Kisah Unik Seorang Gadis

Kisah Unik Seorang Gadis
Bab 79 - Dendam yang terbalaskan


__ADS_3

💮💮💮💮💮💮💮


Setelah sampai rumah...


Arga tidak melepaskan tangan Tiara sedetik pun, dia terus menggenggamnya meskipun Tiara mengatakan tangannya terasa kebas.


Arga berjalan dengan langkah yang lebar sedangkan Tiara berjalan dengan sangat cepat karena menyeimbangi langkah Arga.


Semua pelayan yang menyaksikan kejadian itu merasa heran dan bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun tidak berani mencampuri urusan majikan mereka itu.


Saat tiba di kamar, Arga melempar Tiara di atas kasur hingga terpental saking kuat tenaga Arga juga kasur yang begitu empuk menjadikan Tiara bergoyang goyang di atas kasur.


Lalu Arga menghampiri Tiara dan menindihnya. Saat Arga mendekati wajah Tiara dan menatapnya, Arga mengernyitkan dahinya ketika Tiara memalingkan wajahnya dan menghindari tatapan Arga.


"Kenapa? Kenapa kamu menghinadariku dan tidak menatapku?."


Tiara hanya membiarkan pertanyaan Arga berlalu begitu saja tanpa niat untuk menjawabnya. Kekesalan Tiara terhadap Arga begitu menguasai hatinya. Dia tidak menerima pengkhianatan yang Arga lakukan terhadap Reyna.


Tidak mendapat jawaban, Arga semakin mencengkeram kedua tangan Tiara.


"Kamu ingin membuatku kesal dan marah? Baiklah... Terima ini."


Arga men*ium paksa Tiara yang mencoba berontak. Melihat dada Tiara yang naik turun karena bernafas dengan cepat membuat Arga semakin ber*airah. Setelah sekian lama tidak di beri lampu hijau akhirnya siang itu Arga melancarkan aksinya dengan pemaksaan.


Berada di bawah satu selimut berdua dalam keadaan yang polos, kali ini Tiara meringkuk dan menangis seakan tidak meridhoi tubuhnya di sentuh oleh suaminya itu. Sedangkan Arga dia sudah terlelap dengan dengkuran halusnya dan memeluk Tiara dari belakang.


Tiara turun dari ranjang dan memungut bajunya. Setelah bersih-bersih dan berpakaian rapi Tiara menuju suatu tempat dan melakukan satu panggilan telpon.


"Nayla... Ikut aku."


Tiara mengajak sahabatnya itu yang sudah stanby di bawah.


~~


Sarah baru sampai rumah setelah sebelumnya merayakan kemenangannya sendiri di sebuah bar. Tiba-tiba mendapat satu panggilan,


Dretttt drettt...!


Panggilan dari seseorang yang kontaknya tidak mempunyai nama.


" Hallo,..?."


Setelah menerima telpon dari seseorang itu. Sarah langsung pulang dan menuju ke suatu tempat yaitu rumah Reyna, padahal baru beberapa jam dia pergi dari sana.


Saat tiba di sana Sarah di tekuk oleh dua orang pria dan di suruh berlutut di hadapan foto mendiang Reyna.


"Lepaskan aku! Lepaskan! Apa yang kalian lakukan?."


Sarah menatap foto mantan majikannya itu dengan banyak perasaan. Lalu Sarah melihat kedatangan Tiara dan Nayla.


"Kita berjumpa lagi, bukankah ini hal yang baik Sarah?."


Sarah menatap Tiara dengan penuh amarah.

__ADS_1


"Kenapa dengan raut wajahmu? Sepertinya tidak ada rasa kebahagiaan sedikit pun yang terlihat."


Kemudian Sarah bangun dan menegakkan badannya.


"Tiara. Hari ini adalah hari kematian nyonya Reyna. Kamu menyekapku disini sebenarnya mau apa?."


"Menurutmu?."


"Tiara, sekarang kamu adalah seorang istri dari tuan Arga yang terhormat. Jangan melakukan hal-hal yang akan mencoreng nama baik suamimu."


Tiara tertawa meledek.


"Aku tidak akan menggangu jika tidak ada orang yang memulainya. Jika kamu memaksaku maka aku tidak akan sungkan melakukan sesuatu kepadamu," lanjut Sarah.


"Sarah, coba kamu lihat nyonya Reyna, majikanmu dahulu!." Ucap Nayla.


Sarah melihat ke arah Nayla yang juga seperti menganggapnya musuh.


"Nayla, walaupun sekarang kamu berada di sisi Tiara. Kamu tidak boleh melupakan hubungkan kita dahulu."


"Hubungan? Ya, karena aku masih memikirkan hubungan kita dahulu jadi masih bisa di peralat olehmu untuk melukai nyonya Reyna. Aku sungguh kesal pada diriku yang bodoh ini, karena tidak bisa melihat hatimu yang busuk."


"Aku tidak tau kamu bicara apa Nayla, aku harus segera pergi dari sini."


Di rasa ada sesuatu yang tidak beres, Sarah ingin segera keluar dari rumah itu.


Di saat Sarah akan keluar dia di hadang oleh dua orang yang berbadan besar.


"Tiara! Apa yang sebenarnya kamu inginkan!."


"Apa yang harus aku takuti?."


"Takut masalah yang kamu sembunyikan dahulu yang mengkhianati nyonya Reyna terbongkar!."


Teg...! Sarah merasa panik.


"Sarah! Kita bertiga dulu melayani nyonya. Bagaimana sikap nyonya terhadap kita, apakah kamu sudah melupakannya?."


