Kisah Unik Seorang Gadis

Kisah Unik Seorang Gadis
Bab 110 - Selamat tinggal Reyhan...


__ADS_3

\*\*\*


Dalam keheningan ruang inap rumah sakit, suasana diiringi oleh bunyi monitor pendeteksi jantung yang terus berdetak. Tiara, dengan tubuh yang lemah dan tak berdaya, mendapati dirinya dalam keadaan terbangun dari tidur yang cukup lama.


Di tengah keadaan setengah sadar, Tiara merasa seperti mendengar langkah kaki yang lembut mendekatinya.


Suara itu terdengar samar-samar, seolah-olah seseorang sedang mendekat ke tempat tidurnya. Tiara mencoba memutar kepalanya dengan susah payah, berusaha melihat siapa yang mungkin datang.


"Rey-han...."


Dalam kebingungannya, Tiara menyebut nama Reyhan dengan lemah. Ia merasa ada kehadiran yang akrab dan penting di sekitarnya. Namun, saat ia memandang sekeliling dengan mata yang masih kabur, ia hanya melihat suasana ruangan rumah sakit yang tenang dan kosong.


Tiara mencoba mengumpulkan kekuatannya, menggertakkan gigi dan membuka matanya dengan perlahan. Ia ingin memastikan bahwa suara langkah kaki yang ia dengar bukanlah halusinasi dari kelelahan atau efek obat-obatan yang diberikan.


Namun, apa yang ditemui oleh pandangannya tidak lebih dari ruang inap yang sepi dan sunyi. Tidak ada siapa pun di sana kecuali dirinya sendiri dan peralatan medis yang mengelilinginya.


Tapi setelah beberapa saat, Tiara melihat sosok yang ia yakini itu adalah nyata. Kini Tiara membuka matanya sempurna dan terlihatlah Doni menghampiri Tiara dan merasa senang karena Tiara sudah siuman setelah tidak sadarkan diri selama tiga hari.


"Doni...?."


"Tiara, syukurlah kamu sadar dan baik-baik saja," sapa Doni sambil tersenyum kecil.


Tiara melihat ke arah pintu dan mengharap kedatangan seseorang. "Pak Arga sedang di kantor polisi untuk menjadi saksi atas kejadian ini... tenang saja, dia bilang akan segera kembali kesini," seru Doni saat melihat Tiara yang merasa gelisah.

__ADS_1


"Reyhan... Doni, Dimana Reyhan?," tanya Tiara lemah.


Seakan menahan kesedihan, Doni tidak langsung menjawab pertanyaan Tiara karena khawatir memberi pukulan yang berat ketika ia baru saja siuman.


"Reyhan, baik-baik saja," jawab Doni meyakinkan, namun air mata yang sudah ada di pelupuk mata Doni tidak bisa membohongi perasaan Tiara.


Tiara mencoba menggerakkan tubuhnya, dan kini ia dalam posisi sedikit bersandar dengan bantuan Doni. "Doni... Katakan sejujurnya, bagaimana kondisi Reyhan? Apa dia baik-baik saja?."


"Tiara, Reyhan sudah tidak ada di dunia ini, dia sudah meninggalkan kita... Dan jantung yang kini ada dalam tubuhmu, itu adalah jantungnya Reyhan... Ia tidak bisa bertahan sehingga memutuskan mendonorkan jantungnya padamu."


Jederrr!


Seakan terkena petir di siang bolong, kini Tiara meremas jantungnya yang seakan berdetak lebih kencang karena terkejut.


"Doni... Apakah kamu berkata jujur?," tanya Tiara lemah, namun ia berusaha agar air matanya tidak jatuh keluar meskipun sudah bertumpuk di pelupuk mata.


Tiara mendengar semua tutur Doni dengan tatapan kosong yang melihat ke arah jendela. Saat itu, semua kenangan tentang Reyhan terbuka dan dengan leluasa menguasai pikiran Tiara.


Dari mulai saat pertama kali mereka bertemu, perseteruan yang berakhir dengan saling mencintai, juga setiap kenangan manis bersama, telah membubuhi luka melepas kepergian Reyhan saat ini.


Tidak terasa kini air mata Tiara tidak bisa terbendung lagi dan mengalir begitu saja saja. Doni yang melihat tangis Tiara juga ikut bersedih dan menatap Tiara nanar.


Tiara meremas jantungnya dan merasakan jantung Reyhan yang kini ada dalam tubuhnya. "Reyhan...," batinnya sambil memejamkan mata.

__ADS_1


"Tiara, sebelum Reyhan menutup matanya, dia ingin mengatakan satu hal padamu."


Tiara menghapus air matanya yang seolah tiada henti mengalir. "Apa itu? Katakanlah...," jawab Tiara sambil menoleh ke arah Doni dan mencoba menenangkan diri.


"Reyhan berkata : (" Tiara, di kehidupan ini... Aku sudah mencurahkan seluruh hatiku untuk mencintaimu meskipun kita tidak bisa bersama... Dalam kehidupan selanjutnya, maukah kamu mencintaiku dan hidup bersama denganku?....") itulah yang dikatakan Reyhan," kata Doni.


Tiara tidak segera menjawab pertanyaan Reyhan uang di wakili Doni tersebut dan mengalihkan pandangannya kembali ke arah jendela. Mendapat respon seakan di abaikan, Doni pun berkata,


"Tiara, kamu memang berhati dingin... Paling tidak kamu berpura-pura mengatakan setuju agar Reyhan tenang disana... Tapi memang beginilah kamu, yang selalu tidak ingin orang lain tau perasaanmu...."


Seakan tidak bergeming, Tiara hanya terus menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong sampai Doni pamit undur diri dan pergi dari ruangannya.


"Ya... Aku bersedia...," kata Tiara sambil memejamkan matanya, menjawab pertanyaan Reyhan yang di wakili Doni tadi.


Tidak bisa di pungkiri, kisah cinta Tiara dan Reyhan memang sangat mengharukan. Meskipun takdir memisahkan mereka di dunia ini, cinta yang mereka bagi tetap abadi dan tak terlupakan.


Setiap detik yang mereka habiskan bersama penuh dengan kehangatan, kebahagiaan, dan pengorbanan.


Reyhan adalah sosok yang setia, baik dalam kehidupan maupun setelah kepergiannya. Meskipun tidak berada di sisi Tiara secara fisik, cintanya tetap hidup dalam hati dan kenangan mereka.


Tiara selalu merasakan kehadiran dan kasih sayang Reyhan di sepanjang perjalanan hidupnya dengan jantung Reyhan yang bersemayam dalam tubuhnya.


Selamat tinggal Reyhan...

__ADS_1


Bersambung...


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2