Kisah Unik Seorang Gadis

Kisah Unik Seorang Gadis
Bab 76 - Rahasia yang terbongkar


__ADS_3

"Mas, besok aku akan pergi ke taman hiburan bersama Nayla."


"Untuk apa? Hanya berdua?."


"Tidak, Doni juga akan ikut."


Arga melihat Tiara tidak percaya dan bertanya,


"Apa kamu akan menjadi nyamuk untuk mereka?."


Tiara berpikir sejenak dan tertawa kecil.


"Ya, tidak apa-apa. Karena tidak mungkin kan Mas mau pergi dengan kami."


"Kenapa tidak."


"Yang benar? Mas mau ikut ke taman hiburan?."


Arga menganggukkan kepalanya tanda setuju. Di sambut dengan pelukan Tiara yang merasa sangat bahagia.


Pagi pun tiba...


Sampailah di taman hiburan tujuan mereka berempat. Arga dan Doni merasa minder karena kedua wanita yang mereka cintai itu mengajaknya ke tempat yang sepantasnya tempat kencan anak muda.


Tapi demi apa, mereka rela mengikuti dua perempuan yang sekarang seperti anak kecil itu. Melihat keseruan Tiara dan Nayla, akhirnya Doni pun ikut - ikutan menikmati permainan di wahana tersebut.


Arga pun membuang egonya dan mencoba satu wahana, tidak di sangka Arga juga sangat menyukai dan menikmatinya. Dia merasa seperti nostalgia. Bahkan dia menjadi orang yang paling heboh dan tidak mau pulang.


Setelah merasa capek mereka beristirahat sejenak di toko es krim dan membeli 4 buah. Di saat asyik makan es krim, Arga menerima sebuah panggilan yang dari tadi dia cansel karena tidak mau terganggu saat bermain.


"Sayang, aku angkat telpon dulu ya."


Di balas dengan anggukan Tiara yang sibuk memakan es krim, lalu Arga pergi agak menjauh mencari suasana agak tenang karena di sekitar sana sangat berisik.


Di saat sedang asyik menjilati es krim yang seperti tugu monas, Tiara melihat seorang pengemis yang sangat memprihatinkan di pinggir jalan. Rasa kemanusiaan nya bergejolak dan iba, dia berniat ingin memberikan sedikit hartanya dan segera menghampiri pengemis tersebut.


"Ibu, ini ada uang sedikit untuk makan."


"Terima kasih Nona, terima kasih...."


Nayla memanggil Tiara dari kejauhan agar segera kembali.


"Tiara...! Cepat kembali."


"Iya....!"


Saat Tiara akan beranjak dari sana, tiba-tiba kaki Tiara di tahan oleh pengemis tadi.


"Nona Tiara, ini anda? Nona ... Tolong ampuni saya Nona! Maafkan saya."


Pengemis itu menangis dan berlutut di kaki Tiara. Nayla yang melihatnya langsung menghampiri Tiara karena takut terjadi sesuatu.


"Hei! Kamu, lepaskan! Kenapa kamu berbuat lancang?." cegah Nayla.


"Kak Nayla ... Nona ... ampuni saya Nona!."

__ADS_1


Tiara ikut berlutut dan melihat wajah pengemis itu dan bertanya,


"Kamu siapa? Kenapa minta maaf padaku?."


Tiara sama sekali tidak mengenal orang itu karena penampilan nya yang sangat kotor.


"Tiara, ayo kita pergi. Jangan menghiraukannya."


"Nona ... saya dulu bekerja di rumah Nona. Saya di pecat dan di usir oleh tuan Arga karena sudah berbuat salah kepada Nona."


Nayla langsung mengingatnya lalu mengingatkan Tiara.


"Nona, saya sudah berbuat salah dan saya sudah menerima hukumannya. Nona untuk menebus semua kesalahan saya, saya ingin mengatakan sesuatu tentang nyonya Reyna."


"Tiara ... Ayo kita pergi. Jangan dengarkan omong kosong orang ini."


Tiara merasa penasaran dengan apa yang ingin mantan art nya itu katakan. Apalagi itu menyangkut tentang Reyna.


"Apa yang ingin kamu katakan? Cepat katakanlah."


"Nona, saya akan mengatakannya jika Nona akan memberikan saya uang agar saya bisa hidup dan tidak terlunta lunta seperti ini."


"Baiklah, jika apa yang kamu katakan itu bermanfaat aku akan memberikan uang untukmu."


"Nona, waktu itu ... satu hari sebelum Nyonya Reyna meninggal. Nona Sarah mendatangi kamar nyonya Reyna. Saya mendengar nona Sarah mengatakan sesuatu kepada nyonya besar."