Sarah melihat foto Reyna dan berkata,


"Aku sama sekali tidak lupa."


"Lalu kenapa kamu tega mengkhianati nyonya?."


"Nyonya meninggal karena bunuh diri, apa hubungannya denganku?."


"Hubungannya denganmu? Aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya padamu, karena kamu sendiri yang tau pasti kebenarannya."


Sarah merasa sudah menjadi lebih tidak aman. Apalagi saat mengira bahwa Tiara sudah mengetahui kejadian saat itu. Lalu dia mencoba melarikan diri tapi pintu rumah itu di tutup rapat-rapat.


" Sebenarnya apa maksudmu Tiara? Kamu jangan berbelit belit seperti ini!."


"Sarah... Nyonya memang meninggal karena loncat dari ketinggian rumahnya. Tapi dia tidak akan melakukan hal sebodoh itu jika hidupnya tidak di hancurkan olehmu!."

__ADS_1


Sarah terkesiap melihat amarah Tiara yang membludak. Air mata yang tidak pernah dia lihat sendiri dari mata Tiara kini dia melihatnya.


" Nyonya sedang dalam keadaan lemah karena depresi telah kehilangan anaknya. Tapi dia sadar dan mencoba menerima takdirnya... Dia mencoba agar bisa bangkit kembali... Tapi di saat cahaya hidup nyonya akan bersinar lagi... Di saat nyonya ingin memiliki keyakinan untuk hidup lagi... Kamu datang dan memberi satu pukulan yang hebat! Dengan memberitahu nyonya tentang hubungan gelapmu dengan Mas Arga! Tidak hanya itu... Kamu juga mengatakan kepada nyonya, jika kamu mengandung anaknya Arga!!!. "


Sarah menyimak perkataan Tiara tapi tidak terlihat raut penyesalan dalam hati dan wajahnya. Dia malah memicingkan matanya seakan merasa puas dengan semua itu.


Tiara yang menangis karena amarahnya seketika terdiam saat melihat ekspresi Sarah yang seolah tidak merasa bersalah.


"Ya, benar... Semua yang kamu katakan itu benar. Aku memang sengaja mengambil kesempatan nyonya saat lemah untuk memberi tahu kebenaran itu. Tapi aku tidak menyuruhnya untuk bunuh diri. Itu hanya hal konyol yang nyonya lakukan sendiri."


Tiara mengernyitkan dahinya tidak menyangka dengan sikap Sarah yang seperti ini.


" Sarah! Kamu sangat keterlaluan! "


Nayla berteriak dan merasa sangat marah kepada Sarah.


" Apa Nayla? Jadi sekarang kamu sudah lebih berani padaku. Rupanya itu hasil didikan Tiara yang sudah menjadi sahabatmu ini."


"Aku tidak menyangka kamu sejahat ini Sarah!,"


"Ha ha ha... Aku jahat? Dia lebih jahat!."


Sarah membentak sambil menunjuk Tiara.


"Semua ini gara-gara kamu Tiara, kamu yang menyebabkan aku menjadi seperti ini. Gara-gara kamu! Reyhan tidak pernah menganggapku menjadi istrinya. Dia selalu mengabaikanku dan selalu merindukanmu! Aku tidak pernah sekalipun di beri kehangatan olehnya. Sebab itu, aku membulatkan tekad akan menghancurkan kalian semua yang menyakitiku!."


"Kamu marah kepadaku, apa hubungannya dengan nyonya Reyna?!."


"Apa hubungannya? Tentunya saja ada. Dia juga hanya berpura-pura mendukung pernikahanku dengan Reyhan. Tapi yang sebenarnya dia hanya menginginkan kamu untuk menjadi iparnya! Jadi aku juga menjadikan nya target pertamaku dengan begitu kematiannya itu akan menjadi penderitaan kalian juga a ha ha ha...."


Tiara merasa geram lalu...


PLAKKKKK...!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sarah yang angkuh itu. Ekspresi penuh amarah Sarah begitu nyata dan akan membalas tamparan Tiara tapi malah mendapatkan satu tamparan lagi dari Nayla yang juga menamparnya.


"Kalian!!!!."


Dengan memegang kedua pipinya, Sarah mengancam Tiara dan Nayla bahwa dia akan melaporkan kejadian ini ke polisi dan Arga.


Tapi Tiara tidak bergeming dan malah mengatakan,


"Silahkan lapor pada polisi ataupun Arga! Itupun jika kamu masih bisa keluar dari rumah ini!."


"Apa maksudmu?."


Nayla mendekati Sarah sambil membawa satu nampan yang berisi segelas racun, pisau dan sebuah tali lalu menyimpan nya di meja. Sarah membelalakan kedua matanya saat melihat barang-barang tersebut.


"Aku tau jika kamu seorang yang cerdas dan pasti kamu tau apa yang harus kamu lakukan untuk menebus kesalahanmu terhadap orang yang selama ini baik terhadapmu. Sebagai seorang yang pernah menjadi teman di rumah ini aku hanya ingin mengatakan, Selamat jalan."


Setelah berpesan Tiara dan Nayla pergi meninggalkan Sarah sendiri dengan semua kenangan yang terbayang di kepalanya. Saat dia menjadi orang terdekat Reyna dan saat-saat terakhir tinggal di rumah itu.


Setelah beberapa jam memandangi barang-barang yang ada di depannya itu, akhirnya Sarah pun mengambil satu gelas yang berisikan racun lalu meminumnya hingga akhirnya dia terkapar dan meninggal di tempat dengan posisi telungkup menghadap foto Reyna yang sedang tersenyum.

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2