Kisah Unik Seorang Gadis

Kisah Unik Seorang Gadis
Bab 48 - Takut kehilangan


__ADS_3

Sembilan bulan lamanya bagi seorang ibu untuk mengandung dan menanti kelahiran buah hatinya.


Kini Tiba saatnya Reyna akan melahirkan yang bertempat di sebuah rumah sakit. terbesar. Arga beserta kedua asisten Reyna, sudah stanby di depan ruang operasi.


Terdengar suara jeritan dan rintihan rasa sakit yang Reyna alami. Dia sedang berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan anaknya ke dunia ini.


Begitu pun Arga dia mondar mandir penuh kecemasan, menunggu hasil yang akan di kabarkan dokter.


"Pak Arga... Dokter terbaik di rumah sakit ini ada bersama nyonya. Nyonya adalah orang yang baik. Tidak akan terjadi sesuatu apapun padanya."


Tiara mencoba menenangkan Arga, padahal dirinya sendiri lebih mencemaskan dan menakutinya.


Terlihat dokter dan para suster sedang berusaha semaksimal mungkin membantu Reyna melahirkan. Sekarang Tiara dan Nayla pun berada di ruangannya Reyna mendampinginya.


Dengan rasa panik bercampur rasa takut. Keringat di wajah Tiara tiada henti mengalir. Apa lagi ketika melihat kondisi Reyna yang terlihat sudah kelelahan membuatnya menjadi tak karuan.


Melihat banyaknya darah yang keluar menambah rasa takut di hati Tiara. Reyna berpegangan pada tangan Tiara dengan sangat kuat karena rasa sakit yang begitu banyak.


"Nyonya... Nyonya jangan membuatku takut. Nyonya akan baik-baik saja. Ini adalah perjuangan untuk anak yang nyonya nantikan sejak lama. Nyonya..." Tiara berusaha menguatkan Reyna akan tetapi dia sendiri yang merasa sudah tak bisa melihat penderitaan majikannya itu.


Lalu Tiara hendak pergi dan perlahan melepaskan pegangan tangannya. Reyna melambaikan tangannya agar Tiara tidak pergi dan menjauh darinya. Dengan exspresi penuh ketakutan Tiara mundur selangkah demi selangkah dan keluar dari ruangan itu dengan jalan yang tidak beraturan. Arga memanggilnya dan menanyakan apa yang terjadi. Tapi Tiara tidak menghiraukannya.


Tibalah Reyhan yang juga datang karena mendengar kabar kakaknya yang segera melahirkan. Dia melihat Tiara yang merasa hawatir dan ketakutan. Lalu dia mengikutinya.


Tiara berusaha pergi sejauh mungkin agar tidak bisa mendengar jeritan Reyna. Dia berjongkok dan menangis di pojokan. Meremas kakinya agar meredakan rasa takutnya.


Tiba - tiba Reyhan berada di belakangnya dan menutup kedua telinga Tiara sambil berkata :


"Tutup telingamu maka tidak akan terdengar."


Tiara menyadari kehadiran Reyhan dan merasa tertenangkan.


"Kakak bukan ibumu, dia tidak akan mati dia pasti akan melewatinya dengan selamat. Kejadian tragis tidak akan terulang lagi. Semua akan baik-baik saja. Dulu kamu di sakiti, dihina orang bahkan di salahkan orang kamu tidak pernah menangis. Sekarang justru malah menangis. Apa begitu menakutkan?. "


" Hiks... Hiks... Hiks... "


Tiara mendengarkan Reyhan sambil terus menangis dan sesekali menghapus air matanya. Lalu Reyhan berusaha mengulurkan tangannya untuk menyeka air mata Tiara tapi dia mengurungkan niatnya itu. Karena Tiara menutup wajahnya dan terus menangis. Posisi keduanya begitu dekat. Tiara yang duduk berjongkok dan Reyhan berada di depannya. Lalu Tiara segera berdiri.


"Terima kasih pak Reyhan.. Aku harus kembali kesana." Tiara segera beranjak pergi dan tidak melihat ke belakang lagi Walau Reyhan terus memanggil namanya. Reyhan menatapnya nanar.

__ADS_1


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya bayi yang di nantikan lahir juga. Semua menyambut gembira atas kehadiran bayi itu. Arga langsung menggendong anaknya dan menciumnya.


"Tuan selamat! Bayi anda sudah lahir dengan selamat dan sehat begitu juga dengan ibunya." para dokter mneyelamatinya.


Di saat semua orang sibuk menyambut bayi itu. Terlihat Tiara berada di dalam ruangan Reyna dan masih menangis.