"Apa maksudmu?."


"Saya mendengar, nona Sarah mengatakan kalau dia pernah menghabiskan malam bersama dengan tuan Arga dan nona Sarah mengandung anak dari tuan Arga."


"Akh!."


"Kamu jangan bicara sembarangan! Aku akan membuatmu berada di jeruji besi karena sudah mencoba mencemarkan nama baik suamiku!."


"Tidak Nona! Saya tidak berbohong. Saya mengatakan yang sesungguhnya. Bahkan saya telah merekam percakapan nyonya dan nona Sarah dan menyimpan rekaman video itu di dapur."


"Dimana rekaman itu?."


"Saya menyimpannya di dapur tempat penyimpan loker pribadi saya, waktu itu saya tidak di berikan waktu untuk mengambil handphone saya. Dan mungkin itu masih ada di sana."


Tiara mencoba berdiri dan menapakan kakinya yang terasa lemas. Bagai terkena petir di siang bolong. Di tengah keramaian itu Tiara harus mendengar kabar tentang kebenaran alasan kematian Reyna yang sesungguhnya.


Tiara memberikan sejumlah uang yang banyak kepada mantan art nya itu. Lalu segera pergi dari taman hiburan dengan air mata yang terus mengalir.


Nayla mengikuti Tiara yang ikut pergi meninggalkan Arga dan Doni yang menunggunya di satu tempat taman hiburan.


"Kemana dua bocah itu?."


"Bocah yang mana Pak Arga?."


"Maksudku, istriku dan asisten nya?."


Doni tertawa geli mendengar Arga memanggil mereka dengan sebutan bocah.


"Tadi mereka disini dengan saya, tapi belum kembali lagi. Mungkin mereka sedang ke kamar kecil."

__ADS_1


Tiara dan Nayla sudah sampai rumah dan segera menuju dapur. Tiara memeriksa setiap loker yang ada di dapurnya itu. Benarlah, Tiara menemukan sebuah handphone yang di katakan oleh mantan art nya tadi.


Dengan tergesa-gesa Tiara segera memasuki kamarnya untuk mencarger handphone yang sudah kehabisan batre itu.


Kurang lebih selama 15 menit Tiara menunggu handphone itu terisi daya. Walaupun belum selesai terisi Tiara langsung menyalakannya dan mengecek video yang dia cari.


Tiara sempat ragu saat akan membuka video yang di beri nama 'Nyonya besar' tapi Nayla mencoba untuk meyakinkannya.


Kemudian Tiara memutar video itu dan ...


Jeng jeng jeng...!!!!


Isi video itupun sama dengan apa yang di katakan mantan art nya tadi. Disana, terlihat Sarah yang bicara kepada Reyna dengan sangat angkuh.


"Nyonya, anda harus cepat sembuh ... Kasihan ibu yang selalu menangis karena mengkhawatirkan nyonya."


~~


Sarah berdiri dan hendak pergi lalu mengurungkannya dan berkata lagi,


"Aku juga punya sesuatu untuk di kabarkan kepada nyonya. Saat nyonya sedang hamil tua saya menghabiskan satu malam dengan tuan Arga. Jadi anak yang aku kandung ini sebenarnya adalah anak dari tuan Arga."


~~


"Dan satu lagi ... Kebakaran kemarin sebenarnya aku yang melakukannya. Maaf, aku sudah membuat anak nyonya meninggal."


Reyna yang terbaring lalu segera memaksakan diri untuk bangun. Dia tidak menyangka Sarah akan berbuat senekad itu. Lalu Reyna menampar Sarah dan memarahi Sarah.


" Ke*arat! Dasar kamu Ke*arat!. Karena kamu, semua karenamu! Seumur hidupku aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!."


"Nyonya, aku memang salah tapi tuan Arga juga salah."


"Kalian adalah orang terdekatku, tapi kalian satu persatu telah menyiksa dan mengkhianati diriku. Kenapa kalian memperlakukan aku seperti ini? Hu hu hu."


"Nyonya, saya pamit undur diri."


"Tunggu! Ingat Sarah. Perkataan yang kamu katakan padaku jangan sampai ibu mengetahuinya. Kamu! Selamanya tidak boleh menginjakkan kaki disini lagi!."




Tangan tiara yang memegang handphone bergetar hebat dan seluruh tubuhnya ikut bergetar juga.



"Tiara, orang seperti Sarah sebaiknya dia mendapat hukuman yang setimpal!."



"Ternyata pembunuh nyonya yang sebenarnya adalah Sarah hiks hiks. Aaaaaaaa!!!."



Tiara berteriak marah dan menyapu semua barang yang ada di depannya. Dia menangis dengan sekencang kencangnya.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2