudah semakin besar dan bulat.
Saat ini, Tiara merasa sedikit lelah karena kehamilannya, namun senyumnya tidak pernah hilang dari wajahnya. Dia menikmati momen ini, merasakan kebahagiaan yang tidak tergambarkan.
Taman kota yang tenang dan damai membuatnya merasa lebih dekat dengan alam. Suara gemericik air dari kolam dan dedaunan yang bergerak perlahan-lahan menenangkan pikirannya. Dia merasa senang bisa menikmati keindahan alam yang terbentang di sekelilingnya.
Tiara merenung sejenak tentang masa depannya bersama sang buah hati. Dia berharap dapat memberikan yang terbaik untuk anaknya, memberikan cinta, perhatian, dan kebahagiaan. Dia merasa bersyukur atas semua berkah yang telah diberikan kepadanya, dan berjanji untuk menjadi ibu yang baik dan tangguh.
Melihat jam di pergelangan tangannya, Tiara menyadari bahwa sudah waktunya untuk kembali pulang. Dia berdiri perlahan-lahan dan menatap pemandangan untuk terakhir kalinya sebelum pergi.
Lalu Reyhan hadir dan mengulurkan tangannya untuk Tiara berpegangan dan membantunya berdiri.
"Rey...?." Menatap Reyhan dengan senyumnya.
"Bodyguard sudah tiba, mari Nona saya bantu."
Tiara dan Reyhan tertawa bersama saat Reyhan melakukan hal itu. Mereka berjalan dengan hati penuh harapan dan kebahagiaan untuk menunggu saat bahagia ketika sang buah hati Tiara lahir ke dunia.
Reyhan dan Tiara berjalan berdampingan di sepanjang jalan taman kota, menikmati suasana yang tenang dan damai. Mereka tertawa dan bercanda, merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama-sama di tengah kesibukan kota.
Saat mereka berjalan, beberapa orang melewatinya dan menyaksikan kebersamaan mereka dengan iri hati dan banyak yang berkata,
"Lihatlah, mereka pasangan suami istri yang serasi ya...."
"Mereka orang tua yang cantik juga tampan, pasti anak mereka juga akan mirip dengan mereka, aku jadi iri...."
Namun, keduanya hanya tersenyum dan tidak memperdulikan pandangan orang lain. Mereka tahu persahabatan mereka begitu erat dan tulus, tanpa ada hubungan romantis di antara mereka.
Arga duduk di dalam mobil dan memperhatikan Tiara dan Reyhan berjalan berdampingan di sepanjang jalan taman kota. Dia menemukan keberadaan Tiara karena melacak keberadaan Reyhan yang dia yakini jika hari ini Reyhan akan menemui Tiara, secara hari ini adalah weekend.
Awalnya Arga hanya melihat Tiara dan Reyhan yang berjalan membelakanginya tapi saat berbalik, Arga melihat perut Tiara yang besar, dia langsung menerka-nerka dan menyimpulkan bahwa Tiara sedang mengandung anaknya Reyhan.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Arga langsung turun dari mobil dan menghampiri mereka. Dia memanggil Reyhan dan Tiara, dan ketika mereka berbalik, dia dengan penuh penasaran bertanya kepada Tiara, "Apakah kamu mengandung anakku, Tiara?"
Bersambung....