"Di saat semua orang berbahagia, kenapa hanya kamu yang menangis?"


"Nyonya..."


Reyna membelai pipi Tiara dan menghapus air matanya. Lalu berkata :


"Aku tidak pernah melihatmu begitu takut, dan tidak pernah melihatmu melarikan diri."


"Maafkan aku nyonya... Aku hanya takut. Hiks... Hiks.. Hiks.."


"Semua orang berada di kamar bayi, hanya kamu yang ada di sisiku. Niat tulusmu padaku, aku sangat mengerti. Terima kasih."


"Hiks... Hiks.. Hiks.. Tadi aku sangat ketakutan, aku pernah kehilangan seorang ibu, kakakku, ayahku, hanya tinggal aku sendirian. Hiks.. Hiks.. Hiks... Terima kasih karena nyonya masih hidup."


Reyna tersenyum bahagia.


Walaupun Tiara ikut berbahagia atas kelahiran anak Reyna. Tapi tidak sekalipun Tiara ingin menggendong ataupun mendekati bayi itu. Karena Tiara merasa bayi itu sudah membuat Reyna hampir kehilangan nyawanya.


"Cilukba.. Cilukba... Nyonya lihatlah pangeran kecil ini sangat tampan dan lucu." sahut Nayla.


"Kamu benar sekali Nayla, di mirip dengan ayahnya. Betulkan Tiara?"


"Nyonya... Tiara tidak pernah melihat wajah anak nyonya ini. Mana mungkin dia tau bahwa anak nyonya ini memiliki ketampanan yang tidak bisa di bandingkan dengan siapa pun di dunia ini ha.. Ha.."


"Nyonya... Anda harus lebih menjaga kesehatan nyonya. Bayi itu tidak tau kalau nyonya sangat menderita ketika melahirkannya." Ucap Tiara bermuka datar.


Reyna tertawa mendengar perkataan Tiara.


Lalu Reyna mencoba memberikan bayinya agar Tiara menggendong anaknya.


"Nyonya.... Nyonya...! Aku tidak mau menggendongnya." Tiara mundur menolak untuk menggendong anak Reyna.


"Kamu akan selalu menjadikannya musuhmu jika kamu tidak pernah menyentuhnya. Lihatlah anak ini kamu akan menyukainya."

__ADS_1


Tiara menatap aneh pada bayi lucu yang sedang di tangannya itu. Dia bingung apa yang harus dia lakukan.


"Nyonya.... Aku harus bagaimana?"


Reyna dan Nayla menertawakan tingkah Tiara yang kaku terhadap seorang bayi.


"Hai..! Kamu, cepat tertawa..! Hii... Kenapa dia tidak tertawa, nyonya bagaimana ini?"


Tiara mencoba mengajak main bayi dengan wajah tanpa ekspresi. Yang ada dia kebingungan sendiri.


Gelak tawa di kamar Reyna menghangatkan suasana di rumah itu.


"Nyonya.. Bagaimana keadaan anda, sudah sehat?" Sarah baru saja tiba menjenguk Reyna dan keponakannya. Dia langsung menghampiri bayi yang sedang bersama Tiara dan langsung menggendongnya.


"Bayi ini sangat lucu juga tampan."


Tiara melihat ke arah pintu nampak tidak terlihat Reyhan bersama Sarah.


"Kamu sendirian kesini?" Tanya Reyna.


"Iya.. Tadi saya di antar supir, Reyhan mengatakan dia sedang ada pekerjaan mungkin nanti dia akan menyusul kesini. Nyonya... Selamat! akhirnya anda mempunyai seorang putra. Dan sebentar lagi, nyonya juga akan mempunyai keponakan."


Semua orang yang berada di sana merasa terkejut. Tidak terkecuali dengan Tiara.


" Sarah... Apa yang kamu katakan? Kamu sedang hamil?" Tanya Nayla.


Reyna yang merasa kaget mendengar kabar itu hanya melihat ekspresi Tiara yang terlihat sedih.


" Benar... Aku sedang mengandung anak Reyhan. Dia akan menjadi seorang ayah."


Sarah menjawab pertanyaan Nayla dengan sangat puas seolah sengaja ingin membuat Tiara merasa cemburu.


"Baguslah kalau begitu. Karena sekarang kamu sedang hamil, kamu harus menjaga kesehatanmu." nasihat Reyna. Walau bagaimanapun memang kenyataan Sarah adalah istri dari adiknya itu.


****


Jangan lupa.. kasih like, vote, favorit dan komennya ya..


Terima kasih sudah membaca mohon dukungannya 😊🙏

__ADS_1


__ADS_2